Pandangan yang sangat konservatif mempercayai bahwa seorang istri lebih baik melakukan segala sesuatunya di dalam rumah. Menurut mereka yang memiliki kewajiban untuk melakukan aktivitas di luar, khususnya bekerja, adalah suami.

Mereka barangkali akan dapat berkompromi jika kondisi ekonomi keluarga tengah berada di titik kritis. Di sanalah sang istri akan diperbolehkan bekerja di luar rumah, tentu biasanya dengan persyaratan yang ketat.

Namun pertanyaan yang ingin saya ajukan di sini adalah, apakah memungkinkan bagi seorang istri bekerja di luar rumah meskipun kondisi ekonomi keluarga tidak sedang lemah, atau dengan kalimat lain: bekerja untuk mengembangkan karir dan berkontribusi terhadap negara? 

Cara pandang sekuler bisa jadi tidak akan mempersoalkan hal tersebut, tetapi apakah pandangan yang lebih religius berpotensi mengizinkannya?

Di dalam ajaran Islam yang saya pahami, sebuah keluarga adalah milik suami-istri secara sempurna. Istri bukanlah tokoh sekunder yang perannya hanyalah membantu/menyokong suami (tokoh utama). 

Oleh karena itu segala sesuatu mengenai bagaimana cara menjalankan sebuah keluarga harus berdasarkan kesepakatan bersama, bukan otoritas suami semata, termasuk dalam hal pembagian peran/tugas.

Jika ternyata disepakati bahwa suami yang stay di rumah sedangkan istri bekerja, hal tersebut sah. Sekurang-kurangnya ada dua alasan: (1) pembagian tugas di mana lelaki bekerja—di luar rumah—sedangkan perempuan mengurus rumah bukanlah suatu hal yang kodrati, melainkan hanya kultural (budaya). Realitas kondisi keluarga hari ini terlalu kompleks untuk disederhanakan dengan pola tradisional tersebut,

(2) pihak yang bekerja menghasilkan uang tidak menandakan dirinya lebih mulia dibandingkan pihak lain yang tidak menghasilkan uang. Tidak usah mengglorifikasi kedudukan pihak yang bekerja (baik itu suami maupun istri) sembari meredahkan pihak lain (baik suami maupun istri) yang hanya mengurus rumah. Toh kedua pihak sama-sama melakukan kegiatan ekonomi. Bedanya yang satu adalah ekonomi material, sedangkan yang lain melakukan investasi non material.

Sayangnya masyarakat hari ini masih banyak yang berpandangan hirarkis seperti yang dipaparkan di argumen ketiga. Akibatnya, pihak yang menghasilkan uang (baik suami maupun istri) selalu merasa superior—yang terkadang sampai menghegemoni pasangannya yang dianggap tidak produktif.

Dalam konteks ini, dapat dipahami mengapa laki-laki tidak suka jika pasangannya menghasilkan uang juga, apalagi jika jumlahnya lebih besar. Hal tersebut akan mengguncang posisi superioritasnya.

Bagi saya tentu saja pandangan ini kurang tepat, bahkan tidak islami. Alquran sendiri tidak mengatakan bahwa yang mulia di sisi-Nya adalah yang berpenghasilan atau yang memiliki uang, melainkan yang paling bertakwa (al-Hujurat: 13), yang dalam bahasa saya adalah pihak yang paling takut/taat dengan Tuhannya sembari paling besar dan ikhlas sumbangsih serta pengorbanannya terhadap keluarga.

Sebaliknya, seseorang yang mempercayai bahwa yang menghasilkan uang lebih mulia dibanding pihak yang tidak (hanya mengurus rumah tangga) berarti dia memiliki pandangan materialis (kemuliaan diukur dari seberapa banyak kepemilikan benda).

Memberi ruang pada istri untuk bekerja dirasa semakin penting sebab konstruk dunia hari ini masih terlalu maskulin, terbentuk berdasarkan perspektif laki-laki. Tentu saja hal ini tidak sehat. Kita perlu memberi tempat keseimbangan dan kesempatan yang luas kepada perempuan untuk juga turut andil dalam mengelola dunia.

Dengan demikian, bagi saya, tidak ada salahnya seorang istri bekerja di luar rumah, selama dia dapat memenuhi beberapa syarat—di mana syarat ini juga berlaku untuk suami yang memilih untuk bekerja—yakni: (1) pekerjaan tersebut tidak bertentangan dengan agama Islam, alias halal, (2) yakin bahwa dia bisa menjaga kehormatan diri dan keluarganya, dan (3) persetujuan pasangan.

Akhirnya, walaupun tetap perlu ada pembagian tugas suami-istri sesuai kesepakatan, saya tetap menyarankan, seperti yang pernah diungkapkan oleh Ligwina Hananto di dalam Podcastnya Raditya Dika, untuk kedua belah pihak supaya bisa menjalankan perannya secara fleksibel sekaligus saling melengkapi, dalam arti mereka juga harus mau belajar dan memahami pekerjaan pasangannya supaya muncul rasa saling menghargai dan tidak saling merendahkan. 

Sungguh nasihat ini selaras dengan ungkapan Alquran “mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka...” (al-Baqarah: 187).