• Upacara Ngaben merupakan salah satu budaya Indonesia yang terdapat di pulau Bali dan tradisi dari masyarakat Hindu di Bali. Dalam salah satu situs, Ngaben adalah upacara prosesi besar yang dilakukan di Bali. Acara ini merupakan upacara penyucian roh (atma) fase pertama dengan pembakaran jenazah orang yang sudah meninggal terutama bagi mereka yang beragama Hindu di Bali. Di dalam Panca Yadnya, upacara ini termasuk dalam Pitra Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan untuk roh lelulur.

  • Upacara Ngaben ini makna intinya adalah untuk mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya. Seorang Pendeta Bali (Pedanda/Pinandita) mengatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal Bayu, Sabda, Idep itu dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa. Selain itu, pendeta (Pedanda) ini juga yang akan memberikan masukan kapan hari baik untuk mengadakan acara ini kepada sanak saudara dari orang yang meninggal.

  • Biasanya persiapan akan dilakukan jauh-jauh hari sebelum hari baik tersebut ditetapkan. Dibantu dengan masyarakat biasanya keluarga yang ditinggalkan akan mempersiapkan sarcophagus atau “Bade dan Lembu” atau sebuah wadah yang bentuknya menyerupai padma / vihara yang disimbolkan sebagai rumah Sang Yang Widhi. “Bade dan Lembu” ini merupakan sebutan bagi tempat jenazah yang akan dilaksanakan Ngaben.

    • Kemewahan dari sarcophagus berupa bade dan lembu ini juga menggambarkan status sosial-ekonomi dari keluarga yang anggotanya meninggal. Sehingga upacara ini diadakan secara massal agar tidak memberatkan keluarga yang ditinggalkan agar dapat tetap menjalankan upacara tersebut dengan penuh penghayatan. 

    • Hal yang menjadi dasar dari upacara Ngaben ini dimuat oleh situs lain yang juga mengutip salah satu isi dari buku yang berjudul “108 Mutiara Veda”: “Wahai manusia, badanmu yang dibuat oleh Panca Mahabhuta akhirnya menjadi abu dan atmanya akan mendapat moksa. Oleh karena itu, ingatlah nama Tuhan, yaitu AUM, ingatlah nama Tuhan AUM, dan ingatlah perbuatanmu.

  • Rangkaian dari upacara Ngaben ini terdiri dari Ngulapin, Nyiramin/Ngemadusin, Ngajum Kajang, Ngaskara, Mameras, Papegatan, Pakiriman Ngutang, Ngeseng, Nganyud, Makelud. Selain itu, seperti yang dilansir oleh situs serupa, secara etimologis, ngaben berasal dari kata beya yang berarti biaya atau bekal.

  • Dalam pidato Soekarno yang dikutip oleh Sylvester Kanisius Laku dalam buku Pancasila Kekuatan Pembebas dijelaskan bahwa “Pancasila sebagai watak terdalam masyarakat Indonesia. Artinya nilai-nilai yang terserap ke dalam Pancasila terdiri dari praksis hidup tradisional masyarakat Indonesia yang berkembang dalam tatanan kultural berabad-abad."

  • Gagasan Ketuhanan yang Maha Esa hendak menegaskan keyakinan mendasar bahwa Tuhan adalah sesuatu yang secara hakiki diakui keberadaan-Nya oleh seluruh manusia Indonesia. Selain itu, pandangan Soekarno yang dikutip oleh Sylvester Kanisius Laku mengatakan bahwa adanya Tuhan dibuktikan dengan perkembangan pemikiran manusia tentang adanya satu kekuatan yang transenden dan maha kuat, yang diyakini telah menciptakan dan menguasai kehidupan manusia.

  • Hal inilah yang kemudian menjelaskan bahwa perkembangan pengetahuan manusia tidak hanya melingkupi bagaimana manusia hidup di dunia ini melainkan juga mempengaruhi manusia untuk mengetahui asal-usul keberadaan dunia, sehingga manusia meyakini akan adanya kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Oleh karena itu, hal tersebut juga mendasari bahwa sejak dahulu, masyarakat di Indonesia sudah memiliki caranya masing-masing untuk menunjukkan keyakinan mereka tersebut hingga datangnya agama-agama yang telah dikenal hingga saat ini (Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, Aliran Kepercayaan).

Dalam pidato lahirnya Pancasila oleh Soekarno yang dikutip oleh Sylvester Kanisius Laku menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia pada dasarnya adalah manusia yang ber-Tuhan. Soekarno pun menjelaskan bahwa manusia Indonesia memiliki caranya masing-masing dalam meyakini Tuhan sehingga yang menjadi ciri khas dari manusia Indonesia adalah manusia yang ber-Tuhan.

Hal senada juga diungkapkan oleh Yudi Latif dalam bukunya yang berjudul “Negara Paripurna” di mana ia menjelaskan bahwa kepedulian Pancasila justru lebih konsen terhadap moralitas publik dan tidak mencampuri moralitas pribadi. Hal tersebut hendak menjelaskan bahwa sekalipun masyarakat Indonesia sebagai individu memiliki jalan keyakinannya masing-masing. 

Namun ketika mereka berada dalam satu kesatuan sebagai bangsa Indonesia maka keber-Tuhanan tersebut ditunjukkan dalam pengamalan nilai-nilai Ketuhanan dalam agama masing-masing yang dikehendaki dalam Pancasila sebagai bentuk kesepakatan bersama untuk menegaskan penolakan terhadap bentuk-bentuk penistaan agama.

Lebih jauh lagi pendapat Muhammad Hatta yang dikemukakan dalam sebuah ceramah pada Kongres Pemuda Kristen Seluruh Indonesia dalam buku “Mohammad Hatta on Islam Society, Democracy, and Peace” yang dikutip oleh Sylvester Kanisius Laku berpandangan bahwa gagasan Ketuhanan yang Maha Esa adalah gagasan yang mempersatukan seluruh masyarakat Indonesia yang berbeda-beda agama dan keyakinannya, setiap agama dapat menunjukkan keyakinan atau kepercayaan mereka kepada satu Tuhan menurut keyakinan mereka masing-masing.

Sehingga seperti yang dikutip dari tulisan Amstrong, Allah itu satu bukan sebagai sebuah definisi dan persepsi numerik, melainkan lebih merupakan pengendali kehidupan individu dan masyarakat sehingga Ketuhanan yang Maha Esa menuntut semua manusia untuk menghargai aspirasi dan ekspresi keagamaan yang berbeda-beda selain itu juga menegaskan etos kasih sayang, persaudaraan dan keadilan sosial yang merupakan ciri aktual semua agama dan menjadi landasan kehidupan manusia yang riil.

Maka dari itu, kerukunan antar umat beragama di Indonesia senantiasa diupayakan sebagai usaha dalam mewujudkan maksud dari Ketuhanan yang Maha Esa bagi masyarakat di Indonesia.

Menurut Stephanus Djunatan, dalam berbagai pidato, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta kerap meringkas rumusan panjang sila IV menjadi “demokrasi”. Penafsiran yang lain dari kata ‘kerakyatan’, ‘permusyawaratan’, dan ‘perwakilan’ tidak hanya mengacu kepada sistem politik demokrasi sebagai sistem politik Indonesia melainkan untuk menjelaskan bentuk masyarakat Indonesia sebagai masyarakat sipil atau masyarakat madani yang hendak diwujudkan dalam negara Indonesia. Ternyata prinsip demokrasi di mana pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat telah bertumbuh sejak zaman dahulu.

Menurut analisis Hatta yang dikutip oleh Yudi Latif, demokrasi asli Nusantara dapat bertahan sekalipun dalam lingkup feodal karena tanah sebagai salah satu faktor produksi terpenting bukanlah milik raja melainkan dimiliki bersama oleh masyarakat desa, sehingga dalam penggunaan tanah tersebut harus digunakan dalam lingkup bersama rakyat yang kemudian menumbuhkan tradisi gotong royong yang berimbas pada urusan lainnya. 

Menurutnya, hal tersebut yang memicu adanya permusyawaratan dalam masyarakat untuk mencapai kesepakatan terutama dalam kepentingan bersama. Sehingga bentuk pertama dari masyarakat madani/masyarakat sipil sudah bertumbuh dan berkembang jauh sebelum kemerdekaan Indonesia dan masih diupayakan hingga saat ini.

Pendapat Soekarno seperti yang dikutip oleh Stephanus Djunatan mengacu pada pola hidup masyarakat desa tradisional sebagai prinsip dasar pengembangan masyarakat. Soekarno mengangkat “sistem kekeluargaan” dalam pola masyarakat desa untuk menegaskan prinsip dasar pengembangan masyarakat sipil di Indonesia.

Gagasan dari sistem keluarga yang disampaikan oleh Soekarno, antara lain ikatan masyarakat yang berdasarkan hubungan persaudaraan atau darah masih berpengaruh dalam membangun hidup layak melalui gotong royong. Selain itu, keputusan yang penting itu selalu diambil berdasarkan musyawarah dengan para sesepuh sebagai orang yang bijaksana dan berwibawa.

Maka dari itu, musyawarah menjadi suatu proses persepakatan yang penting dalam mencapai suatu keputusan dan hal tersebut menjadi tugas dari seorang pemimpin.

Dalam konteks ini, Upacara Ngaben memang merupakan upacara wajib dan menjadi tradisi bagi masyarakat Hindu khususnya di Bali. Dan tujuan dari upacara Ngaben ternyata memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai dalam sila pertama Pancasila.

Tujuan dari upacara Ngaben adalah mengantarkan jiwa dari orang yang sudah meninggal untuk kembali kepada Tuhan. Sehingga dalam hal ini, manusia yang kemudian menyadari adanya kekuatan transendental dan maha kuat dari luar diri mereka berupaya untuk mendalami kekuatan tersebut. Melalui upacara Ngaben tersebut, dapat dipahami bahwa masyarakat Hindu di Bali meyakini bahwa Tuhan telah menyediakan suatu kediaman bagi mereka yang telah meninggal, yang disebut moksa.

Sehingga tugas bagi mereka yang masih hidup di dunia adalah mempersiapkan jalan bagi mereka agar mudah untuk kebersatuan dengan Tuhan. Dalam melaksanakan upacara Ngaben, prosesi upacara tersebut selain diselenggarakan oleh keluarga yang bersangkutan, masyarakat dalam satu banjar juga ikut ambil bagian dalam upacara tersebut. Partisipasi aktif yang ditunjukkan dalam upacara Ngaben ini hendak menjunjugn nilai solidaritas sebagai kesatuan masyarakat Hindu di pulau Bali dan sebagai masyarakat satu banjar di daerah masing-masing. 

Selain itu, anggapan bahwa solidaritas yang tumbuh di antara masyarakat Hindu Bali juga dilatarbelakangi oleh kesamaan keyakinan sebagai makhluk ber-Tuhan di mana pada akhirnya atma (roh) mereka akan lepas dari raga (dibakar menjadi abu) untuk mencapai moksa.

Kesamaan keyakinan yang juga ditunjukkan dari upacara Ngaben yang dilakukan secara massal dengan tujuan agar tidak memberatkan keluarga yang ditinggalkan secara ekonomi agar dapat menghayati upacara dengan baik.

Bade dan lembu sebagai tempat jenazah diarak oleh masyarakat setempat. Hal ini hendak menunjukkan bahwa rasa solidaritas dalam masyarakat menumbuhkan semangat gotong royong antar masyarakat banjar entah selama prosesi upacara atau dalam persiapan jauh-jauh hari sebelum upacara dilaksanaan. 

Bentuk gotong royong yang dilaksanakan oleh masyarakat ialah perarakan bade dan lembu dari pura dalem dengan diringi kidung suci dan gamelan menuju laut untuk dibakar dan abunya dilarung (dihanyutkan) di laut dalam prosesi Nganyud sebagai ritual menghanyutkan segala kekotoran yang masih ada dalam roh mendiang. 

Perarakan bade dan lembu dilakukan dengan semarak untuk menghindari kesedihan karena masyarakat Hindu Bali percaya bahwa isak tangis hanya akan menghalangi perjalanan atma untuk mencapai moksa.

Satu hal yang kemudian disorot adalah kerakyatan dalam masyarakat Hindu di Bali selain sebagai masyarakat Hindu dalam satu daerah kecil, yakni pulau Bali, kerakyatan dari masyarakat Hindu Bali juga didasari oleh kesatuan mereka sebagai masyarakat yang satu dalam keyakinan akan adanya Tuhan.

Hal tersebut ditunjukkan dalam ritual Pakiriman Ngutang di mana jenazah diarak berputar 3x berlawanan arah jarum sebagai tanda mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya di mana berputar 3x dilakukan di depan rumah sebagai simbol perpisahan dengan sanak keluarga, berputar 3x di perempatan dan pertigaan desa sebagai tanda perpisahan lingkungan masyarakat dan berputar 3x di depan kuburan sebagai simbol perpisahan dengan dunia. 

Selain itu, penentuan dewasa (hari baik) untuk melaksanakan upacara Ngaben juga berdasarkan keputusan dari pedanda/pinandhita sekalipun hal tersebut juga tidak menutup kemungkinan akan adanya tindakan musyawarah yang terjadi antara pihak keluarga dan pemuka agama dalam penentuan hari baik tersebut.

Maka dari itu, bisa dikatakan  bahwa Upacara Ngaben ini menjadi penyebab eratnya ikatan keluarga di Bali karena melalui upacara ini, masyarakat Hindu Bali diharapkan untuk selalu ingat dan menghormati leluhur yang telah mencapai moksa dengan berdoa bersama-sama di tempat suci maupun di pura-pura sekitar.

Sehingga kebudayaan menurut Koentjaraningrat sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, hasil karya manusia dalam rangka kehidupan manusia dan apa yang dikatakan oleh Soekarno mengenai perkembangan pemikiran manusia sebagai bentuk kesadaran akan adanya kekuatan yang lebih besar dari luar diri mereka menunjukkan bahwa kebudayaan berkembang seturut dengan perkembangan pemikiran manusia, sehingga setiap nilai yang terkandung dalam kebudayaan tersebut merupakan hasil dari pemahaman manusia akan apa yang ia alami sebagai manusia yang bertumbuh dari zaman ke zaman. Dan kemudian menjadi dasar bagi setiap manusia untuk dapat menjalani hidup di dunia dengan kebudayaan dan nilai-nilai yang telah mereka temukan.

Pada akhirnya, kaitan antara sila pertama dan sila keempat dalam upacara Ngaben bagi masyarakat Hindu di Bali di mana hubungan masyarakat yang solider dan dijiwai dengan semangat gotong royong juga dilatarbelakangi oleh kesamaan keyakinan sebagai satu masyarakat yang percaya akan Tuhan dan senantiasa berjuang untuk menjalani hidup di dunia sesuai kehendak Tuhan agar menjadi bekal untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan yang Maha Esa. 

Upacara Ngaben sebagai suatu kebudayaan yang telah mendarah daging bagi masyarakat Hindu terkhusus di Bali ternyata mencerminkan nilai-nilai yang terkandung dalam sila pertama dan sila keempat Pancasila di mana dalam kebudayaan tersebut tersirat keyakinan masyarakat Hindu Bali sebagai masyarakat ber-Tuhan yang pada akhirnya akan kembali pada Tuhan dan untuk menyiapkan diri demi mewujudkan kebersatuan dengan Tuhan.

Keyakinan mereka yang kemudian mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam melaksanakan upacara tersebut tidak hanya sebagai suatu kewajiban melainkan sebagai suatu bentuk solidaritas yang timbul dari kesamaan nasib yang menumbuhkan semangat gotong royong dan kasih persaudaraan di mana dalam upacara tersebut, masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam mengantarkan jiwa (atma) kembali kepada Tuhan.