Benda apakah yang pernah kita terima dari penerima tamu ketika kita kondangan, menghadiri hajatan pernikahan putri sahabat kita, atau khitanan putra tetangga kita?

Mungkin gantungan kunci atau gunting kuku. Bisa jadi sendok dan garpu atau sumpit. Mungkin dompet, boneka, pulpen, atau kipas. Benda-benda tersebut lumrah menjadi suvenir pada setiap hajatan keluarga.

Suvenir lainnya yang kita terima mungkin sisir, mangkuk, tempat kartu, pouch, centong nasi yang terbuat dari kayu atau plastik, dan stapler. Bisa pula berupa pembuka botol dan tempat tisu. Jika kita daftar, suvenir yang kita terima pada saat kondangan, tak lebih dari benda-benda itu.

Pernahkah Anda menerima suvenir berupa buku? Belum pernah! Andakan kita pernah memperoleh buku, itu bukan dari acara hajatan keluarga, seperti pada acara resepsi pernikahan atau khitanan. 

Namun, biasanya kita menerima buku berukuran saku pada acara tahlilan, yang berisi surah dan doa buat almarhum atau almarhumah. Misalnya buku Surat Yaasiin dan Tahlil yang disusun oleh H. Abu Hasan.

Mengapa Suvenir Buku?   

Setidaknya ada tiga alasan mengapa kita memilih buku untuk suvenir pada hajatan keluarga, baik pada acara resepsi pernikahan atau khitanan. Pertama, menumbuhkembangkan dan melestarikan budaya literasi atau baca-tulis di kalangan keluarga. 

Ayah, ibu, dan anak dibiasakan menyenangi dan mencintai buku. Dari teladan terdekat dalam hidupnya, si anak akan mengikuti kebiasaan yang telah ditanamkan dan ditularkan oleh ayah dan ibunya. 

Kedua, baik bagi si pemberi buku maupun si penerima buku, momen pemberian suvenir buku adalah upaya mengawetkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Dengan buku, wawasan dan kekayaan ilmu pengetahuan kita akan bertambah. 

Selain sebagai sarana silaturahmi, buku yang kita berikan sebagai suvenir akan menambah koleksi perpustakaan pribadi di rumah.

Ketiga, menganggap buku sebagaimana kita mengonsumsi sembilan bahan pokok (sembako). Buku kita anggap sebagai kebutuhan primer yang layak dikonsumsi, seperti halnya kita makan dan minum. 

Jika nasi, sayur, lauk-pauk, dan susu yang kita konsumsi menyehatkan badan atau fisik, buku yang kita baca menyehatkan jiwa atau mental.

Pertimbangan Buku untuk Suvenir 

Jika kita memilih buku untuk diberikan sebagai suvenir pada hajatan keluarga, baik pada resepsi pernikahan ataupun khitanan, sebaiknya kita mempertimbangkan tiga hal berikut ini. 

Pertama, anggaran yang tersedia. Sebab biaya untuk membeli atau menerbitkan dan mencetak buku harus sesuai dengan anggaran yang disediakan. Jika membeli buku dalam jumlah yang banyak, tentu lebih murah daripada membeli satu atau dua eksemplar.

Kedua, jenis buku yang akan kita jadikan suvenir. Selain buku fiksi, kita juga bisa memilih buku non-fiksi. Buku cerita, puisi, novel, atau buku ilmu pengetahuan menjadi pilihan yang perlu dipertimbangkan. 

Akan tetapi, pertimbangan memilih jenis buku tidak terlepas dari anggaran yang tersedia. Selain anggaran, kegiatan hajatan keluarga, apakah pernikahan ataukah khitanan, juga berpengaruh terhadap pemilihan jenis buku.

Ketiga, buku karya orang lain ataukah buku karya sendiri. Jika kita memilih buku karya orang lain untuk suvenir, kita tinggal mendaftar dan memilih buku dengan harga, mutu cetakan, dan isi buku yang layak dibeli. 

Namun, jika kita ingin memberikan suvenir buku karya sendiri, kita harus mempersiapkannya dengan baik sejak penyiapan naskah, penerbitan, hingga pencetakannya.

Dalam acara resepsi pernikahan, mempelai pria atau wanita, bahkan kedua mempelai bisa berkolaborasi, menerbitkan buku untuk suvenir. Ide atau gagasan yang dimiliki oleh sang penganten dapat diawetkan dan disebarluaskan dalam bentuk buku. 

Daripada menguap atau lewat begitu saja, ide atau gagasan cemerlang tersebut dapat diterbitkan dengan menggunakan mementum hajatan pernikahan.

Menerbitkan Sendiri

Pada saat ini, menerbitkan buku itu sangat mudah, asal kita memiliki kemauan dan tekad yang bulat, dengan menyiapkan naskah yang akan diterbitkan menjadi buku, sebelum hari resepsi pernikahan tiba. Penerbitan secara indie dan self publishing sangat membantu mewujudkannya. 

Saya senang ketika buku kumpulan puisi yang saya tulis dan terbitkan ternyata menjadi bahan bacaan di perpustakaan sekolah tempat anak bungsu saya belajar. Buku kumpulan puisi ini semula saya berikan kepada para tamu undangan, termasuk saya berikan kepada guru anak bungsu saya yang dikhitan.

Mungkin Anda ingin mencobanya? Sekaranglah waktunya.