“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara Qalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya…”.

Surah Al-'Alaq ayat 1-5 adalah dasar perkembangan sains dan teknologi. Allah memerintahkan kepada kita untuk membaca, meneliti, mengkaji, dan membahas dengan kemampuan intelektual.

Ilmu adalah sumbangan peradaban yang paling penting bagi dunia modern. Ayat ini merupakan tonggak perubahan peradaban dunia. Surah yang memiliki makna tentang pentingnya ilmu pengetahuan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa ada 4 sifat yang wajib dimiliki oleh Nabi dan Rasul, yaitu shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathonah (cerdas). Hadits pun telah menjelaskan bahwa, “Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Majah). Maka memiliki wawasan yang luas adalah suatu keharusan bagi kita.

Sejak awal, Islam telah menempatkan akal pada posisi yang paling sempurna. Akal jelas berjalan selaras dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. la melejit, menjelajah raga, menghasilkan karya, menuai prestasi-prestasi nyata.

Minimnya Minat Membaca Umat Muslim

Kenyataan hitam menikam umat Islam saat ini. Umat Islam seakan jauh dari budaya prestasi. International Islamic News Agency (2015) melaporkan bahwa jumlah muslim mencapai 24% dari jumlah penduduk dunia, dan ternyata terdapat hampir 40% Muslim dari populasi dunia tidak mampu membaca ataupun menulis, yang artinya ada ratusan juta muslim yang buta huruf.

Fakta ini selaras dengan pernyataan yang dikutip oleh Dr. Raghib As-Sirjani dari seorang Yahudi, “Kita orang Yahudi tidak takut dengan umat Islam, karena umat Islam adalah umat yang tidak suka membaca”.

Kita pun mengetahui bahwa sangat sedikit Muslim yang dianugerahi hadiah nobel. Dilansir dari Wikipedia, penghargaan nobel pertama kali dianugerahi pada tahun 1901, hingga saat ini penghargaan nobel telah diberikan kepada 881 orang. Namun hanya terdapat 12 orang saja (1,4%) yang merupakan muslim. Sangatlah jauh jika dibandingkan dengan umat Yahudi yang mampu menghasilkan 201 peraih nobel atau sekitar 22,5%, kemudian non-agama (atheis, agnostic, atau freethinker) yang mendapatkan sekitar 10,5%, dan juga umat kristiani sekitar 65,4%.

Para Pemikir di Masa Keemasan Islam

Keadaan umat Islam kini semakin menyakitkan jika bercermin pada kegemilangan masa lalu. Lihatlah sejarah yang telah dilukiskan oleh para pendahulu kita. Imam Ahmad disamping hafal Al-Quran semenjak kecil, beliau juga banyak menghafal hadits. Kitabnya; Musnad Imam Ahmad, terdiri sekitar 40.000 hadits yang ditulis berdasarkan hafalannya.

Tengok kembali sejarah yang telah dicatat oleh Ibnu Taimiyah. Keluasan ilmu beliau dapat terlihat dalam penguasaannya terhadap fiqh, hadits, ushul, faraid, tafsir, mantik, kaligrafi, hisab, bahkan olahraga. Lebih dari seratus kitab tafsir Al-Qur'an dipelajari oleh beliau. Bahkan akan sangat menarik apabila kita mengikuti perjalanan filsuf muslim yang mampu bertahan menancapkan akar pemikirannya di tengah belenggu abad pertengahan.

Kewajiban Umat Terbaik

Allah berfirman, "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah" (QS. Ali Imran: 110). Begitu lugas Allah akan mengangkat derajat seorang muslim sebagai umat yang terbaik.

Maka, berprestasi bukanlah sekadar meninggikan derajat pribadi, tetapi juga termasuk sebagai penunaian terhadap kewajiban kita dalam membentuk umat terbaik bagi dunia ini. Bertasbihlah kembali lisan ini mengingat janji-Nya untuk mereka yang senantiasa menuntut ilmu dan menggali prestasi. “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat" (QS Al-Mujadilah: 11).

Meneladani Semangat Para Pendahulu

Bagaimanakah cara para pendahulu, sahabat-sahabat Rasul, atau para tabiin dapat mengukir prestasi, di luar hakikat bahwa mereka juga seorang dai?

Seorang Romawi yang telah melakukan kegiatan mata-mata di Madinah menemukan jawabannya: “Ruhbaanun bil-laili, firsaanun binnahaar!”. Kaum muslim itu, kalau malam tak ubahnya seperti rahib, sedangkan kalau siang sungguh bagaikan singa!

Umat Islam ketika itu mampu memadukan dua kekuatan ikhtiar yang sungguh luar biasa sehingga menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa pula. Tubuh dan pikiran sepenuhnya digunakan untuk berikhtiar, bersimbah peluh berkuah keringat. Dikerahkan segenap potensi yang telah dititipkan oleh Allah demi meraih prestasi tertinggi.

Maka, sudah selayaknya bagi seorang muslim untuk menjadikan prestasi sebagai suatu budaya. Jadikanlah nama-nama muslim yang memenuhi daftar prestasi di negeri ini. Kisah-kisah itu tentunya tidak pernah menyulap kaum bodoh, penganyam mimpi kosong, dan pemalas menjadi penerima pertolongan-Nya tanpa usaha dan perjuangan yang maksimal.

Kita harus bersegera karena waktu tidak akan menunggu kesiapan kita. Bersiaplah dengan apapun yang kita mampu dan segala yang kita miliki. Dan dengan begitu, jadilah Muslim yang berprestasi.