Suara gemuruh tiba-tiba terdengar. Suaranya seperti benturan satu benda keras dengan benda keras yang lain. Teriakan orang-orang di luar rumah membuat suasana semakin mencekam.

“Ayo!, Ayooo! Siap-siap, banjir akan datang!” Teriak salah seorang penduduk.  

Malam itu, memang hujan sangat deras, tidak seperti biasanya. Entah jam berapa tepatnya, tidak sempat mereka berpikir untuk melihat jam dinding.

Malam itu, semua orang panik, kalang kabut. Masing-masing sibuk dengan kepanikan masing-masing. Tangisan bayi dan anak-anak mulai terdengar. Semua orang terbangun dari tidurnya masing-masing.

Semua orang juga bingung apa yang harus dilakukan. Mereka hanya terpaku di pelataran rumah masing-masing. Menunggu sesuatu yang mungkin saja terjadi. Sebagian terlihat berlari sambil membawa bungkusan. Tapi entah berlari kemana, tak ada yang tau.

Anak-anak kelihatan takut, gelisah dan buncah. Tidak mau lepas dari pegangan tangan orang tuanya. Seolah sudah merasakan apa yang akan terjadi. Yang terjadi memang tidak galib, tidak seperti biasanya.

***

Sebelum kejadian itu, Bulayak adalah kampung  kecil nan Indah. Pepohonan liar masih memagut erat. Bulayak adalah janabijanaku, nan indah dan rahayu. Gemericik air terdengar jelas dari jeram samping rumah ku. Kehidupaan yang benar-benar tenang dan damai.

Bulayak adalah desa dataran tinggi. Berada di pegunungan Meratus. Pegunungan yang melintasi delapan kabupaten yang ada di Kalimantan Selatan.  Menjadi penyangga sumber mata air dari hulu Sungai Barabai dan hulu Sungai Batang Alai.

Abah dan mama hanya tinggal berdua setelah aku menempuh pendidikan ke perguruan tinggi Islam negeri yang ada di ibukota provinsi. Hasil kebun kacang, cabe, dan tomat, serta produksi kayu manis menjadi andalan untuk biaya kuliahku.

Sudah tiga setengah tahun aku menempuh pendidikan di Banjarmasin. Aba dan mama belum pernah ke Banjarmasin, mereka tidak bisa meninggalkan kebun mereka.

“Kuliah saja yang rajin, biar kami berkebun untuk biaya kuliahmu” suara sayu mama terdengar lirih di ujung telpon ketika aku meminta mereka untuk ke Banjarmasin.

Iya. Sebentar lagi aku akan ujian skripsi. Tahapan terkahir di kuliahku. Aku ingin orang tuaku tahu bahwa inilah hasil dari perjuangan mereka berkebun selama ini.

***

Beberapa kali ku telpon, Abah dan mama tak pernah menyahut. Nada deringnya pun tak berbunyi. Aku mulai panik. Aku mendengar informasi di media sosial bahwa kampungku kena banjir bandang.

Tiba-tiba air mandasau* dari arah perbukitan menuju perkampungan. Begitu informasi yang ku dapat di media sosial. Ku coba menelpon teman-teman di kampung, juga tidak terhubung. Aku bingung sendiri sekaligu cemas membayangkan apa yang terjadi di kampung ku.

Sementara di media sosial sudah banyak sekali informasi tentang banjir bandang itu. Bagian hulu Sungai Barabai pun mulai limpas. Air gunung yang mengalir mulai meluap ke daratan. Airnya tidak lagi jernih, tapi berwarna kuning bercampur tanah dari atas pegunungan.

Aku heran mengapa airnya berwarna kuning. Apakah di atas gunung itu sudah tidak ada pepohonan lagi?

Aku juga heran, ada yang bilang bahwa banjir itu disebabkan sungai Barito yang meluap.  

Ooooh. Aku bingung. Karena setahuku, Bulayak di Barabai sangat jauh lokasinya dengan sungai Barito.

Tapi, ah sudahlah. Aku tak peduli dengan apa yang terjadi di media sosial saat itu. Yang ku cemaskan adalah kedua orang tua ku. Aku juga tidak peduli dengan ujian skripsiku. Yang ku pikirkan saat itu adalah kampung halamanku. Tiga hari sudah berlalu. Orang tuaku masih belum bisa dihubungi. Kuputuskan untuk pulang kampung.

***

Kakiku bergetar lemas, seakan tak mampu untuk meneruskan masuk ke kampungku. Bibirku kelu, tak mampu berkata. Mataku berkaca, tertutup air mata yang masih terbendung. Hatiku sembiluan, pedih, teriris pemandangan yang memerihkan.

Ternyata kampungku luluh lantak. Hampir semua rumah menjadi kuning tertutup lumpur sisa air bah. Bahkan banyak rumah yang hancur terbawa banjir bandang kemarin.

Semuanya hancur. Bulayakku tak lagi hijau, Bulayakku tak lagi tenang. Bulayakku tak lagi damai. Kucoba terus berjalan. Mendatangi rumah demi rumah. Aku sudah tidak bisa menemukan di mana rumahku. Aku juga susah menemukan teman-teman ku. Aku pun tak kunjung menemukan tetanggaku. Semua orang masih sibuk. Sibuk dengan urusan keluarga dan harta bendanya.

Semuanya tercerai berai, ke mana harus mencari. Sepanjang jalan masih berserakan barang-barang rumah tangga yang hanyut terbawa arus air bah.  

Pikiranku mulai melayang ke mana-mana. Tak tahu ke mana harus mencari Abah Mama ku. Di bawah hujan aku terus mencari, menelusuri jalan kampung Bulayak yang terkoyak. Ku biarkan badanku basah dengan air hujan, biar tak seorangpun tahu kalu aku sedang menangis.#

*Mandasau (Bahasa Banjar): air mengalir deras dalam jumlah banyak secara tiba-tiba.