Menurut laman Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), bullying atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah “perundungan” merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dengan sengaja dilakukan oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat terhadap orang lain yang lebih lemah dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan terus-menerus.

Pendapat lain mengatakan bahwa perundungan merupakan tindakan mengintimidasi dan memaksa seseorang individu atau kelompok yang lebih lemah untuk melakukan sesuatu di luar kehendak mereka, dengan maksud untuk membahayakan fisik atau secara psikis melalui pelecehan dan penyerangan.

Banyaknya kejadian perundungan di sekolah akhir-akhir ini harus menjadi perhatian semua pihak. Baik itu guru, orang tua, masyarakat, maupun pemerintah sebagai pemangku kebijakan terhadap dunia pendidikan. Terkadang, sebagai orang tua, kita tidak menyadari kalau ternyata anak kita menjadi korban perundungan di sekolahnya.

Yang membuat kita sebagai orang tua khawatir, sampai hari ini tidak ada satu sekolah pun yang bisa benar-benar menjamin bahwa tindakan perundungan itu tidak terjadi di sekolah mereka. Jadi di mana pun anak kita sekolah, bayang-bayang perundungan itu tetap ada. Oleh karena itu, bekali pengetahuan yang cukup bagi kita sebagai orang tua dan juga anak kita.

Bentuk yang paling sederhana dari perundungan di sekolah, biasanya adalah pelecehan secara verbal, seperti mengejek atau mengolok-olok. Jika tidak diberikan perhatian terhadap tindakan seperti itu, bukan tidak mungkin berikutnya akan tingkatan perundungannya juga meningkat menjadi terror fisik, seperti memukul, menendang dan sebagainya.

Penyebab Perundungan

Ada baiknya kita mendengan pendapat para ahli mengapa tindakan perundungan ini bisa terjadi. Ada beberapa alasan seorang anak melakukan tindakan perundungan terhadap anak lain.

Biasanya anak tersebut mencari perhatian baik dari orang tua ataupun teman-teman serta gurunya. Alasan lainnya adalah merasa penting atau merasa memegang kendali. Ada juga anak yang melakukan perundungan sebagai pelampiasan karena di rumah mendapatkan kekerasan fisik. Yang terakhir adalah mencontoh perbuatan yang dilakukan orang dewasa ataupun tayangan televisi.

Dengan mengetahui sebab-sebab seorang anak anak bisa melakukan perundungan, kita sebagai orang tua tentunya bisa mengantisipasi agar tindakan perundungan tidak terjadi di sekolah. Kita perlu memberikan perhatian yang cukup terhadap anak-anak kita. Tunjukan cinta dan kasih saying yang tulus kepada mereka. Ajari mereka untuk salaing meghargai sesama manusia, dan tidak ada manusia yang lebih superior dari yang lainnya.

Tanamkan nilai-nilai bahwa tidak ada satu manusiapun yang layak direndahkan harkat dan martabatnya. Semua manusia itu sama apapun latar belakangnya, sosial ekonominya, agamanya, budayanya, bahkan bentuk tubuh sekalipun. Tanamkan bahwa semua itu adalah ciptaan Tuhan yang harus dihargai.

Dampak Perundungan

Dampak dari perundungan terhadap anak, jika si anak tidak melawan atau membiarkan dirinya menjadi korban perundungan, bisa bermacam-macam. Pertama adalah dampak emosional, hal ini bisa membuat anak jadi sulit bergaul, murung, merasa tidak berdaya, frustasi dan sebagainya.

Kalau hal ini dibiarkan, secara psikologis bisa membuat anak mengalami depresi, merasa putus asa dan yang paling fatal bisa juga berakibat bunuh diri. Jika si anak bisa melewati masa anak-anaknya sekalipun, dampak emosional ini bisa terbawa sampai dewasa, dan bisa mengakibatkan sulit berinteraksi sosial, sulit mempertahankan hubungan dan sulit percaya kepada orang lain.

Kedua, perundungan di sekolah juga biasanya berdampak terhadap nilai akademis anak. Karena merasa takut terhadap teman yang melakukan perundungan ini, anak bisa mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi yang berakibat menurunnya nilai akademis si anak. 

Riset dampak perundungan terhadap nilai akademis ini pernah dilakukan oleh University of Virginia di Amerika Serikat. Hasil studinya mengatakan bahwa anak yang mengalami perundungan di sekolah, memiliki nilai lebih rendah saat melakukan tes standar dibandingkan anak yang tidak mendapat perundungan.

Sebagai orang tua kita harus jeli terhadap perubahan sikap anak kita, karena bisa jadi perubahan sikap dari biasanya merupan tanda bahwa anak kita mengalami perundungan. Biasanya anak yang mengalami perundungan sering mengurung diri di kamar atau cenderung lebih murung atau bahkan lebih emosional dari biasanya. Hal lainnya bisa mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi saat belajar di rumah atau menunjukan kegelisahan berlebih.

Tips yang bisa dilakukan untuk anak terhindar dari perundungan

Sebagai orang tua, mungkin ada beberapa tip yang bisa dilakukan untuk melindungi anak-anak kita dari perundungan. Yakinkan kepada anak, bahwa sebagai orang tua kita menyayangi dan mencintai mereka, ini untuk menumbuhkan keterbukaan antara anak terhadap orang tuanya.

Lalu latih anak kita untuk berani mengatakan “tidak” terhadap apapun yang mereka tidak sukai. Ajarkan kalau mendapatkan tindakan perundungan untuk melawan, sehingga ini menunjukan kepada si perundung, bahwa anak kita tidak bisa diperlakukan seenaknya. Dan ajarkan juga untuk melapor ke guru atau pengawas sekolah jika sudah tidak bisa menanggulangi perundungan yang diterimanya.

Sebenarnya perundungan itu tidak akan terjadi kalau diri kita tidak mengijinkan perundungan itu terjadi terhadap diri kita. Kalau perundungan sampai terjadi terhadap diri kita, itu berarti kita mengijinkan perundungan terjadi. 

Boleh jadi Anda mengatakan bahwa perasaan takut membuat perundungan terjadi, yang harus dicari jalan keluarnya adalah menanggulangi rasa takut tersebut. Akhir kata saya hanya ingin mengatakan “SAY NO to BULLYING”.