15534_29775.jpg
Cerpen · 11 menit baca

Budi Darma Raksasa

Seperti sebagaimana orang yang tak pernah berjalan jauh, hampir tidak pernah melintasi simpang bercabang lebih dari empat, nyaris tak pernah pergi ke kota-kota besar, Seno tersesat menuju tempat tujuan pertemuan hari itu.

Untung saja jam acara molor, kalau tidak, ia bisa terlambat dan tidak diperkanankan masuk ruang pertemuan. Percuma jauh-jauh berangkat dari desa sejak lima hari lalu untuk sampai ke tempat itu.

Seno tak mau pengorbanannya—berangkat dari desa menyebrangi dua sungai satu hutan dan cukup rumit untuk diceritakan—sia-sia begitu saja. Pikirnya, tak imbang rasanya jika lima hari perjalanan kandas di depan pintu masuk pertemuan hanya karena lambat 60 detik. Sungguh tak imbang.

"Untung saja acaranya molor," kata Seno, menyambung nafasnya yang tersengal setelah sampai di lantai sebelas dengan menaiki tangga manual.

Tak tanggung-tanggung, Seno datang lebih awal dari panitia, lebih awal dari detak jam molor yang dijadwalkan. Seno mengambil tempat duduk paling depan. Jadwal acara sudah lewat 1 jam. Suasana ruangan masih saja lengang. Hanya kursi dan meja kosong yang begitu ramai.

Dengan bangganya ia berselfie. Memakai back-camera handphone jadul berinisial N. Ia bangga karena niatnya tuntas, datang sebelum acara dimulai. Jadwal yang molor memang menguntungkan orang-orang yang baru datang karena sungguh sibuk atau tersesat  seperti Seno

Nanti, ia akan memberitahukan pertemuan hari itu pada orang-orang kampung. Di kampung, agenda yang tak biasa dilakukan, dan hanya mampu dilakukan atau diikuti oleh salah seorang penduduk kampung akan begitu mewah terdengar di telinga-telinga warga kampung. Nanti, Seno akan membuat panggung penting hanya untuk menceritakan pertemuan itu.

Seno memandang Budi Darma di papan depan, di belakang kursi yang berjejer memanjang, kursi-kursi untuk para pembicara. Kakinya perlahan maju mendekat, mengantar tubuh dan kepalanya pada gambar itu. Dengan mulut sedikit menganga dan mata setengah melotot, dipegangnya foto Budi Darma. Di raba foto itu. Pikirnya, bagaimana caranya foto dicetak besar semacam itu? Di kampungnya, foto hanya sebesar dompet, itu pun sulit didapat, harus memesan, 1 bulan baru datang.

Dengan posisi tetap menganga, mata melotot, tangan meraba-raba wajah Budi Darma di foto raksasa itu, ia berharap tinggi-tinggi dalam hatinya, semoga nanti di perjalanan pulang dapat menemukan percetakan yang bisa mencetak fotonya sebesar foto Budi Darma.

Di kampung, bahkan beberapa kampung, hal-hal yang biasa dipraktekkan di kota-kota adalah hal luar biasa di kampung. Sebaliknya, apa yang wah di kampung, di kota justru disebut kampungan. Kadang, kota selalu diversuskan dengan kampung dan lebih unggul. Dari dulu selalu begitu. Bahkan, sukses di desa-desa bertolok-ukur sejauh orang-orang di sana meniru mode-mode kota.

Peserta membeludak datang. Seno tetap dalam posisi mulut menganga dan mata sedikit melotot dengan pikiran melayang ke negeri antah-berantah. Peserta mengambil tempat duduk. Gadget melayang-layang bersama tangan-tangan beserta tongsis. Peserta mengambil posisi-posisi, berselfie ria. Seno tetap di posisi dan ekspresi semula. Peserta yang lain tak menghiraukan Seno. Mereka semua sibuk masing-masing.

Foto demi foto diabadikan seperti kedipan mata. Cepat sekali tombol kamera menabung foto-foto, "Jepret!" sana dan sini. Para peserta sepertinya memanfaatkan momentum pertemuan sekedar unjuk eksistensi di media sosial. Seno berbalik arah, menatap kerumumunan, mengamati lekuk-lekuk ruangan dan beberapa orang yang telah dan baru datang.

"Pasti sebentar lagi diunggah ke facebook atau IG," kata seorang teman pada temannya.

"Iya, pasti begitu, sudah jamannya, kan?" sahut yang lain.

Dalam sekejap, foto Budi Darma beserta banner di depan sana lenyap. Seno juga tak ada. Acara seminar kebahasaan sebentar lagi akan dimulai, tinggal hitungan menit. Pengeras suara telah dari tadi dicek. Bunyi sepatu berkejaran seperti kuda sedang berlari dari arah luar ruangan menuju ke dalam. Wajah-wajah tak dikenal mulai masuk ke ruangan.

Kursi-kursi sebagian masih kosong. Kue menyebar di tangan-tangan panitia. Tak ada yang sadar pada banner yang hilang. Sebagian peserta sibuk dengan tangan-tangan mereka sendiri, merunduk seperti mengheningkan cipta, sehening malam-malam pertama dunia ini diciptakan. Sebagian lainnya akrab dengan kenalannya. Sebagian lainnya murung sendirian melihat orang di sekelilingnya saling akrab.

Beberapa menit kemudian, pemandu acara mulai siap memasuki podium acara. Pita suara di lehernya mulai dipijit-pijit, tanda suara  sebentar lagi akan terdengar dimulai. Seorang gadis bisu di pojokan sana, di urutan kursi paling belakang, menunjuk-nunjuk ke arah pembawa acara. Tak ada yang menghiraukan karena tak ada yang mengenalnya. Dunia mutakhir ini memang begitu. Dimana-dimana hubungan sosial hanya terjalin antara orang yang sama-sama kenal saja.

Pembawa acara mulai melangkahkan kaki menuju panggung acara. Ruangan tiba-tiba menjadi sedikit terkesiap. Suara-suara hilang ditelan entah apa. Kepala-kepala menunduk. Mata-mata berseri-seri memandang layar-layar gadget di tangan masing-masing, memandang foto-foto yang baru saja diabadikan di gadget masing-masing. Dua ibu jari tangan sibuk menulis caption dan siap mengunggah foto-foto, sebentar lagi, ya, sebentar lagi, lihat saja.

Pemandu acara semakin percaya diri mendapati ruangan lengang. Peserta menundukkan kepala seakan penuh khidmat mengikuti acara. Telinga-telinga peserta sudah siap menjadi corong penampung suara pemandu acara. Semua peserta berdiam sepuasnya menghargai suara pemandu acara.

Tapi tangan-tangan mereka dan pikirannya berselancar ke dunia lain yang sama sekali lain. Satu yang tak terpkikirkan oleh si pembawa acara, meski hanya ada suara dirinya yang merdu membawa acara belum tentu semua peserta benar-benar ingat dan mendengarkan apa yang diucapkan oleh dirinya.

Pemandu memulai mukaddimahnya. Gadis bisu tadi tetap menuding pemandu acara dengan telunjuk tangan kanannya. Tak ada yang menghiraukan. Entah apa maksud gadis bisu itu. Pemandu melanjutkan mukaddimahnya.

"Dalam rangka seminar kebahasaan pada tanggal.."

Suara pemandu terputus setelah kepalanya menoleh ke belakang dirinya berdiri. Banner tidak ada. Dirinya lupa tanggal berapa dan lupa temanya apa. Pemandu acara bingung tiba-tiba. Peserta tetap menundukkan kepala. Pemandu acara mencoba tenang, mengira-ngira tanggal dan hari apa. Ia membuka gadgetnya. Tanggal dan harinya sudah diketahui. Tema acaranya belum.

"25 oktober 2017 di Graha Pena dengan tema.." suaranya kembali terputus dengan terpaksa. Kepalanya kembali menoleh ke arah belakang seakan-akan banner acara masih utuh ada di belakangnya, sayangnya tidak. Sebagian peserta tetap tidak peduli apa-apa. Sebagian lainnya mulai sadar atas hilangnya banner yang ada di muka acara. Gadis bisu berdiri sambil menunjuk-nunjuk panggung.

"O, ya, banner acaranya kemana?" Kata seorang pria setelah mengamati gadis bisu di sampingnya sedang menunjuk ke arah muka acara dan segara mengangguk-nganggukkan kepalanya.

Acara seminar kebahasaan ditunda. Banner tidak ada. Budi Darma sebagai salah satu pembicara diminta menunggu beberapa menit hingga beberapa jam, dan hingga beberapa hari. Panitia sibuk seketika mendapati banner hilang waktu itu. Sebagian peserta masih tak peduli, ada yang bingung, ada yang diam, juga bingung, dan ada yang bertanya-tanya, ada apa, dan satu lagi, ada apa. Semua bingung. Semua sama-sama bingung dan bengong seketika itu juga.

******

Telah sampai Seno di kampungnya beberapa menit yang lalu. Banner yang hilang ternyata diambil olehnya. Barangkali, dia ingin menunjukkan sesuatu pada warga. Tapi sebelum itu, dia pasti punya alasan mengapa mengambil banner itu.

Warga berkerumun di depan rumah Seno menyaksikan foto raksasa Budi Darma. Ada yang masih bergegas berangkat. Ada yang sedang di perjalanan. Tanya demi tanya tumpah pertanda bingung dan heran. Seno hanya tersenyum lebar melihat banyak orang datang seolah menyaksikan kerja kerasnya.

"Ini Budi Darma raksasa. Jangan heran. Ini foto penulis yang sering saya ceritakan, yang menulis cerita iblis melawan iblis."

Seno tahu, mengambil milik orang lain bukanlah perkara terpuji. Tapi melihat orang-orang tak ada yang peduli pada dirinya yang sedang mencopot banner pada paku di depan ruang acara, Seno justru berniat membawanya pulang. Di rumahnya, banner itu akan lebih berguna karena mampu menyedot banyak perhatian dan mungkin dapat memberikan banyak inspirasi. Pasti lebih berguna di kampung, pikirnya.

Awalnya dia tak berniat mengambilnya. Dia hanya memeriksa bahan banner itu. Dilihat ketebalannya. Lalu diukur panjang dan lebarnya, diteliti tekstur cetakannya, dan diamati lekuk-lekuk desainnya selama hampir setengah jam.

Nah, saat tak ada seorangpun yang peduli pada tindakan dirinya itu dan acara tak kunjung juga dimulai, mulailah dia melucuti paku penempelnya satu demi satu. Terus dilipatlah banner itu. Seno mengarahkan kembali pandangannya pada para peserta. Masih saja tak ada yang peduli. Dibawalah banner itu ke luar ruangan, dan dibawalah pulang.

Jadi, Seno berkesimpulan bahwa banner itu bukan milik siapa-siapa, buktinya tak ada yang peduli saat dia mengambilnya, dan tentu tidak akan berguna bagi yang tidak memperdulikannya.

"Darimana kau dapat Budi Darma raksasa ini?" tentu masyarakat merasa penting menanyainya.

"Mengambilnya di sebuah acara penting," jawab Seno dengan bangganya.

"Siapa pemiliknya?" Tanya warga, satu demi satu.

"Tak ada yang memilikinya, makanya kubawa."

"Kenapa bisa tak ada yang memilikinya?"

Seno memulai ceritanya. Sampai di akhir ceritanya. Dia berucap kata-kata yang tak begitu panjang dan pendek.

"Jam acara molor lebih satu jam. Peserta sibuk sendiri. Tak ada yang peduli pada siapa dan apa. Daripada sia-sia, lebih baik kubawa foto ini ke sini. Untuk memuaskan rasa takjub kalian."

Warga tak tahu mau menjawab apa. Memang apa-apa yang telah tak diperdulikan ialah sama saja lepas dan tak ada yang memilikinya. Apa-apa yang telah tak ada pemiliknya adalah bukan milik siapa-siapa dan siapapun berhak membawanya lebih awal atau lebih akhir.

"Sekarang, barang ini milik kalian bersama. Kalian yang peduli pada Budi Darma raksasa ini. Hati-hati, jangan hilangkan kepedulian kalian agar barang ini tetap milik kalian. Seperti negeri ini, desa ini, jika tak ada yang peduli, tak ada yang merawatnya, tak ada yang mengelolanya, siapa saja berhak mengambilnya."

"Bagaimana dengan acara di sana yang tanpa banner ini? Bagaimana jika mereka sebetulnya masih peduli dan acara gagal dilanjutkan gara-gara banner hilang?" tanya warga yang tak diketahui namanya.

"Gagal dan tidak itu urusan mereka. Pastinya mereka telah tak peduli apa-apa. Bagaimana mungkin mereka peduli apa-apa?" kata Seno.

*****

Entah bagaimana ceritanya, rumah Seno didatangi oleh gerombolan perampok tadi malam. Rumahnya porak-poranda. Engsel pintu belakang jebol. Budi Darma raksasa yang diambilnya dari acara penting diambil orang-orang bergerombol. Seno tak tahu siapa mereka, yang pasti bergerombol, lebih dari dua puluh orang.

Budi Darma raksasa telah pindah tangan. Seno tak merelakan itu. Warga berdatangan ikut berduka cita seperti acara-acara layatan. Wajah-wajah murung menjadi perhiasan satu-satunya di wajah warga yang memenuhi ruang tamu, kamar, dan halaman rumah Seno.

"Bagaimana ini? Kita sudah peduli, bukan? Kenapa masih ada yang mencurinya? Bukankah mereka tahu itu milik kita?"

Suara itu muncul di tengah-tengah warga yang murung, yang sendu, yang gelisah, dan yang tak habis pikir.

"Barangkali mereka lebih membutuhkannya, dan barangkali mereka lebih bisa memanfaatkannya daripada kita yang hanya setiap hari memandangnya sebagai perhiasan desa."

"Apakah setiap barang yang dicuri harus direlakan dengan cara seperti itu?"

"Sebagaimana dulu aku mengambilnya karena lebih butuh. Sekarang lepaslah karena ada yang lebih butuh," jawab Seno. Pandangannya jauh sekali. Matanya menembus langit dan awan waktu itu.

"Bagaimana jika yang mengambil tidak benar-benar butuh, atau pura-pura butuh?" warga mulai ragu.

"Jika mereka pura-pura, tidak benar-benar butuh, kira-kira untuk apa gerombolan itu menjebol rumahku hanya untuk mengambil Budi Darma raksasa?" tanya Seno, memecah kebuntuan.

"Apa yang harus kita lakukan?"

"Kita relakan Budi Darma raksasa itu hilang atau lenyap sekalipun. Pementasan cerita tentang iblis melawan iblis harus kita lanjutkan. Jangan seperti orang kota, listrik padam semua sirna. Jangan karena masalah kecil, pentas iblis melawan iblis gagal. Jangan tergantung pada apapun," tegas Seno.

Seno melangkahkan kakinya tanpa alas menuju pintu keluar desa. Entah mau apa dan mau kemana. Tak ada tanya yang sempat dijawabnya saat warga mencoba menanyainya hendak mau ke mana. Tubuhnya mengecil. Langkahnya tetap mengarah menjauh lalu hilang di tikungan.

Di graha pena, acara kembali digelar. Seminar kebahasaan tidak benar-benar gagal, hanya benar-benar tertunda. Budi Darma raksasa bertengger di muka acara, sama seperti sebelumnya. Entah dengan cara apa, beberapa menit sebelum acara dimulai, banner itu kembali hilang. Peserta baik-baik saja dan tetap tak peduli apa-apa, sibuk sendiri. Tak mungkin Seno yang mengambilnya. Tapi siapa lagi? Yang paling mungkin adalah Seno atau gerombolan yang lebih dari 20 orang itu.

"Baiklah, mari kita mulai acara ini, Budi Darma raksasa kita copot dulu dan kita simpan dulu agar tidak seperti kejadian bulan lalu.." suara Pemandu acara terdengar dengan raut wajah trauma. Peserta masih saja tak perduli apa-apa dan siapa-siapa, sibuk sendiri dengan tangan dan pikirannya sendiri.

Di kampung Seno, pagelaran cerita iblis melawan iblis berjalan khidmat sekali. Mata-mata seperti senter mengkerucut ke panggung pagelaran. Juru cerita memulai bait-bait kata dengan logat yang fasih. Seno mengamati para penonton tanpa terkecuali. Tak ada yang sibuk dengan tangan dan pikiran mereka sendiri. Mereka semua sibuk menyambungkan konsentrasi ke satu titik; iblis melawan iblis.

Tak ada suara apapun. Tak ada kepala menunduk. Tak ada senyum dan diam sendiri. Jika waktunya tersenyum, semuanya tersenyum. Bagitupun saat waktunya diam, semuanya diam. Semuanya untuk semuanya. Tak ada kesendirian yang menyenangkan di kampung. Itu yang terlihat pada mata-mata warga yang sedang menonton cerita Iblis melawan Iblis, Matropik melawan Derabat.

Cerita baru saja usai. Juru nasehat menaiki panggung, Seno. Setiap cerita memang perlu diakhiri dengan nasehat, dan itulah yang paling ditunggu. Di kampung Seno, nasehat dicari kemana-mana. Tak sedikit yang menghabiskan waktu setiap malam untuk mendatangi tokoh masyarakat hanya untuk mendengar nasehat. Entah, bagaimana nasehat bagi orang-orang yang tangan dan pikirannya selalu sibuk untuk dunia yang bukan benar-benar dunia.

"Iblis adalah saudara iblis. Demi nafsu dan kepentingan diri sendiri, sesama saudara kapan saja dapat beradu nafsu, berkelahi tiada henti bahkan hingga tewas. Iblis melawan iblis karena nafsu dan kepentingan masing-masing. Iblis kapan saja bisa bermusuh dengan iblis, tak terkecuali manusia, kapan saja bisa bermusuh dengan sesama manusia. Sering-seringlah bersama agar tak ada nafsu dan kepentingan pribadi menyelinap merasuki perwatakan hidup kita."

Seno mengakhiri nasehatnya. Seperti sedang dilantik oleh sebuah nasehat, warga yang datang malam itu menundukkan kepala. Juga seperti disumpah atas nama Tuhan. Begitu berharganya nasehat bagi mereka. Begitu percuma nasehat bagi mereka yang lain.