• "Siapa yang bisa menemukan buku yang tepat, akan berada di tengah –tengah teman terbaik. Di sana kita akan berbaur dengan teman yang paling pintar, paling intelek, dan paling luhur; di sana kebanggaan serta keseluruhannya manusia bersemayam (Jostein Gaarder, the magic libary)".

    “buku-buku menarik hati saya karena merekalah teman satu-satunya. Saya tidak tahu apakah saya bahagia atau tidak waktu itu; tapi setidaknya saya tahu setiap saya membalik halamannya yang menawan, saya pun lupa akan rasa lapar dan derita, dan itu menyelamatkan saya dari kebencian dan ketakutan (Fernando Baez, Penghancuran Buku-buku)".

  • Selepas lulus SMA, saya mempunyai tekad yang kuat untuk bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Namun, tekad saya tersebut terganjal oleh restu orang tua, lebih tepatnya ibu saya yang berulang kali mengatakan “kenapa saya tidak seperti anak desa lainnya yang bahkan sejak selepas SMP sudah bisa bekerja dan mencari uang?”

    Akan tetapi, saya memaklumi perkataan ibu saya tersebut, karena memang saat itu kondisi ekonomi keluarga yang sangat tidak baik, ibu saya hanya pedagang keliling kecil, dan bapak saya seorang buruh tani, di tambah lagi: kedua orang tua saya ini tidak berpendidikan sama sekali, ibu saya bahkan buta huruf.

    Melihat kondisi yang demikian, tidak lantas membuat saya menyerah. Saya belajar dengan sangat keras untuk dapat lolos SBMPTN. Kira-kira sejak H-10 SBM sampai hari H-nya, saya bahkan menghabiskan waktu belajar kurang lebih 15 jam/hari. Tanpa sepengetahuan kedua orang tua saya, saya tetap mendaftarkan diri dan mengikuti seleksi bersama masuk perguruan tinggi. Hingga akhirnya, berita bahagia itu datang: saya lolos di jurusan sejarah Universitas Padajaran dengan mendapatkan bidikmisi.

    Saya langsung memberitahu kedua orang tua saya, bahwa saya bisa kuliah tanpa bayar sama sekali, bahkan saya mendapat uang saku dan uang buku. Ayah saya yang lebih moderat, teramat bangga kepada saya, terlebih lagi, sebenarnya ayah saya pun mempunyai cita-cita agar saya bisa berpendidikan tinggi, kalaupun sebelumnya (sebelum saya lolos ke Unpad dan mendapat bidikmisi) ayah saya tidak menyetujui saya untuk kuliah; semua itu karena terganjal biaya.

    Namun rasa haru dan kebahagiaan itu sempat diwarnai oleh rasa kesal dan amarah yang timbul dalam diri saya. Bagaimana tidak? keputusan saya untuk kuliah; mendapatkan banyak cemoohan, dari mulai teman-teman saya, tetangga bahkan keluarga dekat.

    Pernah seseorang menyindir saya dengan berucap “anak orang tidak punya, kuliah pun tidak akan jadi apa-apa”, bahkan pernah ada yang mengatakan, yang entah dia dalam keadaan sadar atau tidak, berucap “kalau kau bisa kuliah sampai lulus, poges telinga saya”.

    Rasa amarah saya semakin memuncak, ketika banyak orang-orang yang mempengaruhi ibu saya, agar saya tidak perlu kuliah, karena hanya akan menghabiskan uang, sementara katanya, ibu saya tidak punya modal apa-apa, tidak punya sawah dan sebagainya. Ibu saya pun, yang entah karena apa, akhirnya terpengaruh dan bersihkeras melarang saya kuliah.

    Saya kira, pertama kali dalam hidup saya, semenjak saya dewasa, saya meneteskan air mata di depan kedua orang tua saya, pertama kali saya berani membantah orang tua, saya mengatakan “mak, dari kecil saya menjadi anak yang penurut. 

  • Saat anak-anak teman sebaya saya pada beli mainan dan sebagainya, saya tidak pernah minta,saya tidak pernah protes ketika teman-teman saya memakai baju baru dan saya tidak, saya tidak pernah protes ketika sekolah dan saya hanya memakai seragam dan tas bekas, saya tidak pernah protes ketika uang jajan saya 6 kali lipat lebih kecil dari anak pada umumnya. 

  • Pun ketika saya tumbuh dewasa sampai lulus SMA sekarang, kapan saya punya permintaan yang berlebihan? Tapi sekarang, saya hanya pengen kuliah, tolong restui. Kalau emak tidak merestui saya, maka saya akan tetap berangkat sendiri ke Jatinangor”.

    Melihat keseriusan saya, akhirnya ibu saya memberikan restu, ditambah lagi, bagaimanapun perasaan seorang ibu kepada anak, pasti penuh rasa kasih dan mengharapkan yang terbaik. Tapi, biarpun begitu, saya berangkat ke Jatinangor tetap dengan rasa amarah yang luar biasa, berkali-kali dalam hati saya memaki-maki orang yang telah menghina saya dan impian saya, berkali-kali saya menghardik sebagian orang-orang di kampung saya, yang bahkan termasuk keluarga terdekat saya sendiri, yang berusaha menggagalkan impian saya dengan mempengaruhi ibu saya agar tidak mengijinkan saya kuliah.

    Hingga beberapa saat kemudian, ada sebuah buku yang ditulis oleh Richard Bach dengan judul Jonathan Livingstone Seagull, buku yang begitu menginspirasi saya, dan bahkan dapat menyelematkan saya dari kebencian. Jonathan Livingstone Seagull tersebut, dibahas juga dalam buku Pohon Filsafat: Teks Kuliah Pengantar Filsafat yang ditulis oleh Stephen Palmquis, serta dibahas juga dalam buku Paideia yang ditulis oleh Setyo Wibowo.

    Dalam buku fiksi tersebut, dikisahkan ada seeokor burung Camar yang bernama Jonathan. Jonathan ini teramat berbeda dengan kawanan burung Camar pada umumnya. Jika burung Camar pada umumnya berpandangan bahwa terbang hanya untuk memenuhi kebutuhan perut semata, Jonathan berkeyakinan lain; bahwa keterampilan terbang harus diupayakan semaksimal mungkin untuk ilmu terbang sendiri dan tidak terbatas hanya sekedar untuk keperluan perut semata.

    Akhirnya Jonathan pun giat untuk berlatih. Namun sayangnya, Jonathan mendapatkan hambatan dari lingkungan dekatnya, yakni ayah dan ibu Jonathan yang mengingatkan bahwa Jonathan hanyalah burung Camar biasa, Jonathan bukanlah elang, untuk itu tidak perlu berlatih terbang sedemikian rupa. Selain itu, komunitas Camar pun memandang aneh apa-apa yang dilakukan oleh Jonathan tersebut.

    Jonathan pun sempat menuruti ayah dan ibunya, namun di sisi lain, Jonathan tidak bisa menahan dorongan hatinya untuk kembali belajar terbang dengan giat “the subject was speed, and in a week’s practice he learned more about speed than the fastest gull alive”.

    Jelas saja, kelakukan Jonathan mengundang cemoohan, karena Jonathan dianaggap berbeda dengan camar lainnya dan sudah keluar dari tradisi. Hingga akhirnya, Jonathan dadili oleh para sepuh komunitas Camar tersebut, dan Jonathan pun harus menjalani hukuman dengan terusir dari komunitas Camar, karena apa yang dilakukannya dianggap dapat membahayakan kehidupan burung Camar.

    Jonathan pun menerima keterbuangannya, tetapi ia masih sibuk berlatih. Singkat cerita, Jonathan didatangi oleh dua burung Camar, dan Jonathan heran, mengapa kedua burung Camar ini bisa meniru gerakan Jonathan dengan mudah bahkan mereka lebih hebat? Kedua burung Camar ini akhirnya membawa Jonathan ke sebuah tempat, di tempat itu, Jonathan pun menemukan banyak kawanan Camar lain yang ternyata mempunyai keinginan dan tekad yang sama seperti Jonathan. Di tempat itu, Jonathan pun menjalani pendidikan dan dibimbing oleh Guru Chiang.

    Jonathan dikisahkan sebagai murid yang paling cerdas. Saat Jonathan sudah mencapai keterampilan terbang yang sempurna. Namun menurut Guru Chiang, ilmu Jonathan belum sempurna. Jonathan pun keheranan, mengapa gurunya bisa berkata demikian?

    Akhirnya, Guru Chiang memberi penjelasan bahwa ilmu terbang yang paling tinggi, paling sempurna, dan paling susah tapi sekaligus membahagiakan adalah “kelembutan dan cinta”. Hingga suatu ketika, Guru Chiang menghilang dari kawanan dan Jonathan lah yang menjadi pendidik. Jonathan pun selalu merenungi ungkapan gurunya tersebut.

    Semakin Jonathan merenungi ungkapan gurunya, semakin ia merenungi makna cinta, justru membawa ingatan Jonathan kepada komunitas burung Camar yang dulu mengusir dan banyak di antara mereka yang mencemoohnya.

    Akhirnya, Jonathan pun mengunjungi tempat lamanya tersebut. Ternyata, ada tujuh Camar muda yang bernasib sama seperti Jonathan dulu, terbuang, terusir dan menjadi bahan olok-olok karena tekad kuatnya untuk belajar terbang.

    Jonathan pun mengajari mereka untuk berbesar hati menerima keterbuangan mereka. Di samping mengajari terbang, Jonathan pun menjelaskan bahwa mereka ditolak, dicemooh, dan dibuang karena kawanan Camar tidak mengerti. Jonathan mendidik 7 burung camar ini agar tidak membenci kawanan burung Camar yang telah mengusir mereka.

    Jonathan mengatakan “forgive them, and help them to understand”, “maafkanlah mereka, dan bantulah mereka untuk mengerti”.

    Mereka pun giat berlatih dan menunjukkan kepada kawanan camar bahwa sebenarnya burung camar bisa terbang lebih jauh dan lebih sempurna, hingga akhirnya, satu per satu burung camar dalam kawanan camar tersebut tertarik buat belajar terbang kepada Jonathan. Puncaknya, keajaiban itu datang, ribuan camar menyadari kalau mereka sebenarnya bisa melakukan hal lebih dan mereka pun tergugah untuk belajar dan menerobos apa yang sebelumnya mereka pikir sebagai “batas”.

    Bagi saya, novel fiksi tersebut memberikan sebuah kesan yang teramat mendalam. Bahwa tidak selayaknya saya membenci mereka yang pernah mencemooh tekad saya yang ingin berpendidikan tinggi, tidak sepantasnya saya memusuhi mereka yang menghina karena saya mempunyai impian ingin bermanfaat bagi bangsa atau bahkan kemanusiaan dengan kelak berjuang melalui dunia akdemik/pendidikan.

    Yang perlu saya lakukan adalah memaafkan mereka, karena semua itu terjadi karena ketidaktahuan mereka. Justru menjadi tugas saya untuk menyadarkan mereka; bahwa kita anak kampung yang terlahir dari keluarga sederhana pun bisa melakukan hal-hal lebih, tentunya dengan sikap yang kita tunjukkan dan kesuksesan-kesuksesan.

    Bagi saya, buku bukan hanya dapat mempertajam kemampuan analisis teoretis dan sebagainya. Lebih dari itu, nilai-nilai keluhuran yang terdapat dalam buku, dapat mengajari saya bagaimana menjadi seorang anak manusia; yang tidak pembenci dan selalu mau untuk berbesar hati. 

  • Buku sudah menjadi lebih dari sekedar sahabat.