Kalau saya perhatikan, saat ini warga internet (netizen) gampang sekali mengeluarkan kata-kata cacian, hinaan, bahkan fitnah. Kata sebagian besar orang, itu adalah dampak negatif media sosial. Tapi bagi saya, mungkin kelakuan semacam itu memang sudah mendarah daging di negeri ini.

Beberapa hari yang lalu, saya seperti biasanya sedang asyik mengerjakan tugas kuliah sambil streaming musik di YouTube. Kebetulan, tugasnya nggak perlu mikir berat, semacam membuat review bukulah. Maka, saya pun iseng mengecek trending di YouTube, melihat video apa yang sedang hot di Indonesia pada malam itu. Lalu, terdengarlah alunan lagu dengan lirik lengendaris ini.

“Aku bukan bonekamu, bisa kau suruh-suruh, dengan seenak maumu. Aku bukan bonekamu bisa kau rayu-rayu, kalau kau bosan pergi dan menghilang. Keke bukan boneka, boneka, boneka… “

Lagu yang dinyanyikan oleh Rahmawati Putri Cantika alias Keke itu terngiang-ngiang di kepala saya seperti mars salah satu partai nasional yang dulu sempat membuat adik saya yang baru berusia delapan tahun menghafalnya. Lagu Keke ini, selain karena iramanya ear catching banget mirip musik odong-odong, liriknya juga sederhana dan mudah dicerna.

Tapi, jujur, kalau membahas suara, koreografi, dan videografinya, video Keke itu bukan selera saya. Suara si Keke bisa dibilang fals, dan agak melengking syahdu. Koreografinya juga biasa-biasa saja, goyangan ala anak SD yang ikut lomba nyanyi 17-an. Jangan tanya masalah videonya, ya persis dokumentasi kawinan non-sinematik.

Saya rasa wajar saja, apabila sebuah karya seni dipublikasikan, kemudian mendapat berbagai respons, termasuk kritikan. Termasuk karya musik yang dibawakan oleh Keke ini. Sangat bebas dan boleh untuk mengkritiknya, selama yang dikritik masih berkaitan dengan lagu dan segala tetek bengeknya.

Tapi apa yang saya amati di kolom komentar video YouTube-nya benar-benar jauh dari kritik semacam itu. Sampai saya sendiri lelah menghitung berapa kali netizen mengomentari fisik Keke yang berpostur kecil itu sebagai olok-olokan atau sekadar bersumpah serapah saja.

“Emang kekey bukan boneka tapi biaawak, pake bikin lagu segala.”

“Kan elu dah tua yakk, napa lagunya nadanya lagu anak2, kasian bocil2 komplek rumah gw anjrit nada ank2 liriknya org gedeee.”

“Udahhhh gitu doang... Hoaaammm ngantuk ahhhhh !!!!! Pdhal aku nunggi keke itu nyeburrrr malah gak adaaa..”

Itu baru sebagian kata-kata ‘bijak’ yang berhasil saya temukan, karena saya tidak sanggup membaca kalimat-kalimat yang lebih ‘memotivasi’ lagi. Ya, meskipun saya akui, banyak juga komentar-komentar yang mendukung dan membela Keke. Tapi, tak sulit juga menemukan komentar negatifnya.

Awalnya, saya mengira kalau kelakuan barbar itu terjadi karena pengaruh subjek yang dibahas. Tentang Keke misalnya, saya sempat khilaf su’uzon bahwa Keke adalah penyebab mereka bersikap begitu. Dialah sumber dari segala masalah. Kalau saja dia tidak membuat video jelek, netizen pastinya aman dan damai saja. Saya bahkan sempat memberikan dislike pada video Keke karena saking sebalnya.

Faktanya, perilaku yang istilah kerennya cyberbullying ini terjadi pada hampir semua topik pembicaraan. Masyarakat kita sepertinya sudah lupa cara ‘tidak setuju’ yang baik.

Dulu, ketika kita sekolah, kita diajarkan untuk bertanya dengan sopan, membantah argumen dengan baik di depan teman-teman sekelas, dan sebagainya. Tapi, sekarang, hanya karena berada di balik monitor, dengan jarinya orang-orang dengan entangnya memaki-maki orang lain tanpa merasa bersalah.

Persoalan K-Pop dan drama korea misalnya. Belakangan ini drama korea kembali menjamur dengan banyaknya siaran televisi yang menayangkan drama-drama korea bucin yang uwu uwu.

Sebenarnya ini bukan hal baru. Pada 2010-an pun kita telah diserbu oleh drama korea seperti My Girlfriend is Gumiho dan King of BakingKimtakgu. Entah kenapa, netizen saat ini malah seakan alergi dengan drama korea. Sa;ah satu yang sering jadi bahan bullyan adalah artis korea itu plastik.

Kasus yang agak baru mungkin masih segar di ingatan kita, fenomena Ferdian Paleka. Fenomena yang tiba-tiba membuat orang-orang kebanyakan peduli pada kaum transgender.

Apa yang dia lakukan jelas salah, tidak ada yang bisa membantahnya. Namun, netizen sepertinya belum puas bahkan setelah dia dijebloskan dalam penjara dan menerima ganjaran perbuatannya (belakangan dia dibebaskan karena pelapor mencabut laporannya). Apa pun itu, tindakan netizen yang membabi buta membully Paleka, bahkan membawa-bawa fisik, kata umpatan, dan berbagai kalimat yang sangat tidak family friendly.

Dari berbagai peristiwa tersebut, saya mengamati beberapa hal. Pertama, netizen Indonesia sepertinya hobi membully. Bukan karena siapa yang memposting, tapi terkesan ada aturan tak tertulis, apabila satu orang berhasil membully orang lain, maka netizen lain akan keroyokan ikut membully.

Kedua, peristiwa membully ini terjadi karena begitu mudahnya seseorang membuat akun media sosial, sehingga akun-akun alter/anonim alias akun palsu menjamur. Paling umumnya, mereka memakai profile picture kartun atau ikon meme.

Kebiasaan keroyokan membully ini sepertinya berasal dari kebiasaan sebagian orang Indonesia untuk main hakim sendiri ketika ada maling yang ditangkap. Ketika ada satu orang yang menggebuk si maling, maka kerumunan orang pun akan berdatangan menggebukinya.

Sementara itu, orang begitu mudahnya membuat akun alter dan mengelabui standar pedoman media sosial, karena kecerdikan, lagi lagi sebagian lho ya, nggak semua, orang Indonesia yang selama ini telah ada. Menyontek, pungli, mengubah takaran timbangan, dan sebagainya.

Zaman sudah berubah, teknologi makin maju, namun sebagian warga +62 masih saja membawa kebiasaan dan sifat masa lampau. Apakah teknologi yang membuat mereka hobi membully di balik topeng, atau justru memang sudah seperti itu sifat asli mereka?