Sebagai bagian dari generasi abad ini, saya terkadang merasa ambigu dengan keadaan yang menerpa pemikiran saya. Satu sisi, saya sangat bersyukur atas derasnya arus perkembangan zaman. Namun, di sisi lain saya merasa sangat bodoh dengan kemudahan yang bisa diakses kapan pun, tetapi sering tidak saya manfaatkan.

Bagaimana tidak? Semua kemudahan itu bisa membuat terlena hingga menghambat kontribusi pengembangan masyarakat. Sejujurnya, banyak pula milenial yang dengan kesadarannya tetap energik, ulet, dan telaten memahami persoalan sampai menemukan solusi. Dalam kata lain, mereka adalah generasi solutif. 

Lalu ada perasaan yang muncul di diri saya, bagaimana saya bisa turut serta melakukan aksi-aksi nyata? Minimal yang saya lakukan berdampak ke lingkungan kecil di sekitar saya?

Beberapa waktu lalu, saya mendapat rekomendasi bacaan dari pembicara di sebuah webinar yang saya ikuti. Anak-anak muda saat ini terlalu banyak berkata tanpa memberikan aksi nyata, katanya. Perlu dilakukan sebuah perubahan terhadap pola pikir dan kepribadian mereka itu. 

Pembicara tersebut merekomendasikan buku Strawberry Generation karya Prof. Rhenald Kasali (2017). Melalui aplikasi perpustakaan online, saya lalu mencarinya dan ketemu. Dengan sat-set, saya mengklik pinjam lantas membacanya. 

"Bentuknya eksotis dan indah. Namun, begitu strawberry kena benturan, atau tergesek sikat gigi saja, ia begitu mudah terkoyak. Lalu hancur. Seperti itulah Strawberry Generation."

Dari awal paragraf saya sudah tergeleng-geleng dengan sajian yang disuguhkan oleh Prof. Kasali itu. Seperti strawberry, mental anak-anak muda sekarang cenderung lembek. Namun, sebenarnya tidak menyangkal kalau mental generasi sekarang bisa dibentuk kembali, kata beliau. 

Untuk menciptakan generasi-generasi yang solutif itu (energik, ulet, tekun) kuncinya dengan mengubah fixed mindset menjadi growth mindset. Istilah apa lagi itu?

Kalau dari kosakatanya, fixed mindset itu berarti pemikiran yang sedenter (cenderung tidak mau diubah dan kaku) sementara growth yang artinya tumbuh, bila disandingkan pada konteks tersebut adalah pemikiran yang mampu diajak bertumbuh. Kurang lebih begitu penjelasan di buku Strawberry Generation ini.

Prof. Kasali memfokuskan pembahasan pada generasi muda, terutamanya mereka yang terikat pada disiplin ilmu pengetahuan. Kebanyakan, buku ini menjabarkan kondisi generasi muda yang serba hidup mudah di era dominasi teknologi. 

Anak-anak muda haruslah memiliki daya pikir deep understanding. Di institusi sekolah yang menuntut mereka menguasai banyak materi dalam ketergesa-gesaan (karena saat ini materi pembelajaran cenderung terpaku pada indikator capaian belajar) membuat mereka tidak bisa memahami materi secara dalam, atau dapat diartikan: apa yang mereka pahami hanyalah di permukaan saja. 

Percuma saja bila berpengetahuan kalau tidak bisa mengaplikasikannya. Percuma pintar menghafal, tetapi ketika akan bertindak bingung mau mulai dari mana. 

Dalam rangka mengemban peran, harusnya pola berpikir tidak hanya pintar, tetapi kekritisan dan kreatif yang reflektif sangat diperlukan. Tindakan yang mampu mengeluarkan permasalahan diperlukan daripada debat kusir yang tidak kunjung usai. 

Di sini peran pendidik dan orang tua sangat diperlukan. Mereka bisa menjadi agen pemicu deep understanding  anak-anak. Apalagi seorang guru yang merupakan profesional, seharusnya tidak hanya mengejar target kurikulum. Kedalaman berpikir ini yang bisa mengeluarkan anak-anak dari kondisi fixed mindset.

Konsep fixed mindset itu bisa diubah dengan arahan yang sedikit demi sedikit secara konsisten dan menerapkan pemahaman yang mendalam itu. Yang terjebak dalam fixed mindset pun adalah orang-orang yang takut keluar dari zona nyaman. Ada tantangan sedikit, tidak mau mencoba. 

Mereka cenderung takut gagal bila berada di lingkungan yang mereka anggap sebagai ancaman untuk eksistensinya. Padahal, pengalaman dan mindset yang terbuka dapat membuka peluang keberhasilan yang jauh lebih besar. Ini dapat dikaitkan dengan kegigihan niat belajar, saya mengaitkannya dengan petuah: kosongkan gelas ketika belajar. 

Di sini menegaskan pula soal kemudi hidup para generasi muda. Dari zona nyaman tersebut, mereka takut bergerak sehingga pola pikirnya hanya mengikuti apa adanya. Anggapan mereka adalah melakukan apa yang bisa mempertahankan kedudukan mereka sebagai entitas yang tidak tertandingi. 

Mereka cenderung dikemudikan oleh tuntutan kebanyakan orang: sekolah, belajar di perguruan tinggi dengan jurusan linear, dan bekerja sesuai jurusan. Ketika dihadapkan pada tantangan yang melibatkan aksi, mereka enggan dan bingung akan solusi yang dapat dilakukan.

Sikap tersebut tidak lain adalah sikap seorang penumpang (passenger). Sementara generasi dengan growth mindset akan menentukan sendiri jalan mereka, menjadi seorang pengemudi (driver)

Sebagai driver tentu mereka akan menentukan ke mana mereka menuju, jalan mana yang akan ditempuh, dengan cara apa mereka sampai. Poin yang terpenting, merekalah yang menjadi pengambil keputusan.

Oleh karena itu, generasi growth mindset dan mental self-driving akan memiliki self-regulation dan self-awareness yang baik. Betapa pun berubahnya tantangan yang akan mereka hadapi, mereka memiliki kreativitas untuk mengatasinya.

Upaya menjadi generasi growth mindset bisa dimulai dari sendiri, saat ini, dan dengan take action. Semangat!