Ada anggapan bahwa Anda akan dianggap keren jika membaca buku-buku tebal yang bergenre non fiksi seperti Madilog, Das Kapital, Aidit, dan sejenisnya. Dan akan dianggap “cupu” kalau cuma baca buku-buku tipis kayak puisi, cerpen, atau buku fiksi lainnya. Ini adalah pemikiran yang bodoh sekali. Saya ulangi, BODOH SEKALI.

Membaca buku-buku berat (non fiksi) tidak membuatmu lebih keren dari yang membaca novel atau buku fiksi lainnya. Apalagi sekadar membaca buat gaya-gayaan aja. Bacaan non fiksi itu memperkaya wawasan, sedangkan bacaan fiksi memperkaya imajinasi. Keduanya sama-sama penting.

Orang yang mengatakan kalau buku fiksi itu tidak “mengenyangkan” pasti belum baca bukunya Pramoedya Ananta Toer “Tetralogi Pulau Buru” yang sampai masuk nominasi Nobel karena saking banyaknya manfaat dari buku tersebut.

~Dikira novel itu cuma tentang cinta-cintaan yang gak mutu aja kali~

Jika ada anggapan kalau buku fiksi itu mudah ditulis karena tidak perlu penelitian, maka sebaiknya dikurung saja, kemudian lemparkan pada ikan hiu atau piranha. Becanda ding.

Salah satu novel mengenyangkan selain Tetralogi Pulau Buru adalah novelnya Dewi Lestari (nama penanya Dee Lestari) yang berjudul “Aroma Karsa”. Selain memiliki 686 halaman, proses penulisan novel ini cukup penuh dengan “perjuangan”.

Proses penulisan novel ini membuat Dee Lestari harus mengikuti kursus meracik parfum untuk memahami tentang aroma “enak” dan terjun langsung di gunung-gunung sampah TPA Bantar Gebang untuk mengetahui fakta aroma “tak enak” serta meneliti kehidupan para pemulung yang menjadi bagian dari ceritanya. Dibutuhkan waktu 1,5 tahun untuk melakukan riset dan menulis buku “Aroma Karsa”.

Kurang “penelitian” apa lagi coba? Ini dilakukan agar cerita fiksi ketika dibaca terasa nyata, namun tetap dengan gaya santuy.

Kalaupun tidak sampai melakukan penelitian “gila” seperti buku Aroma Karsa, menulis buku fiksi tetap harus mengembangkan imajinasi liar. Karena itu, penulis fiksi tetap melakukan penelitian meskipun tidak formal.

Belum lagi diksi. Kalau tulisan non fiksi, pemilihan kata dan kalimatnya terkesan kaku, paling itu-itu saja yang dipakai. Kalau tulisan non fiksi, bedaaa.

Coba kita bedah salah satu penulis fiksi, Agus Mulyadi yang biasa dipanggil sayang, eh Gus Mul ding. Ia adalah salah satu pemilih diksi tercerdas di muka bumi.

Ketika kebanyakan orang menulis "jika aku tidak lupa" atau "jika aku tak salah ingat", Gus Mul ini lebih suka menggunakan kalimat "jika pikiran saya tidak berkhianat".

Coba bandingkan kalimat tersebut, terasa berbeda sekali, bukan?

Kalimat “Jika aku tidak lupa” dan “Jika ingatanku tidak berhianat” adalah dua kalimat yang maksudnya sama, hanya saja penyampaiannya berbeda.

Dalam penulisan fiksi memang perlu memperhatikan diksi, dan pemilihan diksi ini tidak gampang. Kalau gampang mah semua orang udah jadi penulis, la wong seni puisi kan kebanyakan perubahan diksi.

Ambil contoh puisi alm. Eyang Sapardi yang berjudul “Pinkan Melipat Jarak”. Kalimat normalnya adalah “melipat kertas”, kemudian kata kertas diganti jarak dan memberikan tambahan nama orang di awal kalimat.

Ini bukan tanpa alasan. Sepasang kekasih yang berhubungan jarak jauh (LDR) biasanya ingin sekali menghilangkan jarak tersebut dengan mudah, semudah ia melipat kertas. Tentunya pemaknaan ini adalah menurut saya, karena makna sebenarnya hanyalah penulis yang tahu.

Satu kata akan mengubah makna, seorang penulis fiksi sangat memahami hal tersebut. Biasanya mereka peka sekali terhadap kalimat yang memiliki potensi keunikan dengan mengganti beberapa kata saja.

Misalnya kalimat “Sumber daya itu terbatas, suatu saat akan habis, jadi jagalah sumber daya ini”. Sekilas tidak ada yang menarik dari kalimat tersebut. Namun ketika kata “Sumber daya” diganti dengan “kesabaranku”, maka akan menjadi nyaman untuk dibaca.

“Kesabaranku itu terbatas, suatu saat akan habis, jadi jagalah kesabaranku ini.”

Teorinya simpel, cuma main kata-kata saja, tapi praktiknya tak mudah, karena tidak semua orang pintar bermain kata, apalagi sampai mempermainkan kata-kata ~kemudian mencampakkannya~

Itu baru dari segi diksi, belum pemilihan kata, kalimat, atau makna.

Permainan kata merupakan hal penting untuk memudahkan pembaca memahami kalimat serta menumbuhkan keinginan membaca. Karena itu, tulisan fiksi selalu memiliki pembaca yang jumlahnya banyak. Tulisan non fiksi (formal) kebanyakan menggunakan bahasa formal dan seakan-akan hanya bisa dibaca oleh golongannya sendiri.

Menurut pengakuan Iqbal Aji Daryono, tulisan non fiksi yang berupa Jurnal hanya dibaca rata-rata 10 orang saja. Coba bandingkan dengan viewer tulisan fiksi di wattpad! Saya jadi tidak tega menulis angka perbandingannya.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Apakah topiknya terlalu berat?

Rasanya bukan masalah topiknya, tapi cara membicarakan topik. Penulis non fiksi rata-rata menggunakan bahasa “langit” sedangkan tulisan fiksi menggunakan bahasa “bumi” sehingga mudah diterima oleh semua golongan.

Buku fiksi memang lebih mudah dibaca, namun tentu saja tidak berarti buku fiksi tidak bergizi. Baik buku fiksi maupun non fiksi adalah bacaan yang bergizi dan memiliki banyak manfaat.

Jadi, jangan menyepelekan buku dengan membandingkan satu di antarannya, apalagi sampai membajak atau membakarnya. Itu jahad, Dik.