1 tahun lalu · 78 view · 6 menit baca · Buku 97908_38813.jpg
pxhere.com

Buku (Kertas) Menyajikan Dunia Lain

Yang abadi adalah perubahan. Apapun bisa berubah. Begitu cepat, begitu tak terasa. Merk dunkin donuts seolah tak tergantikan di zamannya, kini perlahan mulai kehilangan pasar. Pesaingnya J.Co. Siapa yang menyangka jika donat paling dicari itu, kini namanya telah terganti dengan produk lain yang lebih laku di pasaran.

Di bidang transportasi, siapa yang tak mengenal perusahaan dengan nama blue bird? Seolah nama ini begitu tenar, terkenal, dan bonafit. Namun, blue bird dipaksa berinovasi lebih dengan maraknya transportasi berbasis online, seperti gojek, grab, dan lain-lain. Siapa yang bisa menolak perubahan? Siapa yang bisa menebak perubahan, apakah berjalan sangat cepat atau berjalan pelan menunggu kita siap untuk perubahan itu sendiri?Adakah hal yang benar-benar tidak akan berubah di dunia ini?

Rasanya mustahil menyebut, tidak. Melihat dunia saat ini, kecanggihannya tiada tara. Semuanya bisa dalam genggaman, hanya dengan mengandalkan internet.

Lapar? Tinggal klik, pesan, seseorang akan mengantarkan makanan untuk anda. Ingin terbang tanpa ribet, ada situs pembelian pesawat online terpercaya. Jika anda mager (malas gerak), tinggal klik anda bisa merasakan seolah sedang di supermarket. Semuanya praktis, ekonomis, terkadang juga miris. 

Bagaimana dengan dunia kertas? Bertahun-tahun lamanya, kertas seolah tak terganti. Namun, kini kertas dipaksa ikut-ikutan mawas diri. Perusahaan kertas berinovasi dengan daya dan upaya agar kertas tetap menjadi kebutuhan yang tak bisa ditinggalkan manusia. Upaya ini mungkin berbuah baik. Manusia belum sepenuhnya bisa lepas dari kertas, khususnya buku.

Selama berabad-abad buku bertahan melintasi ruang dan waktu. Buku sudah ada sejak sebelum ditemukannya kertas. Benarkah kertas belum sepenuhnya berubah dan masih menjadi kebutuhan penting bagi manusia modern? Bagaimana dengan perusahaan kertas? Apakah masih bisa bertahan di tengah gempuran tanpa kertas?

Jawabannya mungkin bisa dilihat dari bangkitnya perusahaan kertas yang pernah berjaya di eranya. Sudah sekian tahun lamanya BUMN produsen kertas, PT Kertas Kraft Aceh (KKA), masuk sebagai perusahaan sekarat lantaran berhenti beroperasi. Perusahaan tersebut masuk daftar 4 BUMN sakit bersama PT Industri Gelas (Iglas), PT Kertas Leces, dan PT Merpati Nusantara Airlines.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementeruan BUMN, Aloysius Kiik Ro, mengungkapkan pihaknya dalam waktu dekat akan kembali mengoperasikan perusahaan yang berada di Kabupatan Aceh Utara tersebut dengan menggandeng investor Finlandia. Proses penilaian dari investor Finlandia tersebut yakni kepastian bahan baku kertas dari hutan produksi di wilayah sekitar pabrik.

Sementara kesiapan lainnya, seperti mesin produksi dan gas, dianggap sudah rampung. Perusahaan asal Finlandia tersebut yakni Florestas yang memang selama ini bergerak di bidang pengolahan kayu. Bahkan, dirinya optimis dalam 3 bulan pabrik KKA sudah bisa beroperasi kembali.

Menurut catatan, KKA berhenti beroperasi sejak tahun 2007 akibat berbagai persoalan yang menerpa perusahaan terutama akibat terhentinya pasokan bahan bakar gas dan bahan baku kayu. Perusahaan yang sahamnya dikuasai Pemerintah RI sebesar 96,67 persen ini berlokasi di Lhokseumawe, memproduksi berbagai jenis kertas kantong semen, dan pulp dengan cara mengolah bahan-bahan mentah menjadi bahan baku.

Sebelumnya berbagai upaya sudah dilakukan Pemerintah untuk menghidupkan pabrik kertas KKA yang pada tahun 2011 mencatat utang sekitar Rp3,2 triliun. Berbagai upaya sudah dilakukan Pemerintah untuk menyelamatkan KKA mulai dari mengundang 12 perusahaan dari berbagai negara, dengan beragam seperti akuisisi saham hingga KSO, namun hingga kini belum berhasil.

Kini, berangsur perusahaan kertas ini kembali dibangkitkan untuk memenuhi kebutuhan manusia modern. Pengalaman dengan kertas memang tidak bisa dianggap punah.

Sejarah kertas telah membawa manusia menuju peradaban yang lebih baik. Manusia modern, manusia milenial, manusia dengan generasi tak terbatas, masih memerlukan buku. Bukan buku elektronik, e-book, atau buku hayalan, melainkan buku nyata, buku cetakan, buku yang digenggam, dan dinikmati seolah di dalam buku ada sebuah dunia yang belum dijamah kekuatan internet atau kekuatan digital lainnya.

Membaca Setara dengan Berpikir Menggunakan Pikiran Orang Lain

Sekali lagi, buku telah melewati berbagai perubahan zaman. Namun, buku belum tergantikan. Seberapa modernnya manusia, ia tetap membutuhkan buku sebagai konsumsi pikirannya. Buku menjadi petualangan lain yang tak diberikan dunia digital maupun dunia maya.

Penemuan kertas ternyata telah merevolusi kebudayaan manusia yang tadinya barbar menuju budaya yang lebih beradab. Kertas bukan hanya sebuah hiasan. Kertas adalah penyimpan memori dan pengetahuan yang dahsyat. Sejarah orang-orang terdahulu, pengubah negeri, bahkan ramalan-ramalan masa depan dapat kita pelajari dengan membaca buku-buku.

Perubahan sosial telah banyak mengubah wajah kehidupan. Perubahan mengakibatkan transformasi peranan kertas. Kertas bukan barang tidak berguna. Banyak buku yang ditulis dengan kertas. Banyak bangsa yang sudah menikmati keindahan dan manfaat kertas. Tanpa kertas, kebudayaan seperti tidak menemukan ruhnya.

Kertas terus mewarnai kehidupan bangsa dan negara, tanpa kita sadari. Ketika surat kabar dan majalah muncul dalam industri media, banyak orang akan memprediksi bahwa peranan buku akan semakin berkurang. Alasannya koran dan majalah lebih aktual dan lebih praktis untuk dibawa.

Ternyata dugaan itu salah. Buku tetap bertahan dan bahkan lebih banyak daripada yang dikira orang. Ketika gramafon (pemutar musik dengan piringan hitam) ditemukan, beberapa pakar menyatakan buku akan memudar. Gramafon menjadikan musik lebih jernih. 

Tapi sekali lagi, dugaan itu salah. Kemudian ketika televisi dan radio ditemukan, para pakar media menyatakan peran buku akan tenggelam. Televisi dan radio ternyata tidak mampu mengurangi pamor buku, walaupun akan lebih banyak yang menonton televisi dan radio daripada membaca buku.

Namun semua dugaan itu salah. Buku tetap bergeming. Sekarang kita telah memasuki abad digital. Akankah perubahan teknologi akan mengubah peranan buku di era ini?

Banyak pakar media mengatakan buku akan menjadi usang dan akan dilupakan. Buku tidak praktis. Sedangkan internet adalah lautan informasi tanpa batas. Namun kalau dicermati ada perbedaan yang besar dari membaca di internet dengan membaca sebuah buku yang mengasyikkan.

Seorang remaja bernama Bayu (17 tahun) mengakui jika membawa buku kemana-mana memang tidak cukup praktis, namun buku membuatnya bisa membaca secara mendalam, memahami, dan mengingat. Ada pengalaman lain dari buku yang tidak didapat dari membaca secara digital. Buku, kertas yang nyata membuat Bayu mudah mengingat, lalu memberi catatan-catatan unik pada kalimat yang disukainya saat membaca.

Made Ngurah (55) mengakui jika ia hanya membaca di internet itu sekadarnya, selewatnya, hiburan, namun bukan membaca secara mendalam. Made yang melewati masa tuanya dengan sibuk membaca segala buku mengakui jika buku belum tergantikan.

Pengguna media sosial ini bahkan tak pernah mengurungkan niatnya mengoleksi, membeli, membaca buku, berburu buku, sebanyak yang ia mau. Ia tidak pernah takut buku-buku itu akan usang. Sebab, ia yakin buku, semakin tua semakin bermakna. Sama seperti dirinya.

Lain lagi dengan seorang wanita modern, pekerja kantyoran bernama Ayusha (28). Ia belum menemukan wisata ilmu pengetahuan yang mendalam, selain buku. Menjinjing buku, membuka lipatan demi lipatan, adalah sensasi lain dari kegiatan membaca yang dinikmatinya. Ayu mengakui jika ia membaca buku, pengetahuannya lebih abadi ketimbang membaca e-book atau internet.

Manusia modern masih membutuhkan kertas, selama mereka masih percaya penuh pada buku. Sebab membaca buku dan membaca digital adalah dua hal yang berbeda. Membaca di internet hanya menggunakan memori jangka pendek. Membaca halaman-halaman buku tidak sama dengan membaca artikel di internet. Membaca buku menggunakan memori jangka panjang. Membaca buku membutuhkan penghayatan dalam keheningan.

Namun ketika kita membaca sebuah situs, sebenarnya tidak benar-benar membaca. Pemikiran kita akan teralihkan oleh banyak teks dan gambar dalam sebuah konten. Belum lagi warna-warni hanya mengisi konten. Semua itu akan mengalihkan perhatian. Konsentrasi kita akan buyar. Konten-konten di internet tidak sepenuhnya dapat dipercaya. Anda harus melakukan check and re-check terhadap artikel dan berita di internet.

Banyak sekali hoax atau bahkan konten-konten berbahaya yang bisa mengubah orang mengikuti idealisme atau ideologi tertentu. Berbeda dengan buku. Penerbitan sebuah buku melalui proses yang panjang. Baik itu, pencarian data, riset, penulisan, penyuntingan, sampai diterbitkan. Hal ini tidak mungkin dapat dilakukan di internet. Semua boleh posting apa saja dari makian sampai artikel agama, tanpa sensor!

Internet adalah dunia tanpa etika. Walaupun ada yang disebut dengan netiket namun dalam kenyatannya banyak yang melanggar. Sedangkan buku ditulis dengan metodologi dan teknik-teknik tertentu yang cukup rumit. Seorang pengarang (author) seharusnya adalah seorang yang memiliki kewenangan (authority) untuk menulis sesuai dengan bidangnya.

Dari semua perkembangan digitalisasi, semua itu tidak akan mampu menggantikan buku dalam panggung sejarah. Membaca buku sudah mendarah daging dalam kehidupan manusia. Buku memberikan sesuatu yang lain dibanding internet. Kedalaman. Membaca buku dalam durasi tertentu akan menyebabkan seseorang tenggelam dalam lautan gagasan.

Sedangkan ketika membaca di internet radiasi layar akan mempengaruhi mata kita. Tak jarang, banyak orang yang tidak sabar. Mereka membaca melompat-lompat. Membaca di internet tidak menyebabkan seseorang menjadi pemikir atau merenung. Membaca buku di internet membuat seseorang akan berpikir praktis. Buku memberikan kesejatian. Sebuah buku yang terbit sebenarnya merupakan refleksi penulisnya. Ilmu, wawasan dan pengalaman penulisnyalah yang kemudian ditransfer kepada pembacanya. 

Seperti dikatakan Arthur Scophenouer, “membaca setara dengan berpikir menggunakan pikiran orang lain.

Artikel Terkait