Freelancer
6 bulan lalu · 146 view · 11 min baca · Cerpen 41417_63921.jpg

Buku Tulis Tipis

Akan kuceritakan padamu mengenai satu hal, ini tentang apa yang baru saja kutemukan di bawah kolong tempat tidurku. 

Di sana, telah teronggok tumpukan kertas serta buku-buku lamaku saat aku masih duduk di bangku SMA. Tetapi, yang paling penting dari semua itu adalah aku menemukan sebuah buku tulis yang boleh dikata sangatlah tipis serta dipenuhi dengan banyak macam jenis coretan. 

Setelah kubaca seluruh coret-coretan di buku itu, pikiranku pun melesat ke waktu-waktu yang lalu, 12 tahun, jauh sebelum kejadian penemuan tak terduga itu.

Asal kau tahu saja, umurku sekarang sudah 21, tetapi nampaknya, tak ada yang berarti dari usiaku itu. Sebab banyak yang bilang; bahwa sesungguhnya aku masih terlihat seperti remaja usia 17 tahun (meski hal ini hanya kuyakini seorang diri). 

Tiga hari lalu, aku melewati perjalanan panjang dari kota tempatku merantau—menuju ke kota kelahiranku. 

Dan, hari ini, di dalam kamarku yang makin lama makin terasa sempit ini, ketika aku sudah berada di kampung halamanku—persis saat matahari tepat berada diatas kepalaku—aku pun kemudian menemukan buku itu.

Sebenarnya, buku itu hanyalah buku tulis biasa bermerek Sidu. Namun, jika kau mencoba membuka halaman per halamannya—kau akan dibawanya ke masa-masa yang jauh—ke kehidupan seorang gadis yang masih berusia belia.

Kau mungkin bertanya-tanya, buku macam apa itu? seperti apa bentuknya? Akankah fungsinya menyerupai mesin waktu? Namun, aku tak bisa menjelaskan padamu sebelum aku menyalin dan menuliskannya terlebih dahulu. 

Sebab jujur saja, tulisan gadis itu benar-benar ambur adul, penuh dengan coretan aneh yang sulit sekali dimengerti, hingga aku harus hati-hati  menyalin, dan sekaligus  sedikit merubah tata penulisannya.

Jadi, ada baiknya jika sekarang kau mulai membaca kisah ini! Kalaupun ternyata kau tak ingin, dan malas menghabiskan waktumu untuk membacanya, aku toh tetap saja akan menuliskannya.

5 April 2006

Hari ini, aku berlatih seruling lagi, tadi di sekolah, ibu guru dan teman-temanku merasa takjub melihat kelihaianku meniup seruling. Jelas saja, aku berlatih memainkan seruling itu sepanjang hari, aku juga mempelajarinya autodidak, dan bibiku benar-benar hanya sedikit membantu.

Akan tetapi, meski teman-temanku begitu takjub, tetap saja, tak ada yang mau berteman denganku. Tapi tak apa, intinya hari ini aku benar-benar senang.

Sudah dulu ya! Besok itu senin, dan aku tak sabar menunggu UAS bulan depan, ujian akhir terkadang sedikit menyenangkan untukku.

11 Mei 2006

Belakangan ini, aku sibuk sekali untuk persiapan ujian. Kata Pak guru, kami semua harus lulus, jadi mesti giat belajar. Tapi aneh sekali, mengapa kami hanya terus-terusan disuruh menyalin soal-soal membosankan itu? 

Aku benar-benar tak mengerti. Mengapa kami tak bisa mempelajari hal baru saja, setidaknya itu lebih baik dibanding terus-terusan menyalin.

Ah, tak usahlah aku memusingkan itu. Dan. Apa kau tahu? Aku hari ini benar-benar bahagia. Seorang teman, sebut saja ia Ikan (aku suka memanggilnya begitu), telah berhasil membuat hari-hariku di sekolah menjadi sedikit menyenangkan. 

Ia teman sebangkuku, ia juga cukup tampan untuk anak seumurannya, dan meski Ikan terkadang usil, aku tetap menyukainya, sebab hanya dia yang bisa membuatku merasa memiliki seorang teman.

Ikan itu sangat pandai menggambar, buku-buku tulis yang biasa ia pakai menyalin pelajaran bahkan dipenuhi dengan banyak coretan gambar. 

"Kepalaku terkadang pusing jika sehari saja tak menggambar." Begitu ungkapnya suatu hari. Sejak saat itu, aku selalu yakin, kalau Ikan besar nanti, mungkin ia bisa saja jadi pelukis hebat. Entahlah. Semoga saja.

Apa kau cukup bosan mendengar ceritaku?

Baiklah, akan ku akhiri saja. Sampai jumpa lagi.

16 Juli 2006

Halo, apa kabar? Maaf, aku lama sekali baru bisa memberimu kabar. Kau tidak marah kan? Jangan marah! Kalau kau marah, nanti cepat tua, begitu kata bibiku. Jadi. Maukah kau mendengar ceritaku? Aku harap begitu.

Hari ini, hari pertamaku masuk sekolah yang baru. Kata Ayah, aku sebentar lagi akan jadi anak remaja, dan bukan lagi anak ingusan. Sekarang umurku 13 tahun, dan aku sudah masuk sekolah SMP. 

Sekolahku itu cukup luas tentunya, sebab menyatu dengan asrama siswa. Tunggu. Apa katamu tadi? Kau mulai bosan mendengar ceritaku? Ah. Benar-benar menyebalkan. Lantas, harus kuceritakan kau topik apa agar tak bosan?

Tunggu. Aku punya cerita lain. Mungkin ini cukup menarik untukmu.

Temanku yang bernama Ikan. Kau ingat kan? Tadi siang, ia sempat bertemu denganku. Menatap senyumnya yang manis, benar-benar membuatku meleleh.

Kami sudah tidak satu sekolahan lagi. Ikan sekolah di SMP lain, yang tak sama denganku. Sungguh menyedihkan. Aku kerap kali merindukan olokannya. Di sekolahku yang sekarang; aku tak mungkin menemukan orang yang bisa menggantikan senyumnya di pelupuk mataku.

Hai, jangan mengataiku seperti itu! Kau bilang tadi aku menggelikan? Apa kau ini tak pernah jatuh hati? Biarpun umurku baru 13 tahun, tetap saja, kan, aku boleh suka dengan lawan jenis? Menyebalkan sekali. Kau benar-benar menyebalkan hari ini. Sampai jumpa!


2 Januari 2007


Hari ini, ibuku marah besar, besar sekali. Katanya, aku ini terlalu sering pergi keluyuran. Ibu tak tahu saja, kalau aku hanya ingin menghabiskan waktu untuk bermain dengan teman-temanku. Sekarang aku punya banyak kawan, dan rasanya ternyata menyenangkan. Dan meskipun sifat mereka beragam; ada yang baik, ada yang kadang suka iri, ada yang pelit, dan masih banyak lagi karakter unik lain yang seringkali kutangkap—namun aku tetap saja bisa memakluminya. Sebab Bibi pernah bilang padaku; "Jangan pernah membenci perbedaan sifat, selama sifat itu masih bisa diterima, selama tak melewati batas etika." Lagipula, bukankah perbedaan itu bagus? Sebentar.  Kau masih menyimak ceritaku bukan? Mengapa terdiam kalau begitu? Apa? Kau bilang kau tak peduli? Baiklah. Tak apa. Aku pun bisa maklum dengan sifatmu itu.


25 Maret 2009


Selamat malam. Kau sedang apa? Aku hari ini benar-benar butuh tempat curhat hingga harus bercerita padamu lagi. Rasanya sudah lama sekali aku tak mengabarimu. Apa kau merindukanku? Aku rasa tidak. Dan. Apa kau tahu mengapa aku bersedih hati? Ah. Tentu saja kau tak tahu, bodohnya aku.


Hari ini, sungguh hari yang teramat buruk. Namun, sebelum kuceritakan padamu, mungkin ada baiknya jika kuingatkan kau bahwa kini—aku telah benar-benar menjadi remaja seutuhnya, persis yang Ayah katakan waktu itu. Kini, aku telah menjelma menjadi seorang remaja yang ... cantik (begitu kata teman-teman, Kakak dan tentu saja ayahku). Itik buruk rupa telah menjelma menjadi seekor angsa yang menawan. Saking menawannya, angsa itu sering juga diperebutkan oleh angsa pejantan lain. Benar-benar membingungkan, sama seperti Itik buruk rupa itu, aku kini juga telah menjelma menjadi seekor angsa, angsa yang dipuja oleh banyak manusia. Tak terkecuali, teman-teman lelakiku di sekolah. Mereka memujaku, dan aku sungguh tak peduli. Lebih tepatnya, berusaha tidak mau peduli. Sebab, selalu kuyakinkan hatiku, bahwa mereka itu, hanya menyukai sampul depanku saja. "Aku menyukaimu, aku sungguh-sungguh mencintaimu, aku tak bisa hidup tanpamu" Ah. Omong kosong. Mereka bahkan belum pernah membacaku, berani sekali langsung berkata seperti itu.


Selayaknya buku, mereka terpikat pada sampul luarnya saja, sebelum sempat benar-benar membaca isinya, kalaupun mereka membacanya, paling juga hanya setengah jalan, dan jika tak sesuai dengan ekspektasi mereka—tak semegah dan seriuh sampulnya—maka buku itu, hanya akan dibiarkan teronggok di sudut kamar; dilemparkan ke dalam keranjang cucian; disempilkan ke bawah kolong tempat tidur, untuk kemudian dibuang begitu saja.


Aku selalu merasa, laki-laki seperti itu lebih patut diacuhkan, sebelum mereka lebih dahulu mengacuhkan kita (para perempuan yang digombalnya). Kau pasti mendukung sikapku itu. Benar bukan? Kau kini setuju. Dan baru kali ini kau tak bosan mendengar ceritaku. Aku yakin sekarang. Kau pasti telah lama merindukanku. Ya, kau benar, aku juga merindukanmu.


Sampai jumpa lagi. Hari ini, aku lelah sekali.


8 Oktober 2010


Hari ini ulang tahunku, dan aku tak peduli itu. Kau bahkan juga tak memberiku selamat. Maaf, kau baru tahu rupanya bahwa hari ini aku berulang tahun. Terima kasih. Untung ada kau yang memberiku selamat.


Kau tahu? Tak ada yang mengucapkan selamat untukku, begitupun ayahku. Dan aku jadi teringat ritual perayaan kami, ritual perayaan ulang tahunku semasa aku kecil dulu. Ritual perayanan yang kumaksud di sini adalah: Ayah akan memberi kami (aku dan kakak keduaku) hadiah yang telah dibungkus dengan kertas kado bergambar kartun, lalu biasanya, kami bertiga (aku, kakakku dan juga ayahku) akan merayakannya dengan khidmat. Aku pun masih ingat, saat aku dan kakak keduaku melayangkan protes pada Ayah, kami saat itu berkeras hati, agar hari ulang tahun kami dirayakan dengan megah dan meriah; dengan balon-balon; dengan teman-teman kami; dan tentu saja dengan kue tar besar yang sangat lezat. Kami sungguh tak setuju jika hanya dirayakan bertiga saja.


"Maunya kado yang banyak Yah, dirayakan saja," ungkapku saat itu.


"Iya, dirayakan saja," timpal kakak keduaku.


"Tak apa, ini namanya juga dirayakan, biarpun dirayakannya cuman bertiga," bujuk ayahku. Meski masih setengah hati, kami pada akhirnya bisa juga menerima keputusan Ayah. Setidaknya, walau tidak dirayakan, kami berdua tetap bisa mendapat hadiah.


Akan tetapi, hari ini, aku juga bahkan tak mendapat kado sama sekali. Menjelang aku dan kakak keduaku beranjak remaja, ayahku telah menghentikan ritual perayaan ulang tahun itu. Kadang terlintas dipikiranku bahwa Ayah kini sudah tak lagi menyayangiku. Ia bahkan menjadi terlalu galak akhir-akhir ini. Terlebih saat ia tahu bahwa aku berboncengan pulang dengan seorang pria ke rumah. Padahal, dia hanya teman sekelasku di sekolah. Ayah telah berubah. Ia anggap aku apa? Burung dalam sangkar? Ya. Kau benar. Aku memang terkurung, benar-benar terkekang. Ayah akan setiap saat mengecek ponselku, ia terlalu protektif, padahal aku sudah tahu mana yang salah dan benar. Aku rasa, para orang tua juga perlu memberi pilihan kepada anak-anaknya, sebab setiap anak, punya pilihannya masing-masing, jika orang tua percaya pada pilihan anaknya itu, sang anak juga pasti tak akan membuat orang tuanya kecewa. Dan. Kau pasti sekarang sudah mulai bosan mendengar ceritaku. Ya, baiklah. Terima kasih sudah mau mendengar. Terima kasih untuk ucapannya.


***

Akan kukatakan padamu bahwa anak yang tengah aku kisahkan ini mungkin agak aneh. Yang ia tulis memang semacam ... surat (jika boleh dikatakan seperti itu). Tapi untuk siapa? Lagi pula, mengapa ia seolah-olah bercakap dengan seseorang, dan lebih anehnya lagi, ia menuliskannya di buku tulis tipis itu. Memang aku sempat curiga kalau anak ini memiliki teman khayalannya sendiri, di dalam kepalanya tentu saja. Sebab. Ia memang menuliskan keluh kesahnya di buku itu dengan tulisan acak, coret sana-coret sini, akan tetapi tetap terurut, dan aku tetap masih bisa mengerti saat membacanya. Aku yakin kau kini juga pasti akan berpikiran sama dengan yang kupikirkan itu. Kalaupun ternyata tidak, aku juga tak peduli.


Sekarang, aku masih berada di dalam kamarku yang seluas 3 x 4 meter ini, sembari berusaha memikirkan tentang segala kemungkinan yang dapat terjadi. Siapa gerangan pemilik buku tulis tipis itu? Mengapa ia bisa terdampar di bawah kolong tempat tidurku? Dan beribu pertanyaan lain yang sedang berkecamuk di dalam kepalaku.


Saat aku telah tuntas menyalin seluruh tulisan di buku itu, ingatanku tiba-tiba saja bertamasya ke saat-saat yang lalu—ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di rumah ini. Aku bisa mengingatnya malam itu, aku terduduk di sofa, di rumah lamaku yang dahulu, waktu itu, umurku baru 12 tahun, dan Ibuku ingin segera membeli rumah baru. Alasannya cukup sepele; "Adikmu sudah tiga, ditambah yang satunya lagi masih di dalam perut ibu, sementara, rumah kita sekarang begitu kecil, kamar tidur hanya dua, itupun tak terlalu luas, mau tidur di mana adik-adikmu nanti?" begitu kata ibuku saat aku tak menghendaki rencananya untuk pindah dan membeli rumah baru. Hasil akhir dapat kau tebak, aku kalah telak oleh keputusan Ayah yang justru sangat setuju, agar kami sekeluarga, bisa segera berpindah rumah. Hingga tibalah saatnya ketika kami kemudian mulai melalukan proses pemindahan yang melelahkan-mengangkut barang dan perabot, dan meski barang-barang yang kubawa tidaklah banyak, aku tetap saja bersedih ketika mendapati benda-benda yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kanak-kanakku di dalam rumah itu.


Singkat cerita, saat pertama pindah ke rumah baru kami, aku kerap kali bermimpi aneh. Mimpiku pun tak seperti mimpi orang-orang pada umumnya (mimpiku akan terus terulang dan selalu tetap saja sama). Jika tengah bermimpi—aku akan menemukan diriku sedang berada di ruangan berbentuk kotak yang kosong melompong, kemudian, sekejap saja ruangan itu akan  berubah menjadi sangat terang, hingga aku bisa melihat keseluruhan isi dari ruangan itu, dan yang dapat kuamati setelahnya—hanya akan ada satu buku yang teronggok pasrah di sudut ruangan, selayaknya oase di tengah padang pasir. Beberapa waktu kemudian, suasana mendadak berubah lagi, menjadi kamar dengan nuansanya yang warna biru—karpet berwarna biru, dinding dengan cat berwarna biru, dan berbagai ornamen biru lainnya. Dapat kulihat juga di sudut paling kiri ruangan itu—terdapat dipan dengan balutan seprai bergambar kartun Jepang, Doraemon, yang tentunya juga berwarna biru. Dalam mimpi itu mataku juga tak pernah luput pada sosok seorang anak perempuan yang terlihat sedang menangis menekuk kakinya di atas dipan, tangannya ia lipatkan pada tengkuk lututnya, dan biasanya, ia akan menangis tersedu-sedu. Tak lama setelah isaknya mereda, ia pun akan membuka buku yang sedari tadi tersimpan rapi di atas meja di sebelah dipan, dan mulai menulisinya sembari sesekali marah, menangis, cekikikan, lalu tertawa lagi, dan kemudian menutup kembali buku itu—menaruh pulpen ke atas meja,dan mendongakkan kepalanya, matanya lalu menatap lekat bola mataku, sementara aku—entah mengapa mendadak seperti mengalami kekakuan  di seluruh sendi-sendiku. Tak lama menjelang, ia pasti akan tersenyum kepadaku. Aku tak pernah membalas senyumnya itu.  Di waktu-waktu seperti itu, aku hanya ingin segera terbangun. Dan saat terbangun dari mimpi pun aku biasanya tak bisa merasakan ada yang spesial dari mimpi itu. Sebab waktu itu, aku selalu saja tak bisa mengingat jelas wajah gadis kecil yang kerap muncul di mimpiku, atau mungkin saja; aku memang berusaha tidak ingin mengingatnya.


Akan tetapi, setelah semua ingatan masa lalu itu datang menerjangku tanpa ampun, Kini, di dalam kamar yang makin lama makin terasa sempit ini (aku heran, padahal kamarku ini cukuplah luas) kudapati diriku sedang berusaha menyimpulkan sesuatu. Dan kau pasti dapat menebak apa yang tengah kupikirkan sekarang ini. Kau pasti mengira gadis kecil dalam mimpiku itulah yang kemudian menulis seluruh tulisan yang kusalin tadi. Kalaupun tebakanku salah, aku sungguh benar-benar tak peduli (lagipula kalian salah jika berpikir begitu; sebab kamarku sekarang bukanlah kamar dengan nuansanya yang warna biru, tapi merah muda). Dan. Sekarang ini. Tibalah saatnya. Aku hanya akan memberi tahumu suatu rahasia. Ya. Ini adalah rahasia:


Wajah anak itu—aku mengingatnya sekarang. Wajah anak itu—ternyata begitu mirip denganku.


Soppeng, 2018

Artikel Terkait