Peneliti
9 bulan lalu · 655 view · 4 menit baca · Politik 74430_29069.jpg
Foto: Tribun Medan

Bunda Neno, Berdemokrasilah secara Sehat

Neno Warisman kembali menjadi sorotan. Bagaimana tidak, setelah beberapa daerah menolak untuk dikunjunginya karena akan menggelar deklarasi #2019GantiPresiden, di Bandara Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, Riau, beliau ditolak dan dipaksa pulang.

Videonya beredar luas di jagat medsos. Bahkan Wakil Ketua DPR yang juga sohib Bunda Neno, Fadli Zon, turut membagikan kiriman video tersebut.

Benar, di video kiriman Bunda Neno, posisi beliau saat ini sedang dalam posisi yang disakiti. Disakiti karena di negara demokrasi ia tidak bisa bebas mengeluarkan pendapat dan ditolak di berbagai daerah.

Lo, kok bisa? Ya bisalah. Kenapa tidak?

Bunda Neno sudah merasakannya. Di Batam, ditolak. Warga Surabaya, Bandung, dan di beberapa kota lainnya juga menolak. Dan saat di Pekanbaru, Neno memaksakan diri tetap hadir untuk menggelorakan semangatnya, meski sudah mendapat peringatan dari ormas dan tidak diberikan izin oleh polisi.

Kenapa Neno Warisman ditolak? Memang apa yang dirasakan Neno Warisman saat ini adalah bentuk diskriminasi dalam kebebasan menyampaikan pendapat. Akan tetapi, sebelum Fadli Zon, Mardani Ali Sera, Fahri Hamzah, dan rombongan oposisi menyalahkan negara dan pemerintahannya karena aksi penolakan ini, sebaiknya kita lihat ke belakang, alasan kenapa gerakan ini ditolak.

Pertama, gerakan ini sebenarnya murni gerakan politik (kata oposisi). Di mana kebebasan mengeluarkan pendapat diatur dan dilindungi oleh undang-undang. Akan tetapi, benarkah gerakan yang dibangun PKS dan Neno Warisman sebagai donatur terbesar, murni urusan politik?

Dalam beberapa aksinya, tidak sekali dua kali Neno Warisman bertindak sebagai orator. Dengan suara melengking, ada hal yang membuat Neno Warisman layak untuk ditolak di berbagai daerah (video orasinya beredar luas di media sosial)


Kalimat provokatif terhadap orang lain kerap keluar saat bunda ini berorasi. Bahkan, dalam setiap aksinya, agama selalu menjadi tameng, agar orang lain melihat bahwa gerakan ini memperjuangkan agama.

Tanpa Neno sadari, akibat dari ujaran provokasi itu, rakyat jadi terpecah. Persatuan di ambang keretakan. Bahkan, perbedaan agama kembali memanas. Padahal (alm.) Gus Dur bersusah payah membuatnya harmonis.

Orang-orang beranggapan bahwa yang tidak sesuai dan sepaham dengan tujuan politiknya adalah sesat dan harus dimusuhi.

Apakah Bunda Neno tidak melihatnya? Saya tidak yakin ia dan koleganya tidak mengetahui hal itu. Lihatlah, perang medsos belakangan ini menjadi begitu nyata. Bahkan sebagian sudah berdampak kepada kehidupan nyata!

Jika sudah demikian, lantas apa yang ingin Bunda Neno rebut? Menyukseskan gerakan namun rakyat terpecah? Apa kita semua ingin, demi tujuan politik sekelompok orang, persatuan dan kerukunan yang selama ini terjalin erat akhirnya bubar?

Jika gerakan yang Bunda Neno sampaikan itu membawa kedamaian, kesejukan hati para pendengarnya, kita semua yakin bahwa tidak akan ada penolakan apa pun. Jika gerakan Bunda Neno itu mengedepankan capres yang Bunda usung, tidak menyinggung pasangan lainnya seolah-olah menebar hasutan dan ketakutan, kita semua jamin bahwa tidak akan ada penolakan.

Tapi apa yang Bunda Neno alami saat ini adalah buah dari apa yang telah ia lakukan sejak gerakan itu dibentuk. Memang penolakan itu tidak bisa dibenarkan. Akan tetapi, apakah perbuatan Bunda dan kawan-kawan selama ini juga bisa dibenarkan? Salah satunya dengan melakukan demo dan orasi di depan warung Markobar.

Bahasa kami, orang Batak, bilang: tidak ada asap kalau tidak ada api, Tante!

Kedua, gerakan ini bukanlah gerakan pembentukan ormas. Karena jika sampai membentuk gerakan ormas, bisa jadi ini ormas terlarang, karena ingin mengganti pemerintahan dalam masa pemerintahan yang sah.

Jadi, lebih tepat mengatakan bahwa ini adalah kampanye ilegal. Kenapa ilegal? Karena masa kampanye belum tiba. Maka itu, jika tidak ingin dikatakan kampanye, lebih baik dibilang sosialisasi.

Akan tetapi, sosialisasi tidak seperti yang saya utarakan di atas. Sosialisasi itu lebih kepada pemaparan program. Mengedepankan visi-misi capres yang diusung. Bukan malah ngatain pemerintahan yang sah saat ini.

Oleh karena itu, lebih tepatnya disebut sebagai gerakan kampanye ilegal.

***


Saya sedikit terkekeh membaca posting-an Twitter Fahri Hamzah hari ini, yang menyatakan bahwa rezim ini perlu belajar demokrasi. Apakah Fahri Hamzah lupa bahwa mereka yang terlibat dalam pusaran politik saat ini adalah hasil didikan Orde Baru?

Atau, apakah Fahri Hamzah membenarkan bahwa apa yang dilakukan oleh Bunda Neno adalah sebuah cerminan demokrasi yang baik? Jika Pak Fahri Hamzah yang terhormat menyebut "iya", berarti beliau membohongi diri sendiri, mengkhianati demokrasi yang ia perjuangkan bersama pejuang reformasi lainnya kala itu.

Atau mungkin saja, Pak Fahri Hamzah pura-pura tidak tahu, agar terlihat tetap membela Bunda Neno.

Pak Fahri Hamzah yang terhormat, lihatlah betapa meradangnya Meiliana yang dituntut 18 bulan penjara, dengan vonis menista agama, hanya karena protes terhadap kerasnya suara speaker. Apakah Anda kira bahwa yang menuntut itu adalah anak-anak kelahiran rezim saat ini? Tidak, Pak, itu hasil didikan demokrasi kita yang tidak sehat selama ini.

Dan jelas, ada tanggung jawab dari politisi negara ini, yang mempertontonkan praktik politik tidak baik bagi warganya. Bukankah Pak Fahri Hamzah dan kawan-kawan juga politisi?

Tatanan demokrasi kita tidak baik, dan ini sudah berlangsung puluhan tahun lamanya. Para politisi juga banyak yang tidak mengajarkan bagaimana politik dalam artian sebenarnya kepada rakyat. Rakyat dibuat seolah-olah dilindungi, tapi ternyata diterkam dari belakang.

Dan saat muncul politisi yang ingin mengajarkan politik ideologi yang baik kepada rakyat, maka ia berusaha digembosi dengan berbagai pasal dan upaya!

Penolakan-penolakan, persekusi, dan tekanan massa adalah didikan politik tanpa ideologi yang ada di negara kita ini, dan bukan terjadi hanya di rezim ini, Pak Fahri. Ayolah, jangan sampai nalar sehat dibebani perut yang semakin membesar kekenyangan.

Didik masyarakat politik yang baik, maka niscaya demokrasi yang kita idamkan bisa segera hadir.

Bunda Neno, berdemokrasilah dengan sehat. Jika sudah ada penolakan, kenapa harus hadir? Agar terlihat tersakiti dan nama semakin melambung? Akh.. itu bukan kelas Bunda. Tanpa itu, nama Bunda sudah melambung sejak era 80-an sebagai artis, bukan?

Gelorakan semangat gerakan Anda tanpa menghakimi, menghasut, apalagi sampai menebar provokasi.

Kedepankan gagasan-gagasan yang membangun. Pererat persatuan dan kesatuan bangsa serta harmoni dalam keberagaman. Niscaya penolakan itu tidak akan terjadi lagi.


Artikel Terkait