Dari semua sektor yang ada di badminton, sektor ganda campuranlah yang selalu memantik ke-uwua-an dan membuat para penggemarnya baper. Tengok saja pasangan yang sempat menjuarai All England pada bulan Maret tahun lalu, yaitu Praveen Jordan/Melati Daeva. Di mata para penggemar badminton, mereka adalah pasangan yang uwuw.

Hal ini dikarenakan mereka selalu bergandengan tangan saat menaiki podium juara, berpelukan saat menjuarai sebuah turnamen, hingga saat  diminta foto pun mereka membentuk tanda love dengan menggunakan tangan mereka masing-masing.

Tak hanya Jordan/Melati, pasangan dari negara lain pun kerap dinilai romatis. Misalnya, pasangan asal Inggris, Chris Adcock/Gabriel Adcock yang bahkan sudah mengikat tali suci, Marcus Ellis/Lauren Smith yang juga berasal dari Inggris dan juga menjalin hubungan asmara, hingga yang teranyar pasangan dari negeri gingseng, Korea Selatan, Seo Seung Jae/Chae Yu Jung.

Namun, dari sederet pasangan ganda campuran tersebut, menurut saya mereka bukanlah pasangan ter-uwuw. Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir atau yang akrab disapa Owi/Butet adalah pasangan badminton ter-uwuw di dunia. Lho, kok bisa? Bukannya mereka tidak pernah pacaran? Apalagi saat masih aktif sebagai atlet, Owi sudah punya istri dan anak? Tenang, fakta ke-uwu-an mereka akan saya bedah di sini.

Seperti saat memulai hubungan dengan sang kekasih, pastinya akan dimulai dengan hal-hal romatis dan rasanya tak akan pernah dilupakan sepanjang masa. Hal ini juga dilalui Owi/Butet ketika baru saja dipasangkan. Awal mula merintis hubungan, Owi/Butet langsung menjuarai Macau Open Grand Prix Gold 2010 dan Indonesia Open Grand Prix Gold 2010. Awal yang romantis bukan?

Dari adanya hasil itu, menurut Butet dan sang pelatih, Richard Mainaky seperti yang dilansir okezone.com, ia lebih sreg dipasangkan dengan Owi ketimbang dengan Muhammad Rijal dan Devin Lahardi yang juga sama-sama meraih gelar juara di Malaysia Grand Prix Gold 2010. Ini sih kalau diibaratkan, orang tua dan anak sama-sama klop dengan laki-laki tersebut yang akan dijadikan menantu dan suaminya. Uwuw!

Seiring berjalannya waktu, pasang surut gelombang dalam merajut asmara dalam rumah tangga adalah hal yang wajar dilalui oleh pasangan suami istri. Hal ini juga dirasakan oleh Owi/Butet. Pada tahun 2011 kekalahan demi kekalahan menimpa mereka. Namun, di tengah badai cobaan tersebut, mereka tetap mengukir prestasi yang bisa dibilang sangat apik mengingat mereka belum lama dipasangkan. Sebut saja India Open Super Series 2011, Malaysia Open Grand Prix Gold 2011, Singapore Open 2011, SEA Games 2011, dan Kumpoo Macau Open 2011.

Lanjut di awal tahun 2012, mereka kembali mencetak kenangan indah yang tak akan pernah dihapus dalam benak mereka. Gelar All England berhasil mereka ukir setelah mengalahkan pasangan Denmark Thomas Laybourn/Kamilla Juhl dengan skor 21-17 21-19. Tak puas dengan All England, mereka kembali bersaing di Swiss Open hingga India Open. Hasilnya pun seperti yang diharapkan yaitu mendapatkan gelar juara di kedua kejuaraan tersebut.

Akan tetapi, rasanya gelar tersebut tak cukup untuk membanggakan hati rakyat Indonesia. Maka dari itu mereka berjuang di kejuaraan paling prestisius di dunia yaitu Olimpiade yang saat itu digelar di London, Inggris.

Sayangnya, walaupun sudah latihan keras, menerapkan kedisiplinan yang tinggi, hingga menjaga pola makan, keduanya tidak mampu untuk menggondol medali emas di ajang tersebut. Bahkan sekadar medali perunggu pun tak dapat mereka raih. Ya, kalau diibaratkan sih seperti pasangan suami istri yang menginginkan lahirnya sang buah hati namun punya kendala kesehatan reproduksi untuk melahirkan seorang anak padahal sudah pergi ke dokter dan lain-lain.

Namun, mereka tak mau larut dalam catatan kelam tersebut. Buktinya mereka tetap meraih gelar juara di Indonesia Open Grand Prix Gold 2012 dan Kumpoo Macau Open Badminton Championship 2012. Kalau dalam kisah asmara pasangan kekasih ya seperti manisnya saling lempar humor, menatap mata pasangan, hingga tidur bersama di tengah perjuangan untuk melahirkan seorang anak.

Catatan manis dan pahit berlanjut di tahun 2013-2014. Di tahun tersebut mereka juga kembali menimpa kekalahan. Anggap saja bahwa hal tersebut adalah sebuah kemakluman yang juga dialami oleh pasangan kekasih dalam hal menghadapi kerikil-kerikil masalah.

Di samping menimpa kekalahan, mereka tetap mengukir kenangan manis. Meraih gelar All England dua kali, gelar-gelar Super Series dan Super Series Premier, hingga Kejuaraan Dunia yang mereka dapatkan di Guangzhou, Tiongkok setelah melewati laga dramtis saat berhadapan dengan pasangan Tiongkok, Xu Chen/Ma Jin dengan skor 21-13, 16-21 dan 22-20.

Dengan adanya catatan tersebut, kisah mereka di atas karpet hijau tetap berlanjut di tahun 2015. Nah, di tahun inilah cobaan yang amat berat menimpa Owi/Butet. Gelar Super Series dan Super Series Premier yang mereka dapatkan berkali-kali seperti di tahun sebelumnya tak dapat diulang kembali di tahun tersebut. Puncaknya di Kejuaraan Dunia 2015 yang mana mereka hampir saja menang di babak semi final saat melawan pasangan legenda Tiongkok, Zhang Nan/Zhao Yunlei.

Di tahun itu, mereka hanya berhasil mengalungkan medali emas di Kejuaraan Asia. Padahal, tahun tersebut adalah masa pengumpulan poin agar dapat lolos dan menempati posisi unggulan di Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Menurut sang pelatih, Richard Mainaky, mengatakan jika hal tersebut terjadi dikarenakan komunikasi keduanya sedang memburuk. Kejadian ini juga kerap menimpa pasangan kekasih yang sedang memperjuangkan kapalnya untuk tetap berlayar.

Dengan adanya permasalahan tersebut, semua pihak yang terlibat dalam karir Owi/Butet mengusahakan mereka agar tetap menjadi pasangan yang solid dan memperjuangkan medali emas di Olimpiade. Hujatan dari para netizen yang meminta sang pelatih untuk memisahkan keduanya adalah badai yang juga harus dilalui mereka.

Walaupun dihujani demikian, Richard Mainaky dan Owi/Butet tak menuruti permintaan para penggemar badminton. Mereka lebih memilih untuk memperbaiki komunikasi yang dibantu oleh psikolog.

Dan benar saja. Di awal tahun 2016, Owi/Butet kembali meraih gelar Super Series Premier mereka di Malaysia setelah mengalahkan pasangan tuan rumah Chang Pen Soon/Goh Liu Ying. Hasil ini menunjukkan bahwa ada perkembangan positif yang mana keduanya akan kembali berjuang di Olimpiade.

Setelah berhasil meraih gelar, mereka kembali berjuang di banyak kejuaraan. Sayang, kekalahan demi kekalahan terulang kembali. Namun, catatan tersebut dijadikan bahan evaluasi untuk mendapatkan peak peformance yang mereka harapkan, yaitu di Olimpiade Rio de Janeiro Brazil.

Dan benar saja, setelah melewati berbagai jenis ombak yang menimpa mereka, di turnamen inilah impian mereka termasuk Indonesia dapat dicapai. Medali emas di turnamen paling bergengsi di jagad raya dapat mereka kalungkan. Lagu kebangsaan dapat kita dengar dengan bangga. Bendera merah putih dapat kita kibarkan di tiang paling tinggi.

Hal ini dapat disamakan dengan pasangan suami istri yang menantikan adanya sang buah hati. Berbagai usaha yang mereka lakukan akhirnya membuahkan hasil yang diharapkan. Sungguh momen yang terlalu manis untuk dilupakan.

Walaupun sudah mendapatkan gelar yang paling prestisius yaitu Olimpiade, karir mereka tetap berjalan. Berbagai di gelar di tahun 2016 setelah Olimpiade hingga tahun 2018 termasuk Kejuaraan Dunia, adalah bonus prestasi yang terlalu apik. Jika pun masih ada yang mengritik kegagalan meraih medali emas di Asian Games 2018, anggap saja bahwa itu kewajaran yang setiap orang pernah mereka lalui. Sama halnya dengan pasangan suami istri yang menimpa kegagalan dalam memperjuangkan impian mereka namun masih tetap harmonis dalam membina rumah tangga.

Itulah ke-uwu-an yang dapat kita rasakan selama Owi/Butet menjalani mahligai rumah tangga di atas karpet hijau. Ke-uwu-an mereka bertambah jika mengingat latar belakang mereka yang jauh berbeda namun dapat menorekan prestasi yang aduhai. Tontowi Ahmad dari Jawa dan beragama Islam sedangkan Butet dari keturunan Tionghoa dan beragama Kristen.