Baru-baru ini, media sosial dihebohkan dengan kasus Audrey yang mejadi korban bullying oleh temannya sendiri. Bullying yang dialami Audrey memang terbilang cukup berat, hingga mengundang iba pengguna media sosial. Tagar save for audrey pun bergema di media sosial sebagai bentuk dukungan dan semangat kepada Audrey.

Selain itu, satu tahun lalu, publik dikejutkan dengan video yang memperlihatkan mahasiswa Universitas Gunadarma berkebutuhan khusus tengah menjadi korban perundungan (bullying) oleh sejumlah rekannya sesama mahasiswa. Korban mengaku bahwa ternyata hal tersebut telah berlangsung sejak pertama kali masuk kuliah.

Pada kenyataannya, kedua kasus diatas hanyalah segelintir dari kasus bullying yang kebetulan terekam dan masyarakat menjadi tahu.

Sungguh miris, dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tempat menyenangkan telah menjelma menjadi dunia yang sangat menakutkan bagi korban bullying.

Lalu, apa yang dimaksud dengan bullying?

Menurut psikolog Andrew Mellor, bullying adalah pengalaman yang terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain dan ia takut apabila perilaku buruk tersebut akan terjadi lagi sedangkan korban merasa tidak berdaya untuk mencegahnya.

Bullying tidak lepas dari adanya kesenjangan kekuatan antara korban dan pelaku serta diikuti pola repetisi (pengulangan perilaku).

Perilaku bullying dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti : kurangnya rasa menghargai antar sesama, lingkungan yang buruk, kurangnya perhatian dari berbagai pihak dan sebagainya.

Anak-anak dan remaja yang menjadi pelaku bullying tidak menyadari bahwa dirinya telah melanggar hak asasi orang lain. Bagi mereka, bullying hanyalah suatu bercandaan dan merupakan suatu hal yang wajar. Mereka tidak menyadari bahwa bullying dapat mengakibatkan dampak yang fatal bagi korbannya.

Jika sebuah aksi bullying dibiarkan begitu saja, kemungkinan bullying akan mengakar menjadi sebuah tradisi.

Bullying ternyata tidak hanya memberi dampak negatif pada korban, melainkan juga pada para pelaku. Bullying, dari berbagai penelitian, ternyata berhubungan dengan meningkatnya tingkat depresi, agresi, penurunan nilai akademik, dan tindakan bunuh diri.

Bullying juga menurunkan skor tes kecerdasan dan kemampuan analisis para siswa. Para pelaku bullying berpotensi tumbuh sebagai pelaku kriminal, jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak melakukan bullying.

Bagi si korban biasanya akan merasakan banyak emosi negatif seperti marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam dan lain sebagainya. Dalam jangka panjang, emosi-emosi seperti itu dapat berujung pada munculnya perasaan redah diri bahwa dirinya tidak berharga.

Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial juga muncul pada para korban. Mereka ingin pindah ke sekolah lain dan kalaupun mereka masih berada di sekolah yang sama, mereka biasanya terganggu prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah.

Yang paling ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbul gangguan psikologis yang berlebihan seperti selalu takut, depresi, bahkan ingin bunuh diri.

Dampak terbesar adalah kejiwaan anak yang tidak lagi berkembang dengan baik. Baik si pelaku maupun korban bullying sama-sama memiliki gangguan.

Menurut saya, perilaku bullying termasuk ke dalam pelanggaran hak asasi manusia yang tergolong cukup berat. Berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 Pasal 13, menyatakan bahwa setiap anak berhak mendapat perlindungan dari perlakuan diskriminasi.

Jelas banyak sekali hak korban bullying yang direnggut oleh pelakunya, seperti hak memperoleh rasa aman, hak dihargai dan dihormati, hak mendapat perlindungan dari perlakuan diskriminasi, dan sebagainya. Selain itu, perilaku ini juga tidak sesuai dengan norma agama manapun.

Jika kita menganalisis dari sudut pandang Pancasila perilaku bullying bertentangan dengan sila Pancasila ke-2 yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Perilaku ini tentu lah sangat tidak manusiawi dan tidak beradab karena pelaku telah merendahkan dan memberi label yang buruk terhadap korban.

Selain itu, kita semua sebagai generasi muda Indonesia harusnya dapat menjiwai semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, yang berarti berbeda-beda namun tetap satu.

Menghargai merupakan kunci penting dalam permasalahan ini. Jika semua orang dapat menghargai hak yang dimiliki orang lain, bullying tidak akan terjadi di manapun.

Ironisnya, banyak pihak yang tidak menganggap serius masalah ini. Kasus bullying bukanlah sesuatu yang sederhana dan dapat diselesaikan sendiri oleh sang anak. Ada banyak sekali solusi yang dapat kita lakukan untuk mencegah perilaku bullying pada generasi muda.

Pertama, dibutuhkan suatu pendidikan karakter yang efektif dalam mengajarkan anak dan remaja tentang bahaya dan dampak bullying bagi orang lain. Dengan mengetahui hal tersebut, anak juga dapat belajar untuk menghargai hak sesama.

Pembelajaran seperti ini dapat diajarkan melalui pelajaran Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Pancasila, ataupun berupa sosialisasi dari Bimbingan Konseling (BK) yang dimiliki sekolah.

Selain itu, perlu adanya pengawasan dan perhatian baik dari pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat dan orang tua agar kasus bullying tidak terjadi lagi. Jika ada siswa yang menjadi korban bullying, pihak sekolah, teman-teman serta orang tua perlu memberikan dukungan dan perhatian kepada sang anak untuk tetap percaya diri.

Melalui artikel ini saya mengajak Anda untuk ikut serta dalam menolak suatu pelanggaran HAM, yaitu bullying terhadap anak dan remaja. Bersama-sama ayo kita dukung masa depan generasi muda yang terbebas dari perilaku bullying. Marilah kita meresapi makna Pancasila dan mengaplikasikannya dalam hidup kita.

Tidak hanya itu, marilah kita menanamkan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” dalam diri kita dan saling menghargai hak asasi manusia yang kita miliki.