Pendidikan merupakan wadah utama dalam pembentukan dan pengembangan diri pelajarnya, pendidikan yang baik tentu akan menjamin pendidikan moral yang baik juga kepada pelajarnya, sehingga pelajar dapat memilah perbuatan yang boleh dan tidaknya untuk dilakukan.


Setiap orang berhak atas rasa aman terhadap dirinya, hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 28G ayat (1) dan (2).

Jaminan perlindungan negara terhadap anak juga telah dituangkan dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28B ayat (2) yang menyatakan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. 

Aturan dan kebijakan terkait lainnya pun telah diterbitkan. Namun, dalam realitanya, kasus kekerasan dan diskriminasi terhadap anak terus terjadi dan berkembang dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah bullying.

Fenomena bullying atau perundungan umumnya merupakan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pihak yang lebih kuat terhadap yang lemah. Dampak negatif dari tindakan ini pun beragam dan dapat berupa fisik maupun psikis.

Menurut Olweus (2005), bullying adalah sebuah tindakan atau perilaku agresif yang disengaja, yang dilakukan oleh sekelompok orang atau seseorang secara berulang-ulang dan dari waktu ke waktu terhadap seorang korban yang tidak dapat mempertahankan dirinya dengan mudah atau sebagai sebuah penyalahgunaan kekuasaan/kekuatan secara sistematik.

Sejiwa (2008), mendefinisikan bullying yaitu sebuah situasi di mana terjadinya penyalahgunaan kekuatan/kekuasaan fisik maupun mental yang dilakukan oleh seseorang/sekelompok, dan dalam situasi ini korban tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya.

Bullying sering kita jumpai di berbagai lini kehidupan, termasuk pendidikan.

Pendidikan merupakan wadah utama dalam pembentukan dan pengembangan diri pelajarnya, pendidikan yang baik tentu akan menjamin pendidikan moral yang baik juga kepada pelajarnya, sehingga pelajar dapat memilah perbuatan yang boleh dan tidaknya untuk dilakukan.

Kasus bullying yang terjadi di lingkungan pendidikan, baik pendidikan formal maupun non-formal kian memprihatinkan. 

Hasil kajian Konsorsium Nasional Pengembangan Sekolah Karakter menunjukkan hampir setiap sekolah di Indonesia ada kejadian bullying

Ketua Konsorsium Nasional Pengembangan Sekolah Karakter, Susanto menyatakan Indonesia sudah masuk kategori darurat bullying di sekolah. "Melihat kompleksnya kasus-kasus bullying yang ada, Indonesia sudah masuk kategori darurat bullying di sekolah. Itu sebabnya negara perlu lakukan intervensi," (Republika.co.id)

Dikutip dari laman resmi Kementrian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak, Bullying dapat dikelompokkan ke dalam 6 kategori: 

1) Kontak fisik langsung. Tindakan memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang,mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang yang dimiliki orang lain.

2) Kontak verbal langsung. Tindakan mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip. 

3) Perilaku non-verbal langsung. Tindakan melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal. 

4) Perilaku non-verbal tidak langsung. Tindakan mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng. 

5) Cyber Bullying. Tindakan menyakiti orang lain dengan sarana media elektronik (rekaman video intimidasi, pencemaran nama baik lewat media sosial).

6) Pelecehan seksual. Kadang tindakan pelecehan dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal.


Dampak Bullying

Dampak yang diakibatkan oleh bullying tidak hanya dialami oleh korban, melainkan pelaku hingga orang yang menyaksikannya.

Bullying memiliki pengaruh secara jangka panjang dan jangka pendek terhadap korban. Pengaruh jangka pendek yang ditimbulkan akibat perilaku ini adalah depresi karena mengalami penindasan, menurunnya minat untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh guru, dan menurunnya minat untuk mengikuti kegiatan sekolah. 

Sedangkan akibat yang ditimbulkan dalam jangka panjang dari penindasan ini seperti mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan baik terhadap lawan jenis, selalu memiliki kecemasan akan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-teman sebayanya (Berthold dan Hoover, 2000).

Dampak bagi korban

Sebagai orang yang dirugikan, korban mengalami berbagai dampak yang buruk untuk kesehatan fisik maupun psikisnya. Hal ini juga berpotensi akan berlanjut jika tidak mendapatkan penanganan atau pemulihan yang tepat dan cepat, karena setiap anak dengan daya tahan mental dan respon terhadap bullying yang berbeda.

Dampak terhadap korban antara lain:

- Depresi

- Merasa tidak aman

- Kehilangan kepercayaan diri

- Merasa malu

- Menarik diri dari lingkungan sekitar

- Rendahnya tingkat kehadiran dan rendahnya prestasi akademik siswa

- Insomnia

- Gangguan kesehatan fisik

Bahkan, tak jarang kita dengarkan korban hingga bunuh diri atau bahkan meninggal dunia karena dampak bullying yang dialaminya.


Dampak bagi pelaku

Terdapat 2 macam pelaku bully, yaitu pure bully dan bully-victim. Pure bully atau pelaku bullying yang tidak mengalami pengalaman di-bully. Orang-orang ini adalah mereka yang selalu menempati peran dominan dan seakan-akan berada di puncak rantai makanan. 

Pure bully seperti tidak memiliki permasalahan psikologis yang berarti kecuali permasalahan moral dan tidak adanya empati. Pelaku bully semacam ini dapat berpotensi berkembang menjadi pribadi anti-sosial.

Bully-victim adalah pelaku bullying yang dulunya di-bully/diintimidasi. Bully-victim seringkali lebih lemah secara fisik dibandingkan dengan mereka yang melakukan bully terhadapnya. Namun, hampir selalu lebih kuat dari korban mereka. Bully-victim cenderung mengalami kecemasan, gelisah, kesepian, impulsif dan tertekan hingga mereka dewasa. (pijarpsikologi.org)

Indikasi dampak terhadap pelaku, antara lain:

- Pelaku memiliki rasa percaya diri yang tinggi

- Merasa puas ketika berhasil membully orang lain

- Cenderung bersifat agresif dengan perilaku yang pro terhadap kekerasan

- Tipikal orang berwatak keras

- Impulsif

- Toleransi yang rendah

- Mendominasi orang lain

- Anti sosial, sehingga sulit membangun hubungan sosial yang berkualitas

Dengan bullying, pelaku merasa menguasai lingkungan sekitarnya dan bangga dengan perbuatan yang dilakukannya. Hal ini dapat berakibat pelaku dapat dengan mudah melanggengkan aktivitas bullying atau kekerasan dalam lingkungannya bahkan hingga ke tingkat yang lebih buruk dari sebelumnya.


Dampak bagi saksi

Sebagai orang yang menyaksikan tindakan tersebut dan kemudian membiarkannya terjadi begitu saja, maka fenomena ini dapat berakibat membangun anggapan masyarakat bahwa perbuatan bullying merupakan sesuatu yang normal dan diterima secara sosial. 

Bagi saksi yang berniat membantu, ada juga yang mengalami perasaan gelisah karena takut akan menjadi korban berikutnya oleh pelaku.

Indikasi dampak bagi saksi:

- Saksi yang mengabaikan bisa saja akan melakukan tindakan yang sama dengan pelaku karena menganggap ini merupakan hal normal

- Saksi yang tidak dapat membantu dapat mengalami perasaan bersalah dan bisa saja kemudian akan berlanjut menjadi rasa cemas berlebih (anxiety)

Let's speak up! Dibutuhkan kemampuan dan keberanian oleh saksi agar tidak menjadi bagian dari orang yang melanggengkan kejahatan. Melapor ke pihak berwenang, seperti guru, polisi, dan lainnya, dapat menjadi salah satu cara untuk memberhentikan proses bullying.


Pendidikan Karakter sebagai Fondasi Moralitas Bangsa

Melihat berbagai dampak yang dialami oleh pihak yang terlibat dalam aktivitas bullying, kiranya kita perlu menyadari bahwa tidak ada hal yang baik dari perilaku perundungan.

Pendidikan karakter diperlukan untuk mengatasi krisis moral yang kian masif dan atau sebagai upaya meningkatkan moral bangsa yang lebih berkualitas, termasuk pencegahan perilaku bullying.

Menurut Thomas Lickona (1991), pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti. 

Dan lebih luas lagi ia menyebutkan pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk mewujudkan kebajikan, yaitu kualitas kemanusiaan yang baik secara objektif, bukan hanya baik untuk individu perseorangan, tetapi juga baik untuk masyarakat secara keseluruhan.

Lickona menyebutkan tujuh kebaikan (karakter) esensial dan utama yang harus ditanamkan kepada peserta didik baik di sekolah, di rumah, dan di komunitas atau masyarakat, meliputi:

1) Ketulusan hati atau kejujuran (honesty)

2) Belas kasih (compassion)

3) Kegagahberanian (courage)

4) Kasih sayang (kindness)

5) Kontrol diri (self-control)

6) Kerja sama (cooperation)

7) Kerja keras (deligence or hard work)


Di Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan,

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Tujuan pendidikan nasional itu merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI juga telah merumuskan nilai-nilai karakter (18 nilai) yang akan dikembangkan atau ditanamkan kepada anak-anak dan generasi muda bangsa Indonesia, antara lain:

1) Religius

Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2) Jujur

Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3) Toleransi

Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4) Disiplin

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5) Kerja Keras

Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

6) Kreatif

Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7) Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8) Demokratis

Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9) Rasa Ingin Tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10) Semangat Kebangsaan

Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11) Cinta Tanah Air

Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.

12) Menghargai Prestasi

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

13) Bersahabat/Komunikatif

Tindakan yang memperhatikan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

14) Cinta Damai

Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang danaman atas kehadiran dirinya.

15) Gemar Membaca

Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16) Peduli Lingkungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17) Peduli Sosial

Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18) Tanggung Jawab

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.


Dengan nilai-nilai pendidikan karakter bangsa diatas, diharapkan pendidikan yang dilakukan, baik formal maupun non-formal, dapat memaksimalkan implementasinya dalam proses belajar-mengajar agar lingkungan pendidikan dapat menjadi wadah yang aman dari kekerasan bagi pelajar.

Pelajar - anak bangsa, adalah generasi penerus yang harus dirawat dan dijamin tumbuh kembangnya dengan pendidikan yang baik.

Pendidikan adalah fondasi pembangunan bangsa. Mari ciptakan lingkungan pendidikan yang aman tanpa kekerasan. STOP BULLYING!