Pada pertandingan sepak bola, kehadiran suporter bagi sebuah klub bagaikan pemain ke-12. Suporter memang tidak ikut turun ke lapangan mengejar dan berebut bola, tetapi keberadaannya di pinggir lapangan memberikan dampak yang besar. Kerasnya teriakan, gemuruh tepuk tangan, riuh sorak-sorai, menjadi suntikan semangat buat para pemain untuk mengalahkan lawan.

Beberapa klub sepak bola di Indonesia memiliki suporter yang sangat fanatik. Sebut saja klub kebanggan warga Surabaya, yaitu Persebaya dengan suporter berjuluk bonek. Para bonek ini akan rela berkorban apa saja demi mengikuti klub kesayangannya bertanding di kota mana pun. Tentu mereka datang dengan atribut lengkap, seperti syal, jersey, poster, dan bendera klub.

Di Inggris, salah satu negeri penggila bola, kita bisa melihat fans militan Arsenal yang dikenal dengan The Gooners. Klub ini tidak ditinggalkan penggemarnya meski tanpa prestasi dan gelar juara selama bertahun-tahun. Mereka tak surut oleh ejekan dari suporter klub lain yang bergonta-ganti menjadi juara Liga Inggris. Begitulah peran penting suporter bagi sebuah klub.

Maka seperti itulah saya mengibaratkan cinta orang tua dan kakak-kakak saya yang tanpa syarat. Meskipun mungkin saya telah mengecewakan, melukai, dan merepotkan mereka sejak kecil, tetapi mereka tetap saja memaafkan kesalahan saya. Ketika saya merasa dalam kondisi yang tidak layak untuk dicintai, kasih sayang mereka tidak pernah berkurang.

Dokter mendiagnosis saya terkena kanker rectum stadium lanjut di usia dua puluh tahun. Saya yang merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara adalah anak yang manja kala itu. Kanker menjadi pukulan telak bukan saja untuk saya, tapi juga untuk seluruh keluarga. Kami semua hancur saat itu dan sempat bingung untuk menentukan langkah apa yang akan dilakukan.

Kajadian itu adalah tahun 1997, jadi jangan membayangkan akses informasi sudah semudah seekarang. Belum ada ponsel, untuk telepon pun kami harus ke pergi ke warnet yang cukup jauh dari rumah kami yang berada di desa. Internet tentu saja belum kita kenal, bahkan Google belum lahir. Satu-satunya informasi yang bisa kami dapat hanyalah dari kata-kata dokter.

Lalu apakah kami langsung percaya dengan diagnosis dokter? Tentu saja tidak. Kami masih berharap bahwa diagnosis itu salah, sehingga diputuskan untuk berganti rumah sakit. Saya memulai lagi pemeriksaan yang panjang untuk menegakkan diagnosis dengan rasa nyeri yang makin menjadi. Dan akhirnya berujung pada diagnosis yang sama: kanker ganas. 

Barulah kami percaya dan mulai menerima rencana pengobatan dari dokter. Saya memang sangat sedih saat itu, tetapi saya tahu bahwa suporter saya pun tak kalah sedih. Walaupun tidak menunjukkan kesedihan di depan saya, mereka tidak bisa menyembunyikan dari sorot matanya saat kami bertatap. 

Saya tidak pernah tahu bagaimana cara mereka mengatur cara mendampingi saya dalam kondisi yang sedih saat itu. Mengingat proses pengobatan yang saya jalani sangat panjang, mereka memang harus berbagi peran. Hampir sebulan dirawat di rumah sakit, saya tidak pernah kesepian karena mereka berbagi tugas dengan sangat baik. 

Setelah itu, selama dua bulan saya harus bolak-balik ke rumah sakit sebanyak lima hari dalam seminggu untuk menjalani radioterapi, dan selalu ada yang siap mengantar. Enam bulan pertama, bahkan saya harus dibantu melakukan kegiatan pribadi saya, seperti mandi dan makan. Siapa lagi kalau bukan para suporter ini yang melakukan dengan sigap.

Mereka menyiapkan asupan makanan terbaik yang harus saya konsumsi setiap hari, membuatkan dan memastikan saya minum susu, makan sayur, dan jus aneka buah. Memandikan, menyiapkan pakaian, dan merawat luka operasi selama beberapa bulan yang tidak bisa saya lakukan sendiri. Sungguh mereka tim yang hebat bukan?

Pernah suatu ketika, karena saya sudah merasa banyak sekali merepotkan, saya katakan kepada seorang kakak dengan berurai air mata “Mbak, maaf aku cuma bisa merepotkan”. Lalu dia dengan santainya menjawab “Sudahlah, mikir sembuh aja, ga perlu mikir macam-macam”.

Mereka selalu ada dan mencintai saya sejak bayi hingga saat ini, sampai melewati 23 tahun sejak kanker menghampiri saya. Mereka tak kehilangan harapan dan keyakinan meski dokter mengatakan bahwa secara medis saya akan sulit bertahan hidup lebih dari satu tahun. 

Mereka terus mendukung perjuangan saya, menyertai langkah kaki saya, membantu bangun saat saya tak mampu berdiri, menuntun saat tak kuat berjalan. Mereka menemani dalam ketakutan saya, menenangkan keresahan jiwa saya, menerima apa adanya saya, dan yang saya tahu, selalu menyayangi dan mendoakan kebaikan untuk saya. 

Oiya, sekarang saya tidak hanya punya delapan kakak, melainkan enam belas. Sebab semua ipar saya pun sudah menjadi suporter terbaik saya. Tuhan mengizinkan saya ada di sini, sampai hari ini, salah satunya dengan cara mengirimkan mereka dalam hidup saya.

Untuk begitu banyak tawa dan tangis yang telah kami lewati bersama, rasanya tidak ada kalimat yang bisa menceritakan betapa beruntungnya saya memiliki mereka sebagai keluarga. Dan sebagaimana yang mereka lakukan kepada saya, saya pun selalu siap menjadi suporter sejati untuk mereka. Ya, begitulah arti penting keluarga dalam kehidupan kita.

Kepada siapa saja yang ada anggota keluarganya sedang dipilih oleh Tuhan untuk melewati perjuangan melawan kanker, berikanlah hati Anda untuknya. Tidak harus waktu yang banyak karena mungkin Anda punya kesibukan sendiri. Tidak mesti uang yang banyak karena kemampuan finansial tiap orang berbeda. Tidak perlu juga selalu menemaninya karena Anda pun memiliki kehidupan sendiri.

Apapun dan seberapapun yang Anda bisa lakukan, berikanlah dengan cinta sepenuhnya dari hati Anda. Karena cinta dan dukungan orang-orang terdekat adalah bahan bakar utama para pejuang ini. Pastikan Anda menjadi suporter sejati untuknya!