Libertarian
3 tahun lalu · 131 view · 1 menit baca · Puisi bulan.jpg

Bulan Putih Perih

Beberapa puisi karya Saidiman Ahmad.

 

Bulan Putih Perih

bulan putih perih
di tepi telaga

malam kelam bungah
di puncak jelaga

bunga riuh rekah
di mimpi-mimpi remaja

Utan Kayu, 9 Desember 2009

 

Revolusi Samasta

benang raja runtuh ripuk menderau
merampat bumi bertalu-talu
bayu berpuput kota digulung
suluh langit meredup

guntur menggeletar luruh
tubir kepundan bersurut setindak
diliputi segara berkuala tasik

ayuhai hidup,
apalah guna fajar menjalang
menerangi raung lulung
sudah itu redam terbelam
dalam gerang matahari.

Kalibata, 1 Desember 2009

 

Potret Kaki

Rapat-rapat kau apit rok
yang menjuntai panjang
kusut di lembab pahamu.

Hati-hati kau letak dudukkan pantatmu
di bangku kayu basah itu
lalu kau coba bersikap biasa.

Kau amat-amati kakimu: telanjang
diam-diam bergeser berhimpit
mengusir dingin yang menungguimu sejak tadi.

Kau rasa-rasai pasir:
tanah dan batu-batu menghangatinya dari bawah.

Jakarta, 3 Desember 2009

 

Sayap-sayap

Kau musti punya sayap yang lebih lebar
biar kau bisa terbang di udara lapang.

Tak perlu kuat benar kau kibas
angin toh tidak akan memiuhmu surut
dan terminalmu tidak akan semakin menjauh.

Kalau ada debu memerihkan matamu
kepak meninggilah sekali lagi
agar lebih leluasa kau lihat
sesiapa saja di sana
menunggumu berjejak
dan menggamit kembali sayap-sayapmu.

Jakarta, 3 Desember 2009