3 bulan lalu · 340 view · 4 menit baca · Pendidikan 46726_42840.jpg
data.go.id

Buku dan Rapor Merah Literasi Indonesia

Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas. ~ Mohammad Hatta

Siang itu suasana kelas tampak ramai. Teman sesama mahasiswa pun tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang bermain game, buka media sosial, dan sebagian lagi tampak berbincang serius dengan kawan bicaranya. 

Namun ada sesuatu yang janggal yang membuat saya gusar dalam hati, yaitu tidak ada satu mahasiswa yang terlihat membaca buku kecuali saya. Kejadian ini membuat saya melontarkan pertanyaan kecil kepada teman yang duduk tepat di samping, "Literasi itu apaan sih?"

Dia lantas menggelengkan kepalanya seraya memberi kode yang artinya tidak tahu. Sekonyong-konyong saya langsung terkejut.

Sambil melempar senyum kecil kepadanya, saya bergumam dalam hati, "Bagaimana Indonesia tidak tertinggal dari negara lain jika mahasiswanya saja ada yang tidak tahu arti dari literasi padahal mereka sehari-hari melakukannya?"

Keadaan siang itu memancing beberapa pertanyaan terpaksa keluar dari sarang pemikiran saya. Saya berjalan mendekati meja dosen yang berada tepat di depan bangku saya.

Di sana duduk seorang perempuan muda satu angkatan saya dengan sebuah handphone bermerek di genggamannya yang hanya berjarak kira-kira 20 cm dari wajahnya.

Saya pun bertanya kepadanya dengan mimik sedikit bercanda, "Kamu berapa jam dalam satu hari membaca buku?"

Dengan suara lantang dan penuh kebanggaan, dia menjawab, "Tidak sampai satu jam, bahkan sering gak baca karena malas. Lebih enak main Facebook."


Dari sederet pengamatan yang saya lakukan, mulai dari kehidupan kampus, kemudian budaya masyarakat dan over dosis dunia maya yang dialami pemuda saat ini, saya berpikir betapa rusaknya generasi bangsa ini di tengah perkembangan dunia yang sangat pesat.

Citra buruk terlihat jelas di dalam corak pendidikan Indonesia saat ini. Walaupun ada beberapa tunas yang berprestasi, tetapi itu hanya segelintir orang di antara kumpulan anak-anak muda yang lebih suka hanyut dalam arus globalisasi saat ini.

Perkembangan teknologi sepertinya tidak memberi perbaikan yang cukup berarti dalam warna pendidikan kita. Diikuti dengan motivasi yang kurang, sikap malas tumbuh subur di kalangan para pelajar.

Kemudian juga sarana baca buku yang minim. dan kebiasaan membaca dan menulis yang belum dipupuk dengan baik makin memperburuk suasana pendidikan Indonesia di mata dunia.

Bahkan dalam hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) mengatakan bahwa literasi Indonesia pada tahun 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia berada di posisi ke-64 dari 65 negara tersebut.

Senada dengan hal itu, data UNESCO pada tahun 2012 yang mengatakan bahwa indeks minat baca Indonesia baru mencapai 0,001 persen. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca.

Data ini seharusnya memancing para elite politik dan pengambil kebijakan di negeri ini untuk segera meningkatkan pembenahan dan membawa arah literasi Indonesia ini ke titik yang lebih terang.     

Alih-alih menggiring mindset masyarakat untuk sama-sama memperbaiki perspektif literasinya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (MENDIKBUD) Muhadjir Effendy justru mengatakan:

"Tidak ada negara di dunia yang bebas dari buta huruf, termasuk negara maju sekalipun seperti Amerika Serikat." (Media Indonesia)


Tokoh-tokoh pengambil kebijakan seperti kehabisan arang untuk mengatasi permasalahan ini walaupun Indonesia sudah merdeka 73 tahun. Mereka lebih suka mencari alibi untuk mendukung program yang mereka buat yang nyatanya sama sekali tidak mampu mendongkrak kemampuan literasi kita.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2017 memperlihatkan, sebanyak 3,4 juta jiwa penduduk Indonesia masih buta aksara. Data ini makin memperjelas betapa buruknya penanganan literasi di Indonesia ini.

Mulai dari buku-buku yang kurang, penanganan yang kurang serius, dan budaya literasi kita yang tidak ada sukses membuat literasi kita stagnan di angka terendah, Dan bahkan makin menurun.

Dari hasil pengamatan subjektif saya, para tokoh-tokoh elite dan media justru selalu sibuk dengan hal-hal yang berbau politik, agama, dan gosip-gosip yang justru tidak membantu kemajuan pendidikan literasi bangsa ini.

Permasalahan literasi seolah tidak punya tempat dan waktu untuk mereka bahas dan kaji, sehingga yang terjadi hanyalah perselisihan antarsesama kita yang tidak punya titik mediasi.

Literasi seharusnya dapat mejadi pembeda dan membawa pola pikir kebaruan kepada masyarakat sehingga kemajuan bangsa dapat terlaksana dengan baik. Saya rasa tidak susah untuk menemukan dan melakukan kajian-kajian tentang cara pengembangan literasi yang tepat di Indonesia, di tengah pesatnya kemajuan peradaban dunia tentang pendidikan dan pengetahuan.

Hanya saja, para pengambil kebijakan, mulai dari pemerintah, tokoh-tokoh pendidikan, lingkungan sekolah, dan lingkungan keluarga masih kurang maksimal dan serius mengatasi kesenjangan literasi ini.

Hal ini tentu menjadi catatan buruk dan nilai merah untuk kita segenap rakyat Indonesia. Buruknya literasi kita telah berakar dalam dan menjadi beban berat untuk menjadikan kita sebuah negara maju.

Seorang penulis Republik Ceko yang terkenal bernama Milan Kundera pernah berkata: Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.


Hasil dari penelitian parah ahli tentang buruknya literasi kita harusnya menjadi pemantik motivasi bagi kita untuk berbenah diri. Kita tidak kekurangan orang-orang intelektual untuk membantu menyelesaikan permasalahan ini.

Asalkan semua mau bekerja sama, berkeringat, bahkan sampai titik darah penghabisan demi kemajuan peradaban bangsa kita ini.

Literasi telah mengambil peran penting dalan kehidupan peradaban dunia. Literasi menjadi cahaya bagi bangsa-bangsa maju. Oleh karena itu, jika kita ingin menjelajahi rel peradaban ini, kita harus memperbaiki cahaya kita, yaitu literasi.

Artikel Terkait