Saat tulisan ini dibuat, anak saya, Kafka, masih berumur dua minggu. Sebagai bayi berumur segitu tentu penginderaannya masih terbatas. Indera penglihatannya masih belajar mengenali pola, bentuk, dan warna, sementara indera pendengarannya masih menangkap segala suara sebagai bunyi samar yang nirmakna.

Namun, dalam berbagai literatur mengenai pengasuhan, serta diperkuat oleh nasehat orang-orang tua dan saran para pakar, keterbatasan itu tidak boleh menghalangi interaksi antara orangtua dan anak. Sebaliknya, interaksi parental mesti dilakukan dalam porsi yang cukup dan intens sebagai kebutuhan elementer bayi akan afeksi, yang pada perkembangannya nanti justru akan memperkuat kemampuan penginderaan, emosional, serta motorik si bayi itu sendiri.

Sadar akan hal ini, saya kemudian membiasakan diri untuk mengajak anak saya berbincang sembari menggendong atau menidurkannya. Kerap saya memperdengarkan Kafka dongeng meski ia barangkali tak paham apa yang saya ceritakan.

Dahulu, saat ia dalam kandungan pun, saya kerap berbicara kepadanya, atau lebih tepatnya berbicara kepada permukaan perut istri saya. Saya yakin, meski samar-samar, rangsangan suara itu pun akan sampai kepadanya. Batin saya, entah dengan cara apa, akan menyentuh batinnya.

Sebelum saya menikah, sekitar tahun 2014 yang lalu, saya diajak seorang kenalan mengerjakan sebuah proyek buku dongeng. Sebuah buku yang diniatkan sebagai arsip dan dokumentasi cerita-cerita khazanah dongeng nusantara, yang sewaktu-waktu dapat menjadi referensi bagi penelitian mengenai budaya, adat istiadat serta folklore Indonesia, baik oleh peneliti dalam maupun luar negeri.

Di tahun 2015, buku itu terbit. Buku berjudul Dongeng Negeri KitaAntologi Cerita Rakyat Nusantara (DNK-ACRN), yang diterbitkan oleh Penerbit Padasan dan Lembaga Seni dan Sastra Reboeng.

Buku itu sangat tebal, 815 halaman, berisi 35 dongeng yang mewakili seluruh Propinsi yang ada di Indonesia. Ditulis dalam dua bahasa (Inggris dan Indonesia), dengan banyak teks dan sedikit ilustrasi. Saya sendiri menulis, atau lebih tepatnya menceritakan ulang, legenda Sungai Mpoduhu dari daerah saya: Propinsi Gorontalo.

Saya tak tahu apakah buku ini yang dimaksud, namun dalam suatu perbincangan di Kompas TV beberapa bulan silam, Bayu Sutiono, presenter di stasiun televisi tersebut mengeluhkan buku-buku dongeng yang dibuat tebal tanpa atau kurang gambar. “Menyusahkan anak kita saja,” kira-kira seperti itu komentarnya.

Komentar Bayu ini terlontar tatkala ia memandu sebuah program pagi yang kala itu membicarakan sebuah serial buku dongeng nusantara yang kaya gambar dan sedikit teks. Saya agak lupa nama serial dongeng tersebut, namun Bayu dengan santai mengatakan buku-buku dongeng yang hampir mirip komik tersebut membuat ia lega sebagai orangtua.

Buku dongeng, atau cerita anak menurutnya harus dikemas dalam gaya yang ringan agar mudah dicerna anak-anak, bukan dalam bentuk kitab babon seperti buku-buku para profesor.

Pandangan tersebut sebetulnya tidak sepenuhnya keliru, buku bacaan anak memang seharusnya dibuat dalam gaya yang ringan. Namun, si presenter agaknya lupa, bahwa esensi dongeng adalah bercerita, bukan menyuruh anak membaca buku cerita.

Buku dongeng yang tebal semacam DNK-ACRN memang tidak ditujukan untuk anak-anak, melainkan untuk para orangtua, agar mereka membacanya dan lalu menceritakan ulang dongeng-dongeng tersebut kepada anak masing-masing.

Dalam dongeng, terkandung kearifan, nilai-nilai moral, budi pekerti serta nilai-nilai sosial yang disusupkan ke dalam berbagai rupa tamsil, kejadian-kejadian imajinatif, dan tokoh-tokoh yang kerap bertindak dan bersikap extraordinary. Dongeng menjadi jembatan komunikasi antara generasi tua dengan generasi muda.

Dongeng dibuat agar orangtua mudah menyampaikan nasihat kepada anak-anak yang pengetahuan dan penalarannya masih sangat terbatas. Sehingganya membacakan dongeng adalah sebuah upaya menghadirkan orangtua ke tengah anak-anak. Selain itu dongeng merupakan jalur yang tepat bagi orangtua dalam usaha melimpahkan afeksi kepada anak-anak, serta memperkuat ikatan batin antara keduanya.

Jadi sekali lagi, logika pengasuhan anak ala sang presenter, yang sangat khas kelas menengah perkotaan dan merayakan keinstanan itu, adalah sebuah logika pengasuhan yang keliru. Menyodorkan buku kepada anak, tanpa ikut melibatkan diri sebagai pencerita, adalah tindakan yang tak lebih baik, bahkan cenderung sama mudharatnya dengan tindakan memberikan gawai cerdas kepada mereka.

Anak kemudian sibuk sendiri, jarak tercipta dan orangtua sementara waktu lepas dari tanggungjawabnya sebagai orangtua. Setelah itu kosong, orangtua dan anak menjadi individu yang kurang peduli akan satu sama lain.

Barangkali pembaca sempat akrab dengan film Baby's Day Out yang pada dekade 90-an (bahkan sampai sekarang) kerap diputar di stasiun-stasiun televisi kita—terutama di saat hari libur Natal atau Lebaran. Film itu bercerita tentang petualangan bayi yang baru berusia beberapa bulan, Bennington Austin Cotwell IV, atau kerap disapa Baby Bink menjelajahi sebuah kota besar.

Baby Bink yang awalnya diculik sekelompok penjahat kemudian lepas setelah ia berusaha mengikuti sekawanan burung dara yang mematuk-matuk bebijian dekat jendela. Dengan cara merangkak ia menyeberangi atap-atap gedung, menuruni tangga, lalu mengunjungi sejumlah tempat yang diingatnya dari sebuah buku cerita.

Di akhir film itu, Baby Bink akhirnya ditemukan berkat sang pengasuh hapal betul isi dalam buku cerita tersebut.

Mungkin tidak masuk akal melihat bayi sekecil itu bisa bermain-main tanpa pengawasan di sebuah pusat perbelanjaan, tidur di sangkar gorila, atau memanjati pancangan besi sebuah proyek konstruksi sembari mempermainkan sekelompok penjahat profesional yang sedang mengejarnya.

Namun, yang bisa kita petik dari kisah ini adalah betapa proses membentuk dan memperkuat ikatan antara orangtua dan anak hanya dapat berlangsung jika orangtua benar-benar hadir dalam kehidupan sang anak, salah satunya adalah dengan cara menjadi pendongeng, pencerita, atau minimal membacakan buku cerita, bukan dengan membiarkan anak membaca buku ceritanya sendiri.

Tanggal 20 Maret diperingati setiap tahun sebagai hari mendongeng sedunia. Di hari ini, kita, para orangtua harus bertanya kepada diri sendiri, seberapa besar dan bermutunya kehadiran kita di tengah anak-anak. Apakah kita telah memberikan kasih sayang dan bimbingan secara tepat buat mereka yang kelak akan menjadi orangtua baru menggantikan kita, pewaris nilai-nilai yang sedang kita tanamkan sekarang?

Semoga kita tidak pernah bosan bercerita dan mendongeng kepada anak-anak. Selamat hari dongeng sedunia.