Budaya mengonsumsi minuman beralkohol mulanya jarang ditemukan di daerah pesisir dan dataran rendah. Pada  negara-negara tropis, kebutuhanya lebih banyak dipakai untuk pelaksanaan ritual.

Raymond Michael Menot, seorang antropolog dari Universitas Indonesia, menyatakan keberadaan ritual itu sudah ditemukan pada residu artefak guci di Turki yang berasal dari 10000 SM. Residu itu mengandung alkohol berbahan gandum. 

Berikutnya temuan residu minuman berbahan beras, anggur, dan madu di Tiongkok (7000 SM); residu berbahan beras gan dum, tebu, dan buah India (3000 SM); dan residu berbahan anggur dan air Babylonia (2700 SM).

Tercantum dalam Kitab Injil Markus pada Perjanjian Baru, anggur merupakan minuman yang disajikan dalam cawan pada saat perjamuan terakhir. "Anggur itu menjadi ritual umat Nasrani sampai sekarang," kata Raymond saat diskusi daring Tradisi Arak Nusantara yang digelar Yayasan Negeri Rempah.

Jenis minuman beralkohol tradisional dibagi menjadi dua yaitu tuak dan arak. Arak berasal dari bahasa Arab. Artinya, distilat atau distilasi. Arab memiliki minuman beralkohol bernama khamar, yang dihasilkan dari fermentasi kurma. Nama  ini disebut dalam Al-Qur'an surah Almaidah 90.

Namun soal pengaruh arak Arab terhadap minuman beralkohol Nusantara itu masih diragukan keterkaitannya. Karena hubungan antara Nusantara dan orang Cina jauh lebih dahulu daripada orang Arab.

Alat-alat tradisional Nusantara untuk destilasi pun terbuat dari bambu. Jadi dipastikan bukan pengaruh Arab melainkan pengaruh teknologi Cina. Namun, Nusantara telah punya budaya minum sejak dahulu dan bukan terpengaruh dari Cina.  

Teknologi Nusantara masih minol fermentasi, meski dalam prasasti Watukura juga disebutkan adanya minol destilasi. Nah, kemungkinan teknologinya-bukan perilakunya-diadopsi dari Cina atau Tiongkok.

Lalu bagaimana minuman beralkohol Eropa bisa sampai ke Nusantara?, Faktor utama yang mempengaruhi budaya konsumsi alkohol adalah disebabkan adanya jalur rempah yang memungkinkan perjumpaan antar budaya yang memperkaya citra rasa minuman beralkohol di Nusantara.

Pelayaran jalur rempah membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sampai ke pulau atau daratan yang dituju. Selain membawa barang dagangan para pelaut juga membawa ransum untuk kebutuhan sehari-hari.

Thomas Stamford Raffles dalam History of Java mengatakan bahwa tong-tong kayu yang terisi air itu rentan terhadap bakteri akibat cuaca panas dan hujan. Perkara ini yang menyebabkan awak kapal sakit selama perjalanan.

Maka solusinya adalah  mereka membawa bekal minuman yang tahan lama, yakni minuman beralkohol. Selain pelepas dahaga, minuman ini juga memberi fungsi menghangatkan, membunuh kuman dan memberi rasa rileks. Minuman ini pun menjadi salah satu stok logistik yang tidak diperdagangkan.

Karena efek mabuk yang berpengaruh pada kinerja awak kapal, mengonsumsinya pun tidak sembarangan. Tercatat dalam buku panduan bajak laut Eropa mengenai aturan di atas perahu. Salah satu peraturan berbunyi konsumsi minuman beralkohol hanya boleh di atas jam delapan malam.

Sebelum berdirinya VOC, orang orang Belanda suka dengan minuman dari bahan kayu manis untuk membuat brendi. Kemudian bahan bahan seperti gula dan tebu yang marak pada abad ke-19 juga digunakan Belanda untuk membuat minuman ini.

Namun  menurut Michael Irawan Wahyu Agung, seorang chef asal Manggarai Barat, menyatakan bahwa Eropa datang tidak untuk menyebarkan budaya minum seperti brendi, sebab kalau datang dari Eropa pasti penyulingan kita dari perunggu bukan tembikar.

Michael mencocokkan bahan-bahan anggur Eropa yang saat itu jarang ditemukan di Nusantara. Sedangkan orang Tionghoa saat itu mengajarkan minuman fermentasi bernama ciu yang berbahan dari tape. Selain itu, pelayaran Laksamana Cheng Ho ke Nusantara sudah berjejak di Nusantara jauh sebelum ekspedisi orang-orang Eropa. Bahkan, mereka itu menetap, para tukang masak dan tabibnya bekerja di kerajaan-kerajaan Nusantara. Itulah sebabnya kenapa kuliner kita terpengaruh oleh budaya China.

Saat orang-orang Eropa sampai ke Nusantara, minuman mereka hanya berhenti di dalam benteng atau keraton. Minuman ini tidak turun kepada rakyat jelata. Ini juga penjelasan kenapa orang Indonesia cara minum alkoholnya berputar, sama seperti orang Tiongkok, dimana sehabis panen mereka minum sambil bersantai pada satu gelas yang sama. Juga jadi penyebab kenapa Jalur Rempah membawa orang-orang Cina ke Nusantara, lalu mereka memberi pengaruh dalam tradisi minuman beralkohol di sini.

Kitab Pararaton menyiarkan wiracerita. Ketika Raja Singasari mabuk dalam ritual Buddha Tan tryana, keturunan Kadiri datang menyerangnya. Ritual itu bertujuan untuk mencari titik nol hampa dengan bantuan alkohol. Catatan ini membuktikan bahwa minuman beralkohol turut pula berfungsi sebagai perlengkapan ritual dan sakral di Nusantara.

Selain untuk ritual, minuman ini juga dijadikan gastro diplomasi. Seperti dalam kisah kuno yang menggambarkan bagaimana Kerajaan Majapahit menggelar perayaan di kolam Segaran. Ada kolam besar, raja menjamu tamunya di situ dengan mengonsumsi minuman dan agak sedikit pamer gelasnya dibuang ke kolam itu. Dan di lain sisi, acara peresmian daerah sima saat itu, seperti yang ada di prasasti (Watukura) 902 M. disebutkan jenis minuman fermentasinya tuak dan sidu destilasi.

Penggunaan minuman beralkohol berkembang dari masa ke masa. Orang-orang Manggarai di Flores menggunakan minuman berjenis tuak bakok atau sopi untuk upacara-upacara permintaan maaf dan tanda persahabatan. Minuman beralkohol Nusantara juga berkembang menjadi obat. Ada  jenis bir hitam bisa digunakan untuk membersihkan rahim perempuan pasca melahirkan.

Minuman beralkohol, yang awalnya sebagai persembahan dewa, menjelma sebagai alat sosialisasi. Minuman beralkohol Cap Tikus itu ditujukan untuk roh. Tapi sekarang orang bisa beli lalu minum, yang boleh minum ini dia yang sudah dewasa dan dianggap sudah bisa maka boleh minum.

Dalam masyarakat yang punya budaya minum biasanya punya self-control atau tahu batasan diri supaya tidak mabuk, di Palangkaraya misalnya, akan menyediakan minum tapi tidak boleh mabuk dan apabila mabuk akan didenda. Biasanya memijit temanya yang mulai mabuk. Itu adalah bagian dari kontrol sosial.

Minuman beralkohol Sudah banyak digunakan sebagai penambah cita rasa menu makanan, namun apakah ia akan menjadi elemen penting dalam kulinet Indonesia?,  Minuman beralkohol tidak wajar untuk masakan Indonesia, sebab kita tidak memerlukannya karena jenis rempahnya sudah memiliki bau yang kuat.

Alkohol tidak menjadi elemen penting dalam kuliner Indonesia karena alkohol berhenti menjadi leisure, sebab sekarang leisure-nya hanya untuk cari mabuk padahal awalnya tidak digunakan untuk hal tersebut. Kalau kita lihat di Eropa, alkohol untuk kesehatan bukan?.