• Sang surya belum naik sepenuhnya keatas langit dan lampu-lampu dijalanan belum ada yang mati. Pemandangan itulah yang aku lihat setiap harinya saat pergi sekolah.

  • Sekolahku memang masuk lebih awal dari sekolah-sekolah yang lain. Untuk menghindari kemacetan katanya.


Hari ini mataku terasa berat sekali. Semalam Radinka mengajakku mabar game online sampai lupa waktu. Kulihat wajah Radinka, biasa saja. Tak ada tanda lelah ataupun mengantuk. Mungkin baginya tidur jam 2 malam itu biasa. Namun tidak bagiku.


"Nandita!" suara lantang pak Alwi membangunkanku dari tidur yang nyenyak di kelas saat itu.

"Hah? Iya, pak." kataku sedikit tidak sadarkan diri sambil mencoba membuka mataku.

"Bagus, ya. Bukannya memperhatikan malah tidur di kelas."


"Kalau tertidur artinya kamu sudah faham materi ini, bukan? Setelah ini, kamu ikut bapak ke kantor. Bapak sudah siapkan satu lembar soal matematika untukmu sebagai hukuman."

Aku hanya diam dan menunduk. Memang salahku yang mau saja diajak mabar sampai tengah malam hingga akhirnya tertidur di kelas.


Aku pun berjalan lesu menelusuri koridor setelah Pak Alwi memberikanku selembar soal matematika itu. Membacanya saja sudah malas, apalagi mengerjakannya. Namun, rasa malas itu tiba-tiba menghilang saat aku mendengar suaranya.


"Nandita!" Panggil seseorang dari kejauhan. Aku hanya menoleh sedikit kearahnya lalu berjalan sedikit cepat. Ia mengejarku dan berhasil berdiri dihadapanku. 


"Nandita? Ngambek, ya?" Tanyanya sedikit membungkukkan badan agar bisa melihat wajahku. Aku hanya diam, menunduk, dan tidak menjawab pertanyaannya.

"Ya sudah, besok-besok aku nggak ngajak kamu mabar sampai tengah malam lagi, deh. Maaf ya, jadinya kamu ngantuk di kelas dan disuruh mengerjakan soal-soal itu."


Aku pun mengangkat kepalaku.

"Iya, dimaafin. Radinka tahu dari mana kalau aku di hukum?"

"Aksa yang memberi tahu."

"Ya sudah, aku mau balik ke kelas. Mau mengerjakan soal-soal ini." Aku sudah mulai melangkahkan kaki namun ia mencegatku.

"Eh.. sebentar. Nandita sudah makan belum?"


"Sudah."

"Beneran? Padahal aku mau jajanin kamu mie ayam." Radinka menunjukkan raut wajah kecewa, lucu menurutku.

"Tumben baik. Tapi aku sudah kenyang. Ya sudah, aku mau balik ke kelas dulu, ya." Kataku sedikit tersenyum

"Iya. Nanti malam aku mau cerita, di chat." Kata Radinka sedikit berbisik. Aku pun mengacungkan jempolku tanda mengiyakan. Kemudian aku berjalan menuju kelasku.


Radinka namanya. Siapapun yang mengobrol atau chattingan dengannya, pasti akan terbawa perasaan. Sifatnya yang peduli juga memiliki tampang yang menarik membuat teman-teman perempuanku banyak yang terhipnotis olehnya.

Meskipun begitu, Radinka tidak punya banyak teman. Bukan karena sombong, tetapi dia hanya ingin berteman dengan orang yang menurutnya baik dan bisa ia percaya. Salah satunya aku.


Aku dan Radinka memang sangat dekat sehingga banyak yang mengira kami berpacaran. "Kami cuma teman, kok." Kata itu yang selalu aku lontarkan jikalau ada yang bertanya tentang hubunganku dengan Radinka. Kenyataannya memang begitu, bukan?


Rumahku dan rumah Radinka juga searah. Setiap pergi dan pulang sekolah kami selalu memesan satu taxi online dan nanti harganya kami bagi dua. Aku bisa memaklumi mereka yang bilang kalau aku dan Radinka seperti sepasang kekasih. Karena aku akui kedekatanku dengan Radinka bisa dibilang lebih dari seorang teman. 


...


"Drrrtt" Ponselku berbunyi, tanda ada notifikasi masuk. Ternyata notifikasi chat dari Radinka. Aku pun segera membalasnya.


Radinka: Nandita.

Nandita: Iya, kenapa?

Radinka: Mau cerita, hehe.

Nandita: Iya, aku dengerin, nih.

Radinka: Kamu kenal Adena, kan?

Nandita: Iya. Memangnya kenapa, Din?

Radinka: Adena cantik, ya.

Nandita: Iya. Lalu, kalau Adena cantik, kenapa?

Radinka: Sepertinya aku menyukai Adena.

Nandita: Menyukai Adena karena ia cantik?

Radinka: Bukan hanya cantik. Adena itu pintar, rajin, tegas, pokoknya Adena itu girlfriend material banget. 

Nandita: Kalau suka, ya, tembak.

Radinka: Jangan langsung tembak, PDKT dulu.

Nandita: Ohh.. Ya sudah, deketinlah si Adena itu. Mana mungkin dia mau didekatimu, haha.

Radinka: Wah.. ngeremehin. Siapa yang tidak mau denganku? Aku ganteng. 

Nandita: Sombong banget. Setauku, Adena sudah punya pacar. Bahkan pacarnya lebih ganteng darimu. 

Radinka: Serius? Tapi gimana kalau aku coba mendekat sama Adena. Siapa tahu berhasil.

Nandita: Hmm.. Mungkin boleh dicoba.


Setelah chattingan dengan Radinka, kok rasanya nyesek, ya? Atau jangan-jangan selama ini aku terbawa perasaan? Seperti kataku, siapa yang tidak terbawa perasaan dengan Radinka. Ah, sudahlah. Tidak mungkin juga Radinka menyukaiku. 


...


Tiga hari yang lalu, aku melihat Radinka membeli snack yang sangat banyak di kantin sekolah. Tumben sekali dia mau makan snack. Yang kutahu makanan kesukaannya itu mie ayam. Karena penasaran, aku pun menghampiri seraya menyapanya.

"Radinka, tumben nih, beli snack banyak. Biasanya langganan mie ayam."

"Bukan untukku, Ta. Ini untuk Adena."


Akhir-akhir ini juga, banyak yang bertanya kepadaku soal hubunganku dengan Radinka karena beberapa dari temanku sudah mendengar rumor kedekatan Radinka dan Adena. Aku juga sering memergoki Radinka sedang asyik mengobrol dan bercanda dengan Adena di depan kelasnya.


Sudah seminggu aku pergi dan pulang sekolah naik taxi online sendirian. Apa benar yang mereka katakan jika sahabatmu sudah memiliki pacar maka ia akan melupakanmu? Atau jangan-jangan, Radinka tahu kalau aku memendam rasa kepadanya makanya ia menjauh?


...


Dua minggu setelah kejadian aku bertemu Radinka sedang membeli snack yang banyak di kantin, aku melihat Radinka sedang duduk termenung di pinggir lapangan basket. Wajahnya kelihatan sayu sekali. Sekolah sudah mulai sepi, tapi mengapa ia belum pulang?


Aku yang merasa iba karena tidak pernah melihat Radinka sesedih itu, akhirnya berinisiatif untuk menghampirinya. 


"Radinka, Kok belum pulang? Pulang bareng, yuk." Tanyaku sedikit gugup karena sudah seminggu lebih aku tidak berbincang dengannya.

"Aku pulangnya nanti aja." Jawabnya tidak mau melihatku.


Karena merasa ada yang aneh dengan Radinka, aku pun duduk disebelahnya. 

"Ada apa? Nggak biasanya kamu sedih seperti ini." Tanyaku lembut.

"Adena, Ta. Dia jadian sama Gavin."

"Kok bisa? Bukannya dia suka sama kamu?"


"Aku kira juga begitu. Rupanya tidak. Aku yang baperan, Ta."

Aku pun tersenyum kearahnya sembari berkata, "Radinka, cinta itu tidak selamanya tentang memiliki. Terkadang, cinta juga mengajarkan cara merelakan untuk menunjukkan rasa cinta yang besar itu."

"Seperti yang kamu rasakan dulu?"


Aku terdiam. Jangan-jangan selama ini Radinka tahu kalau aku memendam rasa kepadanya. 

"Maksudnya?" Tanyaku sedikit gugup.

"Aku tahu kamu punya rasa untukku. Tapi aku terlalu bodoh, Ta. Aku malah jatuh hati kepada Adena yang hanya ingin mempermainkan perasaanku."


Radinka menatap mataku.

"Maafin aku, Ta. Aku nggak bisa membalas perasaanmu. Aku sudah mencoba agar aku bisa memiliki rasa yang sama sepertimu, tapi nggak bisa. Hati tidak bisa dipaksakan, bukan?"

"Tidak apa-apa. Seiring berjalannya waktu, rasaku kepadamu akan pudar juga." 

"Aku orang yang jahat kan, Ta?" Tanya Radinka dengan tatapan yang sedih.

"Untuk masalah ini mungkin kamu belum cukup baik. Tapi kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Sekarang kita pulang, ya." 


Kami pun berjalan menuju parkiran mobil. Tiada canda kali ini. Radinka yang berjalan  menunduk sedangkan aku berjalan sambil mengotak-ngatik layar ponselku. Rasa canggung telah menjalar diantara kami.


Kala itu perasaanku hancur sekali. Ingin sekali rasanya menangis detik itu juga. Belum pernah aku sepilu ini. Namun, aku percaya. Setelah kesedihan ini pasti akan ada kebahagiaan yang masih terpendam.


...


Selepas kejadian itu hingga sampai sekarang, Radinka tidak pernah lagi menghubungiku lewat chat. Bahkan untuk menegurku sepertinya enggan. Sampai di hari perpisahan pun, dia tidak mengucapkan kata selamat kepadaku. 


Mungkin dia masih belum bisa melupakan kejadian waktu itu. Padahal, aku ingin sekali mengucapkan terima kasih karena sudah membuatku merasa beruntung sekali memiliki sahabat sepertinya.


Radinka, mungkin aku tidak tahu apa kabarmu sekarang. Tapi selama sang fajar masih menampakkan cahaya mentarinya dan bintang-bintang masih menghiasi kelamnya malam, aku percaya. Kau akan selalu bahagia meski dengan cinta yang berbeda.


Radinka, cintamu memang bukan untukku.