1 bulan lalu · 41 view · 10 min baca menit baca · Lingkungan 49102_34509.jpg

Buku, Kertas, dan Kebimbangan yang Menyertainya

Regulasi Penggunaan Kertas

Kertas membawa perubahan besar di dalam dunia tulis-menulis. Menurut sejarah, sejak ditemukannya kertas berbahan kayu, kegiatan menulis telah jauh berubah. Orang-orang tidak lagi menggunakan media-media seperti batu, kulit kayu, bambu, kain sutra, kulit, dan lain sebagainya untuk menulis. Menulis menjadi lebih rapi. Dengan adanya kertas, tulisan dapat digandakan dan disebar ke berbagai penjuru. 

Kebutuhan akan media ini semakin meningkat ketika mesin cetak juga ditemukan. Mesin ini terus berkembang dan semakin canggih hingga menjadi bagian yang tidak bias dipisahkan dengan computer. Sedikit-banyak orang sudah memilikinya di rumah-rumah. Efeknya adalah kebutuhan kertas makin banyak, maka yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana bahan untuk pembuatannya?

Pada masa peradaban Cina Kuno, orang-orang ada menulis menggunakan kertas yang disebut kertas ‘bo’yang terbuat dari sutra, namun harga kertas ‘bo’ mahal. Kelangkaan bahan sutra untuk membuatnya adalah salah satu factor penyebab mahalnya kertas ini. Menghadapi persoalan itu, orang-orang mulai berpikir untuk menemukan alternatifnya. Muncullah temuan baru, yaitu kertas yang terbuat dari kayu. 

Kertas berbahan kayu ini dihasilkan dengan cara mengkompresi serat yang berasal dari kayu yang sudah menjadi pulp. Menurut informasi, secara singkat, kayu-kayu pepohonan diambil kemudian dicacak hingga menjadi serpihan-serpihan, kemudian dipanaskan dengan memberikan beberapa zat, sehingga menghasilkan pulp. Kemudian setelah serpihan kayu itu menjadi lembut, maka kemudian dikompres atau digiling hingga tipis kemudian dikeringkan dan jadilah kertas. 

Dibandingkan dengan bahan kertas ‘bo’, tentu bahan kayu lebih mudah ditemukan. Namun sumber daya alam ini, semakin lama jika tidak ditanam kembali tentu juga akan mengalami hal yang sama dengan kertas ‘bo’. Ongkos produksi akan menjadi lebih mahal, dan harga kertas juga akan menjadi tidak bersahabat di masyarakat.  Ini akan menghambat laju roda produksi dan daya beli masyarakat terhadap kertas itu. 

Selain itu, jika kelangkaan bahan ini terjadi, maka dapat diduga bahwa pepohonan sudah semakin sedikit dan banyak lahan gundul karena untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan kertas. Alhasil, permasalahan ini akan menjadi isu lingkungan dan produksi kertas dapat dihentikan. 

Belum lagi dikatakan bahwa, industri pulp dan kertas nasional adalah salah satu motor penggerak ekonomi nasional. Kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) industri pulp dan kertas di tahun 2016 mencapai 6,7% dari total PDB industri pengolahan. Negara akan mengalami dilemma di dalam melihat kejadian ini.

Regulasi Pemerintah 

Dengan luas alam dan sumber daya alam yang melimpah, maka tidak heran apabila Indonesia, saat ini, menempati peringkat ke-9 sebagai produsen pulp terbesar di dunia, dan industri kertasnya menduduki posisi ke-6 di dunia. Artinya, industri ini memiliki peran yang sangat penting bagi negara dalam meningkatkan perekonomian. Akan tetapi, isu lingkungan seperti kebakaran hutan, penanganan limbah, dan pembalakan liar menjadi perhatian dan harus diwaspadai. 

Apabila ditelusuri secara mendalam, keduanya, yaitu perusahaan dan pemerintah (sebagai yang menjalani amanat konstitusi), memiliki kepentingan berbeda. Di satu sisi, pemerintah menjaga kehidupan masyarakat dengan menjaga ekosistem alam, di lain sisi untuk kepentingan ekonomi. 

Kedua kepentingan ini adalah juga kepentingan pemerintah dalam menajalankan amat konstitusi. Swasta juga membantu negara dalam menjalankan amanat konsitusi, untuk memenuhi lapangan pekerjaan, kebutuhan masyarakat dan perekonomian negara. 


Semua itu adalah kewajiban yang harus dijalani setiap warga negara, tapi atas nama kewajiban juga, mereka diwajibkan untuk menjaga lingkungan di wilayah Negara Republik Indonesia. 

Artinya, atas nama apapun, eksploitasi besar-besaran terhadap alam juga akan berdampak buruk bagi kehidupan manusia, sehingga alasan ekonomi, kesejahteraan dan lain sebagainya, selama tidak menjaga alam atau lingkungan tempat manusia hidup, juga merupakan suatu kejahatan. Bukankah yang disebut baik adalah kehidupan yang sesuai dengan alam? Kata Sokrates. 

Tentu saja, perusahaan yang bergerak di bidang ini, membutuhkan lahan yang luas untuk memenuhi produksinya. Memang dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk memanen, tetapi apabila manajemennya diatur sedemikain rupa, akan membuat semua kebutuhan dapat terpenuhi. 

Misalnya dengan menanam pohon sendiri kemudian menanamnya kembali dengan jarak waktu tertentu. Tidak menutup kemungkinan juga untuk melibatkan atau bekerjasama dengan masyarakat setempat untuk menanam pohon kemudian menjualnya kepada pihak pabrik. Ini akan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. 

Selain dari segi manajemen perusahaan dan masyarakat, ada yang tidak kalah penting, yaitu regulasi pemerintah. Regulasi pemerintah, sebagai penyeimbang antara memenuhi kebutuhan masyarakat dari segala aspek, dari ekonomi hingga lingkungan, akan membuat semua pihak merasakan keadilan yang cukup terhadap beberapa kepentingan ini. 

Oleh sebab itu, apabila pemerintah benar-benar menjalankan regulasi ini, semua pihak akan merasa senang. Dalam hal ini adalah sistem yang diciptakan untuk pemenuhan kepentingan bisnis, hak masyarakat mendapatkan lingkungan yang layak dan negara sebagai regulator. 

Pada intinya, para pebisnis di bidang ini juga harus mentaati azas yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, yang salah satunya adalah, sustainable developmentdan pemerintah juga harus konsisten dalam menjalankan aturan yang mereka buat sendiri.

Tantangan Digitalisasi dan Kertas

Digitalisasi menjadi sesuatu yang baik tapi sekaligus kurang baik dalam industri ini. Misalnya saja, dengan adanya komputer, kemudian dikembangkan menjadi komputer jinjing (laptop), semua orang yang menulis tidak lagi menggunakan kertas secara langsung.Efek dari itu adalah, penggunaan kertas menjadi lebih sedikit dibandingkan dengan menggunakan mesin tik yang penggunaan kertas secara langsung.

Begitu juga dengan kegiatan mencatat, meskipun di lapangan masih banyak kita temukan orang-orang mencatat mengunakan buku catatan kertas. Keperluan akan buku catatan, sedikit-banyak, turut berkurang. Karena prilaku manusia yang cenderung praktis, mereka mengunakan catatan-catatan yang aplikasinya tersedia di segala macam telepon genggam mereka.

Menyikapi kegiatan itu, teknologi smartphone juga berkembang pesat. Pengembangan literasi berbasis digital juga semakin banyak digaungkan banyak negara. Hal ini menyebabkan orang-orang mulai beralih dari yang literaturebersifat konvensional menuju yang digital. Hal ini juga didukung dengan adanya tablet (smartphone yang ukurannya lebih besar).

Dengan berkembangnya model literasi demikian, membuat perpustakaan banyak negara berbondong-bondong mendigitalisasikan buku-buku koleksinya, dengan berbagai alasan, salah satunya, dalam konteks naskah kuno, mengurangi biaya perawatan naskah dan menghindarkan dari kerusakan.

Berkembangnya teknologi ini juga, membuat proses editing dan layout tidak memakan banyak kertas lagi. Kemudian dengan adanya ebook, jurnal online, dan lain sebagainya, membuat penggunaan kertas semakin berkurang. Memang ada yang masih mempertahankan buku-buku dalam bentuk cetakan kertas, namun hal itu dilakukan untuk kegiatan koleksi atau karena terbiasa membaca dalam versi cetak.

Selain di dunia tulis-menulis, perubahan ini juga merambah ke dunia kampus. Tidak sedikit kampus yang sudah memaksimalisasikan peran teknologi ini. Dari segi anggaran, peran teknologi dapat menghemat penggunaan kertas. 

Tapi sebenarnya tidak bisa juga dikatakan berhemat, sepertinya hanya mengalihkan alokasi dana untuk biaya alat tulis kantor (ATK) itu ke hal seperti kuota internet, server, kapasitas penyimpanan dan lain sebagainya yang tidak dapat digolongkan sebagai ‘murah’.  Namun demikian, dalam konteks adminsitrasi, dengan adanya teknologi semacam ini, pekerjaan menjadi lebih singkat, karena berkurangnya kebutuhan ‘cetak’. 


Sebagai contoh, undangan rapat tidak pelu lagi menggunakan kertas, sebagian besar pengumuman tidak lagi menggunakan kertas, singkatnya, sebagian surat resmi juga menggunakan teknologi berbasis jaringan ini. 

Ditambah lagi, keperluan mencatat sekarang, sudah mulai beralih ke catatan di dalam smartphone masing-masing, menurut sebagian orang, lebih praktis dan tak mudah hilang. Sebagian lagi beranggapan tidak friendly untuk digunakan, dan lain sebagainya.

Masih di dalam kampus, kegiatan belajar-mengajar juga menjadi lebih mudah. Sebagian kegiatan belajar mengajar tidak lagi menggunakan kertas, melainkan online. Dengan adanya fasilitas kelas online, seperti halnya ‘google classroom’ telah memudahkan sistem interaksi antara dosen dan mahasiswa. Sebagian tugas tidak perlu lagi ‘print out’ melainkan sudah dapat dikirim melalui email atau di dalam laman kelas online itu. 

Bimbingan Skripsi juga sebagian sudah ada yang memanfaatkan fasilitas ini. Namun memang ada bagian-bagian tertentu masih belum dapat dialihkan ke sistem online ini karena berbagai alasan, seperti halnya ujian tengah semester, ujian akhir semester dan Skripsi dalam bentuk cetak karena alasan-alasan yang pada umumnya adalah ‘dokumen otentik’.

Begitu juga dengan koran. Tidak sedikit koran yang mulai beralih ke digital dan online. Hal ini juga berpengaruh terhadap penggunaan kertas. Artinya oplahkoran untuk dicetak semakin sedikit. Hal ini tentu banyak pertimbangan dan factor yang menyebabkan hal itu terjadi. 

Selain itu, sampah kertas dari ATK dan menumpuknya koran versi cetak semakin berkurang. Artinya, kebutuhan kertas untuk mencetak koran juga semakin berkurang. Pasokan kertas dari pabrik ke percetakan juga semakin berkurang. 

Pengembangan Riset Berbasis Lingkungan

Secara umum, penggunaan kertas semakin berkurang dengan adanya digitalisasi terhadap bahan litarasi dan kegiatan administrasi. Oleh sebab itu para pebisnis kertas harus berpikir lagi tentang kertas ini. Dengan mengaitkan kertas ini kepada isu lingkungan, tentu akan banyak sekali yang dapat dieksplorasi tentang fungsi kertas ini. 

Seperti isu plastik sebagai kemasan makanan, kemudian kantong plastik, dan juga bahan-bahan untuk kerajinan tangan. Tantangannya adalah, daya tahan kertas itu sendiri. Untuk berpikir tentang hal yang demikian, tentu jalan yang dapat ditempuh adalah pengembangan riset.

Pengembangan riset berbasis lingkungan, tentu menjadi bahan pertimbangan utama di dalam setiap industry. Dari bahan hingga ke pembuangan. Hal ini menjadi santapan sehari-hari bagi industry yang melibatkan sumber daya ala mini. Dari sudut pandang hukum, bisnis ini sebenarnya boleh tetap beroperasi asalkan membatasi dirinya sendiri dengan melihat lingkungan dan dampaknya. 

Dengan demikian segala kepentingan dapat diakomodir dengan baik. Namun juga sang regulator juga harus benar-benar menegakkan aturan. Sehingga tercipta sebuah timbal balik yang tidak merugikan pihak lainnya. Membersihkan limbah pabrik dan membuangnya di tempat yang tepat dan tidak merugikan pihak lainnya adalah sebuah tindakan untuk bertahan hidup di tengah maraknya teknologi. 

Pertimbangan ini, mau tidak mau, para pabrik kertas harus membuat rencana-rencana baru dalam pengembangan kertas di masa depan. Terutama dalam hal bahan baku kertas itu sendiri. Penggunaan kayu sebagai bahan baku harus terus dikurangi, oleh karena itu perusahaan harus mencari bahan alternative selain kayu. Pengembangan riset di perusahaan juga harus mulai bergerak. 

Dengan adanya ebook dan koran online, juga menjadi tantangan bagi perusahaan. Oleh sebab itu, perusahaan harus juga melakukan pengembangan, selain bahan baku pembuat kertas, juga harus mulai melakukan pengembangan produk, seperti halnya sebagai bahan alternative dari kantong plastik. 

Hal ini akan turut membantu mencegah pencemaran lingkungan dengan banyaknya sampah plastik. Tidak menutup kemungkinan, apabila kantong plastik akan tergantikan dengan kertas, yang mudah diurai oleh alam.

Menurut berita yang dirilis oleh CNN, sampah plastik di Indonesia adalah penyumbang kedua terbesar di dunia. Dengan melihat persoalan ini, tentu gagasan-gagasan kertas sebagai bahan alternative sebagai kemasan makanan, atau kantong plastic akan membantu misi dari menteri lingkungan hidup, yang ingin menargetkan pengurangan sampah plastik hingga lebih dari 1,9 juta ton di 2019 ini. Tentu ini akan selaras dengan keinginan pemerintah mewujudkan kehidupan yang layak bagi masyrakat Indonesia. 


Seperti yang diutarakan oleh Dirjen Pengelolan Sampah, Limbah, dan B3 KLHK Tuti Hendrawati Mintarsih, ia menyebut total jumlah sampah Indonesia di 2019 akan mencapai 68 juta ton, dan sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada. 

Sinergi antara pihak pengusaha dan pemerintah akan terwujud tidak hanya dalam hal bisnis, tetapi juga dalam hal memberikan lingkungan yang layak bagi masyarakat. 

Tapi rasanya, semua hal itu juga tidak akan lancar apabila masyarakat juga tidak mengedepankan prilaku perduli lingkungan. Karena penggunanya adalah masyarakat itu sendiri. Apabila masyarakat juga sudah bijak dalam menjaga lingkungan maka ekosistem dari lingkungan kita juga akan turut terjaga. Namun tak kalah penting adalah, pengolahan sampah, juga menjadi sangat penting sebagai eksekutor dalam kebersihan lingkungan.

Berdasarkan uraian-uraian itu, maka salah satu fungsi yang dapat dikejar para pebisnis kertas adalah, dengan menggantikan fungsi plastik di dalam kehidupan sehari-hari manusia. Sudah cukup banyak teknologi yang mulai mengembangkan plastik yang apabila dibuang akan turut membusuk. 

Menurut saya, penggunaan kertas sebagai pengganti penggunaan kantong plastik harus dikampanyekan lagi, karena kertas ini akan mudah terurai apabila dibuang atau menjadi sampah. Namun, daya tahan kertas ini harus semakin diperkuat, sehingga tidak mudah robek dan awet.

Jika penggunaan kertas hanya sekali pakai, maka sama saja merugikan lingkungan, karena akan menghabiskan banyak bahan kertas. Jadi kuncinya adalah, kertas sebagai pengganti fungsi plastik dalam kegiatan manusia juga harus diimbangi dengan kekuatan kertas itu sendiri, sehingga kertas yang digunakan sebagai kantong tidak mudah rusak. 

Pada akhirnya, semua elemen di dalam suatu negara akan terlibat dalam hal ini. Kertas menjadi suatu komoditas yang penting dalam suatu kehidupan masyarakat, tetapi juga lingkungan lebih penting lagi. Adanya kewajiban untuk menjaga stabilitas ekosistem lingkungan yang layak di dalam suatu negara. 

Tapi semua tidak akan berarti apabila pemerintah juga tidak melaksanakan aturan-aturan yang sudah ditetapkan. Tapi apabila prilaku masyarakat masih tidak perduli lingkungan, juga tidak akan berguna semua itu. Jadi kita semua harus siap dengan segala perubahan. Seperti yang dikatakan Charles Lindbergh, “When environment changes, there must be a corresponding change in life.” Tabik.

Artikel Terkait