Aku memang pemuda yang biasa-biasa saja. Tampangku pun apa adanya. Tak ada kelainan darah ataupun strata sosial yang mengharuskanku bersikap berbeda dengan kebanyakan orang lainnya. Pembawaan yang kalem dan tak banyak omong menjeratku pada situasi yang itu-itu saja. tak ada yang istimewa, aku luput dari peradaban dunia.

Hanya saja, beberapa bulan terakhir, aku sudah mengasingkan diri dari kampung halaman; bermusafir ke tempat yang bahkan kakek dan nenekku pun baru pertama kali mendengarnya. Di tempat ini, ada yang tak seperti biasanya.

Kebanyakan mereka berlalu-lalang – mondar-mandir – dengan gerak yang cepat, terlihat seperti ribuan sperma yang sedang bersaing mencari mulut rahim seorang Ibu.

***

Enam bulan sebelumnya, aku memang dilanda stress yang tak berkesudahan. Tuntutan deadline untuk skripshit yang sedang kugeluti waktu itu menjadi momok menakutkan.

Belum lagi biaya ujian yang segera menyusul berikutnya, tagihan kos-kosan yang sudah jatuh tempo, hingga biaya cicilan motor yang jika dikalkulasikan, Ibu Sri Mulyani pun akan mundur dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan, pikirku.

Dan yang paling miris, selepas judul skripsi yang kuajukan ditolak untuk yang ketiga kalinya, adalah dia memutuskan untuk meninggalkanku. Alasannya sederhana,supaya aku lebih fokus dengan skripsi saja, katanya. 

Persetan denganmu, dek. Enyah sajalah dari hidupku. Aku tahu, kamu hanya sedang berada pada fase jenuh dari sebuah rasa. Biar aku berjuang sendiri saja.

Ada secarcik kertas usang yang masih saja tertempel di tembok kamarku. Di sana, aku menulis target demi target yang harus aku realisasikan nantinya. Tak ada satupun yang tercoret, karena memang, sampai sekarang, belum ada yang terwujud.

Bahkan, ada yang terkesan tak mungkin dan tidak masuk akal untuk diwujudkan. Orang tuaku bahkan mengira aku terlampau asyik mengigau.

Meskipun begitu, kertas itulah yang tak bosan kupandangi setiap pagi, selepas subuh. Dari kertas ini aku meyakini, dalam ribuan kegagalan akan tersimpan sebuah keberuntungan. Aku juga merasa yakin bahwa niat dan usaha dengan hati yang tulus tidak akan dipatahkan oleh Tuhan.

Besok pagi bapak mau cat ulang tembok rumah. Tolong kamu cabut kertas-kertas yang masih tertempel!” Sepertinya bapak tidak mau melihatku terus-terusan terbuai dengan kertas mimpi yang tak bernyawa itu.

Dia hanya ingin aku fokus mengejar jatah kursi untuk perangkat desa selepas wisuda nanti. Dia tidak tahu saja, mencabut kertas itu sama halnya dengan mencabut semeru dari akarnya.

Kuacuhkan omongan bapak. Kubiarkan saja, saat ini, dunia mencemooh dengan riangnya. Aku teguh dengan pendirian. Entah, nantinya, gadis itu akan menyesali keputusannya atau tidak, takkan kuhiraukan. 

Entah diwisuda atau tidaknya aku tahun ini, aku tetap bangga dengan usaha dan pilihan. Tidak ada yang kebetulan, takdir telah melakukan tugasnya dengan baik lagi benar.

***

Sekawanan burung dara yang sedang sibuk menyambut fajar membuatku terbangun dari peraduan. Rupanya, kisah pelik yang terbungkus luka dan pengkhianatan telah usai kukenang, lewat dongeng singkat semalaman suntuk. Pahit manis cerita enam bulan itu kutelan saja bersama hangatnya kopi pagi yang beraroma semangat optimisme.

Sekalipun begitu, aku masih tetap merasa asing. Ya, aku merasa asing karena sekarang aku sudah berada di belahan bumi baru. Eropa namanya. Tepatnya di Polandia. Negara yang dijuluki jantung Eropa ini aku pijaki juga akhirnya. Banyak orang kampung di rumahku tak menduga. Jangankan mereka, aku saja masih setengah percaya.

Aku memang tak seharusnya berada di belahan bumi ini. berdasar pada penampilan fisik dan strata ekonomi, semuanya serba kontras. Kulitku yang bercorak sawo matang serta hidung yang tumpul rasanya tak layak disejajarkan dengan mereka yang berkulit putih dan berhidung tajam laksana pedang.

Bayangkan saja seekor lele berada ditengah-tengah kerumunan ikan koi dalam akuarium yang begitu mahal. Begitulah aku. Kendati demikian, Tuhan tak pernah terlalu sibuk mengurus luasnya semesta hingga lupa dengan mimpi-mimpi para hamba-Nya.

Kamu masih ingat kertas usang yang aku tempel di dinding kamarku dulu? “Bermodal beasiswa dan semangat juang yang tinggi, akan aku susuri megahnya Eropa!” Begitu kira-kira penggalan semangat yang aku abadikan di dalamnya. 

Ternyata, Tuhan telah lebih dahulu mencoretnya di sela-sela kesibukanku mengurusi biaya kuliah, tagihan kos dan cicilan motor.

Rupanya, Tuhan tidak begitu setuju aku merangkak menjadi perangkat desa. Program Pasca Sarjana yang aku raih bermodalkan beasiswa sudah sangat cukup untuk meyakinkan bapak bahwa kertas-kertas usang yang aku tempel di dinding dulu, nyatanya bernyawa. 

Ada sesuatu tak kasat mata yang terus-menerus membantunya hidup, ialah keyakinan, do’a dan usaha.

Di tempat yang baru ini, aku memang bukan orang kulit putih. Tetapi, tekad dan kesungguhanku tak akan kubiarkan buram menghitam. 

Dikeramaian ini, aku mungkin satu-satunya yang berhidung tumpul. Tetapi, semangat juangku untuk menapaki masa depan akan terus menajam. Merasa terasing tak jadi masalah, tangan Tuhan adalah naungan yang maha megah.

Dan untuk kamu yang dulunya lebih memilih untuk tidak lagi menemaniku berjuang, kuucapkan terimakasih karena telah menjadi batu loncatan hingga akhirnya aku berada di ujung tumpuan. Dengan atau tanpa kamu, mau tidak mau, hidupku akan tetap berjalan.

Luka itu telah membuatku bergerak cepat, bukan melambat. Membuat mimpiku tumbuh, bukan terbunuh. Singkatnya, oleh kamu, aku takkan lumpuh. Kini, aku hanya tinggal melukis namamu di langit Eropa, tapi bukan untuk kuabadikan. Hanya ingin menengadah dan berdo’a, dimana pun kamu berada, semoga baik-baik saja di sana. Itu saja.

Aku hanya ingin memberitahumu - bukan kamu saja, bapak dan ibu juga, dan semua sanak saudara – bahwa sebentar lagi aku akan naik semester dua. Sayangnya, aku harus pindah ke Budapest, Hungaria. Melalui program kerjasama, aku akan menempuh enam bulan semester baruku disana.

Selepas itu, aku berencana menikmati libur musim dingin di beberapa belahan bumi Eropa lainnya: Italia, Francis, Jerman dan Turki, misalnya. Kebetulan, tiket lagi murah-murahnya. Nanti aku kirimkan foto-fotonya, ya. Sayangnya, aku akan tetap melanjutkan petualangan ini sendiri-sendiri saja.

Aku tidak tahu di mana Tuhan akan meletakkanku beberapa tahun kedepan. Bisa jadi masih di sini, berlabuh ke Afrika, atau mungkin terbuang jauh ke negeri paman sam, Amerika. Yang jelas, rangkaian mimpi pada secarcik kertas usang itu akan terus berlanjut.

Aku harap, pada rangkaian jejak perjalananku yang lainnya, ada kamu yang menemaniku di sana. Bukan kamu yang ada di paragraf sebelumnya. Melainkan, seseorang yang akan menjadi tokoh baru pada cerita-cerita selanjutnya. Nanti, kamu akan tahu, siapa dia.

Salam hangat dari Eropa.