Ketika manusia pertama kali keluar dari alam rahim, kadang langsung mendapat ungkapan seperti, hitam, kecil, keriting, pesek, dan lain sebagainya yang dianggap sebagai hal beda pada umumnya oleh orang dewasa yang melihatnya. 

Pada saat mulai bisa berbicara, kesalahan dalam pengucapan anak-anak sering menjadi bahan ledekan orang dewasa. Bahkan ketika mereka melakukan kesalahan, orang tua atau orang yang lebih tua malah memukulnya. Atau mencoba membanding-bandingkan dengan orang lain dengan menyebutkan setiap kekurangan si anak tersebut.

Begitu masuk sekolah, si anak kembali mendapat banyak perlakuan hal serupa. Bukan hanya dari kakak tingkatnya yang lebih dulu sekolah, tapi guru juga terkadang menghukum siswa dengan cara memukul ketika melakukan kesalahan. Atau mempermalukannya dengan menyebutkan kekurangan yang dimilikinya ketika tidak bisa menjawab tugas yang diberikan.

Di kampus juga tidak jarang terjadi seperti itu. Baik pada saat penerimaan mahasiswa baru, ospek, hingga latihan dasar kepemimpinan di berbagai organisasi.

"Kita melakukan ini untuk melatih mental mereka. Kami juga dulu ditempa seperti ini." Kira-kira begitu kalimat yang mereka ungkapkan.

Hal serupa juga kembali terjadi setelah sarjana, masuk di dunia kerja, menikah, berkeluarga, hingga di usia tua, kadang masih mendapat ungkapan hal serupa. Keriput, penglihatannya sudah rabun, atau cara berbicara yang kembali seperti anak kecil. Semua bisa menjadi bahan ledekan dan tertawaan.

Sehingga, dapat saya simpulkan, dari pengalaman saya, bahwa bullying itu sudah terjadi sejak lahir hingga tua. Karena seringnya terjadi, hal tersebut sudah dianggap biasa dan wajar.

Memang benar, banyak orang yang bisa tetap bertahan, bahkan bisa menjadi lebih baik dan memiliki resilience yang tinggi setelah melalui setiap bullying. Tapi banyak juga yang malah menjadi kurang percaya diri, stress, depresi, hingga bunuh diri karena perilaku tersebut. 

Nah hal seperti ini yang mesti dihindari. Caranya yah dengan mengenali, memahami, dan menyadari perilaku tersebut.

Sederhananya, bully dapat diartikan sebagai segala perilaku menyakiti orang lain secara fisik maupun psikis baik secara langsung ataupun melalui media sosial. Perilaku bully bukan hanya terjadi secara fisik seperti memukul, tetapi juga secara verbal.

Bullying terjadi karena adanya ketidak seimbangan kekuatan. Ada yang merasa kuat dan ada yang merasa lemah. Ada yang merasa sempurna dan ada yang merasa serba kekurangan. Serta ada aktor pendukung dalam melakukan bullying.

Pelaku adalah orang yang merasa kuat dan sempurna. Sementara korban adalah yang merasa lemah, memiliki banyak kekurangan, dan memberi peluang kepada pelaku 

Selain pelaku dan korban, salah satu faktor yang membuat bully terjadi dan berkelanjutan karena adanya aktor pendukung. Sekelompok orang yang memberi dukungan kepada pelaku, dan menikmati bersama melihat penderitaan serta segala kekurangan yang dialami oleh si korban.

Biasanya pelaku adalah orang yang lebih tua dan merasa lebih sempurna. Dalam lingkup keluarga, biasanya orang tua atau kakak. Dalam pendidikan pelaku biasanya guru atau senior.

Pelaku biasanya melakukan bullying karena pernah mengalami hal yang serupa. Pernah di-bully oleh senior atau gurunya. Sehingga ketika memiliki junior, dia sudah merasa memiliki power dan kelebihan untuk melakukan hal serupa.

Sehingga sering sekali kita menjumpai senior membully juniornya. "Kami dulu juga diperlakukan seperti itu. Bahkan di zaman kami lebih parah. Ini kami lakukan untuk membentuk mental kalian." Kira-kira begitulah perspektif yang diungkapkan oleh pelaku.

Sementara si korban, kadang mereka yang tidak memiliki kemampuan, dan bahkan cenderung memberi peluang pelaku untuk membullynya. Meskipun dalam batinnya memiliki banyak pertentangan, karena merasa kecil, muda, junior, dan serba tidak mengetahui, sehingga rela untuk di-bully.

Adapun aktor pendukung adalah kelompok yang cenderung ingin bermain aman dan menikmati penderitaan si korban. Tidak jarang, aktor pendukung yang menjadi pemicu dan pemanas sehingga semangat pelaku untuk melakukan aksinya semakin membara.

Melihat alur dan aktor dalam bullying, ada sebuah circle yang terus terjadi dan berulang. Hanya aktornya yang terus berganti.

Dengan kata lain seperti ini. Apa yang dipercayai oleh si pelaku, akan mempengaruhi tindakannya. Dan tindakan si pelaku akan mempengaruhi kepercayaan orang lain atau si korban. Dan ketika itu sudah menjadi sesuatu yang diyakini oleh si korban, keyakinannya itu akan terwujud dalam tindakan dan itu kembali akan mempengaruhi keyakinan orang lain. Begitu seterusnya.

Lalu bagaimana cara untuk memutus mata rantai bullying? Ada tiga tahap yang bisa dipetakan.

Pertama adalah pra bullying atau saat bullying belum terjadi. Ada beberapa hal yang harus dilakukan yakni mengenali bentuknya, kemudian menyadari resikonya, dan menutup peluang terjadinya bullying.

Dengan mengenali bentuk-bentuknya, seperti secara verbal, fisik, mental, ataupun cyber, kita bisa lebih mudah menyadarinya. Sehingga bisa mengantisipasi dan mencegah terjadinya bullying. Minimal ketika menyadarinya, kita tidak menjadi pelaku, korban, atau hanya sekadar pendukung.

Karena banyak diantara kita, karena sudah terbiasa dengan hal tersebut, sehingga tidak menyadari kalau yang dilakukan itu adalah bullying. Atau hanya sekadar sebagai pendukung orang yang melakukan itu.

Kedua adalah saat bullying sedang terjadi. Hal yang bisa dilakukan adalah menangani kasusnya dan memberdayakan aktornya.

Ketika bullying sudah terlanjur terjadi, bisa memetakkan aktornya terlebih dulu. Memberikan pemahaman kepada pelaku tentang dampak dari perbuatannya. Selain itu, support sistem juga perlu diberikan kepada korban untuk menutup peluang pelaku untuk membully.

Dan terakhir, ketika aksi bullying telah terjadi. Hal yang bisa dilakukan adalah mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Sudah banyak contoh peristiwa yang terjadi akibat sampak bully. Itu bisa menjadi refleksi kita sebelum berbicara maupun bertindak terhadap orang lain.