Di usia 20-an, saya baru sadar bahwa melakukan hal-hal yang kita sukai termasuk pada agenda penting dalam rangka mencintai diri sendiri. Terbilang telat, memang. Namun hal ini jauh lebih baik ketimbang saya tidak menyadari dan melakukannya sampai tua kelak.

Proses menemukan "kesukaan" ini pun cukup sulit. Saya banyak menyukai hal, tapi jarang sekali yang bertahan lama. Atau, saya menyukai melakukan sesuatu namun pada akhirnya justru terasa hampa. Sejauh ini saya lebih senang bertahan di zona nyaman. Ajakan ke sana kemari untuk melakukan banyak hal sering kali saya tolak mentah-mentah demi mempertahankan zona nyaman saya.

Pengecut? Bisa jadi. Saya banyak melakukan pertimbangan hanya untuk memutuskan satu hal saja. Seperti dulu sewaktu diajak naik gunung ketika zaman SMA, banyak kemungkinan yang saya khawatirkan akan terjadi. Bisa ditebak, kan, pada akhirnya saya hanya berdiam di rumah tidak melakukan apa-apa.

Waktu terus berjalan dan saya pun turut bertumbuh. Ajakan naik gunung kembali berdatangan, terlebih saya memiliki kakak dan teman yang punya hobi demikian. Singkat cerita, semua ketakutan saya ketika sekolah menengah akhirnya lenyap begitu saja. Rasa penasaran sensasi naik gunung mengalahkan kekhawatiran yang selama ini saya jaga. Pengalaman teman dan film 5 CM menjadi motivasi saya kala itu.

Dengan hati yang menggebu-gebu, saya naik gunung untuk kali pertama pada pertengahan 2018. Hanya bermodalkan nekat, saya pun sampai puncak. Semua kekhawatiran saya luruh. Apa yang saya takutkan tidak terjadi. Dari sini saya belajar bahwa tidak ada cara lain untuk menghadapi ketakutan kecuali dengan menghadapinya.

Perjalanan sampai puncak yang terbilang cukup berat untuk pemula pun bisa saya lewati. Itu adalah kali pertama saya merasakan jantung berdegup kencang seperti mau copot karena berjalan di dataran tinggi. Saya tidak pernah melakukan aktivitas berat, dan sekalinya terjun ke alam, itu terlalu ekstrem.

Betapa pun fasilitas di gunung sangat terbatas, saya tetap menikmatinya. Buang air kecil di semak-semak, makan ala kadarnya, dingin sampai tulang, dan beberapa keriwehan lainnya. Namun justru di sini saya menemukan pribadi saya yang lain.

Saya sadar ketika memutuskan naik gunung, saya akan langsung berhadapan dengan berbagai resiko. Dari resiko negatif sampai tingkat kepuasan karena misi pribadi saya terlaksana.

Berbicara resiko negatif, bisa saja saya kecelakaan di tengah perjalanan sebelum sampai basecamp. Jatuh di hutan ketika dalam perjalanan ke puncak, masuk angin, hipotermia, terkilir, atau kelelahan yang amat sangat sehingga pingsan, semua resiko tersebut ada di depan mata. Namun saya justru tak memedulikannya. Saya tetap naik ke puncak dengan kesadaran penuh atas semua konsekuensi yang ada.

Berbeda ceritanya jika berada di bawah (tidak dalam perjalanan naik gunung). Saya akan selalu mempertimbangkan berbagai hal untuk mendapat satu keputusan. Segala risiko akan saya pikirkan secara mendalam dan matang-matang. Biasanya saya akan memilih jalur aman. Singkatnya, saya lebih penakut mengambil langkah.

Ketika berada dalam perjalanan (ke puncak) pun, saya bisa melupakan perasaan sedih, kecewa, putus asa, beban berat pekerjaan atau pun masalah lain yang sedang mengganggu pikiran saya. Terlebih ketika berhasil sampai puncak dan mendapati sunrise.

Rasanya, saya sebagai manusia adalah makhluk yang sangat kecil. Lautan awan yang tersuguhkan di depan mata sungguh menenggelamkan kesombongan diri. Perpaduan warna di langit kala fajar datang membuat pikiran tenang. Semua kekhawatiran hidup rasanya lenyap begitu saja dan hanya bisa menikmati perjalanan tersebut. Alam dengan segala kekuatannya telah menghipnotis saya.

Menyadari beberapa hal tersebut, saya sering menamai perjalanan naik gunung dengan "perjalanan melarikan diri". Lari bukan untuk menghilang, namun memberi jarak dan nantinya tetap pulang untuk kembali menghadapinya, menyelesaikannya.

Jarak. Jeda. Spasi. Atau apapun itu, manusia butuh rehat. Melupakan sejenak masalah hidup, untuk memberi nafas kepada jiwa dan pikiran kita. Tidak untuk menghindar jauh, tapi menemukan kekuatan lain sebagai perisai.

Bagaimana bisa manusia egois terhadap dirinya? Tali yang ditarik terus menerus saja bisa putus kapan waktunya, pun emosi dalam diri manusia. Rehat pada saat yang tepat, dengan metode yang pas pula.

Maksud saya di sini adalah kita perlu menemukan hal-hal kecil yang bisa membuat kita bahagia. Tidak harus perjalanan jauh atau sesuatu yang mahal, seperti nonton film atau bersepeda di sekitar kompleks rumah pun bisa.

Kesenangan-kesenangan kecil seperti ini yang bisa membawa kebahagiaan besar. Mensyukuri daya hidup yang sudah diberikan Tuhan dan mendapati kekuatan baru. Kita akan beruntung jika sudah menemukannya karena bisa memberi ruang kepada diri sendiri untuk menjadi tenang.

Yang perlu digaris bawahi dalam "aktivitas rehat" tersebut adalah perjalanan ke dalam. Melakukan upaya kontemplasi untuk menemukan hal-hal (atau pemikiran) baru dan menjadi energi baru pula.

Saya rasa naik gunung juga terlalu berat jika dijadikan satu-satunya perjalanan pelarian. Jadi, saya masih ingin mengeksplor hal lainnya dan kembali menemukan kesenangan lain. Bagaimana dengan Anda? Selamat menemukan!