Sore itu saya sedang duduk di halte bus Rawasari menunggu bus kota datang.

“Jam segini masih ada bus kan, Dek?” tanya seorang perempuan paruh baya kepada saya.

“Masih lah Bu, ini kan masih sore,” jawab saya sambil tersenyum.

Namun entah mengapa, setelah menunggu sekian lama, bus kota yang saya tunggu tak kunjung datang. Saya masih tetap menunggu dan merasa yakin bahwa sebentar lagi, bus akan datang.

Sampai tiba-tiba, seorang laki-laki paruh baya yang mengendarai sepeda motor, berhenti tepat di depan saya. Seorang Tukang Ojek.

“Ojek Neng?” tanya si Tukang Ojek.

“Enggak Bang!” saya menjawab dengan singkat.

“Ayo, udah sore, naik ojek aja,” tawar si Tukang Ojek dengan nada yang ramah.

Saya masih diam, sambil terus melongok ke arah selatan, berharap bus kota segera datang.

“Ayo Neng, antar ke daerah Tanjung Priok, Abang mau kog.” lanjut si Tukang Ojek.

Saya agak keheranan, si Tukang Ojek, seperti bisa membaca pikiran saya. Baru saja saya berpikir, mana mau si Tukang Ojek mengantar sampai ke daerah Tanjung Priok.

Sebenarnya saya mulai tertarik untuk menerima tawaran si Tukang Ojek, karena hari memang semakin sore, tapi saya masih ragu, mengingat uang di saku saya cuma tersisa satu lembar nominal lima ribuan. Mana mungkin seorang Tukang Ojek mau dibayar dengan uang sebesar itu untuk mengantar dari Rawasari sampai Tanjung Priok yang jaraknya lebih dari 10 km.

Akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya, karena tak urung, rasa khawatir sudah mulai menerpa. Hari semakin sore, sementara bus kota tak kunjung datang.

“Tapi saya cuma punya uang lima ribu rupiah, Bang!” ungkap saya dengan ragu-ragu.

“Enggak apa-apa, Neng,” jawab si Tukang Ojek, masih dengan nada yang ramah.

“Bener Bang?” tanya saya yang masih diselimuti ragu.

“Iya Neng, enggak apa-apa, soalnya Abang juga sekalian mau pulang ke arah yang sama.”

“Oh ya sudah kalau begitu,” saya menjawab lega.

Sepanjang perjalanan, saya tidak banyak bicara. Saya sibuk memperhatikan suasana. Saya melihat, beberapa orang berjalan berkelompok. Di beberapa titik, saya juga melihat asap hitam membumbung tinggi, imbas dari ban bekas yang dibakar oleh massa. Sepanjang jalan, si Tukang Ojek membuka obrolan santai, sehingga saya masih berpikir semuanya baik-baik saja.

Sampai akhirnya si Tukang Ojek berhasil mengantar saya sampai di depan rumah. Saya serahkan selembar uang lima ribu terakhir yang saya punya, sambil mengucapkan terima kasih karena telah mengantar saya sampai di rumah dengan selamat.

“Nih Bang, uang lima ribunya. Terima kasih banyak ya Bang!” ucap saya sambil melompat turun dari sepeda motor.

“Sama-sama Neng. Enggak dibayar segini pun, Abang tetap mau nganter kog Neng,” ujar si tukang ojek sambil tertawa.

Saya cuma tersenyum, sambil beranjak masuk ke dalam rumah.

Assalamualaikum,” saya masuk ke dalam rumah sambil mengucap salam.

Sekali lagi, saya merasa heran, melihat ibu terpekik gembira sambil mengucap syukur.

Alhamdulillah, kamu sudah pulang, Ndok.” ibu terlihat sangat lega.

“Loh, memang ada apa Bu?” tanya saya keheranan. Tidak biasanya ibu sekhawatir itu menunggu saya kembali dari kampus.

“Itu loh Ndok, Ibu lihat di TV ada kerusuhan di mana-mana.” terang ibu.

“Oh begitu Bu, pantesan tadi saya tunggu bus kota kog enggak datang-datang.” Saya mulai memahami situasi yang sedang terjadi.

Alhamdulillah, yang penting kamu sudah sampai rumah Ndok, Ibu khawatir sekali dari tadi nunggu kamu. Adikmu tadi sudah telpon, dia nginep di rumah Mbah Tebet, karena khawatir gak bisa pulang ke rumah,” lanjut ibu dengan nada lega.

Siang itu saya mengikuti aksi di kampus Salemba, menyuarakan keprihatinan mahasiswa atas kondisi yang sedang terjadi. Selepas tengah hari, memang beberapa kali terdengar suara letusan senjata. Panitia aksi memberikan maklumat, agar para peserta aksi kembali ke rumah masing-masing, karena situasi mulai tidak kondusif.

Saat itu, sarana komunikasi masih sangat terbatas. Belum ada telepon genggam, apalagi telepon pintar yang memudahkan masyarakat untuk menyampaikan kabar. Beberapa mahasiswa dari kalangan berpunya, memang sudah memiliki Pager, tapi tidak untuk saya yang berasal dari keluarga sederhana.  Sementara itu, para mahasiswa peserta aksi di kampus Salemba sudah mengular di depan satu-satunya telepon umum yang menggunakan koin sebagai alat bayarnya.

Setelah menyaksikan siaran televisi, baru saya paham, bahwa sepanjang hari itu awan kelabu menaungi Jakarta. Terjadi kerusuhan, penjarahan, dan pembakaran di beberapa titik di  Jakarta. Hari itu, ibu kota lumpuh oleh angkara.

Di dalam rumah, saya mengintip dari balik jendela, beberapa orang membawa gerobak ke arah gudang beras yang berada tidak jauh dari rumah saya. Tidak lama berselang, mereka kembali melewati rumah saya dengan wajah penuh rasa euforia bersama gerobak yang penuh terisi oleh karung beras. Konon, saat itu terjadi penjarahan di mana-mana.  

Jadi, dalam kondisi berbaik sangka, saya berhasil pulang ke rumah. Dari Salemba, saya bergerak menuju Rawasari. Hingga pertemuan dengan si Tukang Ojek yang sampai saat ini tidak bisa saya cerna dengan akal sehat. Seorang Tukang Ojek yang tahu, saya tinggal di Tanjung Priok. Si Tukang Ojek, yang rela dibayar dengan selembar uang lima ribuan untuk jarak Rawasari - Tanjung Priok. Hingga pada akhirnya, saya mulai berpikir, bahwa dia bukan Tukang Ojek biasa.

Tanjung Priok, 1998 - 2021.

Semoga Allah SWT selalu menjaga bangsa Indonesia.

Keterangan:

Ndok, dari Genduk, bahasa Jawa, artinya adalah sebutan pada anak perempuan.

Pager atau radio panggil adalah alat komunikasi yang populer pada tahun 90-an yang dipakai untuk mengirim dan menerima pesan pendek.