Mahasiswa
1 tahun lalu · 265 view · 7 min baca · Gaya Hidup 96875_42597.jpg
Dok. Pribadi

Buku, Ketimpangan Sosial, dan Simbol Kekayaan

Saya kenal dengan dunia buku sejak SD meski saat itu hanya sebatas berkenal tanpa terobsesi untuk mengencaninya lebih intens. Saya masih ingat saat itu perpustakaan sekolah tidak karuan. 

Memasuki dunia pendidikan selanjutnya, SMP, saya memang sering mengunjungi perpustakaan milik sekolah. Tetapi bukan karena telah mencintai buku. Tepatnya, saya mengunjungi perpus karena ingin selalu dekat dengan gebetan.

Bagi saya, tahap menuju kecintaan pada buku karena diawali dengan seringnya kunjungan ke perpustakaan meskipun niat awalnya adalah unsur kedekatan dan ingin selalu dekat dengan gebetan. Ada teman saya yang bilang, jika ingin rajin membaca, niatkanlah untuk mendapatkan perempuan dengan rajin membaca. 

Katanya, dengan rajin membaca, kita terbiasa dengan ide pemikir serta membuat kita lebih percaya diri di publik. Dengan begitu perempuan yang dituju tertarik pada kita. Alasan tepat untuk saya yang masih ingin dan terus cinta pada buku. Meski saran itu terlalu muluk. Saya merasa tidak ada masalah.

Yang bermasalah adalah tidak adanya keinginan untuk mencintai buku. Saya ingatkan, pada tanggal 23 April, kita merayakan hari buku sedunia. Ide awalnya dari hari peringatan tersebut dari penulis Valencia, Vicente Clavel Andres. Sebagai bentuk penghargaannya pada penulis, Miguel de Cervantes yang meninggal pada tanggal tersebut.

Tanggal itu tujuannya juga untuk mempromosikan peran membaca, penerbitan, dan hak cipta. Dan kita memang lebih simplistik. Kita mengenalnya dengan hari buku sedunia.

Tanggal tersebut menginspirasi kita, rakyat Indonesia, untuk membuat hari peringatan yang sama. Entah karena latah atau memang terpanggil sebagai nabi-nabi kemajuan. Tanggal 17 Mei kita tetapkan sebagai hari buku nasional. Tentu aneh memang. Sebab ada hal ironis. Tak bisa dipungkiri. 

Tingkat literasi kita rendah, itu artinya juga tingkat kecintaan kita pada buku juga rendah. Pada tanggal ini, story WA, akun Facebook gegap gempita dengan slogan "buku jendela dunia", pada saat yang sama minat baca kita jauh dari harapan.


Tiap tahun kita peringati hari buku nasional. Kita tak memperoleh apa-apa. Tak ada perubahan yang pasti dengan minat baca kita. Di hari buku nasional, kita memperingatinya tapi tak banyak juga yang baca buku dan membelinya. Rupanya, kita hanya merayakan keinginan latah kita.

Satu tahun lalu, saya dan teman-teman mendirikan komunitas. Lebih tepatnya, bukan saya inisiator pertama. Saya sekadar ikut andil. Sebagai upaya memenuhi janji kemerdekaan. 

Komunitas itu bernama kompak dengan kepanjangan komunitas membaca pamekasan. Ia berdiri meski dengan terseok-seok. Buku-buku yang awalnya berupa kumpulan doa-doa dan sebagian novel yang dilapak dengan rapi, kini mulai bertambah seiring dengan banyaknya jaringan.

Akhir-akhir ini saya dengar komunitas ini menginspirasi banyak teman KKN untuk mendirikan komunitas serupa. Sang inisiator pertama cukup bangga. Di tengah hiruk pikuk kepentingan dan keinginan yang tak pernah usai, pecinta buku harus bisa bertahan.

Masih ingat dalam pikiran saya, suatu ketika saya mengunjungi seorang kakanda. Saya sempat diskusi perihal dunia buku. Saya awali dengan basa-basi buku. Keadaan masyarakat di Pamekasan yang masih jauh dari kata inten dengan buku.

Kemudian, berlanjut pada konsep yang saling ditawarkan seperti penjual ikan di pasar. Hingga akhirnya sampai pada pikiran realistis.Kakanda yang saya ajak diskusi itu bertanya, siapa yang jaga, apakah ia dapat imbalan berupa makanan, minuman dan bensin. Saya pikir, ini realistis. 

Hal ini bukan persoalan ikhlas dan tidaknya, tapi lebih pada kelumrahan. Saya sempat bergumam, makanan dan minuman akan ada kalau ada dukungan dari kakanda. Senyum kecut saya mengembang.

Persoalan realistis yang dimaknai sebagai sebuah kelumrahan berupa imbalan makanan, minuman, dan bensin saya kira tak perlu ditabukan. Tak perlu dianggap sebagai sebuah penyimpangan dari niat yang tulus. Realistis adalah kita, lebih tepatnya.


Tapi, memang kita tak perlu menjadikan komunitas sebagai lahan pekerjaan. Karena mustahil dapat bantuan dan mendapatkan omzet yang banyak kecuali dengan menyiasatinya.

Persoalan kebutuhan makan, minuman, dan bensin adalah entitas lain dari keadaan Indonesia dengan rakyat yang kata Goenawan Mohamad mengalami loncatan dari praliterer ke pasca literer. Persoalan kebutuhan itu tetap ada, di mana pun negaranya.

Besar tidaknya kebutuhan itu tergantung pada keadaan. Negara yang penduduknya masih mengalami ketimpangan sosial yang sangat menganga, kebutuhan itu menjadi keharusan. Hal ini akan merembet pada tingkat kecintaan pada dunia literasi, khususnya buku.

Bagaimana mungkin seseorang dengan kekurangan yang menumpuk sempat memikirkan buku? Makanya tidak heran buku sering diidentikkan dengan kepunyaan modal. Ia simbol kapitalistik. Kaum tak bermodal boro-boro memikirkan buku. Makan untuk sehari-hari saja masih kesulitan. Buku menambah kesulitan bagi mereka.

Adalah tidak realistis juga ketika menanyakan pada mereka yang tak punya modal untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari dengan pertanyaan, sudah baca buku apa hari ini? Kecintaan pada buku tak patut dipertanyakan pada mereka yang tak dipihaki keadilan sosial. 

Sebab, ketimpangan sosial menjadikan mereka memadamkan suluh kehidupan dengan sendirinya. Hipotesis saya, ketimpangan sosial memengaruhi kecintaan seseorang pada buku.

Bagi kaum-kaum bermodallah pertanyaan itu layak ditanyakan. Kehidupan sehari-hari kaum tak bermodal tak mungkin sempat memikirkannya. Terlebih lagi, jika negaranya tak mendukung. Untuk sekadar beli, mereka harus mengeluarkan uang yang itu pun akan dipikirkan dalam-dalam. Adalah lumrah ketika mereka bergumam seperti ini, "jika saya membeli buku, nanti saya akan makan apa?"

Suatu ketika saya merasa jengkel karena buku yang baru dibeli dari uang hasil survei disembunyikan. Dengan sok idealis karena jengkel saya bilang, "saya lebih baik meninggalkan pekerjaan daripada kehilangan buku." Teman saya langsung merespons, "pekerjaanmu saya ambil alih, saya ganti uangnya, mau?". Saya tertawa kecut, tanda saya tidak setuju.  

Respons saya dengan tawa kecut bukan berarti tanpa alasan. Sebab, bagaimana mungkin saya rela kehilangan pekerjaan demi buku. Omong kosong jika ada yang mengatakan, lebih baik kehilangan uang daripada buku. Bahkan rela kehilangan pekerjaan.

Pekerjaan dan uang akan menopang kecintaan seseorang pada buku. Meskipun tak selamanya. Lebih lengkapnya, kesejahteraan itu fondasi awal bagi suatu negara untuk lebih mencintai buku. Sebab, rakyatnya tak lagi memikirkan bagaimana cara mengatasi lapar. Orang lapar diberi buku adalah lelucon. Atau kalau ia dijadikan sebagai teatrikal mimesis bisa saja ia kritikan pada pemerintah.

Sepanjang kunjungan ke rumah-rumah penduduk, saya yakin tak akan menemukan buku, karya penulis terkenal. Buku utang, info lowongan pekerjaan di rumah mereka tak sesulit mencari karya penulis terkenal seperti tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Sekali lagi, asas kemanfaatan adalah pertimbangan awal dalam membeli buku bagi mereka yang tak dipihaki keadilan sosial.

Persoalan ini tidak akan selesai terjawab manakala pemerintahnya tak memperhatikan. Khusus Indonesia yang masih peringkat nomor dua dari bawah dalam tingkat literasi, negeri yang kata Goenawan Mohamad: lebih besar bangunan kampusnya untuk upacara daripada bangunan untuk menyimpan buku bacaan. Sudah saatnya berbenah. Obor itu harus dimulai dari kampus. 

SDM suatu negara akan semakin baik jika mendapat-meminjam, istilah Anas Urbaningrum, asupan nutrisi intelektual. Dari mana hal itu? Keinginan kuat yang terealisasikan. Menyemarakkan negara dengan buku bacaan berupa karya besar penulis terkenal. Itu pun perlu ditopang dengan kesejahteraan.

Yang mendesak untuk diselesaikan ada dua hal. Pertama, kesejahteraan manifestasi dari terealisasinya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kedua, dukungan pemerintah untuk mendorong masyarakat mencintai buku. 

Persoalan yang wajib diselesaikan di atas agar tidak ada lagi cerita ironis, bangsa yang sudah tak suka baca buku, tak ada rasa juga menghargai karya seseorang. Bukan kelucuan, tidak lagi mengenal Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terkenal yang dianggap penulis baru naik daun.


Memperingati Hari Buku Sedunia agar tak sekadar latah. Hari buku nasional agar tak dianggap gegap gempita di media sosial tapi sepi di masyarakat. Tak penting seremonialnya jika pesannya tak ditangkap. Tidak ada tujuan, tidak ada perubahan di tubuh rakyat, bukankah itu kesia-siaan? Teman saya berkelakar, kita ini keturunan nenek moyang yang sekadar suka pesta.

Tak ada salahnya mencintai buku. Ia tak akan membawa rugi meski lapar sebenarnya tak bisa diobati dengan sekadar membaca buku. Cara kita mensyukuri nikmat mata pada Tuhan adalah dengan membaca. Membaca tentunya manifestasi dari buku. Bagaimana jika sekadar membeli tak sempat membacanya? Ia lebih baik.

Tan Malaka mengatakan, perbanyak beli buku bila perlu beli pakaian dikurangi. Konon ceritanya, Tan Malaka merasa iri pada Soekarno karena dibuang dengan diiringi buku. Sedangkan dirinya harus mati-matian menyembunyikan buku yang dibawanya. Itupun masih sedikit dibandingkan dengan buku yang dibawa Soekarno.

Tak kalah lagi, Bung Hatta. Kecintaannya pada buku sampai-sampai ia memberi mas kawin berupa buku filsafat, judulnya "Alam Pikiran Yunani", pada calon istrinya.

Agar buku tidak sekadar simbol kekayaan bagi kaum bermodal, atau menjadi mahluk yang harus dijaga agar tak musnah, maka dukungan pemerintah harus intens. Tidak hanya mendorong kecintaan pada buku, juga pada kesejahteraanya rakyatnya. Buku adalah bagian dari hak yang tak boleh dijual mahal.

Kemerdekaan ada karena orang-orang yang terjajah melawan. Inspirasinya dari buku. Buku adalah jendela kesadaran. Konsistensi dan ketulusan adalah jalan menyadarkannya. Kita bukan keturunan nenek moyang yang suka merumpi, kan? Cek WA, Facebook, Twitter, dan Instagram.

Artikel Terkait