95248_30555.jpg
Photo by Kaboompics // Karolina from Pexels
Cerpen · 12 menit baca

Buku Terakhir

Dia memiliki segalanya dariku, tetapi aku tidak memiliki sedikit pun darinya. Perempuan itu menegakkan pandangannya ke luar jendela  kafe. Matanya melesat pada kejauhan.

Sinar matahari menerobos kafe mungil itu melalui lubang angin dan tepat menimpa pipi perempuan itu. Perasaan sesal atau sekadar perasaan tidak enak ketika satu kalimat meluncur dari bibirnya “aku tidak mencintaimu”. Dia belum dapat menerka dengan pasti soal perasaan itu. Keyakinannya tetap tidak mencintaiku.

Aku tahu itu. Setiap geriknya memandangku, juga saat tangannya menepuk pundakku ketika kami tertawa bersama tidak berarti apa-apa. Satu kalimat menghancurkan sebuah harapan. Kadang, harapan begitu senang memainkan peran yang seharusnya bukan miliknya.

Bukankah harapan itu memiliki tujuan. Kenapa seringkali si harapan mengabaikan tugasnya? Kupikir, manusialah yang sering memainkan harapan bukan harapan itu sendiri atau mungkin takdir yang mengatakan demikian? Aku tak tahu mau menyalahkan siapa lagi.

Aku kembali menenggak secangkir coklat panas dan kembali menatap perempuan itu. Kata-kata beterbangan di kepalaku. Semakin kucoba untuk menangkap kata apa yang pas untuk mengambil alih waktu yang kaku, aku semakin tidak bisa. Aku terlalu naif untuk mencoba menolak pesona Ara apalagi ketika ia sedang membaca. Pernah kukatakan padanya bahwa dua hal yang paling kusukai di dunia ini; dia dan buku.

Seringkali aku mendapati diriku membeku selayaknya waktu yang kurasa berhenti ketika melihat Ara sedang bersama buku. Kami tidak terlalu sering bersama. Umur perkenalan kami hanya beberapa bulan yang lalu di deretan kursi jelek di kampus ketika Ara sedang memegang sebuah buku. Bukan buku kuliah. Bukan. Saat itu Ara sedang memegang buku Rumah Kertas karangan Carlos Maria Dominguez. Kami tidak sedang kuliah di jurusan sastra. Aku menghabiskan masa kuliahku di jurusan penuh angka, bukan penuh kata. Ketika di ujung kuliahku, aku seperti kehilangan arah dan Ara menemaniku untuk kehilangan arah juga. Kami pecinta sastra bukan pecinta angka-angka yang berjejal di neraca.

Setelah mengenal Ara, aku seperti seseorang perantau yang menemukan teman seperjalanan di tanah yang jauh. Kebersamaan kami tidak mesti selalu berjumpa. Kami hanya berjumpa sesekali ketika Ara pulang dari luar kota tempatnya bekerja, mungkin tidak sampai lima kali. Selebihnya kami  berhubungan lewat ponsel.

Dan kali ini aku berjumpa dengan Ara di sebuah kafe mungil dengan beberapa kursi kosong di dalamnya. Tidak ada pengunjung pagi itu. Hanya kami yang terlalu pagi menyantap coklat panas beserta matahari yang baru saja naik.

Pada pagi itu, kuhadiahkan dia sebuah buku dan secarik kertas yang sudah kuketik rapi. Isi tulisan itu adalah keyakinanku pada Ara. Aku tidak berbicara soal perasaan sebab perasaan terlalu sering dan cepat berubah. Tapi, tidak dengan keyakinan. Keyakinanku dalam tulisan itu ialah aku mencintai Ara.

Ara mengambil tas kecil bergambar wajah seorang penulis yang kuberikan. Kebetulan toko tempatku membeli buku juga menyediakan tas itu.

“Ini Leo Tolstoy!” seru Ara. Wajahnya gembira, matanya meneliti wajah penulis yang tercetak di tas putih itu. “Pasti ini isinya buku Tolstoy.”

“Bukan,” jawabku.

“Jadi? Kenapa bukan? Padahal di tas ini wajah Tolstoy”

“Aku tidak suka memberimu buku soal perselingkuhan.”

“Tapi aku suka dengan Anna Karenina.”

“Buka saja,” kataku sambil mencoba mengambil tas kecil itu.

“Tidak! Aku saja yang buka, Dimas.”

Tangannya cekatan mengeluarkan buku yang dibungkus plastik berwarna hitam. Ara menyobek asal-asalan, tingkahnya seperti anak kecil yang sedang menerima kado ulang tahun. Padahal, kami tidak perlu momen khusus untuk saling memberikan hadiah.

Ia menggigit bagian ujung plastik setelah kesusahan membukanya dengan tangan. Sembari menggigit matanya memejam kesal, seperti kutemukan sesuatu hal yang aku pun tidak tahu. Tapi aku tahu itu sesuatu yang membuatku suka pada Ara.  Semangatnya seolah pudar ketika melihat kover buku yang kuberikan.

“Natsume Soseki?” katanya heran, matanya menyipit, bibirnya maju mengisyaratkan kecewa. Ia melepaskan kacamata dan membiarkan buku berwarna merah itu tergeletak tak berdaya. “Kau memberiku penulis jepang? Aku bisa ketiduran membacanya!”

“Baca saja, Sesekali baca juga penulis dari Asia”

“Aku sudah membaca Mo Yan, dia juga dari Asia,”

“Maksudku, banyak penulis Asia.” Kataku mengelak.

“Ah, kaupandai mencari alternatif.”

Aku sudah mengetahui Ara tidak suka membaca buku yang ditulis penulis Jepang, katanya, plotnya sangat lambat. Aku pernah membaca Murakami dan plotnya tidak lambat bagiku. Aku pernah mengatakan demikian, lantas Ara membantah, mungkin karena Murakami lama tinggal di Amerika. Dengan sedikit malas, Ara membuka buku itu dan menemukan secarik kertas di dalam amplop berwarna biru muda.

“Wah, kau baik sekali, Dimas. Apa ini surat permohonan maaf dari penulis Jepang itu?”

“Bukan, baca saja sekarang,” kataku.

Ara merobek amplop biru muda itu dan mengeluarkan secarik kertas dari dalamnya. Raut wajahnya berubah perlahan saat membaca tulisan tersebut. Lalu ia mengatakan “Aku tidak mencintaimu.”

Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Aku tahu apa yang ia pikirkan walau tidak persis sama seperti di dalam pikiranku. Kemudian ia berbicara seolah tidak ada yang terjadi, seolah ia tidak pernah mengatakan hal yang membuat perasaanku berubah. Ingat, perasaan. Bukan keyakinan. Keyakinanku tetap sama—mencintai Ara. Tidak akan berubah sampai kapan pun termasuk sampai aku menulis tulisan ini.

Hari itu, hari terakhir kali aku melihat Ara, ia pergi dan menghilang dan tidak pernah memberitahuku kabar apa pun. Aku tahu ia masih di kota tempat dia bekerja sebagai pengawas keuangan. Aku tahu dia tidak bahagia dengan pekerjaan itu.

Aku tahu dia selalu mengunyah makanan 30-36 kali sebelum ditelan. Aku tahu setiap bulan dia mengganti bingkai kacamatanya. Aku tahu saat malam begini dia sedang menelepon Ibunya berjam-jam. Tapi, aku tidak tahu kenapa dia tidak mencintaiku.

Kurasa, sudah tiga bulan Ara tidak memberiku kabar, ponselnya tidak bisa dihubungi. Aku terlalu takut pergi ke rumahnya dan menanyakan kepada keluarganya soal Ara. Keluarganya kurang menyukaiku karena pekerjaanku sebagai penulis lepas. Itu bukan pekerjaan, kata mereka.

Di pikiranku masih jelas bayangan Ara saat terakhir kami bertemu. Ia memakai kemeja berwarna putih dengan sedikit warna hitam di ujung pergelangannya. Ia tidak pernah memakai rias wajah berlebihan, alisnya tidak pernah dilukis seperti kebanyakan wanita zaman sekarang.

Ia selalu membawa tas ransel berwarna coklat miliknya, dan kupastikan pasti ada buku di dalamnya. Paling tidak satu buku baru yang belum ia baca. Pastinya bukan buku penulis Jepang.

Satu lagi, ia tidak pernah mengikat rambutnya ketika bersamaku. Rambutnya yang bergelombang dibiarkannya saja kunikmati seperti menikmati ombak yang bergelung teratur kecuali terakhir kali kami bertemu, ia telah mengenakan kerudung. Aku tidak berkomentar soal itu. Lagi pula kenapa kita harus mengomentari sebuah kebaikan, bukan? Ara begitu alami di mataku. Begitu abadi di pikiranku. Begitu hidup di imajinasiku.

*

Terlalu bodoh perempuan sepertiku menolak permintaan lelaki seperti Dimas. Entah berapa kali aku mengulang kalimat itu sejak aku mengatakan tidak mencintai Dimas. Aku tidak menghitungnya—lebih tepatnya tidak bisa menghitungnya. Aku tidak ingin dia menderita.

Ada rasa bersalah yang menghampiriku setiap hari, setiap aku berdiri di depan cermin, aku seperti melihat Dimas sedang memandangiku dengan wajah lugunya.

Dimas salah satu penulis berwajah lugu, andai dia bisa sedikit bergaya. Aku sangat yakin banyak perempuan yang tertarik dengannya. Sekarang  pikiranku seperti itu dan semoga dia menemukan perempuan lain. Dulu aku tidak pernah rela jika ada yang perempuan yang mencoba mendekati Dimas. Karena aku tahu Dimas tidak pernah bisa dekat dengan perempuan selain aku.

Kumatikan lampu di kamar sebelum tidur, pipiku basah, aku rindu Dimas, tetapi aku tidak punya keberanian menghubunginya setelah kutahu aku tidak bisa mengecewakan dia.  Malam ini aku tidak bisa tidur dan kuputuskan membaca buku terakhir yang diberikan Dimas. Sampai di pertengahan, aku menangis lagi. Aku ingat Dimas lagi dan aku tidak mau dia menderita mendengar kabarku.

Pagi sekali Ibu masuk ke kamarku setelah aku bersiap untuk pergi dan menyisir rambutku, aku tahu dia selalu menangis ketika menyisir rambutku. Kalau kutanya apakah ia menangis, maka ia akan menjawab ‘tidak’ sambil memungut sisa-sisa rambutku di lantai, aku tahu air mata Ibu pun jatuh di lantai.

“Ibu tidak pandai berbohong,” kataku sambil tersenyum.

Ketika kukatakan demikian, ibu selalu menjawabnya dengan air mata (lagi).

Dimas tidak mengetahui keberadaanku. Aku sudah pergi jauh meninggalkan penulis bodoh itu. Seminggu sekali aku harus melakukan kemoterapi di salah satu rumah sakit di ibu kota setiap hari Senin. Selasa sampai minggu kuhabiskan berada di sebuah tempat terapi lainnya.

Aku banyak bertemu orang-orang senasib denganku. Rata-rata mereka adalah perempuan dewasa. Bergaul dengan mereka membuatku sedikit melupakan Dimas, kecuali saat aku tertidur aku bisa melupakannya utuh. Walau kadang kala dia muncul juga di dalam mimpiku dengan tampang bodohnya itu membicarakan soal buku-bukunya.

Kudengar Dimas menerbitkan buku keduanya, aku tidak mau membacanya. Si bodoh itu pasti memasukkanku jadi salah satu tokohnya meski pun dengan sedikit berbeda. Dimas terlalu lugu untuk menjadi seorang penulis. Dia tidak pandai menyimpan perasaannya. Beberapa kali aku dimasukkan sebagai bahan ceritanya. Pernah kukatakan, “Kau harus lebih kreatif, Dimas. Kenapa perempuan seperti ini terus yang menjadi tokoh ceritamu.”

Saat itu dia hanya memasang wajah lugunya yang paling kubenci dan paling kusuka. Sambil memainkan pena di tangannya dia berkata “Aku tidak kenal perempuan lain.”

Jawaban itu seolah baku di kepala Dimas. Seperti tidak ada jawaban lain saja.

apa yang sedang dilakukan Dimas. Aku sering bertanya-tanya seperti itu. Aku pernah bertanya pada Ibu apakah Dimas pernah menghubungiku. Ibu hanya menjawab pikirkan saja kesehatanku. Apa yang perlu dipikirkan tentang kesehatanku. Tidak ada.

Sore itu ketika langit mengeluarkan semburat jingga, aku berada di ruangan rumah sakit dengan selang infus dan beberapa selalng lain yang tidak kuketahui fungsinya menusuk tubuhku seperti kabel yang menjalin di tubuh sebuah robot yang membuatnya agar tetap hidup. Di sebelahku, Ibu tampak lesu. Garis-garis wajahnya semakin terlihat seperti aliran sungai dalam sebuah peta.

Rambutku sudah hampir habis. Bagi seorang perempuan, memiliki sedikit rambut bisa dikatakan sudah habis, seperti hutan gundul yang menyisakan beberapa saja. Kematian yang kutunggu tidak kunjung datang. Aku terlalu lelah untuk bertahan seperti ini.

Bahkan untuk membaca buku pun aku tak sanggup. Mataku selalu mengantuk berat ketika baru membaca beberapa halaman saja. Aku berharap aku bisa mati dengan tenang saat membaca buku. Kantuk dan kematian tak ada bedanya. Aku hanya akan merasa kesal ketika aku terbangun. Kekesalan itu muncul sejak mataku masih terbuka dan menangkap cahaya pertama.

*

Aku baru saja melakukan promo buku keduaku di beberapa kota. Aku berharap ketika mengunjungi kota tempat Ara bekerja, aku dapat bertemu dengannya dengan tidak sengaja atau kuharap dia mendengar kabar ini dan datang ke acaraku. Ternyata tidak demikian. Aku menmukan Ara di tempat yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Entah apa rencana Tuhan membuatku bertemu Ara di tempat seperti ini. Pertama kali melihatnya setelah sejak lama tidak bertemu, Ara menyambutku dengan wajah yang lesu. Matanya cekung seperti kekurangan tidur. Rambutnya yang bergelombang tidak terlihat seperti ombak yang menenangkan saat aku menatapnya dulu. Gelombang itu telah habis seperti lautan kering. Tubuhnya layu seperti sebuah pohon tua di musim gugur.

Aku bertemu dengannya di rumah sakit ketika aku menjenguk salah satu temanku yang kecelakaan. Padahal, aku hanya tiga hari saja di kota ini, tetapi justru tiga hari itu menjadi tiga hari terlama dalam hidupku. Baru saja aku mencium aroma rumah sakit yang menusuk hidung. Aku selalu benci bau ini karena mengingatkanku tentang orang tuaku yang meninggal akibat kecelakaan dulu.

Sejak saat itu aku tidak pernah ingin bahkan selalu menolak jika diajak ke rumah sakit. Anehnya, begitu melihat Ara di atas kursi roda di sebuah taman dalam rumah sakit itu, perasaan benci akan bau rumah sakit menghilang di kepalaku seolah aku tidak pernah membencinya.

“Bodoh,” kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya yang pucat. Retak di sekitar bibirnya mengatakan lebih dari apa pun. Kupeluk dia, bahkan aku mengumpat kepada diriku sendiri. Entah dari mana air mata ini berasal. Jatuh begitu saja tanpa bisa kutahan.

“Kau kemana saja,” kataku sambil menahan isak tangis yang memang tampak seperti orang bodoh.

Ara tersenyum seolah dia tidak sedang menanggung beban berat di pundaknya. Tapi, aku tahu senyum itu tidak biasa.

Pundakku di pegang dari belakang. Aku berusaha menyembunyikan air mata itu ketika mengetahui Ibu dan Ayah Ara sedang memperhatikan kami.  Kemudian kusalami mereka, wajah-wajah yang dulunya tampak tegas itu kini semakin teduh seolah seluruh energi mereka entah terkuras ke mana. Hanya sisa-sisa kekuatan yang mereka punya ketika melihat anak satu-satunya seperti rumput kering yang tak berdaya.

Kami berbicara setelahnya di ruangan Ara. Wajah Ara yang layu tampak bergairah sedikit. Senyumnya mulai mengembang seperti balon udara. Namun, tetap saja tubuh itu tak berdaya. Waktu itu aku memikirkan hal paling bodoh yang pernah kupikirkan selama hidup. Aku ingin menikah. Menikahi Ara. Ternyata pikiran bodoh itu kuutarakan tanpa ekspresi apa pun.

“Aku ingin menikahi Ara,” kata-kata yang meluncur begitu saja seperti anak kecil yang sedang main perosotan.

Wajah-wajah bingung menghiasi kedua orang tua itu. Sementara Ara tersenyum di tempat tidur, “bodoh,” kata itu kembali meluncur dari balik bibirnya sambil melemparkan pandangannya ke arahku.

Aku tidak menjawab. Hanya kuperhatikan kamar yang hanya memiliki satu buah tempat tidur itu yang malah terlihat seperti taman bermain bagi pikiranku.

“Kau yakin, Nak?” kata Ibunya.

Aku mengangguk dengan tegas. Kamar yang semakin dingin itu justru membuat tubuhku panas. Jika sedang gugup aku sering kali seperti itu.

“Bodoh,” kata Ara yang masih mempertahankan pandangannya ke arah wajah bodohku ini.

“Saya akan merawat Ara, Pak, Bu.” Aku memegang tangan Ara yang dingin “Izinkan saya.”

Setelah hari itu, aku memutuskan memperpanjang kehadiranku di kota itu. Kami mengurus segala hal untuk pernikahan. Ara tetap terbaring di rumah sakit dan terus mengatakan kalau aku ini bodoh. Selalu kujawab, aku akan lebih terlihat bodoh kalau tidak menikahimu.

Beberapa hari setelah itu, kami menikah di rumah sakit. Hanya dihadiri beberapa orang kerabat saja. Ara tampak lebih bersemangat. Katanya, dia bahagia dan sudah sembuh jadi dia meminta pulang dari rumah sakit. Meski pun dokter sudah melarangnya, Ara tetap bersikeras ingin pulang. Lagi pula dokter juga mengakui kalau dia terlihat lebih sehat.

Setiap pagi aku menyuapi Ara bubur yang dibuatkan ibunya. Setelah itu aku akan pergi keluar sebentar mencari beberapa bunga yang selalu kuganti dan meletakkan vas bunga itu di meja dekat tempat tidur kami.

Selama sebulan aku terus begitu. Menyuapi Ara, memandikannya, mengajaknya jalan-jalan saat sore hari dan membacakannya buku ketika sebelum tidur. Ara tidak pernah bertahan lebih dari sepuluh halaman buku yang kubacakan setelah itu dia akan tertidur pulas. Setelah itu aku lanjutkan menulis sampai larut malam.

Ada yang aneh malam itu, Ara betah mendengarkanku membacakan buku sampai menjelang pagi. Sampai aku memintanya berhenti, tetapi dia merengek seperti anak kecil yang diambil mainannya. Aku senang membacakan Ara buku. waktu itu aku membacakannya memoar dari Etgar Keret sampai habis dan melanjutkan membaca novel War ad Peace milik Tolstoy. Ara yang memintanya. “Bacakan aku War and Peace,” katanya sambil memeluk lenganku.

“Tidak akan bisa kalau untuk bergerak saja aku tak bisa,” jawabku sambil mengelus lengannya.

Dia tertawa dan membiarkanku mengambil novel tebal itu di rak buku kami.

Aku kembali ke tempat tidur dan Ara langsung memelukku.

“Cepat bacakan, Dimas.”

Aku mulai membacakannya dengan pelan. Kuharap dia cepat tertidur.

*

“Aku mulai membacakannya dengan pelan. Kuharap dia cepat tertidur. Perempuan itu pernah berkata kalau dia begitu kesal saat melihat cahaya pertama yang ditangkap matanya. Belakangan dia menjadi kesal kalau melihat cahaya terakhir yang ditangkap matanya. Kekesalan Ara akan kekal, sementara kekesalanku pun abadi.”

Tepukan tangan menutup pembacaan kutipan buku ketiga dan terakhirku. Aku tidak akan menulis apa-apa lagi. Perempuanku tiada. Aku tidak mengenal perempuan lain.

Tidak ada yang perlu diceritakan. Aku hanya memiliki segumpal kekesalan yang semakin lama semakin besar. Kekesalan terhadap kehidupan yang seenaknya merenggut kebahagiaan. Mungkinkah kekesalan pada Tuhan?