Pendidikan merupakan hal yang penting, mengingat zaman semakin berkembang. Pandangan orang desa mengenai pendidikan pasti berbeda dengan orang kota. Aku tidak menampik itu. 

Semua tercetak jelas di lingkungan tempat tinggal ku. Sudah cukup seorang anak berada ditingkat pendidikan menengah. Cukup dengan berada ditingkat menengah, selanjutnya lebih baik bekerja. Begitu anggapan mereka.

Cara berfikir yang masih kolot, belum hilang hingga sekarang dan tidak mengikuti perkembangan zaman. Apa yang sudah dianggap baik dari dahulu, akan terus diterapkan ke anak-anaknya.

Bukankah dengan lebih cepat bekerja akan lebih cepat pula mencapai apa yang diinginkan dan dapat lebih cepat pula mengubah nasib? Begitu menurut mereka.

Pendapat baik menurut orang tua yang masih belum menyesuaikan perkembangan zaman. Anggapan bahwa dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, adalah hal yang sia-sia. Menghabiskan waktu dan biaya. Menganggap dengan bekerja adalah satu-satunya pilihan yang sangat tepat dan melanjutkan pendidikan adalah hal yang salah dan keliru.

Terlahir di desa tidak berarti buruk dalam segala hal. Bukan merupakan sesuatu yang harus disesali. Bukan merupakan aib yang harus ditutupi. Jika dibandingkan di kota, pasti akan sangat kentara, baik secara keadaan dan cara pandang.

Meskipun, di desa tempat aku tinggal dalam cara pandang mengenai pendidikan sangat kurang, akan tetapi banyak hal lain yang dapat diambil pelajaran. Mengenai gotong royong, kerukunan, kekeluargaan dan hal positif lainnya.

***

Aku sangat bersyukur terlahir dari  seorang bapak dan ibu yang  tangguh dan kuat. Terlepas dari keadaan perekonomian, mereka menginginkan aku untuk tetap melanjutkan pendidikan. Semangat yang tinggi dan kerja keras yang selalu mereka berikan.

Tidak mudah memulai apa yang sudah direncanakan, dengan keadaan lingkungan yang sangat tidak mendukung. Pernah suatu ketika ada yang bertanya, “untuk apa sekolah tinggi-tinggi? Orang nanti juga akan jadi ibu rumah tangga, masak di dapur. Kodrat perempuan itu di dapur” ungkapnya dengan bahasa jawa yang kental.

Aku terdiam, bukan berarti membenarkan semuanya. Bukan soal laki-laki atau perempuan. Bukan juga membahas mengenai kodrat perempuan. Ini menyangkut pilihan dan masa depan. Aku tidak menilai bahwa, seseorang yang memilih untuk langsung bekerja masa depan akan suram.

Masa depan seseorang tidak bisa dipandang dengan hanya melihat seberapa tinggi tingkat pendidikannya. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mewujudkan apa yang menjadi impiannya. Mungkin, orang yang memilih untuk langsung bekerja akan lebih cepat mencapai apa yang diinginkan.

Proses terwujudnya impian satu orang dengan yang lain pasti berbeda. Setiap orang mempunyai jalan dan porsi kegagalan yang berbeda. Tidak bisa, proses kesuksesan seseorang menjadi tolak ukur untuk orang lain. Tidak perlu menjelaskan terlalu banyak. Cukup pembuktian yang akan menjawab semuanya.

***

Aku, bukan seseorang yang sangat pandai. Aku hanya seorang anak yang bisa mengikuti apa pun, tidak menonjol untuk suatu hal. Meskipun itu sebuah kekurangan, aku tetap terus berusaha melakukan yang terbaik di setiap hal yang aku dilakukan.

Kerja keras yang orang tua ku lakukan, tidak bisa terbalas dengan apa pun yang nanti akan aku berikan. Tidak cukup rasanya, membalas dengan hanya memberi uang sebagai ganti dari semua kerja keras dan pengorbanan yang telah merasa lakukan.

Aku adalah seseorang yang beruntung, dengan segala keadaan yang apa adanya tetapi memiliki keluarga yang luar bisa hebatnya. Aku sangat bersyukur. Terima kasih tuhan, atas semua yang telah engkau berikan.

Menjadi seorang anak yang menjadi harapan untuk mengubah nasib keluarga yang lebih baik, adalah hal yang berat dan harus tetap dilakukan. Dengan semua yang telah di lakukan ke dua orang tua, tidak pantas untuk menolak harapan tersebut.

Berusaha melakukan hal yang terbaik, itu yang sedang aku lakukan dan usahakan. Anggapan orang lain, bahwa aku hanya menyusahkan orang tua tidak bisa aku tolak. Dengan apa yang sekarang aku lakukan, belum pantas rasanya untuk menjawab dan membalas semua anggapan tersebut.

Aku sedang berproses. Berusaha dengan sekuat tenaga, membuktikan kepada semua bahwa aku bisa. Aku akan terus berusaha. Tidak ada alasan untuk berhenti sekarang. Ini belum selesai dan berhasil.

***

Jika setiap orang memiliki kemampuan untuk mengubah hidupnya secara instan, semua orang pasti akan dengan senang hati melakukannya. Pastinya aku akan memanfaatkan kesempatan tersebut. Akan tetapi, mustahil untuk melakukannya.

Dengan kehidupan yang terus berputar, setiap apa yang di usahakan pasti akan membuahkan hasil. Aku percaya, bahwa apa yang sekarang sedang aku usahakan akan membuahkan hasil dikemudian hari. Tidak mudah memang, tapi suatu hasil pasti tidak akan pernah menghianati usaha yang telah dilakukan.

Aku dari desa, dengan segala kekurangan yang ada. Aku yakin, keputusan yang aku ambil tidak salah. Hanya butuh usaha dan waktu. 

Ini adalah bagian dari proses. Semua yang menjadi harapan akan menjadi nyata. Ini adalah proses yang akan menjadi bukti dari seorang sarjana dari desa mewujudkan impian.