"Mana penghargaan terhadap dosen? Tidak ada. Padahal dosen juga manusia," kata seorang kawan dosen padaku.

Aku tertawa mendengar pendapatnya. Seperti judul lagu saja, grup musik Seurieus, yang berjudul Rocker juga manusia; dulu sangat viral. 

Btw, kami sesama dosen mengeluhkan tentang masalah-masalah perdosenan dan ruang lingkupnya. Apalagi tentang rendahnya penghargaan terhadap kami. Bukan penghargaan bagaimana yang kami harapkan dari kampus, seperti piala atau sertifikat telah mengajar. 

Namun, kami yang telah berbagi banyak ilmu tidak merasa cukup dihargai. Kami sudah (merasa) memberikan kualitas yang terbaik kami untuk pengajaran. Setidaknya, pesangon itu cukup untuk membeli sepatu sepuluh pasang.  

Ah, seperti Imelda Marcos saja, first lady Philippine yang mengoleksi ribuan sepatu itu. Bukan, aku hanya Cinderella, sepatu ada ketika tiba masa tiba akal. Ketika membutuhkan sepatu, ya harus beli sepatu. 

Cinderella memakai sepatu ketika harus mengikuti acara di kerajaan. Itu pun karena dibantu peri yang baik hati yang menciptakan sepatu tiba-tiba untuknya.

Kembali ke pesangon yang hanya cukup membeli sepasang sepatu baru itu. Mungkin beginilah nasib dosen yang hidup dari kampus swasta yang sistemnya diatur oleh manajemen keluarga.

Aku mungkin bukan dosen yang sangat cerdas. Buktinya, aku hanya terdampar di kampus "kecil" ini. Di mana, teman-temanku yang lain sukses melenggang di kampus-kampus besar: dengan gaji yang menjanjikan, taraf hidup yang lebih tinggi, kesempatan berkarier di dunia akademisi yang sangat cepat, kuliah S3 lagi, penelitian besar-besaran, sampai mempunyai jurnal-jurnal di dalam dan luar negeri.

Gak cemburu, sih. Melihat pencapaian mereka, aku jadi ingin seperti mereka. Mereka bisa, aku juga bisa. Bukan menjadi dosen yang begini-begini saja.

Aku hanya dosen Cinderella, dosen cantik nan baik hati. Seperti Cinderella yang cantik hati dan dirinya. Tidak pernah mengeluh pada ibu tirinya. Tidak pernah sakit hati pada saudari tirinya. Selalu berbuat baik pada semua makhluk Tuhan.  

Mungkin penggambaranku seperti itu dalam lingkungan kampus. Taat dan patuh pada pemimpin. Baik dan akrab dengan sesama dosen dan staf. Sayang pada seluruh mahasiswa tanpa membeda-bedakan. Aku berada dalam zona nyaman yang sama sekali sebenarnya tidak nyaman bagi diriku sendiri. 

Aku tidak menjadi diriku sendiri. Diriku tidak menjiwai karakterku yang sebenarnya, "liar" dan pemberontak. Aku ingin pergi dari sini atau melawan semua sistem itu. 

Misalnya, ada mata kuliah dan jadwal yang diberikan seenaknya tanpa rapat dosen terlebih dahulu. Tidak ada dukungan untuk meneliti, sampai pada tunjangan hidup yang tidak membuat hidup cukup karena banyaknya kebutuhan di era digital ini. Hari gini!

Aku tidak sesabar Cinderella. Aku tidak sepasrah Cinderella. Sabar dengan keadaan, pasrah dengan nasib.

Seperti bom waktu yang siap meledak, aku sudah ngambek dengan kampus. Aku beda dengan Cinderella yang konsisten dengan kepatuhan, kebaikan, kerajinan, dan kesabarannya walau dijahati orang di rumahnya. Aku yang terlihat lemah dan lembut bisa menjadi sangat keras dan kasar. Aku moody, aku mulai ogah-ogahan mengajar di kampus. 

"Mending cari homebase baru, bu?" kata kawan itu lagi menyadarkanku dari lamunan, lamunan tentang Cinderella. 

Cari homebase baruBerarti cari rumah lagi, "markas baru lagi"? Aku sudah BerNIDN di sini. Apakah tidak ribet membuat Nomor Induk Dosen Nasional lagi?

Kenapa takut membuat yang baru? Bukannya kamu pemberani, wahai dosen Cinderella? Suara hatiku berkata.

Bukankah aku mau dengan perbaikan nasib dan peningkatan karier? Apalagi umurku yang sudah tidak cocok ber-CPNS ria, mendaftar jadi dosen PNS karena umur sudah lebih 35 tahun. Walaupun sekarang ada batasan sampai 40 tahun lagi, tapi buat yang telah menempuh pendidikan S3.

"Cari kampus keren yang menjanjikan kampus di sana sebagai batu loncatan saja! Atau di sana, cukup jadi dosen terbang, luar biasa." kata kawan lagi memberi solusi. 

Benar juga, mengapa aku harus bertahan ketika tidak mampu bertahan? Aku akan pergi. Namun, aku tiba-tiba ingat dengan semua mahasiswaku. 

"Mungkin aku belum siap, bu," kataku yang lagi bingung.

"Baiklah, sabar-sabarin saja, apalagi kita sudah mengajukan jabatan fungsional (jabfung) untuk pangkat akademik dan setelah itu bisa sertifikasi dosen (serdos). Sekarang, kalau ikhlas beramal, teruskan. Mengajar adalah amal jariah, amal yang tidak putus pahalanya. Tidak usah berpikir yang lain lagi," kawanku membesarkanku.

Ya, mungkin ini juga yang menjadi penyemangat. Seperti Cinderella yang tak pernah mengeluh dengan hidupnya. Dia menjalani hidupnya dengan ikhlas, panggilan jiwanya mengabdi pada keluarganya. Sehingga, pada akhirnya, dia mendapatkan "upah" dari keikhlasannya. 

Cinderella yang cantik, baik hati, dan rajin, dan mendapatkan pangeran.

Semoga ini adalah panggilan jiwa untuk mengajar dengan ikhlas di sini. Walaupun hidup pas-pasan yang pas butuh pas ada. 

Aku merasakan kegembiraan dan kepuasan dalam berbagi ilmu dan pengetahuan dengan teman-teman mahasiswaku. Kami saling berbagi, berdiskusi, terkadang nongkrong bareng tanpa mengenal batasan. Hanya sebagai sesama manusia yang egaliter.

Aku bahagia hidup dengan mengenal mereka. Aku bahagia hidup dengan mengajar mereka. Dan mungkin aku akan lebih berbahagia jika seorang "pangeran" akan datang di kampus dengan memberikan "sepatu kaca" untukku.