Untuk buku bercover unyu ini, Iqbal Aji Daryono (IAD), penulisnya, memberi judul Out of The Lunch Box. Ketika ditanya kenapa memilih judul itu, dia menjawab, "Entah, saya juga tak yakin.." (Hmm, sungguh sosok yang penuh kegundahan.)

Menurutnya, mungkin ada dua sebabnya. Yang pertama, karena buku pertamanya telanjur berjudul Out of The Truck Box. Dia berharap siapa pun yang sudah berteman lama dengannya, jadi punya cantolan dan nggak asing-asing amat dengan judul baru ini.

Kedua, mengandung filosofi agar pembaca menghabiskan isi kotak makan siangnya terlebih dahulu sebelum membaca buku ini. Karena banyak tulisan di sini nyerempet hal-hal sensitif, yang rentan memicu perdebatan. Sebab tiada logika tanpa logistik.

Agar terasa lebih relate dengan kata lunch pada judul, maka dipilihlah beberapa menu penggugah selera yang kemudian disuguhkan sebagai judul pada setiap babnya. Yakni Tahu Gimbal, Capcay Kuah dan Lontong Balap untuk mewakili topik Sosial, Politik dan Agama yang diracik dalam tiap-tiap esainya.

Sejujurnya saya nggak terlalu suka buku-buku bertema politik. Namun menjadi tertarik karena tulisan-tulisan IAD seringkali menggelitik, seolah mengandung magnet bagi pembacanya. Bahkan tulisan sesederhana apa pun, terasa lebih magis tatkala tercipta dari ujung jemarinya.

Cara pandangnya dalam mengupas suatu fenomena, terasa agak berbeda. Penyampaian dengan gaya lugas menggunakan bahasa yang begitu gampang dicerna, menjadi lebih mudah diterima oleh kalangan sudra pengetahuan seperti saya. Ini jelas membutuhkan keterampilan tinggi, yang hanya dimiliki oleh penulis sepiawai dia.

By the way mengenai sikap politiknya, IAD memang berpihak. Dan sama sekali tidak netral. Menurutnya, jangan pernah mengaku netral, sebab sesungguhnya netralitas itu tidak pernah ada. Namun pemihakannya tentu bukan karena dibayar, dan itu poinnya.

Ada label yang mengandung tuduhan nista sebagai kategori manusia yang bersuara hanya karena dibayar, yang amat sering disematkan sekenanya. Padahal sebagai seorang penulis seperti dia, satu-satunya sisa wilayah martabat yang masih bisa dibanggakan adalah kemerdekaan berpikir dan berpendapat dalam tulisan-tulisan. Kalau itu saja sudah ditanggalkan, menurutnya nggak ada lagi yang bisa dibanggakan.

Kendatipun ada perbedaan preferensi politik, tidak serta-merta menyurutkan selera saya untuk segera menyantap esai-esai yang disuguhkannya. Seperti pada bab Tahu Gimbal yang menyajikan salah satu esai spektakulernya, yakni Surat Terbuka Kepada Pemilih Jokowi Sedunia.

Di tengah kegembiraan sejak Jokowi dilantik, sebenarnya para pemilih Jokowi berada pada situasi yang rumit. Ada beban moril yang ditanggung ketika langkah-langkah Jokowi terindikasi tidak sesuai dengan janji saat kampanye, atau mengandung gelagat pelanggaran visi misinya.

Terkadang sebagai orang terpelajar, sejujurnya mereka mengakui ada kekeliruan-kekeliruan pada langkah Jokowi. Namun mengkritik sosok yang telah mereka dukung berpeluh-peluh, jelas sebentuk bunuh diri eksistensial.

Selanjutnya IAD mengajak untuk tetap mendukung Jokowi, dengan cara menjaga agar dia tidak anjlok dari relnya. Berhenti memuja dan memuji tanpa pandang bulu atas semua sikap Jokowi. Sebab Jokowi toh manusia juga. Melulu mendukung segala langkah Jokowi tanpa sikap kritis bukan hanya memalukan, tetapi juga berbahaya.

Sungguh saya terkesan dengan sikapnya. Betul, bahwa dia berpihak. Benar, bahwa dia nggak netral. Tapi setidaknya dia telah berupaya untuk bisa adil dalam bersikap. Dan bukankah adil itu lebih dekat kepada takwa?

Walaupun nggak semua pemikiran IAD bisa saya sepakati, namun dengan melahap esai-esainya, memaksa saya untuk tetap berpikir kritis. Lalu terpacu untuk terus membaca. Karena terlalu angkuh jika merasa cukup.

Seperti pada esai Agama Saya Agama Warisan, saya memiliki pengalaman yang agak berbeda dengan IAD. Meskipun tidak sampai membongkar dan membandingkan satu sama lain antara 4.200 sistem keyakinan yang hidup di dunia, namun setidaknya semasa kecil saya sempat tumbuh di antara dua agama. Agama dari keluarga besar ibu saya, dan agama yang disemai oleh bapak saya.

Jika hingga detik ini saya masih tetap memilih agama yang kini saya anut, saya rasa itu bukan hasil warisan. Saya meyakini bahwa itu atas kehendakNya, Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati. Dan semoga hati saya senantiasa diteguhkanNya di atas agama ini.

Tapi kata IAD, so what dengan agama warisan? Kenapa mesti gengsi dan denial? Uraian lengkapnya, baca saja di bukunya.

Pada esai Menjadi Sopir Bahagia bersama Mas Denny Indrayana, IAD menuturkan bahwa jika kita bisa membangun tradisi positif, orang tak akan lagi melihat status rendah sebuah pekerjaan sebagai kendala. Bisa jadi, pengangguran juga akan berkurang. Tradisi positif semacam apakah itu? Simak penjelasan lengkap di bukunya ya..

Lalu pada esai Tutup Jempolmu dengan Gorden Selama Bulan Puasa, IAD menyentil orang-orang yang meributkan warung makan yang tetap buka di bulan Ramadhan. Karena menurutnya, amanat Tuhan kepada kita tentang bulan ini adalah jihadul akbar. Berperang melawan diri sendiri dan menghadapi hawa nafsu sendiri. Bukan melulu menudingkan telunjuk kesalahan ke sesama manusia.

IAD menyerukan agar di sepanjang bulan suci Ramadhan, kita ramai-ramai membungkus jempol dengan gorden tebal. Astaga, demi apa coba? Silakan baca sendiri di bukunya ya..

"Puncak kesalehanmu sebagai manusia adalah ketika engkau merindukan perdamaian dunia persis sebagaimana kau merindukan bedug Maghrib pada bulan puasa." Demikian IAD mengakhiri esai ini. Namun masih banyak esai-esai Out of The Lunch Box lainnya yang tak kalah mengenyangkan.

IAD berusaha agar apa yang ditulisnya menawarkan ikhtiar untuk membaca beragam masalah dari perspektif orang kebanyakan, dengan kepala dingin. Terkadang juga berusaha keluar dari logika common sense. Di waktu lain, cukup dengan itikad untuk bersikap adil dan menjaga kewarasan.

Tulisan-tulisan di dalam buku ini sengaja tidak diurutkan sesuai waktu terjadinya peristiwa demi peristiwa. Dengan disusun secara acak begini, IAD berharap buku ini bisa lebih timeless. Di sisi lain, pembaca bisa juga menjadikannya sekadar sebagai hiburan yang tak harus disimak tertib dari depan ke belakang.

Sebagaimana yang disampaikannya di kata pengantar, tulisan-tulisan di buku ini cenderung berbahasa verbal dan berkarakter dialogis. Karena itulah, meski tulisan-tulisannya dicetak ke dalam lembar-lembar kertas, IAD tak ingin membiarkan karakter dialogis itu lenyap seketika.

Maka dia mengajak untuk kembali ke media sosial. Dan menunggu respon pembaca atas segenap curhatnya di buku ini dengan menandai akun Facebook Iqbal Aji Daryono, atau akun Instagram @iqbalkita.

Lalu apa kekurangan buku ini? Entah, saya juga tak yakin.. (Duh, ternyata kegundahan itu menular.) Tapi jika boleh membandingkan, saya lebih suka buku pertamanya. Ini lebih ke soal selera saja sih.

_____

● Judul Buku: Out of The Lunch Box

● Penulis: Iqbal Aji Daryono

● Penerbit: Shira Media, 2018

● Tebal: xvi + 244 halaman