Tukang Kopi
1 minggu lalu · 94 view · 6 min baca · Cerpen 52427_49396.jpg
Dokpri

Bujang yang Menggauli Prasangka

Aku beruntung punya kawan bernama Bujang. Banyak pelajaran berharga yang aku timba dari batoknya. Maaf, Bujang, maksudku dari gaya pemikiranmu. Engkau cerdas serta memiliki kepositas amat tinggi.

Setiap menit dan jam saat kita bersama, keresahanmu selalu ditularkan kepadaku. Sayangnya, aku belum sampai gandrung sepertimu. Ketidaktahuanku sontak mengamini apa yang selalu kau narasikan.

Lalu segeralah aku menempatkan diri sebagai gelas kosong saja. Menyimak butiran-butiran wacana dari barat hingga timur. Dari ihwal kejalangan manusia dan derajat mulianya. Apalagi pada momen paling menarik, aku paling siap memasang kuping. Menanti kau menghidangkan cerita-cerita mengenai perempuan.

Sebab dalam hal ini, engkau tidak lagi menyampaikan apa yang berada di benak pikir, melainkan menyampaikan apa yang terdapat di alam rasa.

Akui saja. Tentang hal perempuan, engkau lemah Bujang. Jadi wajar jika satu waktu kau lebih banyak mencurahkan isi batinmu tentang keluh kesah itu. Walau sampai mulutmu membusa aku selalu siap mendengarkan.

Lalu kerap banyak bahan hingga menjadi bahan candaan. Aku paling suka mengejek dan menertawakanmu. Engkau tak marah, malah ikut tertawa. Dan itu momen yang paling ditunggu. Tertawa bersama.

***

Beberapa minggu kemarin kami sempat tidak bertemu dan berkabar. Aku ketahui dari pacarnya, Bujang tengah menyenangi kajian-kajian Emha Ainun Najib. Mengurung diri dan menjelajahi buku pemikir besar adalah hobinya. Mungkin saat kami tak bersua, ia sibuk menelaah pemikiran budayawan yang hangat disapa Cak Nun itu.

Sementara menanti kita bertemu dan mengarungi wacana lagi, aku memilih nostalgia di kedai kopi. Meneguk dan menikmati rindu di salah kedai kenamaan di Ciamis rasanya seolah sedang bersamamu.

Sampai di muka kedai, aku lalu memasukinya. Aroma kopi menyengat mesra seraya senyum seorang barista menyambut hangat.

Ruangan kedai tersebut terlihat minimalis. Dengan dipoles suasana yang berkesan parlente. Ditambah alunan musik folk mengiringi. Untuk sekedar kencan bersama kekasih, tempat itu cukup eklektis. Ah tidak, jangan menghayal yang ujungnya harapan.

Hanya sendiri saja. Seperti biasa aku memesan single origin V60 seduhan Mang Rafi dengan bahan kopi Arabika Papandayan.

Satu pesanan diolah di atas meja bar. Biji kopi yang masih segar tercium pekat memenuhi udara dalam ruangan. Lalu 15 gram biji yang usai ditakar dimasukkan ke dalam grinder, digiling hingga menjadi bubuk kasar setengah lembut.

Bagi penikmat kopi dengan metode manual brew, proses inilah yang memikat hati para konsumen. Unik dan menyenangkan. Apalagi saat menyaksikan pouring. Yakni proses penyeduhan lalu terjadi ekstraksi antara air bersuhu kisaran 90 derajat celcius dengan bubuk kopi hasil digiling tadi.

Beres. 180 ml kopi V60 Papandayan siap dinikmati.

"Mangga jang kopi na. Nyalira wae geuning?"

"Sendiri we ah mang hhe"

Satu server kopi telah dihidangkan. Tapi jika sendirian, kentara sekali dahaga intelektual ini melanda. Rasanya ingin berdiskusi.

Aku pandangi sekitar, mungkin saja ada seorang yang bisa diajak untuk sekadar berbincang. Tapi rasanya tidak terlihat celah sedikitpun. Semua sibuk memutarkan layar gadgetnya masing-masing ke samping.

Ya sudah. Tidak apa tidak ada teman berbincang pun. Toh aku bisa lebih sakral menghayati rindu dan kopi ini.

Sambil menunggu dingin, aku pandangi kopinya dengan mantap. Hitam semu marun. Ingat kata "hitam" lagi-lagi aku membayangkan wajah Bujang. Aku mengingatnya karena kebanyakan orang sering mengatakan bahwa Bujang teridentikkan hitam dalam ukuran warna kulit sawo matang khas Indonesia.

Aku terkekeh sendiri. Sejenak beberapa pengunjung kedai mengalihkan perhatiannya kepadaku. Aku merasa malu sendiri.

Jika dibayangkan, betapa heran. Apakah mereka sebanal itu dalam bercakap. Namun karena kami terbiasa bercanda, hal tersebut tidak telalu dipersoalkan.

Denting whatsapp berbunyi. Dalam hati berharap doi yang kirim pesan. Aku cek.

Ah ternyata bukan. Tapi tunggu, sepintas melihat nama kontak yang bercokol paling atas, rasanya hati ini bak safanah bunga dalam kemarau panjang, yang sekonyong-konyong hujan tiba membasahinya. Akhirnya rindu kepada sahabat ini terobati. Bahagia rasanya.

Bujang mengirim pesan kepadaku.

"Posisi dimana?"

"Sini ketemu, saya di kedai"

"Dimana alamatnya?"

"Jl. Rumah Sakit No.28, Ciamis, Kec. Ciamis. Pokoknya deket warung nasi yang di bawah jembatan rel kereta"

***

Aku tersentak. Baru saja menghayalkan dirinya, ia seolah membopong akalku untuk berpikir keras. Menembus cakrawala pengetahuan.

"Ada beberapa hal yang aku ingin sekali diskusikan kali ini Rud, pertama, dibalik segala pertikaian adalah kedunguan. Kedua, orang dungu selalu mendahulukan emosi. Ketiga, sebab dari keduanya adalah kita yang kurang bergaul,"

Seperti biasa dan terlalu biasa. Ia mengajak diskusi tanpa basa-basi terlebih dahulu. Padahal beberapa tembakau ini belum kau sulut juga.

Bagiku, masa bodoh adalah sikap kongkrit jika menghadapi orang yang melabeli kita tak baik. Namun dirinya begitu bersemangat untuk mengurai akar dari sebuah sikap berprasangka buruk itu.

"Seringkali kita terlalu cepat menanggapi informasi yang beredar berdasarkan prasangka yang dikembangkan sendiri tanpa dasar sumber informasi yang sahih. Tak ayal pertikaian terjadi, karena yang ada ialah saling beradu kebenaran. Mereka saling membusungkan dada, baca sunda : asa aing uyah kidul,"

Oke Bujang. Aku tanggapi ocehanmu. Aku mengingat ujaran Robert Hacket. Ia menyatakan bahwa bahasa tidaklah mungkin bebas nilai. Lalu, nilai apa yang aku dapat dari ocehan si Bujang ini ? Mungkin nilai etika serta penyikapan kita harus seperti apa terhadap orang yang dimaksud ia tadi dengan cibiran dungu. Pikir dan ucapku kepadanya dalam hati.

"Oke bro, aku juga berpandangan akan hal itu. Terdapat perbedaan antara realitas yang sesungguhnya dengan realitas yang direpresentasikan lewat bahasa. Jika dikaitkan dengan prasangka, maka representasi menjadi penting untuk dibicarakan. Bahkan, kelompok diskusiku kemarin mewacanakan dan memberi istilah ini dengan (halusinasi sosial). Representasi terbagi dua, khususnya dalam dua hal, pertama ketika seseorang berprasangka buruk, apakah yang direpresentasikan nya sesuai dengan realita ? Kedua, bagaimana representasi tersebut ditampilkan. Biasanya sentimen mempengaruhi dalam penambahan kata, kalimat, atau aksentuasi yang ditampilkan pada khalayak," kali ini aku sudah banyak membaca. Jadi kita diskusi interaktif, ungkapku dalam hati.

Setelah pertanyaanku ia konfirmasi. Pengakuannya adalah bahwa akhir-akhir ini memang sedang menggandrungi pemikiran Emha Ainun Najib atau akrab disapa Cak Nun. Aku juga takjub akan sosok beliau.

Ia meminjam istilah Cak Nun tentang perlunya memahami "Dinamika Prasangka".

"Aku paham Rud, yang paling penting kali ini, bagaimana kita menyikapinya. Apakah kita masa bodoh saja, atau memandang orang tersebut seperti orang sakit yang harus kita sembuhkan. Lalu jika berpandangan seperti itu bagaimana caranya memberikan pemahaman agar mereka dapat lebih piawai menggauli prasangka," ia menjelaskan dengan tegas.

Aku tertawa mendengarnya. Ternyata bukan perempuan saja yang digauli. Melainkan prasangka juga bisa dan perlu. Aku tanya kepadanya, "bagaimana menggauli prasangka?"

"Yang paling mendasar adalah pemaknaan tentang prasangka itu sendiri. Manusia memang harus bergaul dan mempergauli prasangka. Secara umum, kita mengenal ada prasangka baik dan buruk, atau istilahnya khusnudzon dan su`udzon, keseimbangan antara khusnudzon dan su`udzon itu merupakan keniscayaan, karena itulah dialektika yang memang seharusnya terjadi,"

Aku ambil kesimpulan. Jika terlalu sering berkhusnudzon, maka kita tidak akan terlatih untuk waspada. Sementara jika terlalu sering berburuk sangka, maka kita akan berlaku ceroboh. Begitu pula dalam setiap kita merespons informasi yang berkembang di sekitar kita akhir-akhir ini. "Aku jadi ingat ceritamu Bujang, dulu kau terlalu percaya dan berprasangka baik terhadap pacarmu. Tapi akhirnya, karena kurang waspada, kau sering diselingkuhi juga, haha".

"Bebal. Masa lalu adalah masa lalu. Dan jangan terlalu sering tertawa di bawah penderitaan orang lain," katanya seraya mengamini.

***

Seringkali kita terlalu cepat memberikan respons atas informasi yang beredar berdasarkan prasangka yang kita kembangkan sendiri yang masih dipertanyakan kesahihannya. Sehingga akibatnya adalah terjadinya perpecahan, karena yang ada adalah saling beradu kebenaran.

Perilaku mendewakan sumber informasi dari media massa yang masih bias dan begitu susah mencari kejernihan informasi masih terjadi secara tidak disadari.

Cak Nun menegaskan bahwa yang terjadi di Indonesia hari ini adalah parade “Merasa Bisa”, sementara sikap yang seharusnya dilakukan adalah “Bisa Merasa”.

"Ditambah lagi bahwa menyikapi prasangka di sini adalah bagaimana kita melakukan afirmasi yang terjadi dalam pikiran kita terhadap realitas dengan cara bersikap tabayyun terlebih dahulu Rudi," tandasnya.

***

"Rudiiiiiii, rudii, usap ilermu. Kamu sampai ngigo kesana kemari. Mimpi apa? Cepat bangun, temanmu Bujang ngajak main tuh," sinar matahari menyorot, menusuk kelopak mataku. Dan suara itu tak asing terdengar.

Artikel Terkait