Bagi sebagian pecinta sepak bola, menonton pertandingan Bundesliga adalah sesuatu yang sangat membosankan. Saya rasa sih wajar-wajar saja, karena seperti yang kita tahu bahwa setiap tahun Bayern München selalu mendominasi kompetisi kasta teratas sepak bola Jerman tersebut. Bayangkan saja, dalam kurun waktu delapan tahun terakhir, klub yang bermarkas di Allianz Arena tersebut selalu keluar sebagai kampiun kompetisi.

Borussia Dortmund yang sering dikatakan sebagai rival abadi Bayern München saja selalu mengalami kegagalan dalam perebutan takhta juara selama beberapa tahun belakangan ini. Inkonsistensi serta materi pemain yang di atas kertas masih kalah jauh dibandingkan dengan München menjadi alasan mengapa klub yang berjulukan Die Borussen selalu gagal merusak dominasi  Die Roten itu.

Bukan hanya Dortmund saja, hal serupa juga dialami oleh kontestan-kontestan yang lain. RB Leipzig misalnya, klub yang beberapa tahun terakhir ini muncul sebagai salah satu pesaing serius Bayern München juga mengalami hal serupa. Kemudian FC Schalke 04, VfL Wolfsburg, dan klub-klub Bundesliga yang lain seakan tak berdaya menghadapi kekuasaan mutlak Bayern München. Perbedaaan kualitas dan kondisi finansial yang jauh adalah penyebab hal itu terjadi.

Permasalahan itulah yang akhirnya membuat sebagian besar pecinta sepak bola khususnya di tanah air tidak terlalu menghiraukan Bundesliga. Mereka lebih suka menyaksikan Premier League atau mungkin Serie A yang persaingan antar-kompetitornya lebih panas. Jangan lupakan La Liga yang beberapa tahun terakhir persaingannya mulai memanas dan tidak melulu soal Barcelona dan Real Madrid.

Namun demikian, apakah benar bahwa menonton Bundesliga adalah sesuatu yang membosankan sepenuhnya bisa dibenarkan? Saya rasa tidak demikian. 

Kalau meminjam istilah Coach Justinus Lhaksana, menurut saya, hanya fans-fans “kardus” yang sering mengatakan hal itu. Karena kebanyakan dari mereka yang mengatakan hal tersebut adalah mereka-mereka yang hanya memperhatikan tentang menang atau kalah, tanpa memperhatikan proses dan gaya permainannya.

Karena menurut saya, sepak bola bukan hanya persoalan tentang menang atau kalah, tapi tentang bagaimana proses sebuah tim dalam menjalani pertandingan demi pertandingan. Pola permainan dan kekompakan antar-pemain adalah inti dari sepak bola itu sendiri. Hal ini senada dengan pernyataan Gus Dur yang mengatakan bahwa “Sepak bola merupakan bagian kehidupan, atau sebaliknya, kehidupan manusia merupakan sebuah unsur penunjang sepak bola”.

Jadi menurut saya bahwa menonton Bundesliga adalah sesuatu yang membosankan bisa sedikit terbantahkan itu. Apalagi kalau kita perhatikan, sebenarnya kualitas tim-tim yang ada di Bundesliga selain Bayern München juga tidak buruk-buruk amat sih. Karena kebanyakan tim Bundesliga tidak hanya mengandalkan kekuatan finansial, tapi proses regenerasi dalam tim adalah senjata rahasia yang dimiliki oleh tim-tim asal Jerman.

Surganya Pemain Muda Bertalenta dan Alternatif Tontonan

Nama-nama beken seperti Mesut Özil, Marco Reus, Manuel Neuer, Robert Lewandowski, dan yang terbaru ada Timo Werner yang baru saja hijrah dari Leipzig ke Chelsea adalah para pesepak bola yang berkembang pesat di Bundesliga. Bisa dikatakan bahwa Bundesliga merupakan surganya pemain-pemain muda karena mayoritas tim Jerman selalu memberikan perhatian penuh terhadap perkembangan pemain-pemain usia belia.

Jika dibandingkan dengan tim-tim di Premier League yang rajin menghambur-hamburkan uang untuk membeli pemain-pemain hebat, para kontestan Bundesliga melakukan hal sebaliknya. Mereka malah memoles pemain-pemain yang dianggap biasa atau bahkan terbuang, lalu menjadikan mereka pemain hebat dan memiliki nilai jual yang tinggi. Seperti kasus yang terjadi pada Jadon Sancho, Sergey Gnabry, dan Kevin De Bruyne.

Nama-nama pemain di atas adalah contoh dari kesembronoan tim-tim liga Inggris yang mampu dibaca dengan jeli oleh tim-tim Bundesliga. Maka jangan heran bahwa nama seperti Kai Havertz mampu menjadi primadona berharga yang saat ini diperebutkan oleh tim-tim besar benua biru.

Dan tentunya bagi para pencinta game Football Manager, Bundesliga adalah ladang subur untuk mencari para wonderkid terbaik untuk membangun tim yang mereka gunakan dalam permainan.

Selain itu, menyaksikan Bundesliga juga bisa menjadi salah satu alternatif Anda dalam memilih tontonan. Karakter sepak bola Jerman yang terkenal dengan kolektivitas dan gaya bermain menyerang mampu memberikan kesan tersendiri bagi mereka yang setia menyaksikan Bundesliga. Maka jangan heran apabila rata-rata jumlah penonton Bundesliga merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan liga-liga lain, bahkan Premier league sekalipun.

Selain itu, suporter-suporter di Bundesliga juga terkenal dengan kreativitas dan keunikan-keunikan tersendiri dalam mendukung tim kesayangannya di lapangan. 

Ambil saja contoh suporter Borussia Dortmund yang terkenal dengan The Yellow Wall-nya. Koreografi yang membuat setiap lawan yang bertandang ke Signal Iduna Park ketar ketir. Suporter Dortmund juga beberapa kali diganjar predikat sebagai suporter terbaik di dunia. Luar biasa, bukan?

Jadi bagi mereka-mereka yang masih bersikukuh mengatakan bahwa Bundesliga itu membosankan, sebaiknya tarik kembali kata-katanya itu. Walaupun ada anggapan yang mengatakan bahwa “Semua akan Bayern pada waktunya”. Daripada hanya beranggapan, dan istikamah menjadi fans-fans kardus saja, mengapa Anda tidak mencoba membuktikan kebenaran itu sendiri dengan menyaksikan setiap pertandingan-pertandingan Bundesliga?