Kata "diskusi rumput" sudah tak asing lagi di kalangan kaum akademis. Biasanya seseorang yang melakukan diskusi rumput adalah mahasiswa-mahasiswi yang turun langsung ke dunia organisasi, namun tidak menutup kemungkinan untuk mahasiswa-mahasiswi yang tidak bergabung dalam keorganisasian.

Menurut Mauludin Wamoy, salah satu mahasiswa Uin Suska Riau, dalam wawancara yang telah dilakukan, diskusi rumput berarti diskusi ilmiah ataupun non-ilmiah yang dilakukan pada lahan rumput yang terbuka atau berlesehan, langsung di tanah dengan beralaskan rumput ataupun sejenisnya.

Dari pengertian di atas, dapat dimaknakan bahwa diskusi rumput adalah diskusi alam terbuka.

Ketika diskusi rumput dilaksanakan, di situ dapat terlihat bagaimana tingkat literasi pada kaum akademis seperti mahasiswa/i. Apa itu literasi? Literasi adalah kemampuan berbahasa seseorang (menyimak, berbicara, membaca, menulis) untuk beromunikasi dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya.

Menurut pendapat Grabe & Kaplan (1992) dan Graff (2006) yang dikutip dari e-Journal Literasi, literasi adalah kemampuan menulis dan membaca. Sejalan juga dengan apa yang dikemukakan oleh Teale & Sulzby (1986).

Mengapa kaum pelajar harus mempunyai tingkat literasi yang tinggi? Karena kemampuan membaca dan menulis sangat diperlukan untuk membangun sikap kritis dan kreatif terhadap berbagai fenomena kehidupan yang mampu menumbuhkan kehalusan budi, kesetiakawanan, dan sebagai bentuk upaya melestarikan budaya bangsa.

Tidak hanya itu, ketika seseorang mempuyai tingkat literasi yang baik di dalam forum diskusi, baik di dalam kelas maupun di masyarakat, mereka mampu memahami informasi yang disampaikan. Dari pemahaman yang baik, timbullah analisis-analisis yang menimbulkan berbagai pertanyaan yang akan menghasilkan solusi dari isu-isu atau permasalahan yang sedang didiskusikan.

Diskusi rumput seiring sejalan dengan literasi. Sebenarnya tidak harus diskusi rumput. Diskusi apa pun itu, seseorang harus mempunyai tingkat literasi yang tinggi. Namun mengapa harus diskusi rumput? Diskusi rumput itu sangat praktis dan tidak perlu mengeluarkan biaya. Tinggal mencari lahan kosong saja.

Disebut seiring sejalan, karena diskusi rumput mampu memotivasi seseorang untuk meningkatkan pemahaman menulis, membaca. Makin sering seseorang mengikuti diskusi rumput, maka makin pula seseorang tersebut termotivasi agar bisa seperti orang hebat yang ada di dalam forum tersebut.

Oleh karenanya, diskusi-diskusi literasi harus dijadikan kegiatan rutinitas, baik dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi, karena penting untuk masa depan dan kelanjutan generasi ke generasi. Di dalam diskusi literasi, harus dijelaskan secara mendetail pentingnya membaca dan menulis.

Lancar kaji karena diulang, kaum pendidik di Indonesia seharusnya sedari tingkat pendidikan sekolah dasar sudah diajarkan bagaimana literasi secara mendetail. Agar terbiasa ketika menginjakkan kaki di jenjang selanjutnya.

Seperti yang dikemukakan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, yakni memperkuat upaya pembentukan literasi tersebut.

Salah satu hal yang diatur dalam Permendikbud itu adalah kegiatan 15 menit membaca buku non-pelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Pembiasaan membaca buku ini dianggap dapat menumbuhkan minat baca serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik.

Namun sangat disayangkan, ternyata apa yang disampaikan pada UU Nomor 23 tahun 2015, seperti yang sudah dijelaskan di atas, tidak membuat tingkat literasi kaum pendidik Indonesia makin maju.

Berdasarkan data Programme for International Students Assessment (PISA), Indonesia berada di peringkat 64 dari 72 negara yang rutin membaca. Bahkan, menurut The world Most Literate Nation Study, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 Negara ( Republika, Desember 2018).

Tingkat yang sangat rendah. Padahal di dalam UU No 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti memperkuat upaya pembentukan literasi sudah dicanangkan dan sangat diharapkan kaum akademis diwajibkan memiliki literasi yang baik.

Peningkatan anggaran pendidikan yang dilakukan pemerintah Indonesia telah sedikitnya berhasil meningkatnya angka partisipasi sekolah anak-anak bermur 13-15 tahun dari 81,01% pada tahun 2003 menjadi 94,7% pada tahun 2016.

Namun yang dikemukakan The Conversation melihat hasil penilaian PISA, dapat disimpulkan bahwa peningkatan anggaran pendidikan di Indonesia belum berhasil meningkatkan kemampuan literasi anak-anak Indonesia

Berdasarkan laporan yang berjudul skills matters yang dikutip dari the conversation yang dirilis oleh OECD pada tahun 2016. Berdasarkan test PIAAC, tingkat literasi orang dewasa Indonesia berada pada posisi terendah dari 40 negara.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan literasi Indonesia rendah. Pertama, kualitas pendidikan yang rendah menybabkan rendahnya kualitas lulusan pada tingkat pendidikan primer, sekunder, maupun pendidikan tinggi. Ini menyebabkan faktor utama rendahnya literasi.

Kedua, kualitas kelulusan antara lain ditentukan oleh kualitas atau kompetensi guru. Hasil uji kompetensi guru pada tahun 2015 hanya mencapai nilai rata-rata 53,02% dan kompetensi calon guru hanya mencapai 44%. Kualitas guru di Indonesia masih jauh dari memadai.

Ketiga, faktor infrastruktur pendidikan, seperti ketersediaan listrik, lab komputer, dan akses terhadap internet serta perpustakaan ikut menyumbang dalam penanganan masalah rendahnya literasi.

Infrastruktur pendidikan di Indonesia sangat tertinggal dibandingkan beberapa negara lain. Ketersediaan listrik dan laboratorium komputer berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Dan Indonesia berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand, Filipina, dan Vietnam dalam hal teknologi komunikasi informasi (the conversation).

Dari beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya literasi di Indonesia, berikut adalah solusi-solusi untuk mengatasi masalah literasi.

Pertama, merekrut dan meningkatkan kualitas guru sejalan dengan kesepakatan Muscat (muscat agreement), sebuah perjanjian yang sudah disepakati pada 2014 oleh delegasi pertemuan Global Education for All yaang diselenggarakan di UNESCO di Muscat, Oman.

Salah satu targetnya adalah semua negara memastikan bahwa, pada tahun 2030, seluruh pelajar dididik oleh guru-guru yang memenuhi kualifikasi, terlatih secara profesional, memiliki motivasi, dan mendapatkan dukungan.

Kedua, membangun dan meningkatkan infrastruktur pendidikan, terutama penyediaan listrik, perpustakaan, lab komputer, dan akses terhadap internet serta peningkatan infrastruktur ICT yang saat ini tertinggal di ASEAN.

Tak terlepas dari diskusi rumput yang sering dilakukan oleh mahasiswa/i yang sering terlihat. Kaum pelajar mestinya harus sudah mempunyai tingkat literasi yang tinggi, dan semestinya harus sudah mengetahui apa sebenarnya literasi itu.

Dari apa yang sudah dijelakan di atas, tentunya kaum pelajar harus sering-sering merealisasikan apa saja yang akan menunjang peningkatan literasi anak bangsa. Tugas seorang mahasiswa/i yang mendapatkan julukan sebagai agent of change harus bisa mengajak dan menyosialisasikan pentingnya literasi bagi bangsa.

Begitu juga seorang guru, kepekaan, kualitas pendidik harus tinggi. Harus peka akan rendahnya literasi yang ada di bangsanya. Seorang pendidik atau seorang guru pun harus menjadi seorang motivator untuk anak didiknya agar peduli dengan pemahaman tulis dan baca.