Pandemi adalah kata kunci yang agaknya sudah sangat membosankan ketika diletakkan di paragraf pembuka sebuah tulisan. Dewasa ini, tulisan tentang apapun pasti diawali dengan kalimat, “di tengah situasi dan kondisi saat ini”, yang mana rujukannya adalah ke situasi dan kondisi pandemi.

Artikel-artikel yang saya baca di internet itu memang cenderung merespons kasus-kasus kekinian yang sedang viral, atau sedang dibicarakan banyak orang. Akibatnya, sebuah artikel yang ditulis di media online akan susah untuk bertahan dalam waktu yang lama.

Berbeda dengan kalimat pembuka yang ada dalam buku. Buku adalah tulisan yang tidak kenal waktu. Buku terbitan tahun 90-an masih akan relevan hingga saat ini dan masa depan. Begitu pun seterusnya. Sehingga, buku biasanya akan menjadi bacaan yang lezat sampai kapan pun.

Dewasa ini, gairah membaca saya mulai meningkat drastis. Saya dan buku-buku saya seperti semacam kekasih yang tidak bisa dipisahkan. Terdengar berlebihan, tapi saya tidak menemukan kalimat yang tepat sebagai sebuah penggambaran perasaan.

Sebetulnya, dahulu saya bukanlah seorang pembaca buku. Saya suka buku, tapi saya tidak pernah menuntaskan buku yang sudah saya rencanakan untuk dibaca. Alasannya ada dua, pertama karena saya tidak terbiasa, dan kedua karena buku yang saya baca memang membosankan.

Alasan pertama sudah saya sadari sejak awal. Saya tidak terbiasa membaca buku dalam waktu yang cukup lama. Orang lain biasanya akan tertidur ketika sudah bosan membaca buku. Tapi saya berbeda. Saya tidak bosan, tapi justru malah jengkel. Jengkel sama penulisnya. “Kok bisa mereka nulis sepanjang, sebanyak, dan setebal ini?” tanyaku terheran-heran.

Alasan kedua datang setelah saya mampu menuntaskan bacaan pertama saya. Yaitu buku berjudul Atomic Habits karya James Clear. Itu adalah buku pertama yang saya beli setelah hampir tiga tahun saya tidak membeli buku. 

Saya memilih buku itu karena saya sadar bahwa saya perlu mengubah dan memperbaiki kebiasaan. Saya sebelumnya memang sudah suka menulis. Entah itu menulis status di Facebook atau iseng-iseng nulis tulisan yang saya posting di blog pribadi.

Rutinitas menulis tentu tidak akan bisa jalan tanpa dibarengi dengan kebiasaan membaca. Begitulah kalimat yang sering diucapkan oleh banyak penulis. Saya awalnya mengelak. Namun, ternyata saya sadar bahwa itu memang benar. Membaca mampu memberikan referensi, memperkaya diksi, dan melatih daya nalar seorang penulis dalam menyusun dan mengendalikan kalimat.

Buku James Clear tersebut cukup menarik buat saya. Selain karena bahasanya yang enak dibaca, penulis juga memberikan panduan-panduan praktis yang bisa dengan mudah dijalankan oleh pembaca sebagai seorang yang ingin sekali memperbaiki kebiasaannya.

Saya hanya mempraktikkan sebagian, tidak semuanya. Tapi, hasilnya menakjubkan. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang tidak boleh dilupakan justru malah akan membawa dampak kepada perubahan yang lebih besar. Pola pikir juga menjadi sorotan.

Saya sangat menikmati membaca buku. Saya dan buku seperti kekasih yang lama tidak berhubungan dan yang baru saja dipertemukan. Saya menikmatinya, saya mencintainya dan menjaganya.

Selain membaca buku, rupanya kesenangan saya yang lain adalah memilikinya. Saya bukan orang yang ketika tertarik dengan satu buku akan memilih untuk meminjam, membacanya dan kemudian mengembalikannya. Saya ingin memiliki dan mengoleksinya.

Tentu itu adalah perkara yang tidak mudah. Mengingat bahwa saya adalah seorang mahasiswa dan belum memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi semua ego untuk membeli buku bagus yang saya inginkan.

Akan tetapi, semua masalah akan selesai jika kita punya solusi. Solusi untuk diri saya sendiri, saat ini hanya membeli buku-buku yang benar-benar saya inginkan. Dalam satu bulan, saya hanya akan membeli satu sampai tiga buku, tidak lebih. Karena kalau lebih, bukan kebahagiaan yang saya rasakan, tapi justru malah kesengsaraan karena pemberontakan cacing-cacing di madaran yang sama sekali tidak menerima asupan.

Aktivitas membaca buku itu menyenangkan. Membeli buku bukan sama seperti membeli sepatu, baju, kaos, dan lainnya. Membeli buku bukan seperti membeli barang. Namun, lebih daripada itu, membeli buku adalah membeli pengalaman. Pengalaman yang didapatkan setelah membeli dan membaca buku adalah pengalaman berharga yang tidak akan bisa ditanggalkan sampai kapanpun.

Buku terbaik versi saya yang selesai saya baca beberapa bulan lalu adalah Sapiens karya Yuval Noah Harari. Saya tidak akan menceritakan secara detil apa dan bagaimana buku itu. Anda bisa mencari sendiri resensi buku tersebut di internet. Banyak sekali.

Sapiens membawa saya kepada dunia lain. Dunia yang seharusnya sejak dulu sudah saya ketahui. Sapiens semakin membuat saya mencintai buku. Mengingat itu adalah buku sejarah, yang selaras dengan kompetensi saya. Sapiens membawa warna baru dalam penulisan sejarah di era modern.

Pungkasnya, buku tidak akan bisa tergantikan oleh apa pun. Jutaan artikel di internet yang saat ini sudah menjamur, merumput, dan menyemak-nyemak tidak akan bisa menggantikan dominasi buku sebagai sebuah bacaan yang ideal.

Buku akan membawa pembacanya masuk ke dalam iramanya. Membujuk manusia untuk kembali menyentuh kemudian membelinya, bahkan akan mengelabuhi kita untuk kembali mencintai dan semakin menjaganya.