30 April lalu Mas Iqbal Aji Daryono menulis sebuah artikel berjudul Hegemoni Teks dan Arogansi Ilmiah Lewat Buku-Buku di Geotimes. Segera setelah rilis, artikel ini menjadi viral dan banyak di reshare hingga muncul di beranda FB saya. Awalnya saya tak merasa penting untuk membalasnya, tetapi karena ada pula seorang teman yang membagikan tulisan ini ke grup WA, terpaksa saya baca.

Berbeda dengan kebanyakan pembaca yang sepertinya pro terhadap tulisan ini, sebaliknya saya malah melihat ada beberapa titik kelemahan di dalamnya walaupun saya tetap menyetujui pesan inti mas Iqbal yang mana hendak mengatakan bahwa buku/teks jangan dijadikan sebagai satu-satunya sumber literasi.

Mas Iqbal betul bahwa literasi bukanlah sesederhana aktivitas “mau membaca teks/buku tetapi adalah sebuah sikap rakus akan pengetahuan sekaligus ingin memahaminya secara holistik dan komprehensif yang ditinjau dari sudut pandang yang beragam dan dijalankan dengan penuh skeptisisme.

Tapi di sini persoalannya, bagi saya indikator-indikator seperti rakus, holistik, komprehensif, apalagi skeptis, sulit muncul dari orang yang tidak memiliki background pencinta buku (nerd) di mana pada tahap awal dia pasti melewati fase sekadar “mau membaca buku”. Jadi, mau membaca adalah langkah awal yang perlu dilalui, baru kemudian di dalam prosesnya, indikator-indikator tersebut akan mengikuti.

Saat di masa kanak-kanak hingga remaja saya hanya suka baca komik, majalah Hidayah. Lantas kemudian naik tangga menuju bacaan buku-buku Islam motivasi dan ibadah. Di bangku kuliah, bacaan saya berlanjut ke buku kajian serius, pemikiran. Dan berjalannya waktu, sikap-sikap kritis dan skeptis itu muncul. Saya juga mulai memahami persoalan secara kompleks, menghagai keberagaman pandangan (mulai dari yang paling kiri hingga paling kanan) sehingga setiap ada informasi yang masuk, entah mengapa yang terlintas di dalam pikiran selalu “emang benar?” Indikator-indikator ini bagi saya akan sulit terwujud tanpa tahapan-tahapan awal yang, sepertinya, menurut mas Iqbal “rendahan”.

Soal teman mas Iqbal yang anak pasca sarjana yang tidak bisa membedakan antara HTI, Salafi, dan Tarbiyah (Ikhwatul Muslimin), sebenarnya saya masih ragu kalau itu didapatkannya dari buku. Secara pribadi saya amat-sangat meragukan ada buku yang menyamakan ketiganya.

Saya malah menyangka kalau itu adalah sekadar berdasarka persepsi teman mas Iqbal dari bacaan dari web di medsos, apalagi jika yang disamakan adalah atas keinginannya untuk mendirikan khilafah.

Jikalau ada buku yang menyamakan ketiganya, bukan soal khilafah yang dipersamakan oleh si penulis buku, melainkan keinginannya untuk menerapakan syariat Islam (sesuai dengan caranya masing-masing). Kemungkinan lain, yang menurut saya hendak diungkapkan oleh penulis buku tersebut ialah kesamaan di antara ketiganya perihal watak atau kerakter intolerannya. Atau, kemungkinan terakhir, teman mas Iqbal salah memahami isi teks.

Pengetahuan tentang perbedaan antara tiga entitas ini, yang hasilnya kurang-lebih sama dengan yang diungkapkan oleh mas Iqbal, murni saya dapat dari buku, yang walauapun di kemudian hari ketika dikonfirmasi dengan pengalaman, menghasilkan jawaban yang selaras.

Dari sini, lagi-lagi, bagi saya buku masih memberikan sesuatu pengetahuan yang bagus, kompleks, dan tidak mudah salah (setidaknya jika dibandingkan dengan simplifikasi kesimpulan kita atas pengalaman). Pengalaman kita, sebaliknya, sering menghasilkan sesuatu yang tidak valid. Misal, hanya karena ada satu teman kita yang tergabung di PKS atau Tarbiyah yang pro khilafah lantas dengan mudahnya kita meyamakan antara PKS dengan HTI.

Sebenarnya apa yang diungkapkan oleh teman mas Iqbal soal “oh, kalau tidak ada sumber tertulisnya, aku tidak bisa menggunakan argumen mas Iqbal untuk membantah buku yang aku baca.” ada benarnya karena biasanya untuk menulis paper atau artikel ilmiah tidak mungkin sekadar berdasarkan “katanya-katanya” yang apalagi tidak tertulis di buku. Bisa jadi kacau dunia akademis.

Bahkan metode yang dilakukan oleh mas Iqbal bisa jadi salah (meski dalam kasus ini benar), karena mas Iqbal terjebak dalam sebuah pengalaman yang sempit lalu dengan mundah membuat kesimpulan. Bisa jadi mas Iqbal pernah berafiliasi dengan Tarbiyah dan murabinya tidak suka dengan Salafi atau HTI. Tetapi kan mas Iqbal tidak bisa memastikan murabi-murabi Tarbiyah lainnya. Yang ditemukan berdasarkan pengalaman mas Iqbal tidak bisa menjadi sampel atau representatif semua murabi Tarbiyah. Berbeda dengan buku, apalagi jika berdasarkan penelitian kuantitatif, hasilnya akan lebih mendekati kebenaran (realitas).

Lalu soal mas Iqbal memberi contoh Indonesia didirikan oleh pasukan Blubblubblub terlalu kekanak-kanakkan. Tentu yang dimaksud buku di sini ialah suatu tulisan yang ditulis setelah mengalami proses pengujian, baik oleh editor, pembaca ahli, dan kualifikasi penulis, juga soal kepercayaan (ke kevalidan) para pembaca terhadap penerbit karena tidak bisa semua orang berbicara seenak udel di dalam sebuah buku, apalagi di penerbit yang berkualitas. Berbeda dengan media lisan yang kualitasnya lebih rendah. Dan ini sebenarnya bukan soal buku fisik atau tidak fisik.

Namun demikian, jika tujuan tulisan mas Iqbal sekadar ingin mengatakan bahwa literasi bukan hanya milik teks/buku secara tunggal, ini saya setuju, karena definisi dari literasi itu sendiri adalah sebuah kemampuan di mana seseorang dapat menggunakan potensi dan keterampilannya dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas membaca dan menulis. Tetapi kalau buku direndahkan, seperti kurang menerima, karena sebagai anak produk buku, saya sangat berhutang budi kepada segala pihak yang terlibat di dalamnya, yang rela menguras tenaga dan pikiran demi memajukan peradaban meski sangat minim apresiasi, terlebih kepada para penulisnya.