"Tidak ada,” kataku lemas. Aku kemudian mengambil posisi duduk di rumput, taman.

“Cari di mana lagi? Di kelas sudah, di kantin juga sudah!” kata Ami sahabatku. “Ini jadi pelajaran banget lho, Ra. Kalau besok-besok, jangan membawa buku itu lagi ke kampus. Baiklah, kalau begitu, nanti aku umumin di Grup WhatsApp, ya?” katanya lagi panjang lebar.

Aku cuma mengangguk lemah. Selarut malam ini aku masih di kampus. Bukan karena ada kegiatan mahasiswa, namun karena mencari buku itu. 

Padahal, kami juga sudah bertanya pada penjaga kantin, kali-kali saja buku itu tercecer di sana. Kemudian minta tolong sama satpam kampus, siapa tahu ada yang mengembalikan buku itu padanya. Sampai bertanya satu per satu ke teman-teman, namun hasilnya nihil.

Aku kesal sekali, bisa-bisanya buku itu hilang. Kalau buku biasa sih, tidak apa-apa. Misalnya, buku catatan. Aku biasa meminjam buku catatan Ami yang rapi. Atau jika buku cetak yang hilang, aku bisa membelinya lagi. 

Masalahnya, ini buku harian, my diary, my secret. Aku mengutuk kecerobohanku, lupa menaruh buku itu di mana-mana, dan menyesal selalu membawanya ke kampus, padahal buku itu pribadiku, diriku banget.

Aku menyesal terlalu berani membawa buku itu. Aku cemas, bagaimana jika yang membacanya memberitakan isinya? Apalagi, isinya semua tentang seseorang yang aku sukai, Ary Purnomo.

Ary Purnomo yang membuat aku bertahan di kampus untuk rajin kuliah, rajin membaca. Ary Purnomo yang membuatku lupa kampung halaman, sebagai mahasiswi perantauan yang harus survive. Ary Purnomo yang membuatku jatuh cinta pada dia dan Jogja.

 ***

Whats App, grup Kelas Budaya.

Ami (my friend): Temans, jika ada yang melihat buku berwarna PINK terjatuh di sekitar kelas, kantin, dan taman kampus,  tolong hubungi aku ya? 00.00

Hans (Ketua Tingkat): Buku apa Mi? 00.02

Ami my friend: Buku catatan… 00.03

Hans: Ok 00.05

Lisda Kelas Arkeologi: Belum ketemu juga? 01.01

Ami My friend: Belum Lis 01.02

Aku sudah mengantuk, aku tertidur, tidak melihat percakapan di WA lagi.

***

Sebulan telah berlalu, namun buku harian itu masih belum aku ketahui rimbanya. Tetapi, nama yang selalu aku tulis di sana tetap menjadi tulisan di buku yang lain. Bukan buku harian lagi, aku cuma menuliskannya di buku biasa yang hanya kusimpan di kost.

Bukan karena takut kena marah si Ami sahabatku, karena pernah membawa buku pribadi ke ruang publik yaitu kampus. Padahal, aku senang sekali jika punya waktu luang setelah kelas menulisi buku itu di taman. 

Aku cuma menulis yang ringan-ringan saja dengan langsung. Aku takut kehilangan momennya, apalagi setelah melihat Ary bisa aku tuliskan langsung. 

Misalnya, melihat dia di kelas presentasi dengan keren yang membuatku makin kagum akan kepintarannya, melihat dia berargumen dengan dosen, melihat dia di kantin makan sambil berdiskusi dengan teman-teman sesama organisasinya, melihat dia berjalan di taman dengan si Vivi, gadisnya. Hikz…

***

My Day with Ary Purnomo

January, 25.

Hari ini di taman tempat diskusi buku. Ary presentasi tentang pemikiran tokoh, Antonio Gramsci. Dia keren BGT. Cara menjelaskannya membuat aku seperti hidup di zaman Gramsci. Dua jempol deh buat kamu.

February, 08

Ary terlambat datang ke kelas. Untungnya saja Ibu Rahmah dosen Etnografi itu juga datang terlambat. Katanya beliau baru tiba di Jogja tadi pagi setelah melakukan perjalanan ke Kalimantan, ke suku Dayak. Aku melihat Ary tetap saja stay cool. Freezer kali…

March, 01

Di Toko buku Social Agency bersama Ami. Aku mencari buku Kekerasan dan Identitas yang ditulis oleh Amartya Sen. Kemarin aku lihat Ary membacanya di kantin. Jadi pengen beli juga. Bukan karena gengsi kalau harus pinjam. Tapi, aku ingin tahu bacaan si Ary. He he

April, 07

OMG, Im so glad today. Ary menyapaku untuk yang pertama kali. Memang kami sekelas, jika kelas besar. Ketika kelasku A digabung dengan kelas B kelasnya. Tanyanya, kapan aku yang menjadi pemantik di kelas diskusi Budaya. Mungkin karena sering lihat aku hadir di acara diskusi buku itu. Aduh, harus siap-siap membaca buku. Aku ingin Ary terkesan, dan akhirnya meninggalkan kesan baginya. Cie…cie…cie…

May, 05

Awal bulan begini, waktunya terima gaji dari ortu dari Mandar, Sulawesi Barat. Ary ternyata "berpikiran" sama denganku. Dia antri di depan Atm depan Kopma kampus. Namun, aku mengganti haluanku, masuk ke Kopma. Aku malu untuk bertemu Ary yang hari ini cakep banget dengan baju kemeja birunya.

….

Seseorang membaca buku harian itu, lalu memasukkannya ke tas ransel warna birunya. Dia membawa tas itu pergi.

***

Setahun kemudian, September,

Aku tidak menulis di buku harian lagi, setelah buku diary Pinkku hilang tak tahu ke mana, dan Ary makin mesra dengan Vivi membuat aku makin malas menulis. 

Aku hanya membaca dan menghabiskan waktu menulis di suatu platform di media sosial. Aku tidak ada urusan dengan rasa lagi, perasaan lagi, dan mungkin cinta?

“Ra, sudah tahu gosip terbaru?” kata Ami terlihat bahagia.

“Gosip apa?” tanyaku pendek pada Ami yang semakin cantik setelah kami lama tidak bertemu di dunia nyata karena liburan panjang. Kami pulang ke kampung halaman masing-masing, dan hanya banyak japri-an di WA.

“Ary putus sama Vivi!” katanya kencang.

“St… st… st…,” aku meminta Ami diam sejenak. Aku di antara kaget, tidak percaya, namun bahagia mendengarnya. Mereka putus? Senangnya mendengarnya. “Kamu dapat info darimana? Kita, kan, libur panjang hampir tiga bulan ini?” aku memburu Ami untuk banyak pertanyaanku tentang Ary.

“Dari sumber terpercaya. Ayo, kita ke kelas diskusi dulu, nanti aku ceritakan detailnya. Ary mau launching buku hari ini,” kata Ami sambil menarik tanganku ke taman kampus.

Aku mengikut seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Di taman ramai banget, mungkin Maba juga hadir karena ada Ary yang cakep yang kemarin jadi panitia MABA, atau karena diskusi buku hari ini akan launching buku milik Ari.

Aku melihat ke spanduk di dekat taman tempat diskusi buku. Spanduknya romantis banget, warna merah marun, ada buku berwarna merah muda berjudul “My Secret, My Diary” launching buku karya Rara Mandasari, Semester tiga Jurusan Antropologi. “My God, itu kan’ diariku?” teriakku dalam hati.

“Alhamdulillah, penulis bukunya telah hadir di tengah-tengah kita, kita sambut Rara Mandasari, untung segera bergabung bersama kami disini.” Teriak si moderator,  Hans, menggemuruh, semua mata tertuju padaku.

“Ayo, Ra.” Ami menyemangatiku. Aku diantara mimpi, tertidur, dan nyata. Nyatakah? Aku duduk diatas kursi bersama Hans, Ami, dan Ary. Tuhan, ada apa ini?.

***

Diskusi hari itu,

Ternyata, selama ini Hans sahabat Ary yang menemukan buku diari itu di kelas. Hans memberikan kepada Ary karena yang tertulis pertama kali di buku itu adalah nama Ary Purnomo. 

Ary meminta Hans merahasiakan hal tersebut dari aku dan Ami. Ary tertarik pada isinya, dia membaca diari itu yang hampir setengahnya adalah kisah dirinya. Ary pun menghubungi Ami yang dia tahu dekat denganku. 

Lalu, mereka berkolaborasi untuk mencetak diari itu. Ami menceritakan itu ketika dia pertama kali memberikan sambutan, sepatah kata untuk launching buku ini. Awas saja si Ami ini sebentar. Kataku dalam hati.

"Buku adalah peradaban. Merawat buku adalah merawat peradaban. Anne Frank seorang penulis diari di zaman kekejaman NAZI menulis diari tentang masa itu. Kemudian buku diarinya itu menjadi buku yang menjadi petunjuk sejarah, budaya, sosial, dan politik. 

Saya berterima kasih kepada Rara yang telah menulis diari ini. Dan ketika ini menjadi buku, saya yang paling berbahagia karena dari sini, saya mengetahui banyak kisah. Bukan hanya kisah saya, tetapi juga tentang banyak hal, baik itu tentang kuliah, kampus, dan Jogja itu sendiri.” Kata-kata Ary membuat saya jadi terharu, bahagia sekaligus bangga. 

Apalagi dipuji sama Ary, idolaku. Orang-orang menepuk tangan. Tuhan, jangan biarkan hamba-MU ini jadi GR.

“Kepada Rara Mandasari si penulis buku kami persilakan.”

Aku mengambil mike dari Hans walau perasaanku sedang bercampur baur. Antara marah, senang, kaget, bangga , sekaligus bahagia.

“Pertama-tama, terima kasih untuk moderator, Hans, atas waktu dan tempat yang telah diberikan. Terima kasih untuk semuanya, terutama pada Ami sahabatku, buku ini tak akan ada tanpa kolaborasinya dengan teman-teman, Hans dan Ary. Terima kasih untuk Ary yang telah membuat diary ini hidup karena memang tulisan yang ada di sana untuk dia. 

Sebenarnya, saya tidak tahu kenapa saya ada disini. Saya baru sadar setelah tadi membaca spanduk dan mendengar Ami membaca. Memang, buku diari ini sempat hilang. Kami, aku dan Ami, sudah mencari ke mana-mana namun tidak ketemu. Ternyata, ditemukan oleh penerbit buku. 

Setelah ini, saya mau menghilang dulu dari Jogja, bukan hanya karena tulisan yang privasi ini kini menjadi konsumsi publik. Selain itu, saya  takut ketemu Ary. Nanti saya dimarahin sama dia gara-gara suka menulis tentang dia. Tapi, kalau masih dikira menulis sih tidak apa-apa, takutnya saya dikira mengikuti dia terus."

Aku mengeluarkan curhatku, uneg-unegku. Semua orang tertawa, dan Ary melihatku dengan senyuman. Entah apa maksudnya, tapi aku merasa tatapannya hanya untukku seperti tidak ada orang lain saja di sana. Dan aku tersipu-sipu. Mulai detik ini, aku akan menulis tentang kamu selamnya, Ary. Batinku berjanji untuk Ary.

***

Happy Valentines day, 2020.