Ketika menyebut nama Tere Liye, apa yang akan terbersit dalam pikiran? Tentu saja langsung menyebutkan karya-karya novel hebatnya bukan?. Salah satu series novelnya yang terkenal yakni "Bumi" dengan 9 novel didalamnya, menjadi novel fantasi yang mampu menghipnotis para pencinta novel fantasi dengan alur cerita yang sangat menarik.

Beberapa hari yang lalu, saya juga terhipnotis setelah membaca kembali salah satu novel Tere Liye yakni "Hujan". Di dalamnya merangkum kisah persahabatan, cinta, dan kehidupan menjadi satu dengan alur cerita yang luar biasa.

Dari novel tersebut, terdapat satu penggalan kalimat dalam yang membuat saya hanya mengiyakan apa yang tertuang di dalam kalimat tersebut.

Kalimatnya seperti ini: " Nah, itu berarti Anda masih ingat. Saya pernah bilang, umat manusia persis seperti virus, mereka rakus menelan sumber daya di sekitarnya, terus berkembang biak hingga semuanya habis. Saat itu saya keliru, saya pikir obat paling kerasnya adalah bencana alam mematikan. Bukan. Sama sekali bukan. Bumi sudah berkali-kali mengalami gunung meletus skala 8 VEI, tapi umat manusia tetap bertahan, berkembang biak. Anda benar, virus tidak bisa diobati, virus hanya bisa dihentikan oleh sesuatu yang mengerikan daripada bencana alam"

Kalimat tersebut juga mengingatkan saya pada sebuah isu dunia yang setiap tahun terus menghantui umat manusia di bumi yakni Perubahan Iklim (Climate Change).

Perubahan Iklim (Climate Change)

Apa itu Perubahan Iklim?

Berdasarkan pengertian yang dilansir pada laman Knowledge Centre Perubahan Iklim, Kemntrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjelaskan Perubahan Iklim sebagai perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia baik secara langsung maupun tidak langsung dan berdampak pada perubahan komposisi atmosfer global serta variabilitas iklim alami pada periode waktu yang dapat diperbandingkan.

Komposisi atmosfer yang dimaksud antara lain komposisi material atmosfer bumi berupa Gas Rumah Kaca (GRK) yang terdiri dari Karbon Dioksida, Metana, Nitrogen, dan sebagainya.

Keberadaan Gas Rumah Kaca (GRK) sangat dibutuhkan untuk menjaga kestabilan suhu di muka bumi. Namun, jika konsentrasi GRK semakin meningkat dapat menyebabkan lapisan atmosfer akan semakin tebal. Penebalan lapisan atmosfer menyebabkan semakin meningkatnya jumlah panas bumi yang terperangkap di atmosfer, kemudian berdampak pada peningkatan suhu bumi yang lebih kita kenal dengan pemanasan global. Peningkatan konsentrasi GRK dimulai ketika revolusi industri.

Apa Penyebab Peningkatan Konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK)?

Terdapat beberapa penyebab meningkatnya Gas Rumah Kaca (GRK) antara lain:

1. Penebangan Liar dan Pembakaran Hutan

Keberadaan tumbuhan di bumi sangat penting untuk mengurangi efek Gas Rumah Kaca (GRK), tumbuhan akan menggunakan karbon dioksida yang dihasilkan oleh kegiatan manusia sebagai alat untuk melakukan fotosintesis. Namun, fakta yang ditemukan adalah fenomena penebangan liar sudah terjadi dimana-mana. 

Kita sudah sering melihat para penebangan liar beraksi di pinggir jalan tanpa kegiatan penanaman kembali. Bahkan pelaku penebangan dengan santai dan tanpa merasa bersalah menebang pohon ditemani sepuntung rokok melekat pada kedua bibirnya disambi dengan canda tawa dengan rekannya.


Pun demikian dengan pembakaran hutan, berita tentang kebakaran hutan sudah menjadi santapan wajib di tengah musim kemarau. Tak tanggung-tanggung tahun 2019 jumlah lahan kebakaran hutan di seluruh provinsi di Indonesia mencapai 1.649.258 hektar.

2. Pencemaran Laut

Fungsi lautan tidak hanya sebatas tempat hidup bagi hewan laut, melainkan lautan juga berfungsi untuk menyerap karbon dioksida dalam jumlah yang besar. Namun, akibat pencemaran laut oleh sampah dan lumbah industri ekosistem laut menjadi musnah dan menyebabkan karbon dioksida tidak dapat diserap lagi.

3. Limbah Industri Pertanian, Peternakan dan Rumah Tangga

Limbah industri pertanian, perternakan dan rumah tangga yang menghasilkan nitrus oksida, karbon dioksida dan metana yang tidak diolah dengan baik menjadi sumber penebalan atmosfer yang berakibat pada perubahan iklim. 

4.  Penggunaan Bahan Bakar Fosil yang Berlebihan

Penggunaan minyak bumi dan batu bara secara berlebihan menyebabkan kualitas udara semakin memburuk dan mengakibatkan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer semakin banyak.

Dampak Perubahan Iklim (Climate Change)

Lalu apa dampak Perubahan Iklim (Climate Change) yang disebabkan oleh Gas Rumah Kaca (GRK)?

Perubahan Iklim akan menimbulkan terjadinya; curah hujan yang tinggi, peningkatan volume air laut akibat mencairnya es di kutub, musim kemarau berkepanjangan. 

Suhu bumi mengalami perubahan ekstrim hingga tahun 2020. Berikut grafik yang menunjukkan peningkatan suhu bumi.

Perlu diingat pula bahwa Perubahan Iklim juga mengakibatkan permasalahan serius dalam kehidupan manusia. Menurut Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, dampak perubahan iklim, antara lain:

1. Menurunnya kualitas dan kantitas air

2. Perubahan habitat dan punahnya  berbagai spesies, binatang, dan organisme lain

3. Menurunnya kuantitas dan kualitas hutan

4. Maraknya wabah penyakit, kanker kulit, katarak dan penurunan daya tahan tubuh

5. Berkurangnya area dan produktivitas pertanian 

6. Tenggelamnya sebagian daerah pesisir dan pulau-pulau kecil

Apa yang Dilakukan Manusia Selama Ini?

Dengan risiko di depan mata yang akan terus dihadapi manusia, apa yang sudah dilakukan manusia?

Masih ingat video yang sempat viral di twitter terkait Hutan Adat Papua yang habis di tebang dan beralih fungsi sebagai lahan kelapa sawit? Bagaimana dengan berita tiap tahun tentang kebakaran hutan di Riau dan Kalimantan yang lahannya sudah dijadikan sebagai lahan perkebunan kelapa sawit juga?

Lalu, bagaimana dengan perang saudara di negara-negara timur tengah karena minyak bumi? Atau bahkan video-video yang sering berseliweran di media sosial dari para pencinta lingkungan, bagaimana hewan-hewan laut tersiksa oleh sampah dan limbah para manusia bumi? tempat tinggal mereka yang berganti dari karang menjadi kaleng bekas dan botol kaca?

Dari permasalahan yang di atas dan juga seperti penggalan kalimat novel "Hujan" yang sudah saya paparkan, manusia seperti virus, rakus dalam memanfaatkan sumber daya dan terus berkembang biak tanpa memikirkan hal lain selain dirinya. Kita sudah bisa menggambarkan langsung bagaimana milyaran manusia menjalankan kehidupan hanya untuk melanjutkan keberlangsungan hidup atau untuk keserakahan semata. 

Apakah Manusia Berubah atau Sebaiknya Musnah?

Bagi manusia yang sudah mulai sadar bahwa kehidupan di bumi ini diperlukan adanya keseimbangan antara manusia dan bumi, mereka senantiasa menciptakan komunitas-komunitas peduli lingkungan, menjalankan kegiatan-kegiatan yang sangat bermanfaat bagi lingkungan, hingga merubah pola kehidupan sehari-hari dengan barang-barang yang ramah lingkungan. Tapi sayang, jumlah manusia yang sadar dan berubah tidak melebihi setengah dari miliaran pupulasi manusia di muka bumi.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang belum sadar dan berubah?

Konsep pemikiran mereka akan sama bagaimanapun perubahan yang terjadi disekitar mereka, selagi mereka bisa hidup dengan bahagia dan nyaman dengan kehidupannya. Bahkan ketika rumah yang dimiliki porak poranda oleh bencana alam, bagi mereka membalikkan keadaan keihdupannya sama seperti dengan membalikkan telapak tangan.

Kembali pada penggalan kalimat pada novel "Hujan" milik Tere Liye yang menyatakan bahwa keserakahan manusia hanya bisa dihentikan oleh hal yang lebih besar dibanding bencana alam. Meskipun ada sebagian manusia yang berubah, tapi keberadaan manusia-manusia rakus ini akan selalu melekat. Sehingga, kerakusan mereka tidak akan terhenti karena bencana alam.

Simple-nya kerakusan mereka hanya bisa dihentikan dengan Kemusnahan dan Kepunahan. Karena dengan ini manusia akan sadar bahwa "Tuhan sudah cukup baik dan sabar memberikan manusia peringatan melalui bencana alam. Memberikan manusia kesempatan untuk berubah, juga mengingatkan  bahwa manusia menjalani kehidupan dengan baik karena dunia hanya sebagian dari tujuan hidup yang sesungguhnya yakni akhirat".