Tanpa kita sadari praktek bullying terjadi di seluruh lingkungan lapisan masyarakat. Lebih mirisnya lagi praktek bullying sering terjadi di instansi pendidikan. Suatu tempat yang diharapkan oleh peserta didik menjadi tempat ternyaman akan tetapi berubah menjadi predator mematikan fisik dan psikis. Lalu bagaimana menyikapi permasalahan ini?

Bullying bukan masalah yang dihadapi oleh negara Indonesia saja, akan tetapi dihadapi oleh negara di seluruh penjuru dunia. Praktek bullying tidak hanya terjadi antara bangsa dalam satu (1) negara tetapi juga dapat terjadi antar bangsa di negara yang berbeda.

Bullying saat ini mendapat perhatian yang sangat serius dari berbagai kalangan masyarakat ilmiah untuk mempelajari lebih jauh mengenai hal tersebut. Fenomena ini dapat ditinjau dari bidang psikologi, kedokteran, kejiwaan, fisiologi dan lain sebagainya.

Praktek bullying dapat dikatakan sebagai indikator kegagalan sebuah proses pendidikan. Pendidikan dalam hal ini tidak hanya layaknya proses belajar mengajar di sekolah atau universitas sebagai pendidikan formal, akan tetapi pendidikan informal juga termasuk ke dalamnya.

Karena pendidikan secara harfiah adalah proses sustainabilitas untuk memperoleh perubahan dari yang tidak tahu menjadi tahu dan dari yang tidak baik menjadi lebih baik. Pendidikan yang berhasil adalah mampu mengembangkan input menjadi sebuah output yang baik dari segi mental dan intelektual.

Tindakan ini dapat juga diklasifikasikan sebagai tindakan persekusi terhadap seseorang atau sekelompok orang. Secara umum bullying dilakukan oleh individu atau sekelompok orang yang memiliki kekuatan (power) lebih besar dibandingkan korban.

Bullying dapat berupa ejekan, hinaan, cibiran hingga kejahatan kontak fisik yang menimbulkan luka dan dilakukan secara terus-menerus dan sistematis. Seakan pelaku bullying mendapatkan sebuah kepuasan terhadap apa yang telah dilakukan setelah memberikan persekusi kepada korban bullying.

Terjadi ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban bullying serta biasanya korban bullying tidak memiliki keberanian untuk mencari perlindungan. Perlindungan dari orang tua kandung ataupun dari pihak sekolah dimana mereka menuntu ilmu. Korban bullying biasanya terjebak dalam kondisi under pressure, sehingga kehilangan keberanian yang dimilikinya.

Menurut Kann dalam Morbidity and Mortality Weekly Report Surveillance Summaries tahun 2016 di negara Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara adidaya terjadi sekitar 20,2% siswa mengalami praktek bullying di sekolah selama 12 bulan.

Korban praktek bullying biasanya cenderung menyerang anak-anak hingga remaja dengan rentang umur 9-16 tahun. Karena pada masa anak-anak hingga remaja mereka cenderung lemah dibandingkan orang dewasa. Mereka belum memiliki banyak pengalaman hidup dalam menyikapi permasalahan hidup.

Tetapi tidak menutup kemungkinan seseorang yang telah dewasa juga dapat menjadi korban bullying. Bagaimana generasi muda dapat terbentuk dengan baik sesuai yang diharapkan jika kesadaran akan praktek bullying terus diabaikan.

Bagaimana generasi muda dapat menata masa depan dengan baik jika setiap detiknya merasa ketakutan. Bagaimana generasi muda dapat mempersiapkan mental yang kuat untuk menghadapi perkembangan teknologi global jika setiap detiknya terbelenggu oleh predator bertopeng manusia (pelaku bullying).

Kasus tindakan bullying yang terjadi terhadap korban dapat menimbulkan beberapa gejala seperti depresi, kecemasan, psikosomatik, merasa rendah diri, absen sekolah, agresif, presepsi buruk terhadap keamanan sekolah, ide bunuh diri, dan usaha bunuh diri.

Akhir-akhir ini media massa dari media cetak sampai media elektronik tengah marak memberitakan seorang anak mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Secara fakta memang benar korban bullying yang mengakhiri hidupnya sendiri, akan tetapi sebenarnya pelaku bullying lah pembunuh sebenarnya.

Fenomena itu disebut Collapse By Design yaitu kematian atau kehancuran seseorang akibat praktek bullying yang dilakukan secara terus-menerus oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap korban bullying.

Menurut Swearer dan Hymel dalam American Psychologist Association tahun 2015, bullying dapat terjadi pada multi relasi yaitu individu, teman sejawat, keluarga, guru, tetangga, dan komunitas tertentu.

1. Faktor individu

Pelaku bullying biasanya dikaitkan terhadap sifat tidak berperasaan, psikopat, sifat maskulin, anti sosial, cenderung menekan teman sejawat, kecemasan, dan depresi.

Biasanya seseorang yang melakukan tindakan bullying terhadap teman sejawat memiliki kekuatan yang lebih tinggi seperti  kecerdasan dan status sosial. Mereka merasa dapat menguasai segalanya dan segalanya akan patuh oleh perintahnya.

Ketika seseorang menjadi korban bullying biasanya dikaitkan dengan kesehatan fisik yang rendah, tidak bahagia, perasaan tidak aman, membolos, drop out (DO), dan kurang kasih sayang dari keluarganya.

Dengan latar belakang seperti itu maka seseorang tersebut akan menutup diri dan cenderung lemah. Seakan pasrah terhadap perlakuan apapun yang ia peroleh dari lingkungan. 

2. Faktor teman sejawat

Anak-anak dan remaja cenderung menghabiskan kesehariannya di sekolah, bermain dengan tetangga, dan sosial media. Dengan kemajuan teknologi masa kini dapat menimbulkan sifat apatis pada seorang anak.

Seorang anak cenderung asik dengan dunianya sendiri dan menurunkan sifat simpati serta empati terhadap lingkungan sekitar. Hal tersebut juga menurunkan kualitas komunikasi kepada sesama.

Sifat seperti itu dapat menimbulkan gap di antara teman sejawat yang bermuara kepada permusuhan dan bullying.

3. Faktor keluarga

Karakteristik tertentu sebuah keluarga juga dapat dihubungkan dengan praktek bullying yaitu rendahnya pengawasan orang tua, lingkungan negatif keluarga, konflik, kekerasan, rendahnya komunikasi, dan rendahnya dukungan keluarga terhadapt aktivitas seorang anak.

4. Faktor sekolah 

Sekolah merupakan tempat praktek tindakan bullying yang paling sering terjadi. Karena sekolah merupakan tempat berkumpulnya anak-anak dengan latar belakang sifat dan keluarga yang berbeda.

Tingkat tertinggi dari bullying dikaitkan dengan ketidakpedulian guru terhadap korban bullying, rendahnya hubungan antar siswa, rendahnya dukungan guru, dan rendahnya hubungan dengan aktivitas sekolah.

Karena perasaan tidak aman di sekolah, maka tidak sedikit korban bullying yang membawa senjata ke sekolah sebagai bentuk self protection dari pelaku bullying.

Seperti yang dimuat pada media elektronik republika.co.id, remaja di Amerika Serikat menembak teman sekolahnya akibat menerima perlakuan bullying.

 5. Faktor komunitas 

Komunitas juga memiliki peran yang cukup besar dalam tindakan bullying seperti pergaulan remaja yang cenderung membentuk gang. Sekelompok anak atau remaja cenderung akan membetuk gang dengan seseorang yang memiliki latar belakang ekonomi serta intelegensi yang sama.

Seorang anak yang memiliki latar belakang keluarga dengan tingkat ekonomi yang rendah cenderung akan menjadi korban bullying oleh sekelompok the have.

Saat ini TV marak menampilkan program dengan kualitas rendah dan tidak mendidik sama sekali. Hal itu yang menjadi contoh oleh generasi muda untuk melakukan tindakan bullying.

Selain itu faktor video game juga sangat mempengaruhi tindakan bullying. Tindakan kekerasan yang terdapat di video game sering dipraktekkan dalam kegiatan sehari-hari.

Berdasarkan penjelasan di atas, kasus tindakan bullying yang terjadi di berbagai lingkungan seperti keluarga, masyarakat, dan sekolah menjadi tanggung jawab berbagai kalangan masyarakat yaitu orang tua, guru, pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan sebagainya.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menanggulangi bullying bahkan mencegah di antaranya yaitu menumbuhkan sikap percaya diri sejak dini dengan kasih sayang tulus. Sehingga seorang anak akan percaya bahwa lingkungan sekitar menyayangi dan melindungi.

Seperti yang dilaporkan oleh Asvar dalam Journal of Pediatric Nursing tahun 2017 pelatihan ketegasan (assertiveness) dapat meningkatkan keberanian terhadap korban bullying.

Selain itu kepada pihak yang berwenang dalam hal ini pihak pemerintah untuk melakukan sosialisasi untuk mengidentifikasi, mencegah, dan mengobati tindakan bullying.

Peran seorang pendidik juga sangat penting dalam hal ini, sebaiknya secara perlahan ditumbuhkan nilai-nilai kebaikan untuk mengapresiasi setiap orang, karena setiap insan terlahir dengan bentuk terbaiknya dan spesial.

Seluruh faktor penyebab terjadi tindakan bullying dapat menjadi obat penyembuh korban bullying, seperti menjalin hubungan positif dengan guru, teman sejawat, dukungan penuh dari keluarga, dan memiliki simpati serta empati yang tinggi.

Menjadikan generasi muda yang hebat adalah dengan menjamin kesehatan fisik dan psikis serta terbebas dari tindakan bullying.