Pagi hari saya sudah mencumbui laptop. Melawan pagi sekaligus menikmatinya.

Saya senang dengan pagi, terang yang malu-malu, suara kokok ayam bangkok dan deru kipas angin kecil yang berputar cepat membantu mendinginkan kamar kecil kontrakan ini.

Pagi juga menjadi tanda munculnya bukit sampah baru di jagat sosial media. Yah, di dunia maya yang orang-orang di dalamnya kadang sebagian kecil pelakonnya lupa menceboki mulut. Umpatan, hujatan, tampil seketika. Berita tak jelas bersanding indah dengan kisruh politik kekninian dan semacamnya.

Ahh, jarang saya temui lagi tautan menuju tulisan berisi macam karya Pak Edi Akhilles, Goenawan Mohamad, Eko Triono, Krishna Pabichara dan beberapa penulis lain. Sebagian dari kita asyik-asyik saja dengan kondisi seperti itu. Jujur, saya tidak terlalu suka. Tak tega rasanya beranda saya yang suci diisi dengan hal semacam itu.

Tindakan unlike tak terlalu ampuh untuk menyelesaikan masalah dengan laman peraup klik itu. Lepas dari sana ada hal lain yang telah menunggu. Toh bak virus, ia ditularkan oleh para teman di media sosial.

Kadang saya berpikir, kenapa koran atau website online bermutu jarang yang mau terjun meluaskan cakupan pembacanya lewat promosi link di fanpage tertentu semisal yang telah dilakukan Mojok, Basabasi, Qureta dan Indoprogress. Saya gagal paham, kok lebih banyak tulisan menyampah dibanding berita yang sedikit berguna.

Di pagi itu refleksi filosofis saya sedang tinggi-tingginya, kadang malah mengambil waktu saya tertidur kembali. Karena itu pagi itu istimewa. Bahkan tulisan ini yang mungkin juga menambah daftar jenis sampah tercipta di kala pagi. 

Pagi memang selalu saja luar biasa. Saya suka pagi, termasuk ketika menikmati waktu yang seolah tak berdentang. Tidak secepat siang, waktu entah mengapa serasa melambat. Mengalami dilatasi. Kata seorang kawan, “karena kau tak melakukan aktivitas berarti di pagi hari. Siangnya baru kau peras dengan kegiatan yang kau suka. Sehingga waktu serasa melambat dan jam internal tubuhmu menanggapinya sebagai distorsi. Sebagai pemuluran.”

Lalu tiba-tiba saya mendapati sebuah tulisan tentang Kakbah, Magnet Bumi dan Kebenaran Islam. NASA sembunyikan kebenaran malam Lailatur Qadar. Tujuh  lapis langit dalam Al-Qur’an dijelaskan oleh teori String. Keberadaan Malaikat dalam Al-Qur’an bersesuaian dengan teori fisika Kaluza-Klein.

Saya terpana, menikmati jengkal demi jengkal hingga saya sampai pada kesimpulan artikel ini sangat luar biasa. Luar biasa ngawurnya. Penulisnya entah apakah sudah punya publikasi di IOP Science, di Physical Review, di Elsevier? Bidang keahliannya apa yah?

Perlu diketahui, ada cacat logika yang jelas jika menyamakan antara kebenaran saintifik dan kebenaran cocoklogi. Setamsil dengan cerita-cerita manusia terbang dengan jimat, orang bisa menghilang dan semacamnya dengan bacaan tertentu dari Kitab. Inilah evolusi, tatkala mitos tak jelas bertransformasi menjadi pseudoscience kebablasan.

Bukankah parah jika kebanggaan beragama yang salah justru membuatnya ditertawai penganut lain? Kalau beragama, ya beragama saja. Dalil saintifik sekedar dijelaskan di kaum dalam, walaupun itu salah secara teori dan logika.

Gagal paham semacam ini yang membuat saya menggelengkan kepala pagi-pagi sembari memikirkan bagaimana cara menguliahkan filsafat ilmu pada mereka-mereka. Ilmu pengetahuan, terkhusus di Sains harus dinyinyiri, diragukan. Kalau agama dipaksakan terhubung dengan sains, fisika misal, jika suatu saat nanti ditemukan kesalahan pada teori itu apakah agama siap berbenah juga?

Kimcil-kimcil yang gemar pseudoscience langsung menanggapi.

"Yang salah kan ilmunya? Bukan kitabnya?"

Yang bilang kitab siapa? Yang salah itu pemikiran penganut yang kebanggaannya kelewatan.

“Kitab kan mengandung semua kebenaran saintifik. Berarti kau ragukan kitab?” tanyanya.

Wah ini nih, salah serang. Kenapa yang diserang malah saya. Bukan argumen saya. Saya tidak ragukan kitab. Toh kitab bukanlah buku teks standar dan memang tidak layak disandingkan dengan sesuatu yang tak setara. Semua yang ada pada Al-Qur’an memuat prinsip-prinsip yang mesti dikaji oleh orang yang punya kompetensi banyak macam.

Misal dalam kompetensi keilmiahan, kompetensi bahasa arab, kompetensi pengetahuan sejarah turunnya ayat, kemampuan matematika  cukup, kemampuan tafsiran fisis dan punya kemampuan mumpuni dalam bidang tafsir. Ya kalau belum punya kemampuan sekompleks itu lebih baik tidak ditulis dan disebar secara masif. Cukup disebar di kalangan yang sama. Sama-sama cacat logika.