2 tahun lalu · 329 view · 4 menit baca · Gaya Hidup pacaran.jpg
www.topik.my.id

Budaya Pacaran dan Phobia Nikah Muda

Pacaran di era sekarang ini sudah sangat lazim dilakukan oleh kalangan muda. Kalo dulu pacaran dilakukan oleh pasangan yang mau menikah atau bertunangan, sekarang pacaran sudah mewabah dan menjadi budaya sampai ke kalangan anak SD. Miris memang.

Perpacaran ini tentunya dilakukan karena hasrat yang timbul tetapi belum menikah. Dalam berpacaran, sepasang kekasih dapat menjalin hubungan jangka panjang tanpa harus terikat dengan kewajiban seperti hal-nya sesudah menikah. Pacaran biasanya dilakukan karena belum nikah. Menikah usia mudah bagaikan phobia karena keadaan seperti belum mapan atau mandiri.

Para pelaku pacaran tidak sedikit yang melanggar norma sosial, dan agama. Perbuatan yang belum sepantasnya dilakukan oleh sepasang insan yang belum nikah ini, malah sering dipertontonkan di depan umum. Pegangan tangan, pelukan, ciuman seakan merupakan hal biasa bagi kita yang melihat.

Atau kita malah abai terhadapnya. Mereka merasa bangga bergandengan, merasa sudah dewasa. Jika ditanya mereka menjawab, “kami saling cinta kok”, atau jawaban yang bikin kesel, “kayak gak pernah muda aja...”. Barangkali juga ada dari mereka mengatakan pacaran buat penyemangat. Moduskah?

Banyak sekali kita menyaksikan berita mengenai tindakan mesum di hotel, di kosan, di taman, yang pelakunya ditangkap satpol PP dan diidentifikasi belum nikah. Atau di malam mingguan, banyaknya pasangan yang pergi kesana sini menyalurkan hasrat cintanya --katanya-- sehingga saking cintanya mampu mengalahkan pasangan yang sudah menikah, dan bermesraan dan gombal-gombalan, “aku nggak bisa hidup tanpamu..” rupanya seminggu setelah putus masih nampak batang hidungnya di persimpangan jalan. Masih hidup ternyata.

Begitulah. Menjalin hubungan yang tidak sah, lalu banyak diantara mereka yang hamil di luar nikah. Sebagian dari pasangan, cowoknya lari tidak mau tanggung jawab. Lari sambil diselimuti ketakutan dan rasa bersalah. Rasa sakit hati, rasa menyesal, malu menjadi satu. Terasa lain tatapan tetangga sekarang.

Pacaran rasanya menyenangkan. Ya, menyenangkan. Perbuatan dosa pasti terasa nikmatnya jika dilakukan secara khidmat. Puncak dari berpacaran adalah perbuatan intim pasangan yang mengakibatkan lahirnya anak haram dan semakin rusak perasaan jika pasangan laki-laki melarikan diri. Lalu keluarlah cacian makian, atau seperti julukan yang ‘booming’ belakangan ini, lelaki kardus.

Kejadian seperti di atas malah semakin parah karena banyak dari kalangan perempuan yang menyukai laki-laki nakal, gaul atau berandal. Alasannya tak lain adalah gengsi yang berlebihan. Memiliki pacar seseorang yang gaul dianggap akan membuat reputasinya nangkring ke tingkat dewa. Katanya biar bisa sering-sering keluar malam, makan di cafe, dll. Ini semua adalah prestasi buruk bangsa ini. Rapor jelek.

Manusia fitrahnya memang menyukai lawan jenis, punya hasrat, memang tidak salah menyukai pasangan jenis. Saya pun begitu sob. Namun sudah ada cara untuk menyalurkannya, nikah.

Yap, nikah adalah cara mulia yang disediakan oleh agama untuk pasangan yang saling mencintai. Dengan menikah, apapun hasrat bisa tersalurkan dengan lancar. Tidak ada gangguan, tidak ada tetangga dengan tatapan curiga, tidak timbul fitnah, malah bisa menjadi ladang amal bagi keduanya.

Namun, sedikit dari kalangan muda --yang cukup umur-- mau untuk menikah lantaran masih terlalu muda. Berbagai alasan mereka lontarkan, mulai dari karena belum mapan, masih terlalu muda, belum ketemu jodoh, belum ganteng, belum cantik, dsb.

Mereka lebih memilih untuk berpacaran yang katanya biar berpengalaman dan tidak grogi nantinya. Alasan yang tidak masuk akal sebenarnya. Atau alasan lain, seperti ingin kerja dulu. Nah, alasan ini lebih masuk akal. Tapi apa bagusnya kerja sambil pacaran, tidak bakalan fokus. Apa bedanya dengan kerja setelah nikah? Lebih aman ‘kan.

Jika sanggup tidak berpacaran, ya tidak usah pacaran. Lebih baik kerja dulu. Tapi jika tidak sanggup tidak pacaran, ya nikah. Nikah dengan pacaran tidak jauh beda, perbedaanya terletak di tiga puluh menit prosesi ijab kabul. Jika sudah menikah, halal.

Lalu bagaimana caranya jika tidak sanggup pacaran tapi belum mapan? Tenang saja, rezki calonmu sudah ada di  tanganmu jika sudah jadi suami. Ingat, tiap makhluk punya rezki dari Tuhannya. Jika sudah jadi suami, otomatis rezkinya dikasih ke kamu. Ya bagi dua dong.

Seandainya ada orang cerewet yang bertanya lagi, bagaimana cara melamar dan ngomong ke bapaknya? Sebagai laki-laki anda harus bisa meyakinkan wali calon anda sebaik mungkin, tentunya anda tidak bisa melamar jika tidak punya pekerjaan. Yang penting punya penghasilan. Nikah tidak harus pakai acara pesta. Ijab kabul saja sudah nikah namanya. Yang penting halal, kata iklan.

Anda yang sedang berpacaran sebaiknya mengetahui konsekuensi dalam berpacaran. Ada kalanya  anda putus, lalu anda kecewa, sakit hati nggak sembuh-sembuh, sakit tahu rasanya! Saya juga ngalamin. Hubungan anda tidak permanen, bisa saja pasangan anda pergi mencari pasangan lain karena belum ada ikatan pernikahan. Ada kalanya anda melakukan hubungan terlarang, anda --perempuan--hamil. Lalu anda menanggung resiko berupa malu, gunjingan orang-orang, ditambah lagi jika pasangan anda kabur. Lengkap sudah derita.

Bagaimana kalo anda menikah saja. Anda bisa berjuang bersama pasangan anda. Melalui derita bahagia bersama. Anda juga bisa menyalurkan hasrat pribadi anda tanpa ada fitnah. Anda bahagia bersama walaupun rezki pas-pasan, tapi anda bebas.

Berpacaran merupakan tindakan yang kurang terpuji, mampu menghadirkan malapetaka bagi oknumnya. Pernikahan muda adalah tindakan terpuji, menjalin hubungan halal serta menghindari tindakan asusila yang mungkin saja terjadi jika berpacaran. Hal ini tentunya dikembalikan kepada pribadi masing-masing karena mampu berpikir dan membedakan yang baik dan buruk untuk dirinya.

#LombaEsaiKemanusiaan