Sejarah tentang awal mula perkembangan Islam di Kerinci belum diketahui secara pasti. Namun banyak yang mengatakan Islam masuk ke Kerinci sekitar abad ke 14-15 Masehi, yang dikembangkan oleh mubaliq-mubaliq yang berasal dari minangkabau, tetapi sebelum masuk ke Kerinci mubaliq-mubaliq tersebut ke Siak Riau sehingga di Kerinci orang-orang yang taat menjalankan ajaran Islam lebih dikenal dengan siak.

Di daerah Kerinci ada enam orang mubaliq atau siak yang mengembangkan dan menyebarkan agama islam yaitu ; yang pertama ada siak Jelir dari koto Jelir, kedua ada siak Lengih dari koto Pandan, ketiga ada siak Rajo dari sungai Medang, keempat ada siak Ali dari koto Beringin, kelima ada siak Sati dari koto Jelatang dan lalu yang terakhir keenam ada siak Baribut Sati dari koto Marantih-Tarutung.

Mereka itu adalah keenam tokoh agama yang menyebarkan dan mengembangkan agama Islam di Kerinci, mereka sangat berperan besar dalam tersebar dan berkembangnya agama Islam di Kerinci sehingga semua mayoritas penduduk Kerinci beragama islam.

Islam yang dianut masyarakat juga menghargai nilai-nilai budaya lokal. Hal ini terlihat dari bangunan arsitektur masjid dan hiasan interior di dalamnya, atap masjid yang bertumpang tiga, penggunaan bedug, hiasan ukiran flora dan geometri menjadi bukti yang menunjukan gaya perpaduan nilai budaya lokal dan nilai Islam.

Hingga saat ini masjid-masjid tua peninggalan sejarah Islam di Kerinci masih berdiri kokoh di beberapa daerah di Kerinci seperti ; Masjid Agung Pondok Tinggi Sungai Penuh, Masjid Keramat Koto Tuo Pulau Tengah, Masjid Kuno Tanjung Pauh Hilir, Masjid Tuo Lempur Mudik.

Semua masjid itu merupakan masjid tua peninggalan sejarah masuknya Islam di Kerinci, yang masih dijaga hingga sekarang dan berdiri kokoh serta masih aktif juga digunakan masyarakat setempat untuk beribadah di masjid tersebut.

Dengan berkembangnya agama Islam di Kerinci maka bangunan masjid sebagai tempat beribadah menjadi cukup banyak di daerah Kerinci, masjid-masjid tersebut juga mengalami perkembangan baik bahan, hiasan maupun konstruksinya.

Saat ini sudah banyak sekali masjid-masjid baru yang dibangun di daerah Kerinci yang tidak lagi menggunakan ciri khas kebudayaan kerinci seperti masjid-masjid tua peninggalan sejarah seperti di atas tadi, banyak yang sudah menggunakan arsitektur bangunan yang megah nan modern.

Maka dari itu ada beberapa bangunan masjid-masjid tua tadi yang sudah direnovasi sedikit untuk memperbaiki yang rusak agar masih terlihat kokoh dan bisa digunakan namun tetap tidak menghilangkan nilai sejarah dari masjid tersebut agar masih tetap dikenal hingga masa yang akan datang dengan nilai sejarah di dalamnya.

Berikut adalah cerita singkat dari sejarah pembangunan dari beberapa masjid di atas tadi.

Yang pertama ada masjid Agung Pondok Tinggi Sungai penuh, yang dibangun pada tahun 1874 M itu merupakan saksi nyata persebaran Islam di Kerinci, konon masjid Agung Pondok Tinggi itu dibangun secara bergotong royong oleh warga dusun Pondok Tinggi, Kerinci, pada tahun 1874 M.

Menurut masyarakat setempat pembangunan dimulai pada rabu, 1 Juni 1874 M dan selesai pada tahun 1902 M.

Cerita yang berkembang di masyarakat juga mengatakan kalau pembangunan masjid itu diawali dengan pesta keramaian selama tujuh hari tujuh malam dengan menyembelih dua belas kerbau, selain dihadiri seluruh warga dusun Pondok Tinggi pesta keramaian ini juga dihadiri oleh seorang pangeran pemangku dari Jambi.

Masjid Agung Pondok Tinggi Sungai Penuh merupakan bukti kecerdasan masyarakat lokal mendirikan sebuah bangunan, proses pembangunan masjid juga menunjukkan kultur komunal yang masih kuat berakar pada masyarakat Kerinci pada saat itu.

Kemudian masjid Keramat Koto Tuo Pulau Tengah, masjid ini terletak di desa Koto Tuo Pulau Tengah kecamatan Danau Kerinci. 

Masjid ini berdiri sekitar abad 18 oleh nenek moyang orang Pulau Tengah yaitu Haji Rahei dan Tengku Pandai Baruke. Masjid ini juga merupakan masjid tertua diantara yang lainnya tadi yang ada di Kerinci.

Bahkan masjid ini memiliki cerita menarik yaitu masjid Keramat Koto Tuo Pulau Tengah ini dikenal sebagai masjid yang selalu dapat terhindar dari bencana, beberapa kali bencana terjadi di sekitar masjid namun masjid masih berdiri kokoh.

Contohnya terjadi pada saat kebakaran pertama terjadi pada tahun 1903 M yang dilakukan akibat makar serdadu kompeni Belanda, mereka membakar desa dan banyak rumah-rumah yang di sekitar masjid hancur akibat amukan si jago merah namun masjid Keramat Koto Tuo dapat luput dari lalapan si jago merah.

Lalu peristiwa serupa pun terjadi kembali yaitu terjadi pada tahun 1939 M, masjid kembali dapat terhindar peristiwa kebakaran.

Begitu pula pada tahun 1942 M terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat yang menghancurkan bangunan di sekitaran masjid Keramat Koto Tuo Pulau Tengah itu, dan masjid pun dapat selamat kembali dari bencana tersebut.

Begitulah sedikit dari cerita sejarah, jejak peninggalan sejarah pembangunan masjid yang menjadi saksi sejarah persebaran Islam di Kerinci.

Semoga artikel yang saya tulis ini dapat bermanfaat bagi teman yang membaca dan semua orang.