Surat Cinta untuk Kang Gilang

Jakarta, 14 Agustus 2017


Hallo, Kang Gilang. Bagaimana cuaca Jerman saat ini? Dingin? Ehm... tentu saja tak sedingin musim lainlah ya, secara lagi musim panas.

Oh ya, laris jualan cokelatnya? Tentu makin larislah ya, apalagi sejak nama akang akhir-akhir ini terus melejit.

Ah sudahlah, cukuplah ya basa-basinya.


Kang Gilang Kazuya Shimura alias Gilang Juliansyah, akang teh katanya 1000% orang Sunda nyak? Duh, aku khawatir akang bikin malu orang Sunda atuh. Sama kayak bikin malunya si ibu professor yang juga dari sunda terus asal jeplak soal angka zina di sebuah desa di Ciamis.

Begini kata si ibu professor tea yang bisa dicek di halaman 22, ‘Di salah satu desa di Ciamis, misalnya, itu jauh dari ibu kota. Zina itu bisa dilakukan oleh 80%, 70% sampai 80% dari keluarga yang ada di desa itu”.

Aih, jabatan professor, tapi ngomong data asal jeplak. Atuh pada marah temen-temen saya teh kang. Masa orang Ciamis dituduh tukang zina coba.  

Betewe, akang ini lagi S3 ya di Jerman? Apa jualan cokelat aja? Soalnya kalo aku gugel nama akang, ndak nemu karya-karya ilmiah yang akang tulis, baik di jurnal-jurnal atau Koran-koran gitu. Atau mungkin punya tulisan tapi belum pernah dipublikasikan melalui media digital kali ya, kang?

Tapi, meski demikian, akang teh sekarang naik daun di jagad facebook. Akang juga merasakannya kan yah?

Status-status akang yang penuh nuansa seksis sebagai sebuah ungkapan ketidak-sanggupan membaca dengan hati terbuka dan legowo pada kritik diri atas coretan pendek tente Kalis soal akhi cupet.

Tulisan Kalis itu sebenernya merespons meme tentang akhi-akhi yang demen ngejar ukhti yang cuma lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Kenapa? Soalnya, akhi takut kalo ada ukhti yang lulusan S3. Takut katanya nanti ukhtinya kalo jadi isteri ga bisa diatur. Bukan begitu kata akang di status yang ini?

Kenapa kubilang maskulinitas akang sebagai akhi rontok atau bahasa kerennya Fragile Masculinity. Lha ya tentu, wong temanku yang juga akhi-akhi saleh, semisal akhi Roy Murtadho dan akhi Aan Anshori itu pada biasa saja kok sama tulisan Kalis tentang akhi cupet itu. Mereka ga merasa gimanaaa gitu…

Sudah banyak ya kang tulisan-tulisan maupun status-status yang merespons balik status akang itu. Nah, aku juga mau ngasih tau nih, ada dua video bagus dari sepasang suami-isteri yang masih belia. Isterinya saat ini sedang melanjutkan studi di Harvard loh kang. Merasa tersaingi juga? Ndak kan?

Namanya Afu, usia 25 tahun. Terpaut hampir 5 tahun dengan usiaku, meski aku belum menikah. Bikin vlog kece menyoal table usia menikah ideal yang dibuat oleh ayo menikah dot com. Simak vlognya di sini dan kuyakin kamu akan makin rontok dan meleleh, kang.

Sementara, suaminya lulusan S1 kampus swasta di daerah Serpong, dan sekarang dia ikut menemani Afu yang kuliah lagi. Namanya Wikan. Nah, si Wikan ini bikin vlog khusus menanggapi soal ga perlu takut punya isteri atau pasangan lebih pinter. Vlognya diberi judul ‪"Nggak Minder Istri Pinter?" On Educated Women.

Tonton deh, kang. Duh. Tapi, aku takut kamu makin meleleh luluh lantak jadi butiran debu.

Kesepakatan mereka menikah di usia muda tentu saja bukan kesepakatan yang harus dianggap menjadi ideal bagi pasangan lain. Sebelum bertolak ke Harvard, mereka memutuskan untuk menikah tahun lalu. Kebetulan aku hadir memenuhi undangan dari ibunya Wikan. Maklum, ibu dan ayah Wikan adalah panutan dan junjunganku.

Sudah dulu ya kang surat cinta buat akang ini.

Oya, ada gosip nih, kang. Ada yang mau bikin surat buat akang dan menerjemahkan semua status seksis akang itu lalu dikirim ke kampus di mana akang kuliah saat ini. Soalnya, kang, kalo di Harvard, baru mau jadi mahasiswa aja udah kehilangan kesempatan gara-gara postingan status facebook yang misoginis dan rasis. Nah, takutnya nanti kalo tuh surat udah masuk ke kampus akang, nanti akang dapet teguran loh. Pan karunyak akangnya.

Jadi, saran aku teh, mendingan akang mengubah cara pandang akang yang seksis bin misoginis itu ya. Sayang-sayang atuh jauh-jauh ke Jerman tapi otaknya ga dimaksimalkan untuk berpikir dan mengubah cara pandang yang kritis atas ketidak-setaraan.

Udah dulu ya, kang. Ga usah dibales juga gak papa, daripada akang marah-marah kan nantinya.


Tertanda

Fans Berat Akang