Apa yang Anda pikirkan ketika di suatu waktu seluruh perempuan di dunia ini menguasai segala sektor yang ada? Pertanian, birokrasi, partai politik dan posisi strategis yang kerap didominasi oleh “laki-laki” justru menjadi semacam mainan bagi perempuan. Dan peran laki-laki hanyalah sebagai budak perempuan. Atau menjadi semacam pesuruh atau bawahan perempuan.

Atau, kita perkecil. Bayangkan sebuah rumah tangga yang harmonis. Di mana Dilan dan Milea, katakanlah, sebagai sepasang suami istri. Mereka memiliki dua anak. Dan dua anak itu masing-masing telah bersekolah. Maka tiap pagi sang suami akan menyiapkan sarapan sebelum membangunkan kedua buah hatinya untuk pergi mandi; sebelum mengecup kening sang istri dan berucap, “Sayang, sarapan pagi sudah siap. Bersiaplah untuk ke kantor.”

Di meja hidang, anak-anak akan duduk teratur. Sang istri bersiap ke kantor, sedang sang suami bersiap mengantar mereka, sebelum kembali dan membereskan rumah yang berantakan. Menyapu dan mengepel. Mencuci piring dan menjemur pakaian serta merapikan tempat tidur.    

Malam hari mereka akan bertemu di meja makan, setelah sang suami tergopoh-gopoh menyiapkan seluruh kebutuhan meja itu. Memasak nasi dan menjerang air. Menumis sayur dan menggoreng potongan ayam, atau ikan. Lalu rutinitas itu, oleh banyak praktisi dan akademisi, belakangan diketahui semacam konstruksi budaya tertentu yang telah lama ditaati, di mana ada semacam stereotip: dapur dan kasur serta sumur adalah tempat termulia bagi seorang suami.

Bayangkan hal yang lebih kecil lagi. Ada semacam kesepakatan secara universal yang menyiratkan bahwa tiap sepasang kekasih (laki-laki dan perempuan), wajib bagi si lelaki menaati aturan perempuan. Katakanlah si perempuan boleh melanggar janji kencan esok malam, dan lebih kacaunya adalah si perempuan boleh berselingkuh, dan si lelaki hanya boleh manggut-manggut setuju menerimanya, tanpa boleh melakukan hal yang sama. Apa yang Anda pikirkan?

Sebagian banyak lelaki, bayangan itu tentu saja tak pernah terlintas, atau percaya tak akan pernah menjadi nyata, sekalipun arang melanggar hakikat warnanya menjadi putih. Terutama, mereka memang lebih lihai melakukannya. Bukan perempuan.

Sudah lama, memang, kita terjebak pada apa yang dimaksud konstruksi sosial dan budaya akan hal ini: perempuan menjadi semacam nada kecil dalam satu irama musik sebuah band. Ada atau tidak adanya nada kecil semacam, tak begitu mempengaruhi irama musik tersebut. Kalaupun ada, ia barangkali sejenis tepuk tangan dari penonton.

Apa yang dimaksud dengan konstruksi sosial dan budaya? Ia adalah kesepakatan yang tertulis, pun tidak tertulis di dalam masyarakat-bangsa pendahulu; yang diimani dan dipatuhi. Produk ini belakangan bergulir dan mewabah ke bangsa yang lain.

Dahulu di Athena, pada abad ke-5 SM, bagi manusia “yang memiliki rahim” tidak secuil pun memiliki kedudukan hukum independen dan tak punya akses untuk melibatkan diri dalam majelis rakyat atau hakim. Tidak ada pemikir atau filsuf, pengkritik atau seniman dari kalangan “yang memiliki rahim”.

Atau, katakanlah di Tiongkok. Dahulu, lahir satu kebijakan yang mewajibkan sebuah keluarga untuk memiliki satu anak. Maka bagi sebuah keluarga, melahirkan satu anak adalah kesialan, jika itu perempuan. Belakangan diketahui, hal itu “terpengaruh” (seandainya tak dapat disebut sebagai turunan) dari sebuah naskah tertua di Tiongkok. Naskah itu digunakan untuk meramal masa depan. 

Dalam buku Sapiens; Riwayat Singkat Umat Manusia, Harari memotret isi teks itu. Berbunyi: “Akankah persalinan Nyonya Hao mujur? Bila anak itu terlahir pada hari ding, mujur; bila pada hari geng, luar biasa mujur.” Nahas. Naskah ramalan itu berakhir dengan pernyataan yang seolah tampak mengecewakan: “Tiga minggu dan satu hari kemudian, pada hari jiayin, anaknya terlahir. Tidak mujur. Anaknya perempuan.”

Kelahiran atau keberadaan perempuan yang dianggap celaka ini, sebetulnya tidak saja terjadi dalam kehidupan sosial-masyarakat. Juga terjadi dalam rumah tangga, dalam hal ini sepasang suami-istri. Dalam kepercayaan orang-orang Ibrani kuno, meniduri paksa seorang istri (yang dalam fenomena politik di Indonesia belakangan sangat ramai dengan sebutan “memerkosa istri”) adalah satu hal yang tak dianggap sebagai kejahatan.

Bahkan, gagasan akan seorang suami yang memaksa istrinya berhubungan intim dengan sebutan memerkosa, kedudukan irasionalnya sama dengan menyebut seorang lelaki memerkosa dirinya sendiri setelah kedapatan beronani di kamar mandi.

Untuk sekadar diketahui, wabah pemikiran akan konstruksi sosial dan budaya (dan mungkin agama) ini tidak hanya terbatas pada teritorial Timur Tengah belaka. Ada sekitar lima puluh (mungkin lebih) negara yang tak mendapat hukuman mengenai ini, sampai tahun 2006. 

Masih dengan kepercayaan orang-orang Ibrani (atau mungkin terjadi juga di kepercayaan lain), sebuah Alkibat menyebutkan: “Apabila seorang bertemu dengan seorang gadis, yang masih perawan dan belum bertunangan, lalu memaksa gadis itu tidur dengannya dan kedapatan, maka haruslah laki-laki yang tidur dengannya itu membayar lima puluh syikal perak kepada ayah gadis itu, dan gadis itu haruslah menjadi istrinya.” (Ulangan 22:28-29)

Sadis, bukan? Pemerkosaan tidak berhukum setimpal; bukan si korban yang menerima bayarannya. Ia bahkan menjadi korban untuk sekali lagi. Pertama, diperkosa. Kedua, mesti menjadi istri dari yang memerkosanya. Dan ayahnya, orang yang tak merasakan peristiwa eksistensial tersebut, justru yang menerima uangnya, atau “keuntungan”.

Kalau bukan budak, mungkin harta milik. Tapi bukankah budak adalah “harta” milik tuannya? Demikian perempuan dalam masyarakat-bangsa kebanyakan. Dan kebanyakan, yang kerap menguntungkan dari kepemilikan atas perempuan adalah laki-laki. Jika ia bukan suaminya, maka ayahnya atau saudara laki-lakinya.

Ada batas-batas mengerikan yang membentang antara laki-laki dan perempuan. Budaya, bagaimanapun berhasil mencetak masyarakat yang patriarki, terlepas masyarakat itu adalah laki-laki dan perempuan. Atau, jangan-jangan, “budaya” itulah yang patriarki?

Tapi, apa yang dipikirkan oleh kaum Athena dahulu mengenai tidak dibolehkannya manusia “yang memiliki rahim” dalam hal ini perempuan untuk terjun-terlibat ke pusaran publik? Mereka memikirkan bahwa ada ketidak cocokkan secara biologis bagi perempuan untuk menduduki posisi itu.

Lalu, benarkah sains memandangnya demikian? Atau, benarkah perempuan merupakan fenomena alami sebagaimana ia terpinggirkan dari masyarakat bangsa adalah, bukan produk konstruksi sosial dan budaya (dan mungkin agama) melainkan sebuah ketetapan biologis?

Ketika Sains Berfirman

Sejauh ini, dan tetap akan begini, sains tidak membenarkannya. Jika sains memiliki mulut, mungkin ia akan berkata langsung begini kepada mereka, “Tahu apa kalian dengan sains?”

Pertama, “Kenyataannya, konsep-konsep “alami” dan “tidak alami” bukan diambil dari peristiwa biologi, melainkan dari teologi Kristen. Makna teologis “alami” adalah “sesuai dengan keinginan Tuhan yang menciptakan alam.” Harari, dalam Sapiens; Riwayat Singkat Umat Manusia.

Karenanya, muncullah pernyataan bahwa manusia “yang memiliki rahim” tidak memiliki kesesuaian dengan kedudukan, seperti hakim, filsuf atau segala jenis posisi strategis yang kebanyakan laki-laki mendudukinya, sebab biologis tidak menghendakinya, atau karena laki-laki tidak "berrahim".

Sampai di sini perlu dicatat, bahwa makna “alami” tidaklah lahir dari persalinan sains. Melainkan dari dogma ketuhanan melalui agama. Sebab, sebagaimana iman Kristen menyebutkan, di banyak keimanan atau agama (dan budaya tertentu) juga meyakini bahwa apa yang diciptakan Tuhan, adalah alami atau sebagai ketetapan yang tak terbantahkan oleh kekuatan macam apa pun.

Kedua, sebuah ciptaan, katakanlah tubuh manusia, ditugaskan untuk melaksanakan perintah Tuhan sebagaimana awal ia diciptakan. Maka, ketika satu organ di tubuh manusia melakukan yang bukan tugasnya, artinya ia menjadi tidak alami, atau melanggar ketetapan biologis.

Nyatanya, dalam aturan main biologi, organ-organ tidak memiliki tujuan macam apapun, atau memiliki tugas tunggal, atau ketetapan tunggal, dan dalam hal ini disebut evolusi. Sekali lagi: organ-organ tidak memiliki tugas tertentu, apalagi memenjarakannya ke dalam satu definisi fungsi yang absolut.

Jika apa yang disebut alami sebagai yang diciptakan untuk sebuah tugas tertentu. Maka, bagaimana dengan penjelasan yang masuk akal ini?: mulut (tentu saja organ) muncul karena organisme-organisme multiseluler yang paling awal memerlukan cara untuk memasukkan makanan ke dalam tubuh. Perhatikan bayi yang baru lahir.

Namun, kita tahu ia telah berevolusi, seperti mencium kening kekasih dan berbicara kepada yang lain. Dan terakhir, bocah tengik bisa saja menggunakan mulutnya untuk mengejek kawannya dengan membentuknya jelek dan menjengkelkan, jika dipandang.

Lalu, bagaimana kita membatasi kedudukan seseorang ditentukan dari keadaan biologisnya, atau ditentukan apakah ia adalah manusia "yang memiliki rahim” atau tidak, sedang kita tahu hal itu adalah peristiwa biologis yang mana akan berubah-ubah sebagaimana hukum evolusi?

(Untuk bantahan lebih lanjut dari pisau sains, di lembar-lembar berikutnya dalam buku Sapiens; Riwayat Singkat Umat Manusia dapat ditemukan dengan jelas).

***

Sejak awal, tulisan ini telah menuduh “ketidakadilan” terhadap perempuan merupakan fenomena dari konstruksi sosial budaya. Sebab budaya tak tetap alias berubah-ubah, kita bisa mengambil contoh dua budaya yang berubah menurut zamannya.

Pertama, dahulu Athena purba tidak mengizinkan perempuan untuk menentukan siapa yang mesti ia nikahi, tetapi belakangan di Athena modern, mereka bisa menentukannya sendiri.

Kedua, sebagaimana kita tahu suami berhak atas istrinya (dalam hal ini menidurinya secara paksa), katakanlah di Jerman, pada tahun 1997 dilahirkan undang-undang pidana pemerkosaan kategori marital.

Budaya, tentu saja tak berubah cepat sebagaimana kecepatan cahaya. Tapi, hakikat budaya adalah perubahan. Kita tak mungkin menutup mata bahwa, kelak, entah kapan, apa yang kita bayangkan terhadap keharmonisan rumah tangga Dilan dan Milea sesungguhnya akan benar-benar terjadi. Dan percayalah, sekali lagi, kita akan dibuat tercengang oleh firman-firman dari kitab sains.