Sebentar lagi memasuki waktu Indonesia riuh rendah membahas pilkada. Selayaknya musim yang bisa dibayangkan kondisinya dari prakiraan cuaca, maka musim pilkada pun bisa ditebak bagaimana nanti situasinya. Terutama situasi di media sosial.

Nggak usah pura-pura kaget jika sebagian orang trauma dengan pertikaian antar-postingan yang membahas politik. Gara-gara pilpres pertemanan bisa terkoyak. Gara-gara beda pilihan politik orang bisa saling mendiamkan. Unfriend, unfollow, dan blokir adalah pilihan lumrah di saat cuaca politik di tingkat fesbuk lagi panas-panasnya. Bahkan pertikaian itu bisa terbawa sampai ke pergaulan dunia nyata.

Ada sebagian orang nampak senang sekali memposting isu-isu perpolitikan yang kontroversial. Padahal bukan termos, tapi keberadaannya di belantara lini masa selalu menjaga situasi tetap panas. Bukan anggota partai politik, bukan pula anggota dewan. Tapi dalam menyikapi perbedaan pandangan dan pilihan politik garangnya bukan main.

Ibarat gayung bersambut, hobi semacam itu diterima lalu dikomentari maupun disyer dengan gegap gempita oleh netizen lainnya. Entah karena sepemikiran, sehaluan, ataupun kurang kerjaan saja.

Tak jarang berita kontroversial dibagikan, digoreng lalu disantap beramai-ramai. Yang parahnya, terkadang apa yang ditangkap khalayak berbeda sekali dengan isi postingan awal sesungguhnya. Apalagi jika dicerna dengan selera ala sentimen politik. 

Ya, luka akibat pilpres itu sembuhnya memang lama. Efeknya pun dramatis menyangkut akal sehat dan logika dalam menyikapi berita. Ibarat orang berteriak memesan lele goreng, eh yang datang malah klepon.

Tak hanya tentang politik.

Di masa pandemi ini, pro-kontra dan perbedaan sikap sudah banyak menimbulkan gesekan. Saling sindir dan saling nyinyir. Saling serang pendapat bahkan saling menjatuhkan sejawat. 

Hal yang lumrah jadi tontonan di media sosial. Netizen jelata yang takdirnya jadi follower mereka tak ayal lagi terpancing untuk ikut dalam pusaran keributan. Kalau pakarnya yang berbicara sih masih mendingan. Lha, seringnya banyak netizen yang cuma ikut-ikutan saja. Berbekal pengetahuan seadanya tapi loyalitasnya luar biasa.

***

Apakah kita ini sudah sedemikian serius mencerna segala isu dan pembicaraan yang beredar di media sosial? Apakah kita ini sudah terlalu fobia dengan perbedaan isi kepala?

Orang-orang yang umurnya kisaran 5 sampai 10 kalinya periode pilpres seharusnya bisa bersikap dewasa di pergaulan media sosial maupun dunia nyata. Berbeda itu biasa, berkelahi kadang-kadang saja. Selebihnya bergembira sajalah.

Dalam hal ini mungkin kita bisa belajar dari anak-anak. Di rumah, saya sering sekali memperhatikan polah tingkah anak-anak saya. Di musim sekolah online ini, mereka seharian di rumah bersama-sama. Ada potensi untuk saling bergesekan dan berkelahi. Rebutan ini-itu, eyel-eyelan ini-itu.

Hal-hal yang kecil di mata saya tampak besar dalam anggapan mereka. Kadang segala keributan itu berakhir dengan adegan nangis. Meskipun pada akhirnya rekonsiliasi dan bermain lagi seperti sediakala.

Beberapa kali keributan itu terselesaikan tanpa saya duga alurnya. Misalnya salah satunya tak sengaja -maaf- buang angin tiba-tiba. Hal yang spontan tapi cukup membuat tertawa dan lupa tentang apa yang barusan tadi diributkan.

Atau kadang salah satunya keseleo berbicara ketika melapor kronologi keributan ke saya. Alih-alih meributkan siapa yang salah dan siapa yang benar, mereka justru sibuk mengoreksi tata bahasa.

Lain waktu, pengalihan pembicaraan dengan spontan juga bisa meredam keributan mereka. Misalnya, suguhan camilan yang baru matang, paket belanja online yang datang, iklan lucu yang lagi tayang di televisi, dan lain-lain.

Remeh banget, kan? Kalau diistilahkan bahasa media sosial adalah semacam postingan recehan.

Iya sih, kalau anak-anakkan masih mengandalkan kasih sayang orang tua untuk mengatasi hal-hal begituan. Masa sih, di dunia fesbuk misalnya, kita mengandalkan kasih sayang Mark Zuckerberg untuk menengahi pertikaian di antara netizen? Tentu tidak.

Nggak usah jauh-jauh ke orang yang mbaurekso media sosial. Mending balik ke diri masing-masing saja. Bayangkan ketika sekumpulan orang meributkan sesuatu, lalu tiba-tiba ada yang kentut, eh melempar joke recehan misalnya. Minimal untuk meredam. Atau anggap saja setitik hujan di cuaca yang panas.

Di pergaulan grup WA, kita pasti sering melihat atau bahkan mengalami sendiri. Saat ketegangan obrolan terjadi entah karena perbedaan pendapat maupun isu sensitif yang di-share, tiba-tiba ada satu orang melempar stiker lucu-lucuan. Atau video nggak mutu yang lucu. Atau postingan cerita garing yang sudah pernah dicopas dan disyer ribuan orang. 

Lalu anggota lainnya yang tadinya hanya menyimak ketegangan, satu per satu ikut berkomentar seperti biasa untuk mencairkan suasana. Saling guyon ala recehan. Kalau begini, mungkin yang tadinya diam-diam ingin left group karena males ribut akhirnya membatalkan niatnya.

Postingan recehan dalam bentuk joke, bahkan topik bahasan yang berbeda, atau yang ringan dan lucu tapi relate dengan banyak orang, sepertinya cukup mampu mengalihkan keributan. Mengendorkan sedikit ketegangan. Pun sedikit meredam pertikaian. Meski pun sementara.

Tapi hal sementara jika dilakukan secara istikamah niscaya akan menghindarkan jari-jari kita dalam pusaran keributan media sosial. Bukan karena ingin menutup diri dari isu dan pembicaraan, tapi lebih untuk menahan diri dari berkomentar atau membagikan hal-hal yang tidak kita pahami, yang justru memperkeruh situasi. 

Seringnya pertemanan dan persaudaraan itu lebih berharga dari apa-apa yang diributkan netizen, kok. Percayalah. Jadi, ada baiknya menyiapkan postingan recehan sebanyak-banyaknya untuk menghadapi musim pilkada. Bukan begitu, Kisanak?