Jakarta - Setiap Negara memiliki budaya yang berbeda-beda dan masing-masing Negara menganut kepercayaan dan keyakinan yang tidak sama juga. Ini tidak ada hubungan dengan Agama karena pasti lebih berhati-hati untuk dibahas, namun untuk mengetahui titik rasa malu terhadap apa yang akan diperbuatkan baik tindakan maupun ucapan tentu berkaitan dengan tuhannya yang sudah "diketahui dan dipahami" terutama hal-hal yang dilarang dan hal-hal yang boleh dilakukan.

Sebagai contoh perbandingan antara Negara Indonesia dan Jepang "Jepang tidak takut dengan dosa namun mempunyai rasa malu yang tinggi sedangkan Indonesia sebaliknya takut dengan dosa namun rendahnya rasa malu yang dimiliki. Ini lah menjadi alasan orang Jepang sering melakukan "Bunuh Diri" karena tingkat rasa malu lebih sensitif seperti kecewa, sakit hati, putus asa, sering di bully, patah hati, mengalami kegagalan dalam berbagai kegiatan dan lain sebagainya.
***
Dengan kekesalan dan kekecawan serta rasa malu yang mendarah daging, masyarakat Jepang berbagai macam cara atau ragam untuk melakukan bunuh diri seperti "membakar diri, menggantung diri, lompat dari ketinggian gedung" dan lain sebagainya. Budaya ini hampir setiap bulan terjadi dilakukan oleh masyarakat Jepang, walaupun itu terlihat dosa untuk melakukan bunuh diri tersebut, namun yang nama tradisi menjadi kebiasaan dari turun menurun setiap masyarakat yang ada di Jepang.

Berbeda dengan masyarakat Indonesia bila melakukan kesalahan baik sengaja maupun tidak sengaja justru mendapatkan penghargaan dari pemerintah seperti contoh salah dalam mengucapkan teks Pancasila diberikan perwakilan atau "Duta Pancasila". Oknum pejabat pemerintah melakukan sumpah jabatan saat terpilih menjadi pemimpin baik daerah maupun pusat, namun melakukan kecurangan seperti korupsi atau tindakan kejahatan lainnya. 100 % terbalik dengan masyarakat Jepang, bukan berarti masyarakat Indonesia mengikuti budayanya, setidaknya menyadari atas rasa malu yang sudah diperbuat.
***
Pelanggaran dan kesalahan menjadi budaya yang sulit untuk diperbaiki baik sikap, perilaku, ucapan, tindakan, perbuatan dan lain sebagainya. Ini seakan-akan urat malu yang terus berkembang kemana-mana baik di kota sampai ke pelosok desa semua saling menghujat, membenci, menghina, menyebar berita hoaxs, kebenaran berita di anggap hoaxs, pelaku kejahatan, perselingkuhan, serta tindakan dan perbuatan lainnya. Sehingga pernyataan diatas antara dosa dan malu, memang lebih dominan tidak terbangun rasa malu dan tetap takut dengan dosa.
***
Sifat masyarakat Indonesia bila viral suatu kebanggaan tersendiri menjadi terkenal walaupun perbuatannya bisa dikatakan memalukan dan diketahui masyarakat umum. Bahkan ada juga oknum masyarakat Indonesia mencari sensasi dengan melakukan tindakan kebohongan, demi kepentingan pribadi baik itu dari sisi ketenaran, membangun personal brand, kepentinan ekonomi, bisnis, politik dan lain sebagainya. Apapun bisa dilakukan asalkan menguntungkan yang menurut dia benar namun secara fakta tidak sesuai dengan kenyataan.

Yang lebih riskan lagi adalah ketika menjelang caleg atau pemilihan calon oknum pemimpin perwakilan daerah dan pusat yang terjerat pidana atau mantan tahanan narapidana, ikut bertarung untuk mencalonkan sebagai anggota dewan dan tentunya merebut hati masyarakat agar bisa memenangkan dan terpilih suara terbanyak, sehingga menjadi anggota dewan. Sebetulnya apapun alasanya, sebagai mantan narapidana seharusnya tahu diri dan mempunyai sifat malu karena sudah melakukan tindakan pelanggaran hukum.
***
Namun itu semua tergantung individu masing-masing dan pandangan masyarakat Indonesia itu sendiri, karena yang memilih "kan" masyarakat "ya" bisa diputuskan sendiri "pilih atau tidak". Siapa tahu oknum calon legislatif tersebut ingin berubah dan menyelesali atas perbuatan yang sudah dilakukannya. Memang sih, setiap manusia pasti mengalami perubahan entah itu baik maupun buruk, lihat dari situasi dan kondisi yang bisa menjawab tentang keadaan manusia tersebut. Hanya saja penilaian masyarakat lain pasti ke arah yang negatif dengan alasan mantan tahanan karena kasus tindak pidana lainnya.

Fenomena diatas berdasarkan beberapa informasi dan analisa yang sudah terjadi baik melalui media maupun pemikiran sebelumnya. Namun ini semua, tidak ada kepentingan pribadi baik politik,  menyudutkan seseorang tertentu atau semuak pihak, melainkan hanya membuat ilustrasi dan uraian cerita yang berhubungan budaya malu dan takut dengan dosa. Sehingga dalam kesempatan atau kegiatan melakukan apapun bisa mengimbangi antara malu dan dosa, tentunya ini kembali cermin diri dan cermin kehidupan "apa yang perlu dilakukan dan  hal apa saja yang tidak harus dilakukan".

Dengan demikian dari kedua Negara Jepang dan Indonesia tersebut, ada yang menarik dan bisa saling mengimbangi dan mengisi dengan budaya yang sudah melekat seperti masyarakat Jepang terkenal dengan kedisiplinan yang tinggi, kepatuhan dan tertib dalam mentaati peraturan kehidupan di Negaranya. Sedangkan masyarakat Indonesia lebih terkenal dengan tegur sapa dan keramatamahan antar hidup sesama, tentunya dalam ruang lingkup kehidupan berbangsa. Artinya budaya yang baik, bisa menjadi pedoman setiap melangkah dan dalam menatap kehidupan baik sekarang sampai kehidupan masa akan datang.