Indonesia berada di posisi kelima tertinggi dari 78 negara sebagai negara yang paling banyak pelajar mengalami perundungan berdasarkan Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2018. Hal ini menunjukkan bahwa budaya bullying di kalangan pelajar masih terus terjadi. Oleh karena itu, fenomena bullying di Indonesia kini telah menjadi isu tersendiri.

Kasus bullying tersebut biasanya berawal dari mengejek bentuk tubuh yang sepele. Namun, hal tersebut bisa berujung dengan kekerasan fisik. 

Salah satu contoh kasus adalah bullying di Sekolah Menengah Pertama Kota Malang, Jawa Timur. Korban, MS (13), diduga merupakan korban bullying atau perundungan oleh 7 orang teman sekolahnya. Akibat kejadian tersebut, ruas salah satu jari MS harus diamputasi.

Kasus tersebut sudah dalam penyelidikan oleh Polresta Kota Malang. Akan tetapi, kepala sekolah SMP di Kota Malang tersebut mengatakan bahwa belum ada kepastian tentang pembullyan di antara pelaku dan korban dan yang terjadi itu bukan kesengajaan, melainkan bergurau. Beliau juga mengatakan bahwa ketujuh siswa tidak memiliki record kejahatan atau kenakalan selama bersekolah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang juga menyimpulkan bahwa kasus ini tidak terdapat unsur kekerasan, pelaku hanya bermaksud untuk bercanda. Kalau sudah begitu, siapa yang harusnya bertanggung jawab atas kejadian seperti ini?

Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sebanyak 80% pelajar telah mengalami bullying di sekolah dan memilih untuk diam saja. Selain itu, cyberbullying meningkat cukup signifikan di kalangan para siswa seiring dengan penggunaan internet dan media sosial dikalangan anak-anak termasuk kasus body shamming.

Pada tahun sebelum 2015, terdapat nol kasus cyberbullying, atau tidak ada laporan satu pun tentang cyberbullying, tapi sejak 2015 terus terjadi peningkatan. Di awal 2015 hanya empat kasus kemudian terus naik, terakhir mencapai 206, jadi seiring dengan kemajuan teknologi dan media sosial memang terjadi peningkatan terutama untuk cyberbully.

Sebenarnya apasih bullying itu? Menurut Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, bullying adalah suatu bentuk kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang yang terjadi antar kelompok, antar individu atau antar kelompok dan individu, yang membuat korbannya mengalami trauma, depresi atau tidak berdaya.

Terkadang hal-hal sederhana yang awalnya candaan dapat dikategorikan bullying, seperti mengolok-olok nama orang tua dan mengejek bentuk tubuh orang lain atau body shamming. Hal-hal seperti itu terkadang dianggap remeh namun dampaknya bisa menjadi besar.

Tindakan bullying tentu sangat memberi dampak pada korbannya. Dampaknya pun sangat beragam, mulai dari hilang percaya diri, tidak aman, hingga depresi. Tak hanya psikologis, bullying juga dapat berujung dengan kekerasan fisik. Dalam kasus-kasus bullying yang ekstrim seperti insiden diatas, dampak yang ditimbulkan akibat kekerasan fisik bisa menjadi sangat fatal.

Jika sudah seperti ini, kasus bullying memang tidak bisa disepelekan lagi. Dalam hal ini, diperlukan kolaborasi yang baik dari berbagai pihak. Orang tua, Lembaga Pendidikan, serta organisasi harus memiliki peran masing masing untuk meminimalisir pembullyan di kalangan pelajar ini.

Orang Tua

Orang tua merupakan sumber pendidikan pertama untuk anak yang sangat diperlukan guna menunjang dan mendukung karakter dalam diri anak. Peran orang tua dalam meminimalisasi bullying ini dapat dimulai dari menerapkan pola asuh yang sesuai dan mendidik bagi anak. 

Terdapat beberapa jenis pola asuh, seperti pola asuh otoriter, pola asuh permisif, pola  asuh demokratif dan pola asuh dengan pihak ketiga. Orang tua dapat memilih dan menerapkan salah satu atau bahkan kombinasi dari keempat pola asuh tersebut yang dirasa sesuai dengan kebutuhan dalam keluarganya.

Akan tetapi, menurut beberapa jurnal, pola asuh demokratis adalah pola asuh terbaik dari semua jenis pola asuh yang ada. Ini karena tipe pola asuh ini lebih mendahulukan kepentingan bersama diatas kepentingan individu anak.Tipe ini adalah tipe yang tidak banyak menggunakan kontrol terhadap anak.

Menurut satu peneliti dari University of Warwick, Dieter Wolke, anak yang orang tuanya cenderung overprotektif justru tidak mempunyai kualitas yang mendukung dalam diri anak dari segi ketegasan dan otonomi keluarga. Sehingga anak sangat rentan menjadi korban bullying.

Selain pola asuh, kepercayaan diri merupakan salah satu cara untuk mengatasi pembullyan dan hal itu dapat diajarkan sejak dini oleh orang tua. Ini karena orang tua memiliki peran utama dalam membentuk karakter dan perilaku anak. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk mengajarkan supaya anak memiliki kepercayaan diri yang baik.

Pertama, sering-sering mengajak anak berbicara dan mendengarkan ceritanya. Dari hal itu, anak menjadi lebih berani untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Kedua, jangan membanding-bandingkan anak. Daripada membandingkan, fokuslah mencari kelebihan anak dan memujinya.

Selanjutnya, mengarahkan anak untuk mengikuti aktivitas positif seperti berorganisasi. Dengan itu mengikuti aktivitas-aktivitas tersebut, anak akan merasa mampu dan percaya pada dirinya sendiri.

Lembaga Pendidikan

Partisipasi Lembaga Pendidikan atau sekolah juga tak kalah penting dalam upaya mengatasi bullying pada pelajar. Pihak sekolah dapat menerapkan kebijakan-kebijakan tertentu di dalam lingkungan sekolah.

Hal pertama yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah untuk meminimalisir bullying adalah memberikan pengetahuan dan cara mengatasi bullying kepada guru dan staff sekolah. 

Selanjutnya mereka dapat mengedukasi para siswa mengenai hal tersebut. Hal kedua adalah menegakkan aturan yang telah ada. Peraturan tentang bullying sebenarnya sudah ada, namun penerapannya masih belum sesuai. Masih banyak sekolah yang menganggap remeh aturan ini.

Selain itu, Pendidikan karakter di dalam lingkungan sekolah juga tak kalah penting. Program pendidikan karakter di sekolah ini dapat meningkatkan kualitas hubungan antara pelajar dan guru, serta hubungan antar sesama pelajar.

Dengan berlakunya kebijakan tersebut, diharap sekolah bukan lagi menjadi tempat yang membuat anak-anak trauma melainkan menjadi tempat yang aman, menyenangkan bagi anak untuk belajar dan bersosialisasi.