Arsiparis
6 bulan lalu · 236 view · 3 min baca menit baca · Cerpen 85236_80884.jpg
id.kisspng.com

Buku, Waktu, dan Menunggu

Bila kita membicarakan waktu pasti setiap orang akan mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Bagi yang sedang tertimpa musibah waktu begitu lama berjalan begitu pula bagi yang sedang mendapat anugerah waktu terasa begitu singkat melintas. Memang kita menjadi begitu subyektif memaknai waktu.

“Yah,…mengapa saat aku membaca buku sepertinya terlalu sebentar waktu untukku. Selalu saja tiba tiba waktu tidur menjelang,” ujar anakku yang sulung sambil menghambur ke arahku.

“Ayah lho sejak tadi menunggumu membaca sampai  terkantuk kantuk, kamu saja yang terlalu serius,” balasku sambil membelai rambutnya yang lurus panjang menghitam.

Ketika kita sedang membaca, sering tidak kita sadari kita sedang membuat jeda dari waktu yang bergulir.

Bila kita mau mengkaji, adakah di dunia ini, yang tidak sama mendapat pembagian waktu. Semua pasti akan sepakat dengan suara yang bulat bahwa kita sama dalam menikmati waktu. Sehari semalam kita semua mendapat waktu dua puluh empat jam tidak lebih dan tidak kurang. Terus adakah di antara kita yang sudah menggunakannya dengan baik atau barang kali dari 24 jam itu terlewat begitu saja.

Dengan jumlah waktu yang sama mengapa nasib kita berbeda. Adakah itu betul-betul nasib kita yang berbeda atau cara kita mengisi waktu yang berbeda yang akhirnya membuat kita mendapat sebutan yang berbeda; pengemis, perampok, pengusaha, pedagang, dan yang lebih malang adalah pengangguran.

Banyak buku buku tentang manajemen waktu berserakan di toko buku. Mungkin penulis itu lupa bahwa membaca itu juga perlu waktu tapi tak disinggungnya di buku buku itu.

“kamu dan ibumu itu sama; sering lupa waktu saat membaca buku,” kataku sambil mengantarnya ke tempat tidur.

“Ibu pernah bilang bahwa ia jatuh cinta pada ayah karena sebuah buku,” balasnya sambil tersenyum. “Aku ingin mengikuti jejaknya. Bila saatnya aku ingin jatuh cinta pada lelaki yang bisa memberi buku yang membuatku menangis dan tertawa,” lanjutnya sambil menutup pintu kamarnya.

Tidak mengherankan apabila banyak peribahasa yang menyebut tentang waktu. Ada yang mengatakan waktu adalah pedang kalau tidak mahir menggunakan akan melukai yang menggunakan. Ada juga yang mengatakan bahwa waktu adalah uang kalau tidak hemat menggunakan maka waktu akan terbuang percuma. Begitulah waktu diapresiasi dengan begitu rupa oleh siapa saja.

"Andai aku punya banyak waktu tentu aku tidak akan seperti ini," kata seorang penganggur yang merasa selalu kekurangan waktu karena terlalu banyak tidur dan membaca buku tanpa pernah sekalipun melakukan sesuatu dari hasil membaca buku buku itu.

Buku adalah teman paling bagus untuk seseorang dengan banyak waktu luang, Waktu luang adalah hari raya bagi pembaca. Kesalahan terbesar pembaca adalah tidak pernah mengolah yang telah ia baca menjadi karya.

Tak heran sekarang ini bila banyak menjamur kursus manajemen waktu. Banyak orang yang ikut kursus itu berharap untuk bisa menaklukkan waktu-menata sekehendak hatinya.

Di pagi yang dingin karena sisa hujan semalaman, aku duduk di ters rumah sambil membaca buku kesukaanku bagaimana cara memabaca buku. Saat menikmati jeda waktu di tengah membaca buku, tiba tiba anakku datang.

“Ayo ke toko buku mumpung libur, hari ini,” pintanya.

“Buku sekarang mahal mahal, kita tunggu kalau ada obral  di kios pak Darto.”

“Ya…gagal lagi.”

“Ning, jadilah kutu buku yang rasional. Jangan pernah habiskan waktu dengannya. Harus kau sisakan waktu untuk mengolah yang kau baca menjadi karya, entah apa itu bentuknya realisasikanlah yang masuk ke otakmu dengan sesuatu yang bisa kau bagi dengan orang lain.”

Aku mengingatkannya untuk waspada terhadap buku  karena kutu buku itu baik tapi meluangkan waktu untuk berkarya adalah yang terbaik.

Jangan-jangan Sang waktu sedang tertawa. Menertawakan tingkah polah orang yang sedang mencoba menaklukkannya. Ia heran bagaimana bingungnya orang menghadapi dirinya yang hanya berjumlah 24 jam sehari-semalam hingga harus kursus manajemen waktu segala.

Bagiku, waktu tetaplah sebuah rahasia abadi karena aku tidak tahu kapan ia berhenti bersamaku. Tidak ada yang perlu disesali dengan berjalannya waktu, toh waktu tidak akan kembali dan dia akan terus melaju. Yang lebih penting lagi ialah bagaimana kita bisa bersama dengan waktu mengisi hari-hari kita jangan sampai kita ditinggalkan oleh waktu yang bergerak lebih cepat dari gerak kita.

“Ayo lebih cepat kita sedang terburu-buru, nih,” kata istriku yang sedang membonceng di belakangku.

“Mengapa kita mesti terburu-buru mengejar waktu bukankah salah kita mengapa kita tidak terjaga lebih dulu dan mendahului waktu sehingga kita akan menjadi seorang penunggu.” balasku.

Setibanya di tempat jumpa penulis itu, istriku menyodorkan bukunya ke meja untuk ditandatangani oleh penulis buku yang sangat ia suka. Buku dengan judul Cara Terbaik Menghabiskan Waktu Dengan Suami. Itu adalah buku mas kawinku dengannya. Aku  menunggu di tempat parkir sementara  ia antri menunggu sang penulis datang.

Sambil menunggu, kubaca sebuah kalimat di  buku tentang menunggu..

Manusia, adalah makhluk yang sangat jengkel apabila disuruh menunggu. Bukankah dengan menunggu berarti kita telah mendahului waktu? Mengapa harus jengkel, bosan, apalagi marah apabila harus menunggu? Coba mereka berpikir bagaimana penyesalan yang diakibatkan oleh perasaaan ketinggalan, terlewatkan dan kita baru sadar ketika waktu sudah jauh melesat. Kecewa.

Artikel Terkait